Minggu, 30 Agustus 2020

KIAT SUKSES AGAR EKSIS DALAM KEABADIAN

 


Oleh Enang Cuhendi

 

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis ia akan hilang dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Demikian Pramudya Ananta Toer pernah berkata. Sang penulis besar yang pernah menjadi nominator peraih hadiah Nobel bidang sastra ini bukan tanpa alasan berkata demikian. Kalau kita cermati secara mendalam apa yang disampaikan Pram, begitu dia biasa dipanggil, sangat sarat makna.

Banyak orang yang pintar dan tidak sedikit yang terkatagori pandai. Mereka banyak ilmu dan mungkin saja ilmunya itu di atas rata-rata orang kebanyakan. Walau demikian ilmu tersebut tidak akan abadi dalam kehidupan seandainya ia tidak menuliskannya. Setidaknya dituliskan oleh orang lain. Dengan adanya tulisan maka ilmu tersebut akan terus abadi dari satu generasi ke generasi lainnya. “Ikatlah ilmu dengan menulis” demikian Ali bin Abu Thalib pernah berucap.

Sejalan dengan itu menurut Imam Syafi’i ilmu itu ibarat hasil panen/buruan di dalam karung, menulis adalah ikatannya. Sebanyak apapun hasil panen atau hasil buruan yang tersimpan di dalam karung, kalau karung itu tidak pernah diikat maka akan tercecer atau hilang. Sebanyak apapun ilmu yang kita miliki jika kita tidak pernah mengikat dengan cara menuliskannya, maka lama-lama akan hilang tertelan lupa dan juga masa.

Untuk itu menjadi kewajiban bagi setiap orang, terutama yang berilmu untuk mulai menulis. Dengan menulis maka kita akan selalu abadi dalam masyarakat dan tidak tertelan oleh sejarah. Tulisan-tulisan kita akan menjadi wakil kehadiran kita sampai kapan pun, walau jasad kita sudah hancur tertelan bumi. Bukankah kita mengenal sosok-sosok besar dengan pemikirannya yang hebat karena karya-karya tulis mereka. Dalam konteks Indonesia sebut saja sosok-sosok besar seperti: Ir. Soekarno, Drs. Muhammad Hatta, R.A. Kartini, Raden Dewi Sartika, H. Agus Salim, Buya HAMKA, Jenderal Besar A.H. Nasution, B.J. Habibie sampai seorang Soe Hok Gie yang mantan mahasiswa Univesitas Indonesia dikenal pemikirannya lewat tulisannya. Mereka sudah lama tiada, tetapi hasil pemikirannya masih hidup dan mewarnai dunianya masing-masing sampai sekarang.

Bukankah kita juga bisa mengenal kehidupan masa lalu manusia karena adanya tulisan? Bayangkan seandainya tidak ada prasasti, kitab-kitab kuno, dokumen, inskripsi, biografi, memoar dan karya tulis lainnya mungkin kita akan buta tentang kehidupan masa lalu. Mengapa sejarah bangsa Cina begitu lengkap dari satu generasi ke generasi lainnya? Jawabannya karena mereka rajin mencatat atau menuliskan setiap peristiwa yang terjadi. Budaya menulis mereka sudah maju sejak ribuan tahun yang lalu. Bahkan sejarah bangsa Indonesia pun sebagian dibuka melalui catatan sejarah Cina, seperti: catatan Fa hien, berita I’Tsing, catatan berita dari Dinasti Sung, Tang, Ming dan lainnya.

Untuk bisa menulis tentunya harus rajin membaca. Dengan sering membaca maka wawasan si penulis akan menjadi luas dan tulisannya akan berbobot. Dora Febriana, seorang penulis, mengibaratkan membaca dan menulis ibarat sepasang kekasih, belahan jiwa yang saling menguatkan, mengingatkan dan saling melengkapi. Seorang yang tidak suka membaca mungkin saja bisa menulis, tetapi kalau ingin tulisan itu berbobot, bergizi dan memberi manfaat yang lebih luas penulis wajib melengkapi diri dengan sering membaca. Membaca apa? Apa saja, terutama yang terkait dengan bahan yang akan ditulisnya.

Untuk bisa menulis, seorang pemula tentunya harus mampu menyingkirkan semua alasan yang biasa muncul dan sering dimunculkan. Alasan seperti: tidak ada bakat, cape, sibuk, tidak ada waktu, sudah menulis tapi tidak beres-beres, bingung harus memulai dari mana dan segudang alasan lainnya wajib hukumnya untuk disingkirkan. Kalau itu tidak dibuang jauh-jauh, dijamin tulisan itu tidak akan bisa selesai bahkan mungkin tidak akan pernah menulis sama sekali.

Ada juga orang yang berlindung di balik usia. Ia selalu mengatakan bahwa dirinya sudah tua jadi tidak mungkin belajar menulis lagi. Usia jangan dijadikan alasan. Bukankah Hernowo atau di dunia maya dikenal sebagai Hernowo Hasim, seorang penulis 24 buku dalam empat tahun dari total 37 buku yang sudah ditulis sampai saat akhir hayatnya, memulai aktivitas menulis setelah usia 44 tahun. Jose Saramago, peraih Nobel sastra 1998 mulai menulis di usia 60 tahun. Toni Morison, peraih Pulitzer Prize dan Nobel sastra 1993 mulai menulis di usia 40-an.  Bahkan seorang Toyo Shibata baru menulis di usia 92 tahun dan buku perdananya yang berjudul Kujikenaide atau Don’t Lose Heart baru terbit saat ia berusia 98 tahun.

Yuk, buang semua alasan! Mulailah untuk menulis! Bukankah Merry Riana, seorang motivator yang juga penulis Mimpi Sejuta Dollar pernah mengatakan,” Orang sukses itu selalu mencari jalan, orang gagal selalu mencari alasan. Selama kamu masih bersembunyi di balik alasan kamu tidak akan bisa.” Untuk itu sekali lagi buang jauh alasan. Tanamkan dalam diri prinsip paksa, bisa dan biasa. Kita paksa diri kita untuk bisa, setelah bisa pasti akan berkembang menjadi biasa.

