Sabtu, 22 Agustus 2020

Kenali Disleksia Sejak Dini

Oleh Hanik Fauziyah, S.Pd

Guru SMPN 6 Probolinggo


“Masih teringat dengan seorang murid  bernama Adis (Bukan nama sebenarnya). Murid yang postur badannya tinggi, tegap dengan wajah yang ganteng dan murah senyum, sepintas tidak ada yang aneh pada diri Adis, tempat duduknya paling belakang. Tapi kok tulisannya seperti sandi rumput dan tidak bisa membaca.”

Setiap kali mengajar di kelasnya Adis dan pasti timbul pertanyaan “Sudah  SMP tidak bisa menulis dan membaca. Memang aneh, tetapi membuatku semakin ingin tahu “Ada apa dengan Adis?,  Kenapa?”. Akhirnya akupun menjelajahi artikel, journal,  browsing di internet, yang akhirnya  bertemulah dengan istilah “DISLEKSIA”. 

Apa itu Disleksia? 

Disleksia adalah Suatu kondisi dimana individu menunjukkan kesulitan yang bermakna di area berbahasa termasuk mengeja, membaca dan menulis. Sebagian besar orang awam memahami disleksia adalah tidak bisa baca tulis dan malas belajar.

Disleksia yang berasal dari bahasa Greek secara harafiah mengandung makna kesulitan berbahasa (dys = sulit; lexia= bahasa). Disleksia terjadi pada individu dengan potensi kecerdasan normal, bahkan banyak diantara mereka yang mempunyai tingkat kecerdasan jauh di atas rata-rata. Itulah sebabnya maka disleksia disebut sebagai kesulitan belajar SPESIFIK, karena kesulitan belajar yang dihadapinya hanya terjadi pada satu atau beberapa area akademis yang spesifik saja, diantaranya area membaca, menulis dan berhitung.

Penyebabnya?

Ada beberapa faktor penyebab disleksia, yakni faktor genetik, faktor cidera otak dan faktor pemrosesan fonologi.

  1. Faktor Genetik merupakan faktor pertama penyebab disleksia, yang cenderung terjadi dalam keluarga secara turun temurun. Seorang ayah yang disleksia berpotensi menurunkan disleksianya 39 % pada anak laki-lakinya dan 17-18 % pada anak perempuannya, Sedangkan seorang ibu yang disleksianya 34% pada anak laki-lakinya dan 17-18 % pada anak perempuannya. Selain dari keturunan keluarga juga disebabkan oleh kelahiran yang prematur dan berat badan bayi rendah.

Ketika mengandung apa yang dikonsumsi si ibu juga dapat menjadi faktor penyebab disleksia, Khususnya konsumsi yang berbahaya pada kehamilan, seperti obat-obatan Fa

  1. Faktor Cidera Otak

Faktor Cidera otak merupakan faktor yang paling sering menjadi penyebab disleksia, dimana terjadi setelah masa kelahiran/bukan karena faktor genetik. Biasanya terjadi karena kecelakaan, stroke dan trauma.

  1. Faktor Pemrosesan Fonologi

Faktor ini terjadi karena adanya ketidakstabilan dalam otak, terutama pada area fonologis/bahasa dimana menyebabkan penderita disleksia mengalami kebingungan dan susah membedakan huruf yang hampir sama atau terbalik-balik, seperti huruf B dan D serta huruf P dan Q

Selain 3 faktor tersebut. Terdapat satu faktor potensial yang dapat menyebabkan seseorang mengalami kesulitan belajar disleksia. Berdasarkan penelitian yang dilakukan 2 ilmuwan Prancis 2017 yakni Guy Ropars dan albert Le Floch. Mereka menyebutkan ada faktor lain penyebab disleksia yakni kondisi mata yang simetris. 

Pada dasarnya mata manusia memiliki salah satu mata yang dominan ketika mata melihat 2 visual yang mirip, mata dominan akan menentukan salah satu bentuk dan mengabaikan visual lainnya. Sedangkan penderita disleksia memiliki mata yang setara/tidak ada yang dominan, sehingga akan mengakibatkan otak mengalami kesulitan dan kebingungan untuk menentukan dua visual yang mirip. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan susunan sel reseptor pada mata. Pada mata disleksia, reseptor tersusun simetris sedangkan pada mata normal tersusun asimetris.

Mengapa Disleksia harus dikenali sejak dini?

Seringkali orang tua terlambat mengetahui tanda-tanda anaknya memiliki potensi disleksia. Padahal, jika diketahui sejak dini bisa segera ditangani. Perlu diketahui bahwa disleksia itu bukanlah penyakit akut yang bisa sembuh, Disleksia diturunkan secara genetik, sehingga akan tetap disandang seumur hidup. 

Apakah guru sudah mampu mengenali anak didiknya yang mengalami disleksia dengan tepat?, atau justru mengenali anak yang malas, anak bodoh ataupun anak nakal. Bagi guru yang tidak mengetahui mengenai disleksia, Guru akan memberi cap atau pelabelan terhadap anak tersebut sebagai anak yang bodoh. Padahal, penyandang disleksia inteligen dalam tingkat yang nomal atau bahkan diatas normal. Mereka hanya mengalami kesulitan berbahasa, baik itu menulis, mengeja, membaca, maupun menghitung. 

Menjadi guru harus siap dengan berbagai macam karakter siswanya dan seorang guru harus mampu membaca kemampuan anak didiknya. Guru harus dapat memonitor progres si anak, bagus atau tidak. Jika tidak bagus, maka bisa mengambil strategi khusus.

