Sabtu, 01 Agustus 2020

Guru Garut Bukan Begal

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Ketua PB PGRI)

Gertakan   seorang oknum anggota Polri yang mengatakan,  “Anjing Saya Tembak Kamu!” Menjadi viral di media sosial. Bila ungkapan itu ditujukan pada binatang anjing atau kucing tentu tidaklah mengapa. Namun bila gertakan dan teriakan itu diarahkan pada entitas guru, sungguh menyedihkan. Ucapan spontan ini harus jadi pelajaran dan semoga tidak terjadi lagi.

Guru-guru di Garut bukan begal. Mereka penjaga marwah dan kehormatan profesi guru. Pesan dari Kabupaten Garut substansinya adalah “Jangan Menghina Guru, Hormati Guru”.  Ketika gerakan masa guru Garut  dalam kendali PGRI berupaya membela kehormatan profesi guru. Malah ada ucapan aparat yang justru merendahkan martabat profesi guru.

Apresiasi kepada PGRI Kabupaten Garut dan IGORA yang kompak membela kehormatan profesi guru. Guru bukan begal yang bisa digunduli, disebut goblok, disebut anjing.  Guru memang punya keterbatasan dan kekurangan. Namun perlakukan, perkataan dan segala bentuk perendahan martabat guru harus dilawan! Bila dibiarkan akan semakin membuat liar bangsa ini.
Guru harus bangkit menegakan marwah. Bila guru  diam diri saat ada sejumlah pelecehan, apa pun bentuknya menjadi salah. Guru saat ini jangan kemayu atau mellow. Tegakan marwah profesi guru. Jangan ada lagi guru diperas  oknum ormas,  oknum wartawan, aparat penegak hukum dan pihak lainnya yang tak tahu terimakasih kepada guru. PGRI Kabupaten Garut dalam kasus  Dede Iskandar sudah  bertindak benar.

Dalam UURI No 14 Tahun 2005 dijelaskan perlindungan profesi guru diantaranya harus dilakukan oleh organisasi profesi guru.  PGRI Kabupaten Garut  sudah bertindak sesuai undang-undang. Semoga semua kekuatan PGRI di seluruh kabupaten kota selalu bersiap, kompak dan bersatu untuk bertindak dan proaktif dalam upaya penegakan  perlindungan profesi guru.  Publik harus tahu bahwa organisasi guru dimana pun akan peka dan bersatu membela marwah profesi guru.

Prof. Dr. Dadan Wildan seorang cendikiawan,  deputi di Kementerian Sekertariat Negara  RI dan putra seorang guru menyanyangkan  akan adanya sejumlah kejadian yang merendahkan martabat seorang guru.  Nampaknya Prof. Dr.  Dadan Wildan setuju bila publik harus diedukasi dan diberi wawasan tentang pentingnya menghoramti profesi guru.  Dalam hal ini tentu keberadaan PGRI  di seluruh Indonesia bisa bergerak bersama, seirama menegakan marwah  profesi guru.

Semoga tragedi pelecehan pada profesi guru di Garut, Subang dan Majalengka tidak terulang lagi. Bahkan semoga kisah pilu mundurnya 64 kepala SMPN di Riau pun tidak terjadi lagi.  Birokrat, penegak hukum, Ormas, LSM, jurnalis dan politisi bisa bekerja, punya ijazah semua karena jasa  guru. 

Hormatilah guru! Menghormati guru adalah seruan ajaran agama. Bila ada guru punya salah dan kekurangan, edukasi saja.  Guru itu dunianya edukasi. Guru punya salah dan dosa edukasi saja. Kecuali sangat terlalu maka bisa digiring ke ranah hukum. Tentu dengan pendampingan onprof guru.  Stop merendahkan martabat guru!

Selama sebuah bangsa memperlakukan guru sebagai warga negara biasa,  dan merendahkannya. Selama itu pula bangsa itu akan menjadi “Masyarakat Malin Kundang”. Tidak ada keberkahan dalam kehidupan masyarakat maling dan Malin Kundang. Mari kita menjadi bagian dari bangsa yang beradab, berkarakter dan berakhlak mulia. Mulia mulai darimana? Mulai dari menghormati diri, orangtua dan guru! 
Tidak ada bangsa besar dan jaya dengan melukai perasaan guru! Negara Jepang saja  hanya bisa bangkit dengan cepat saat terpuruk karena perang dunia ke dua, dimulai dari “Berapa Jumlah Guru Yang Tersisa”. Negara akan terpuruk biasanya karena “Berapa Jumlah Guru Yang Tersakiti”.  Jangan sakiti perasaan guru! Guru dikatakan goblog. Dikatakan anjing. Diancam ditembak. Ini bukan yang pertama! Bahkan seorang begal pun masih punya harga diri. Guru bukan begal!

Saya mengajak para guru se Indonesia, mari menjadi guru yang lebih baik. Guru mulia karena belajar. Guru hebat karena karya. Guru dikagumi karena dedikasi.  Menjadi guru adalah sebuah kehormatan. Mari pertanggung jawabkan  profesionalisme guru dengan prestasi dan melayani masyarakat dengan maksimal. Semoga  asbab guru lebih baik, tidak ada lagi masyarakat yang merendahkan profesi guru! Semua introspeksi, introspeksi semua!