Menulis sejatinya adalah keterampilan. Keterampilan pasti bisa dilatih, walau tanpa bakat sekalipun. Kuncinya asal punya kesungguhan dan sering berlatih. Yang membedakan hanya sedikit, orang berbakat ketika rajin berlatih mungkin akan lebih cepat terampil, sedangkan yang tidak berbakat perlu sedikit waktu lebih lama untuk bisa. Walau begitu, asal sungguh-sungguh yang tidak berbakat pun pasti akan terampil.

Seringkali kita ikut pelatihan menulis karena ingin terampil. Bahkan mungkin kita dilatih oleh trainer yang punya nama besar, tapi kenapa sampai hari ini saya belum terampil menulis? Apa karena salah teorinya? Sesungguhnya sesering apapun kita mengikuti pelatihan, sehebat apapun trainer yang melatih kita, bahkan semahal apapun biaya yang dikeluarkan untuk mengikuti pelatihan menulis, semua tidak akan berarti selama kita tidak mau rutin melatih diri. Tidak ada teori yang hebat untuk bisa cepat menulis. Teorinya hanya satu, ya mulailah menulis. Kalau mau tiga teori terampil menulis, yaitu satu menulis, dua menulis dan tiga menulis. Jadi kata kuncinya, ya “menulis” sesering mungkin.

Tanpa latihan yang rutin sulit untuk kita bisa terampil menulis. Bukankah Leonel Messi dan Cristiano Ronaldo, dua mega bintang sepakbola dengan bayaran milyaran rupiah per hari, walau berbakat besar mereka setiap hari masih berlatih, bahkan porsi latihannya jauh lebih banyak dari yang lain. Kalau kita ingin terampil menulis ya berlatihlah dengan tekun, menulis, menulis dan menulislah.

Saya ingin terampil menulis? Saya ingin terbiasa menulis? Harus menulis apa? J.K. Rowling sang penulis Herry Potters, memberi tips khusus. Menurutnya, “Mulailah dengan menuliskan hal-hal yang kamu ketahui. Tulislah pengalaman dan perasaan sendiri”. Jadi mulailah belajar menulis dengan mencari bahan dari apa yang dekat dengan kita, apa yang kita kuasai, dan apa yang kita sukai. Janganlah menulis sesuatu yang di luar kemampuan kita atau tidak kita sukai, semua hanya akan menjadi beban yang akhirnya menyurutkan semangat berlatih kita. Jangan pula menulis sesuatu yang tidak kita sukai, karena yang hadir nantinya hanyalah sebuah keterpaksaan.

Jenis tulisan yang diambil sesuaikan dengan kegemaran masing-masing. Bisa tulisan fiksi atau non fiksi. Tulisan fiksi bisa berupa novel, cerpen, puisi, dongeng dan sebagainya. Sedangkan non fiksi bisa berupa opini, feature, biografi, resensi atau laporan, Apa yang mau ditulis sekali lagi sesuaikan dengan yang kita sukai. Yang penting mulailah menulis.

Untuk itu salah satu kiat jitu jika eksistensi kita di masyarakat dan sejarah tidak ingin hilang musnah tertelan masa, maka mulailah untuk menulis. Dengan menulis kita sudah bekerja dalam keabadian. Bahkan bonusnya kita pun akan dikenal dunia selamanya. “Jika engkau ingin mengenal dunia maka membacalah, namun jika engkau ingin dikenal oleh dunia, maka menulislah.” Demikian kata Pram.

Cicalengka, 30 Agustus 2020



INDAHNYA POLA BERPIKIR POSITIF



                 Oleh Sulistyowati, S.Pd, M.Pd

                  SMPN 1 Pujon – Kab. Malang 



Tak akan ada yang dapat menghentikan orang yang bermental positif untuk mencapai tujuannya. Sebaliknya, tak ada sesuatu pun di dunia ini yang dapat membantu seseorang yang sudah bermental negatif ~ W.W. Ziege

Manusia merupakan mahluk mulia yang dianugerahi akal dan pikiran,  untuk membedakan dengan mahluk lainnya. Dengan akal dan pikiran  manusia menjalankan kehidupan serta berinteraksi untuk memenuhi kebutuhannya, baik kebutuhan jasmani maupun kebutuhan rohani.  Dalam menjalankan tugas kehidupannya manusia bertindak dengan pola berpikir positif  maupun pola berpikir negatif. Tidak semua orang menerima atau mempercayai tentang pola berpikir positif. Beberapa orang menganggap berpikir positif hanyalah sebuah omong kosong, dan sebagian lagi mungkin menertawakan orang-orang yang mempercayai dan menerima pola berpikir positif. Diantara orang-orang yang menerima pola berpikir positif, tidak banyak yang mengetahui strategi untuk menggunakan cara berpikir ini guna memperoleh hasil yang efektif. Namun sebaliknya, dapat dilihat pula bahwa semakin banyak orang yang menjadi tertarik pada topik ini, seperti yang dapat dilihat dari banyaknya jumlah buku, kuliah, dan kursus mengenai berpikir positif. Topik ini dapat memperoleh popularitas dengan cepat.
            Kita sering kali mendengar ucapan orang tentang : “Berpikirlah positif ... !”, yang utamanya ditujukan kepada orang-orang yang merasa kecewa dan khawatir. Banyak orang tidak menganggap serius kata-kata tersebut, karena mereka tidak mengetahui arti sebenarnya dari kata-kata tersebut, atau menganggapnya tidak berguna dan tidak efektif. Berapa jumlah orang yang kita kenal, yang memiliki waktu untuk memikirkan kekuatan dari berpikir positif ? 