Begitu juga dengan orang tua, harus jeli dengan perkembangan anaknya. Ketika anak mulai memasuki bangku TK dan SD, anak tersebut mengalami kesulitan menulis, membedakan kata-kata dan huruf. Maka orang tua haruslah tanggap dengan kondisi anak tersebut.  

Disleksia sangat penting untuk dikenali sejak dini, Disleksia yang dikenali sejak dini dan mendapatkan tindakan yang tepat akan menumbuhkan kemampuan anak untuk mencari strategi belajar yang tepat bagi dirinya dan anak siap menghadapi berbagai tantangan di setiap jenjang kehidupannya.

Seorang guru dan orang tua harus mengenali dan mengetahui apa itu disleksia. Jika orang tua dan guru terlambat untuk mengetahui anak penyandang disleksia akan terjadi Komplikasi Disleksia dengan banyak masalah, contohnya:

  1. Masalah belajar dan memahami materi pelajaran di sekolah yang berakibat pada jenjang pendidikan

  2. Masalah sosial akibat rasa rendah diri, masalah perilaku, kecemasan, agresi dan penarikan dari teman, orang tua, dan guru

  3. Masalah sebagai orang dewasa akibat ketidakmampuan untuk membaca dan memahami sesuatu.

  4. Masalah ekonomi di kemudian hari akibat jenjang pendidikan yang tidak memadai

  5. Mengalami Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), sehingga sulit mempertahankan perhatian, hiperaktif, serta berperilaku impulsif.

Bagaimana Peran Guru dan Orang tua?

Pada dasarnya, disleksia tidak dapat disembuhkan. Peran guru dibutuhkan saat anak berada di sekolah, sedangkan peran orang tua adalah melengkapi peran guru ketika berada di rumah. Berikut adalah strategi belajar yang dapat digunakan guru untuk membantu anak mengalami disleksia:

  1. Tidak menunjukkan kelemahan anak disleksia di depan teman sekelasnya, seperti meminta membaca didepan kelas karena akan menurunkan motivasi anak

  2. Guru dapat menggunakan peta pikiran (mind map) untuk membantu menstrukturisasi ide.

  3. Gunakan kosa kata kunci ketika menjelaskan ,atematika atau ilmu pengetahuan alam.

  4. Sampaikan informasi secara visual dengan diagram alur.

  5. Hindari penggunaan kalimat panjang.

  6. Berikan instruksi dengan jelas dan singkat.

  7. Berika waktu tambahan dalam mengerjakan tugas atau mencatat materi yang diberikan.

  8. Berikan alat bantu, seperti perekam suara, daftar kata kunci atau kartu alphabet.

Agar lebih efektif dalam membantu anak disleksia dalam belajar, maka orangtua juga perlu memberi dukungan. Strategi yang dapat dilakukan orangtua untuk membantu anak disleksia adalah sebagai berikut:

  1. Membaca keras setiap hari. Jika anak masih usia kanak-kanak maka orangtua dapat membacakan cerita bergambar anak dan menunjuk setiap kata yang sedang dibacakan. Cara ini dapat digunakan pada anak dengan usia yang lebih besar, namun bahan bacaannya berbeda, seperti majalah atau artikel koran. Hal ini dilakukan agar anak terbiasa melihat tulisan sekaligus mendengarkan bunyi kata pada bacaan.

  2. Fokus pada ketertarikan anak. Berikan berbagai pilihan banahn bacaan yang sesuai dengan ketertarikan tingkat pemahaman anak, seperti buku komik, cerita misteri, buku resep, majalah, cara membuat mainan, dunia hewan, dan lain sebagainya.

  3. Menggunakan audiobook atau buku yang memberikan rekaman suara. Anak dapat belajar memahami cerita sambil melihat kata-kata yang diucapkan oleh alat perekam.

  4. Fokus pada usaha bukan hasil. Orangtua harus menghargai usaha anak untuk mencoba dan belajar. Dukung anak untuk terus belajar mempraktekkan membaca dengan cara memberikan pelukan atau hadiah kecil lain setiap kali anak berhasil mencoba membaca.

  5. Dorong kepercayaan diri anak. Ikutkan anak pada kegiatan hobi atau ekstrakurikuler agar anak dapat mengetahui bahwa dia memiliki kemampuan atau ketrampilan.

Pihak sekolah dan orang tua harus mampu bersinergi dalam menumbuhkan nilai nilai sosial untuk mendapatkan hasil yang maksimal sehingga dapat menumbuhkan rasa percaya diri pada anak disleksia. Perlu diyakini bahwa disleksia bukan karena disebabkan oleh kebodohan sehingga guru tidak perlu memberi pelabelan anak bodoh, begitu juga orang tua harus menghargai usaha anak disleksia dan tidak perlu menuntut hasil yang sempurna pada anak disleksia.


Referensi

  1. Abdurrahman, Mulyono, Anak Berkesulitan Belajar, Teori Diagnosis dan Remediasinya, Jakarta: Rineka Cipta, 2012 

  2. Arini,  Aquila  Tanti, Perilaku  Anak Usia Dini Kasus dan Pemecahannya, Yogyakarta: Kanisius, 2003

  3. Baihaqi, MIF dan M. Sugiarmin, Membantu dan Memahami Anak ADHD, Bandung: PT. Refika Aditama, 2008.