Berpikir positif merupakan sikap mental yang melibatkan proses memasukan pikiran-pikiran, kata-kata, dan gambaran-gambaran yang konstruktif (membangun) bagi perkembangan pikiran kita.  Pikiran positif menghadirkan kebahagiaan, suka cita, kesehatan, serta kesuksesan dalam setiap situasi dan tindakan kita. Jadi berpikir positif juga merupakan sikap mental yang mengharapkan hasil yang baik serta menguntungkan pada kehidupan kita. 

Sel-sel di dalam tubuh kita akan menerjemahkan apa yang ada dalam pikiran bawah sadar kita  ke dalam sebuah gerakan atau suatu mekanisme. Misalnya ketika pikiran bawah sadar kita sedang bersedih, maka sel-sel tubuh kita membentuk suatu mekanisme otomatis sehingga muncullah reaksi fisik pada tubuh, misalnya menangis. Sel-sel tubuh kita  tidak bisa membedakan apakah kita betul-betul bersedih atau tidak. Misalnya kita  bisa menangis hanya karena menonton sebuah film tragedi, padahal tragedi tersebut sebenarnya tidak menimpa kita secara nyata.

Mekanisme otomatis di dalam tubuh juga bisa terlihat saat kita mengalami gerakan refleks. Saat tangan mengenai benda panas, maka secara otomatis tangan menjauh dari benda panas tersebut. Hal ini terjadi karena pikiran sadar mengatakan bahwa tidak enak dan bahaya jika menyentuh benda panas sehingga harus menjauhinya. Pikiran bawah sadar menerima perintah tersebut, dan seluruh sel di dalam tubuh selalu melakukan apa yang diperintahkannya. Mekanisme otomatis ini akan terus bekerja untuk berbagai hal lainnya tergantung apa yang sudah anda programkan dalam pikiran bawah sadar melalui pikiran sadar. Sel-sel di dalam tubuh membentuk suatu mekanisme berdasarkan panduan atau perintah dari pikiran bawah sadar.
    Pikiran kita harus terbiasa untuk selalu positif, dan akan lebih mudah mencapai cita-cita. Bukan Cuma itu, pikiran positif serta kepercayaan diri akan menarik orang lain bergabung dengan kita. Mereka tidak akan membiarkan kita berjalan sendiri menghadapi semua masalah dalam kehidupan.  Justru dengan senang hati akan menemani dan membantu  melewati semua kesulitan. Terpenting hidup kita  akan menjadi lebih aman, nyaman dan menyenangkan. 

Hidup indah bukan berarti hidup penuh dengan kedamaian saja, tetapi hidup indah adalah hidup yang dipenuhi dengan keberhasilan. Bukankah keberhasilan itu sesuatu yang indah? Indah meliputi kedamaian dan keberhasilan, bukan kedamaian tetapi tanpa daya, sebab kedamaian tanpa daya bukanlah suatu keindahan.

Kita  bisa memilih pikiran-pikiran positif saja di dalam kepala kita.  Setelah memilih, harus memperkuat pikiran tersebut sehingga menjadi dominan. Jika tidak, maka pikiran negatif akan mudah masuk ke dalam kepala dan akan mengendalikan hidup kita.  Jika pikiran indah mendominasi pikiran maka hidup kita  menjadi indah.

Sistem tubuh tidak memiliki kemampuan membedakan mana perintah yang baik atau tidak sehingga sistem tubuh akan menurut apa saja yang diperintahkan oleh pikiran itu. Oleh karena yang kita  perlukan adalah pikiran kita harus memilih terlebih dahulu perintah yang akan diberikan kepada sistem tubuh.
    Orang yang berpikiran negatif akan mencari sesuatu, baik orang, lingkungan, atau peristiwa sebagai pembenaran kesalahan atau tidak adanya tindakan yang diambil. Coba renungkan, berapa kali kita mencari kambing hitam atas kekurangan atau kegagalan yang kita lakukan? Renungkan dengan jujur, teliti dan tuliskan sebagai bahan pembelajaran. Kejujuran dan kesadaran akan menentukan keberhasilan selanjutnya. Mulai saat ini, berpikirlah secara positif dan positif.      

              Berpikir Positif atau positif thinking dalam setiap keadaan akan memberikan dampak yang sangat baik untuk meningkatkan kesehatan baik tubuh maupun jiwa kita,  oleh karenanya kita sangat disarankan untuk mengubah pola pikir kita yang selalu negatif menjadi sesuatu hal positif maka kita akan mendapatkan efek luar biasa bagi kesehatan serta kesuksesan kita.
          Bahkan menurut penelitian yang dilakukan terhadap para pasien yang sakit dengan menyuruh para pasien untuk selalu berpikiran positif selama mereka sakit ternyata mampu mengubah respon emosional para pasien tersebut terhadap rasa sakit sehingga mampu mengurangi rasa sakit yang diderita mereka hingga mencapai 60 persen, luar biasa bukan?
          Rasa sakit yang dialami seseorang yang sedang sakit akan mempengaruhi bagian otak sehingga memberi dampak orang tersebut akan menjadi lebih sensitif dan lebih mudah berpikiran negatif maka penyakit yang dideritanya akan menjadi susah sembuh atau bahkan bertambah parah, karena itu jika saat kita sakit biasakanlah untuk selalu berpikiran positif agar proses penyembuhan menjadi lebih cepat dan mudah.   

We becomes what we think about (kita akan menjadi seperti apa yang kita pikirkan). Secara Syar’i ALLOH SWT akan mewujudkan segalanya  sesuai prasangka kita.  Kalau itu kenyataanya maka tinggalkan pikiran negatif, segera ubah menjadi pemikiran yang positif. Apalagi sebagai pendidik sangatlah penting untuk mendasarkan segala angan, kegiatan dan perilaku positif karena hal ini akan berdampak terhadap para peserta didik.  

Memandang segala sesuatu dari sudut yang baik (positif) terhadap semua kejadian di sekitar kita 

  Apabila siswa tidak mengerjakan tugas yang kita berikan, tidak perlu guru marah- 

     marah, katakan saja “Untunglah, sebagian besar siswa sudah menyelesaiakan    

     tugasnya”.   

  Ketika kita menjelaskan materi pembelajaran,  ada siswa yang asyik ngobrol   

     sendiri dengan temannya, temannya yang lain  marah –marah “menyuruh diam”,    

     katakan saja, “Mungkin  dia sedang curhat karena ada masalah” 

  Ketika siswa ada yang mengambil uang temannya, mestinya tidak perlu   

     mengumpat, seharusnya malah merasa iba, “Kasihan, mungkin mereka tidak  

     diberi uang saku yang cukup oleh  orang tuanya”.  

Itulah berpikir positif. Mereka tidak melihat sesuatu keadaan dari segi buruk/negatif, melainkan dari segi yang baik / positif. Mereka tidak pernah berpikir buruk tentang orang lain, sebaliknya selalu membayangkan dan menerima hal-hal baik dibalik segala perbuatan dan perilaku  orang lain.

    Kalau kita berpikir positif tentang sesuatu keadaan atau seseorang, seringkali hasilnya betul-betul menjadi positif, misalnya: 

  Jika kita yakin bahwa usaha kita akan sukses, besar sekali kemungkinan usaha  

     kita  menghasilkan kesuksesan.

  Jika kita bersikap santun terhadap seseorang, maka orang tersebut akan menjadi  

     santun kepada kita.

  Jika kita memperlakukan anak kita sebagai anak yang cerdas, akhirnya mereka 

     betul-betul menjadi anak yang cerdas. Pikiran kita memang seringkali  

     mempunyai dampak fulfilling prophecy atau ramalan tergenapi, baik positif 

     maupun negatif.  

  Kalau kita sudah putus asa dan merasa tidak mampu pada awal suatu 

     usaha/pekerjaan, besar sekali kemungkinan kita akan menemui kegagalan. 

  Kalau kita menganggap siswa kita malas sehingga kita enggan membimbing  

     mereka, maka akhirnya mereka betul-betul menjadi pemalas.  

  Kalau kita mencurigai dan menganggap teman kita judes sehingga kita tidak mau 

     bergaul dengan mereka, maka akhirnya mereka betul-betul menjadi judes. 

    Berfikir positif bukan suatu tujuan melainkan suatu jalan untuk mencapai manfaat, diantaranya, mengatasi stress, menjadi lebih sehat, percaya diri, berani  mengambil keputusan, bisa meningkatkan konsentrasi, bisa mengatur dengan baik, lebih sukses dalam hidup, memiliki banyak teman, menjadi pemberani dan hidup lebih baik serta terarah. 

Hidup akan menjadi baik kalau kita memandangnya dari segi yang baik. Bepikir baik tentang diri sendiri, berpikir baik tentang orang lain, berpikir baik tentang keadaan, terutama berpikir baik tentang ALLOH. 

Dampak berpikir positif/baik akan kita rasakan, keluarga menjadi harmonis,teman menjadi bisa dipercaya, tetangga menjadi akrab, pekerjaan menjadi menyenangkan dan dunia menjadi ramah serta indah.  

Mulai saat ini mari kita senantiasa memiliki niat,  pola berpikir, serta  perilaku positip, muaranya akan mengubah seluruh sel yang ada dalam tubuh untuk diwujudkan menjadi suatu kenyataan positif. Selamat berjuang semua sahabatku, salam sukses bersama ALLOH SWT semua akan bisa tercapai. 

 

 

 

 

 

                                              DAFTAR PUSTAKA 

Aa Gym. 2000. Management Qolbu. Bandung: MQS Pustaka Grafika 

Aa Gym. 2006. Muhasabah Diri. Semarang: Difa Press

Akbar Z. 2011. Man Jadda Wajada. Jakarta: PT Ikrar Mandiri.  

M.Yusuf dkk, 2003. Kultum Kuliah Tujuh Menit. Jombang: Lintas media 

Sulistyowati. 2019. Mengelola Diri Untuk Meraih Sukses. Batu: Beta Aksara. 

https://www.sehatq.com/artikel/11-cara-berpikir-positif-yang-sebaiknya-mulai-anda-lakukan

https://www.kompasiana.com/cangkoiburong/5bbdc93c677ffb072c38b422/pola-pikir-positif-sebagai-gaya-hidup-sehat?page=all



 

 

 



 

 

 

 

 


Jumat, 28 Agustus 2020

PB PGRI Perjuangkan Guru Hononer Mendapatkan Bansos

Jakarta-SuaraGuru. Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI) memperjuangkan agar seluruh guru honorer dan tenaga kependidikan mendapatkan bantuan sosial (bansos) bagi pekerja bergaji di bawah Rp 5 juta per bulan. 


Ketua Umum PB PGRI, Unifah Rosyidi mengatakan bahwa guru honorer dan tenaga kependidikan sangat layak mendapatkan subsidi Rp600 ribu bagi pekerja tersebut karena gajinya jauh di bawah Rp5 juta per bulan. "Mereka layak dapat bansos, apalagi pandemi ini sangat terdampak pada hononer," kata Unifah, Rabu (26/8).


"Kami berharap pemerintah dalam hal ini Menakertrans dapat memasukkan tenaga honorer dalam kategori penerima bansos tersebut, karena dapat membantu kebutuhan ekonomi para guru di masa pandemi ini" tuturnya. 


Sebagai bentuk keseriusan PB PGRI, Unifah mengatakan, pihaknya telah mengirimkan surat resmi kepada Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi agar tenaga honorer baik pendidik maupun kependidikan bisa dapat subsidi Rp600 ribu. Bansos ini akan diterima pekerja bergaji di bawah Rp5 juta selama empat bulan berturut-turut. 


PB PGRI meminta Pengurus PGRI di seluruh daerah untuk berkoordinasi dengan pemda agar mendaftarkan para guru dan tendik honorer menjadi anggota BPJS Ketenagakerjaan. Kalau memungkinkan sekaligus dengan BPJS Kesehatan karena itu sebagai basis menghitung  jumlah honorer yang benar-benar mengajar dan tenaga administrasi sekolah. Selain itu, PB PGRI juga meminta ketua YPLP atau Kepala sekolah/ PT PGRI di semua tingkatan untuk mendaftarkan para guru dan tenaga administrasinya di BPJS Ketenagakerjaan agar dapat memperoleh subsidi tersebut.

Kamis, 27 Agustus 2020

PENTINGNYA TOL LANGIT MURAH

 


Leli Afrida, S.Pd 

Guru SMP N 3 Kec. Payakumbuh

Lima Puluk Kota, 26 Agustus 2020


Covid, Covid lagi yang menjadi kambing hitamnya. Bagaimana tidak, serangan Virus Covid 19 sepertinya lebih dahsyat dari terjangan bencana apapun yang pernah melanda Indonesia bahkan dunia. Kalau bencana alam hanya menimbulkan shok yang berat pada daerah yang tertimpa bencana. Sedangkan pandemi Covid 19 menimbulkan shok bagi semua kalangan. karena penyakit yang disebabkan oleh virus ini sangat cepat dan mudah menular sementara masalah Vaksinnya baru di temukan dan belum di produksi.



Covid-19 memang telah menimbulkan perubahan dalam berbagai aspek. Dampak yang sangat besar adalah di bidang ekonomi dan pendidikan. Diberlakukannya kebijakan PSBB ternyata berdampak besar terhadap jalannya perekonomian. Pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab dan pihak yang memiliki kepentingan politik malah melancarkan protes dengan menjual konsep keagaamaan agar PSBB dilonggarkan. Pemerintahpun mulai melonggarkan secara bertahap. Akibatnya kasus positif Covid mulai kembali meningkat.  Oleh karena itu semua pihak sangat dituntut untuk perperan akif dalam upaya memutus mata rantai penyebaran virus Covid 19.

Dalam rangka memutus mata rantai Covid 19 pemerintah telah membuat dan merobah berbagai kebijakan. termasuk kebijakan bidang pendidikan.  Pada bulan Maret 2020 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan telah mengeluarkan kebijakan baru berupa Surat Edaran  Nomor 3 tahun 2020 trntang Pencegahan COVID-19 pada Satuan Pendidikan dan Nomor 36962/MPK.A/HK/2020 tentang Pembelajaran secara Daring dan Bekerja dari Rumah dalam Rangka Pencegahan Penyeberan COVID-19, serta Surat Edaran dan Petunjuk dari Kepala Daerah, dan Rektor masing- masing Universitas.

Sebagaimana kita ketahui pembelajaran daring sudah berlangsung selama hampir enam bulan sejak bulan Maret. Pembelajaran tatap muka yang direncanakan dimulai di awal tahu ajaran 2020 terpaksa diundur  karena kasus positif Covid mulai meningkat. Demikian hingga bulan Agustus untuk daerah Sumbar khususnya Kabupaten Lima Puluh kota di rencanakan pula sekolah tatap muka pada tanggal 24 Agustus, itupun harus di undur lagi karena meningkatnya grafik kasus positif Covid 19 di Lima Puluh Kota.

Banyak keluhan dan kritik muncul dari berbagai pihak dalam menyikapi pembelajaran daring. Dari pihak orang tua siswa banyak yang mengeluh karena beberapa faktor mulai dari pengadaan fasilitas anak untuk belajar daring berupa gadget dan kuota internet, waktu dan kemampuan orang tua untuk membimbing anak sampai pada masalah kewalahan mengendalikan anak selama berada di rumah. Menyikapi hal ini, sebagian orang tua dengan latar belakang minimnya pendidikan menganggap masalah ini hanya sementara dan akan berakhir setelah Covid berakhir, sebagian lagi orang tua sangat cemas dengan keberlangsungan pendidikan anak mereka.

Dari pihak guru atau pendidik terdapat kendala dalam penguasaan teknologi dan strategi. Namun ini bisa diatasi dengan berbagai pelatihan baik secara mandiri atau kolektif melalui webinar dan sebagainya secara berangsur-angsur. Pernasalahan berikut yang dikeluhkan guru adalah kesulitan dalam mengumpulkan tugas siswa karena dalam kenyataannya masih banyak siswa yang hanya mengisi absen kemudian menghilang dan tidak merespon meteri dan tugas yang diberikan guru. Ada pula siswa yang mengirim tugas sampai tengah malam. Selama pandemi guru harus bertugas 24 jam meladeni pengiriman tugas siswa.  Tidak mungkin jika guru tidak merespon sedikitpun, meskipun belum akan dinilai malam itu, tapi sekeder respon dengan emotion tetap harus di berikan  sebagai reword bagi yang sudah mengirim tugas karena baru ada jaringan atau baru punya kuota.  Padahal tugas yang diberikan itu hanya berkaitan dengan materi esensial sesuai Silabus darurat Pandemi dan kontekstual. Meskipun guru tidak dituntut untuk menuntaskan Kompetensi Dasar (KD) secara maksimal namun karena kesadaran akan tugas dan tanggung jawab, guru merasa tidak puas dengan pembelajaran daring yang penuh kendala. Ditambah lagi Gadget guru yang mulai ngadat karena kebanyakan beban memori.

Ketika ditanyakan kepada siswa alasanya tidak mengikuti pelajaran adalah karena belum punya Hp, masalah kuota, jaringan dan akses teknologi. Kalau untuk siswa SD mungkin masih bisa diatasi dengan kunjungan rumah oleh guru karena cakupan wilayahnya masih satu desa, juga dalam penggunaan kuota internet masih bisa dikemdalikan dibawah pengawasan orang tua. Untuk siswa SMA dan Mahasiswa juga tidak terlalu terkendala karena mereka sudah memiliki kesadaran yang kuat untuk mengikuti pembelajaran. Lain halnya dengan pelajar tingkat SMP, dimana orang tua si-anak sudah menganggap mampu menggunakan teknologi. Keterbatasan pengetahuan dan penguasaan terhadap teknologi orang tua, menyebabkan sebagian besar orang tua melepaskan kendali terhadap anaknya. Padahal sesungguhnya anak usia SMP masih harus di pantau dan dibimbing dalam belajar daring dirumah. Berdasarkan pantauan kami, ada siswa yang belajar diluar   seperti di Warnet dan ditempat lain untuk mendapatkan biaya internet murah dan kuat jaringan. Namun ada pula dengan alasan yang sama tetapi mereka gunakan untuk bermain game dan keluyuran. Adalagi siswa yang tidak mengikuti pelajaran dengan alasan membantu orang tua. Dalam hal ini guru menjadi serba susah. Mungkin didaerah perkotaan hal ini jarang di temui. Tapi didaerah pedesaan, kendala ini akan banyak ditemuai karena kondisi latar belakang keluarga siswa masih banyak yang  kurang mampu baik dari segi ekonomi maupun pengetahuan. Kalaupun bisa menggunakan teknologi, tapi masih terbatas pada penggunaan media sosial yang sifatnya umum.

Dalam hal ini pemerintah tentu sudah mengambil langkah antisipasi tidak hanya berupa kebijakan tapi juga sarana prasarana infrastruktur. Diantaranya pembangunan infrastruktur jaringan komunikasi telekomunikasi. Salah satunya adalah pembangunan Infrastruktur Langit sebagaimana di sebutkan oleh Wakil Presiden KH Maaruf Amin dalam pidato Kampanyenya tahun 2019. 

 Apa itu infrastruktur langit

Yang dimaksud pada saat itu adalah suatu proyek raksasa kementrian Komunikasi dan Informasi, yaitu pembangunan jaringan serat optik nasional Palapa Ring yang menjangkau 34 provinsi sepanjang 35.280 km kabel laut dan 21.807 km kabel darat, yang bertujuan Palapa Ring menjadi Tol Langit.  Pembangunan Tol Langit ini diperintahkan oleh Presiden Jokowi  untuk memudahkan masyarakat Indonesia dalam berkomunikasi di seluruh wilayah RI sampai ke pelosok. 

Menurut Menkominfo, Palapa Ring juga seperti Jalan Tol yang bertujuan untuk menambah kecepatan internet untuk membangun negara. Semenjak itu berbagai bentuk Market Place bermunculan sebagai bentuk Ekonomi modern yaitu pasar online. Setelah bidang ekonomi diikuti oleh bidang bidang yang lain termasuk bidang pendidikan     

Dalam Medcom.id dikatakan bahwa sebenarnya pembelajaran daring ini sudah ada sejak tahun 1980 tapi masih terbatas pada beberapa Perguruan Tinggi. Saat ini seluruh lembaga pendidikan dipaksa oleh Pandemi untuk malaksanakan pembelajaran secara online. Meskipun sesungguhnya pandemi hanyalah sebuah momentum dari sebuah perubahan. Sebelumnya masih banyak masyarakat yang tidak peduli bahkan bisa penolak kemajuan teknologi. Saat ini teknologi memaksa kita untuk mampu menggunakannya tanpa peduli apapun alasannya.

Sebagaimana gencarnya pembangunan Tol darat dan Tol laut, pada awal 2020 jaringan optic sebagai Jaringan Tol Langitpun sudah terpasang hampir di seluruh wilayah Indonesia. sehingga tidak adalagi daerah yang istilahnya Blank Spot. Siapapun bisa memanfaatkannya sesuai dengan tarif yang sudah ditentukan

Tol darat hanya dilewati oleh orang kelas menengah keatas karena mereka bepergian dengan menggunakan kendaraan pribadi, kalaupun tarif tol mahal, mereka masih akan sanggup membayar. Orang orang kelas bawah tidak akan menggunakan jalur tol. Kalaupun ada bukan mereka yang membayar karena mereka tidak menggunakan kendaraan sendiri alias numpang pada tetangga, saudara atau kendaraan umum. Artinya jika tidak mau membayar biaya tol mahal orang masih bisa memilih jalur lain. Lain halnya dengan tol langit saat ini, dimana semua kalangan harus menggunakannya terutama untuk proses pendidikan.

Dalam hal ini jelas salah satu yang menjadi masalah sekaligus kendala dalam pelaksanaan pendidikan khususnya proses pembelajaran adalah tarif kuota internet. Jika untuk pemakaian yang terbatas seperti sebelum pandemi mungkin hal ini tidak menjadi masalah, karena yang menggunakan internet hanya orang yang sanggup menggunakan saja. atau orang yang merasa butuh saja. Sedangkan saat ini tanpa kuota internet yang cukup dan kuat orang tidak bisa mengikuti pembelajaran dengan baik.

Memang pemerintah sudah memberi solusi berupa pengalihan dana BOS. Hal ini di atur dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 19/2020 tentang Perubahan Petunjuk Telnis BOS dan Permendikbud Nomor 20/2020 tentang Perubahan Petunjuk Teknis BOP PAUD dan Kesetaraan di masa kedaruratan Covid-19. Tapi tampaknya ini belum tersosialisasi dengan sempurna. Baik dikalangan pimpinan sekolah, guru maupun ke Wali Murid. Sehingga sampai saat ini masih banyak orang tua yang mengelukhan biaya kuota internet, terlebih lagi bagi orang tua yang memiliki lebih dari 2 anak pada tingkat dan sekolah yang berbeda, belum lagi untuk membeli gadgetnya.


Selain dari solusi diatas, semua provider atau operator jaringan internetpun juga sudah menyediakan berbagai macam paket kuota. dengan berbagai harga, tapi kecepatannya juga tidak bisa dijamin karena tergantung pada besarnya kuota dan kondisi jaringan tiap daerah.

Disisi lain kita tentu tidak menginginkan menurunnya mutu Sumber Daya Manusia Indonesia akibat tidak bisa belajar selama pandemi. Sementara, kita tidak tahu kapan pandemi ini akan berakhir. Kalaupun Pandemi Covid 19 berakhir atau bisa diatasi karena telah ditemukan vaksinnya, mungkin akan ada masalah lain yang akan menyebabkan kita harus terus memanfaatkan teknologi Internet dalam menjalankan roda kehidupan. Karena seyogyanya tidak ada sejarah yang mundur. Ilmu teknologi terus berkembang, kemajuan dan perubahan tak pernah bisa dihentikan. Artinya kita tak bisa berharap bahwa kehidupan normal seperti sebelum pandemi akan kembali bisa dijalani. Maka mulai sekarang kita harus dapat menerima kondisi kehidupan kenormalan baru saat ini sebagai kehidupan normal yang kita maksudkan.

Begitu banyak permasalahan terkait dunia pendidikan. Untuk itu mungkin hal yang perlu menjadi perhatian kita bersama adalah bagaimana pemerintah memfasilitasi dunia pendidikan dengan meningkatkan kemudahan akses internet dan  biaya lebih murah jika ingin mengatasi kendala yang menghambat pendidikan saat ini.  Kalau sebelumnya orang yang memiliki kendaraan roda empat meminta penurunan tarif jalan Tol. Maka saat ini seluruh masyarakat bawah terutama yang memiliki anak sekolah berharap adanya peningkatan kecepatan jaringan internet dan penurunan harga kuota atau penurunan tarif Tol Langit. Untuk saat ini tentu dana penambahan dan perbaikan gedung serta mobiler sekolah belum lagi dibutuhkan. Yang sangat di butuhkan adalah jaringan Internet yang kuat dan murah sehingga bentuk membelajaran tatap muka melalui ruang Virtual dengan berbagai aplikasi platform yang memudahkan dapat terlaksana secara optimal dan maksimal. Dan diharapkan dengan adanya tatap muka diruang virtual, guru dapat mengontrol kehadiran dan keikutsertaan siswa dalam mengikuti pembelajaran sekali gus untuk pendidikan karakternya secara maksimal. Pentingnya kuota internet saat ini sama dengan pentingnya keberadaan meja dan kursi saat belajar di kelas pada masa sebelum adanya pandemi. 



Sumber

https://inet.detik.com/cyberlife/d-4471783/maruf-amin-singgung-infrastruktur-langit-apa-itu

  • Medcom.id (2020, 19 April). Ternyata Belajar Daring sudah ada sejak 1980 di Indonesia. Diakses dari

https://www.medcom.id/pendidikan/news-pendidikan/8N00jB7N-ternyata-belajar-daring-sudah-ada-sejak-1980-di-indonesia 

Liputan6.com. (2019, 18 Maret). 4 Ciri-ciri Globalisasi yang Tanpa Disadari Mengubah Kehidupan. Diakses pada 19 Maret 2019, dari https://www.liputan6.com/citizen6/read/3919594/4-ciri-ciri-globalisasi-yang-tanpa-disadari-mengubah-kehidupan 

Rabu, 26 Agustus 2020

UPACARA TURUN BAKUL : EKSISTENSI BUDAYA LOKAL DI TENGAH ANCAMAN TRAGEDI SOSIAL BUDAYA

 


Oleh Lestari Kurniawati, M.Pd.

SMPN 1 Rangkasbitung, Banten


Setiap daerah di Indonesia memiliki tradisi unik dalam upaya menunjukkan keberadaan mereka di tengah masyarakat modern. Tradisi-tradisi yang beragam membuat bangga warga masyarakat, karena menunjukkan bahwa Indonesia adalah negara yang berbudaya. Senada dengan kondisi saat ini, tak dipungkiri bahwa gempuran teknologi informasi dan komunikasi, membawa dampak serius bagi keberlangsungan kehidupan berbudaya kita. Bagaimana yang salah menjadi viral dan membawa profit ekonomi, sebut saja “Tilik”. Jika kita tidak bisa mengendalikan ini semua, maka akan menghancurkan tatanan sosial budaya masyarakat kita.


Haruskah kita hanya menjadi penonton saja ketika gelombang tragedi sosial budaya datang? Galibnya, kita harus menyadari bahwa kehadiran teknologi informasi dan komunikasi hadir tanpa dilengkapi dengan aturan memakainya, regulasi yang abu-abu, dan adanya partisipasi berlebihan dari masyarakat, (Rachbini, 2018) di mana yang ramai followersnya di anggap “baik”.


Hal yang perlu kita lakukan untuk mengatasi ancaram tragedi budaya ini adalah dengan “mengenal, mempelajari dan memaknai” melalui potret kehidupan lingkungan terdekat. Bagaimanapun, sebagai manusia berbudaya kehidupan yang sudah menjadi tradisi adalah pengikat lahir batin “siapa kita”. Tradisi yang dimaksud adalah suatu kebiasaan yang sudah berlangsung lama dan turun-temurun sebagai wujud hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan Tuhan, dan manusia dengan lingkungannya, dan kebiasaan itu dianggap sesuatu yang baik untuk dilanjutkan. (Basariyadi, 2018)


Kabupaten Lebak banyak menyimpan beragam tradisi yang masih di pertahankan, misalnya tradisi Seba Baduy, Sedekah Bumi, Seren Taun, Upacara Ngunjal, dan masih banyak lainnya yang tidak terlepas dari kehidupan masyarakat pertanian. 


Upacara turun bakul, penulis angkat sebagai salah satu bentuk local genius yang berlangsung di masyarakat Hariang, Kecamatan Sobang Kabupaten Lebak-Banten. Upacara Turun Bakul adalah rangkaian prosesi yang berlangsung di bulan Mulud (tanggalan Islam) dan Ruwah sebagai bentuk tanda syukur melalui makanan yang bermediakan bakul. Menurut KBBI bakul artinya wadah atau tempat yang terbuat dari anyaman bambu atau rotan dengan mulut berbentuk lingkaran, sedangkan bagian bawahnya berbentuk segi empat yang ukurannya lebih kecil daripada bagian  mulutnya. 


Tujuan dilaksanakannya upacara turun bakul : Pertama untuk memperingati hari lahir Rasulullah SAW dilaksanakan pada bulan Mulud, kedua upacara turun bakul yang dilaksanakan di bulan Ruwah juga sebagai wujud ajaran Islam yang ditujukan untuk saling membersihkan diri menjelang Ramadhan, saling berbagi atau bersedekah  sebagai ucapan rasa syukur atas hasil panen dan sebagai ajang bersilaturrahmi sesama anggota masyarakat. Jadi, upacara turun bakul ini dua kali dalam setahun dengan prosesi yang sama. 


Sebagai salah satu upacara adat, dalam rangkaian kegiatan upacara Turun Bakul ada beberapa syarat-syarat sebagai berikut: pertama, semua barang yang digunakan untuk perlengkapan memasak harus bersih karena ditujukan upacara selamatan. Tidak hanya peralatannya saja yang bersih, yang memasaknya pun harus perempuan dan sedang tidak haid. Kedua, untuk tempat menyimpan makanan yang telah di masak harus pakai bakul, makanan yang disajikan di bakul diantarkannya ke mesjid, ketiga orang yang mengantarkan ke mesjid harus anak laki-laki dewasa, maupun pemuda pemuda, terutama bapak-bapak. 


Keempat, Turun Bakul dilaksanakan untuk anggota masyarakat yang mampu saja, masyarakat yang tidak mampu boleh tidak mengumpulkan bakul makanan. (Jajang, Persyaratan dan Prosesi Upacara Turun Bakul, 2019).


Adapun bahan pokok dalam upacara turun bakul antara lain: beras, ayam bakar, garam, daun pisang, mie instan, telur, dan Ikan. Selanjutnya upacara turun bakul yang akan diadakan memiliki beberapa tahapan prosesi yang harus dilakukan: 

  1. Mengumpulkan bakul yang berisi bahan makanan ke tempat prosesi akan diadakan.

  2. Mengumpulkan masyarakat setempat yang akan menjadi peserta upacara.

  3. Setelah masyarakat berkumpul, bakul yang sudah di kumpulkan di masjid di taruh di tengah lingkaran orang yang membaca do’a. Kemudian bakul-bakul tersebut diikutkan dalam do’a bersama.

  1. Selanjutnya, pembagian bakul makanan secara rata, kepada seluruh masyarakat, tapi bakul yang diambil harus milik orang lain. (Nani, 2019).


Ketika penulis mengikuti kegiatan prosesi upacara Turun Bakul mulai dari tahap persiapan sampai selesai, makna yang penulis dapatkan adalah pertama, nilai sosial seperti kehidupan gotong royong masih begitu terasa. Toleransi, keguyuban akan menjadi warisan yang terus mengalir dalam darah anak cucu kelak. 

Kedua, upacara turun bakul ini merupakan salah satu ajang untuk berkumpul bersama dan bersilaturrahmi dengan warga sekitarnya. Hal ini mengingatkan kita pada George Simmel (1995). Ia memperkenalkan konsep “Dyad dan Triad” dalam interaksi kehidupan manusia. “Dyad” merupakan kelompok terkecil dalam hubungan kemanusiaan. Hubungan yang hanya terjadi pada dua orang. Biasanya hubungan seperti ini lebih bersifat erat, memiliki perasaan yang sama, dan pada hubungan ini setiap orang memainkan peranan masing-masing, langsung sesuai kedudukannya. Sedangkan “Triad” merupakan hubungan yang lebih kompleks. Hubungan lebih rumit disebabkan oleh keterlibatan dan kehadiran pihak lain, sehingga struktur hubungan jauh berbeda. Pembentukan struktur dan pertukaran gagasan, pertukaran peranan, pertukaran kepentingan lebih bersifat kompleks dibandingkan dengan  pembentukan struktur dan pertukaran peranan pada hubungan yang bersifat “dyad”. Semua unsur kepentingan berkelindan di dalam hubungan yang bersifat “triad”, sehingga hubungan ini selalu cenderung kepada keadaan yang tak stabil, mudah retak. Upacara Turun Bakul kemudian menjadi penting, karena ia akan menjadi medium memelihara jarak antara hubungan yang bersifat “dyad” dan “triad”. (Mahya, 2015)

Ketiga, Ikatan komunal yang terangkai dalam ikatan tradisi akan menemukan karakternya, kepribadiannya, dan rasa memiliki atas anugerah kekayaan budaya. Hanya dengan memposisikan diri kita bagian dari kelangsungan tradisi, ancaman sosial budaya dapat dihadapi. 

Akhirnya, keterikatan seseorang pada kelompok atau komunitas budaya adalah tak terlepaskan, bahkan abadi.

BAHAN BACAAN:


Basariyadi, A. (2018, April Rabu). Dipetik April Rabu, 2019, dari https://majalahpendidikan.com.

Jajang, U. (2019, April, 19 Jum'at). Persyaratan dan Prosesi Upacara Turun Bakul. (L. Kurniawati, Pewawancara)

Mahya, W. N. (2015, November 22). Warung Ilmu. Dipetik August 25, 2020, dari http://blog.unnes.ac.id/warungilmu/2015/11/22/georg-simmel/

Nani, K. D. (2019, April, 20 Sabtu). Prosesi Upacara Turun Bakul. (L. Kurniawati, Pewawancara)

Rachbini, D. J. (2018, May 14). Detik. Dipetik August 25, 2020, dari https://news.detik.com/kolom/d-4019816/tragedi-sosial-budaya