Minggu, 30 Agustus 2020

KIAT SUKSES AGAR EKSIS DALAM KEABADIAN

 


Oleh Enang Cuhendi

 

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis ia akan hilang dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Demikian Pramudya Ananta Toer pernah berkata. Sang penulis besar yang pernah menjadi nominator peraih hadiah Nobel bidang sastra ini bukan tanpa alasan berkata demikian. Kalau kita cermati secara mendalam apa yang disampaikan Pram, begitu dia biasa dipanggil, sangat sarat makna.

Banyak orang yang pintar dan tidak sedikit yang terkatagori pandai. Mereka banyak ilmu dan mungkin saja ilmunya itu di atas rata-rata orang kebanyakan. Walau demikian ilmu tersebut tidak akan abadi dalam kehidupan seandainya ia tidak menuliskannya. Setidaknya dituliskan oleh orang lain. Dengan adanya tulisan maka ilmu tersebut akan terus abadi dari satu generasi ke generasi lainnya. “Ikatlah ilmu dengan menulis” demikian Ali bin Abu Thalib pernah berucap.

Sejalan dengan itu menurut Imam Syafi’i ilmu itu ibarat hasil panen/buruan di dalam karung, menulis adalah ikatannya. Sebanyak apapun hasil panen atau hasil buruan yang tersimpan di dalam karung, kalau karung itu tidak pernah diikat maka akan tercecer atau hilang. Sebanyak apapun ilmu yang kita miliki jika kita tidak pernah mengikat dengan cara menuliskannya, maka lama-lama akan hilang tertelan lupa dan juga masa.

Untuk itu menjadi kewajiban bagi setiap orang, terutama yang berilmu untuk mulai menulis. Dengan menulis maka kita akan selalu abadi dalam masyarakat dan tidak tertelan oleh sejarah. Tulisan-tulisan kita akan menjadi wakil kehadiran kita sampai kapan pun, walau jasad kita sudah hancur tertelan bumi. Bukankah kita mengenal sosok-sosok besar dengan pemikirannya yang hebat karena karya-karya tulis mereka. Dalam konteks Indonesia sebut saja sosok-sosok besar seperti: Ir. Soekarno, Drs. Muhammad Hatta, R.A. Kartini, Raden Dewi Sartika, H. Agus Salim, Buya HAMKA, Jenderal Besar A.H. Nasution, B.J. Habibie sampai seorang Soe Hok Gie yang mantan mahasiswa Univesitas Indonesia dikenal pemikirannya lewat tulisannya. Mereka sudah lama tiada, tetapi hasil pemikirannya masih hidup dan mewarnai dunianya masing-masing sampai sekarang.

Bukankah kita juga bisa mengenal kehidupan masa lalu manusia karena adanya tulisan? Bayangkan seandainya tidak ada prasasti, kitab-kitab kuno, dokumen, inskripsi, biografi, memoar dan karya tulis lainnya mungkin kita akan buta tentang kehidupan masa lalu. Mengapa sejarah bangsa Cina begitu lengkap dari satu generasi ke generasi lainnya? Jawabannya karena mereka rajin mencatat atau menuliskan setiap peristiwa yang terjadi. Budaya menulis mereka sudah maju sejak ribuan tahun yang lalu. Bahkan sejarah bangsa Indonesia pun sebagian dibuka melalui catatan sejarah Cina, seperti: catatan Fa hien, berita I’Tsing, catatan berita dari Dinasti Sung, Tang, Ming dan lainnya.

Untuk bisa menulis tentunya harus rajin membaca. Dengan sering membaca maka wawasan si penulis akan menjadi luas dan tulisannya akan berbobot. Dora Febriana, seorang penulis, mengibaratkan membaca dan menulis ibarat sepasang kekasih, belahan jiwa yang saling menguatkan, mengingatkan dan saling melengkapi. Seorang yang tidak suka membaca mungkin saja bisa menulis, tetapi kalau ingin tulisan itu berbobot, bergizi dan memberi manfaat yang lebih luas penulis wajib melengkapi diri dengan sering membaca. Membaca apa? Apa saja, terutama yang terkait dengan bahan yang akan ditulisnya.

Untuk bisa menulis, seorang pemula tentunya harus mampu menyingkirkan semua alasan yang biasa muncul dan sering dimunculkan. Alasan seperti: tidak ada bakat, cape, sibuk, tidak ada waktu, sudah menulis tapi tidak beres-beres, bingung harus memulai dari mana dan segudang alasan lainnya wajib hukumnya untuk disingkirkan. Kalau itu tidak dibuang jauh-jauh, dijamin tulisan itu tidak akan bisa selesai bahkan mungkin tidak akan pernah menulis sama sekali.

Ada juga orang yang berlindung di balik usia. Ia selalu mengatakan bahwa dirinya sudah tua jadi tidak mungkin belajar menulis lagi. Usia jangan dijadikan alasan. Bukankah Hernowo atau di dunia maya dikenal sebagai Hernowo Hasim, seorang penulis 24 buku dalam empat tahun dari total 37 buku yang sudah ditulis sampai saat akhir hayatnya, memulai aktivitas menulis setelah usia 44 tahun. Jose Saramago, peraih Nobel sastra 1998 mulai menulis di usia 60 tahun. Toni Morison, peraih Pulitzer Prize dan Nobel sastra 1993 mulai menulis di usia 40-an.  Bahkan seorang Toyo Shibata baru menulis di usia 92 tahun dan buku perdananya yang berjudul Kujikenaide atau Don’t Lose Heart baru terbit saat ia berusia 98 tahun.

Yuk, buang semua alasan! Mulailah untuk menulis! Bukankah Merry Riana, seorang motivator yang juga penulis Mimpi Sejuta Dollar pernah mengatakan,” Orang sukses itu selalu mencari jalan, orang gagal selalu mencari alasan. Selama kamu masih bersembunyi di balik alasan kamu tidak akan bisa.” Untuk itu sekali lagi buang jauh alasan. Tanamkan dalam diri prinsip paksa, bisa dan biasa. Kita paksa diri kita untuk bisa, setelah bisa pasti akan berkembang menjadi biasa.

Menulis sejatinya adalah keterampilan. Keterampilan pasti bisa dilatih, walau tanpa bakat sekalipun. Kuncinya asal punya kesungguhan dan sering berlatih. Yang membedakan hanya sedikit, orang berbakat ketika rajin berlatih mungkin akan lebih cepat terampil, sedangkan yang tidak berbakat perlu sedikit waktu lebih lama untuk bisa. Walau begitu, asal sungguh-sungguh yang tidak berbakat pun pasti akan terampil.

Seringkali kita ikut pelatihan menulis karena ingin terampil. Bahkan mungkin kita dilatih oleh trainer yang punya nama besar, tapi kenapa sampai hari ini saya belum terampil menulis? Apa karena salah teorinya? Sesungguhnya sesering apapun kita mengikuti pelatihan, sehebat apapun trainer yang melatih kita, bahkan semahal apapun biaya yang dikeluarkan untuk mengikuti pelatihan menulis, semua tidak akan berarti selama kita tidak mau rutin melatih diri. Tidak ada teori yang hebat untuk bisa cepat menulis. Teorinya hanya satu, ya mulailah menulis. Kalau mau tiga teori terampil menulis, yaitu satu menulis, dua menulis dan tiga menulis. Jadi kata kuncinya, ya “menulis” sesering mungkin.

Tanpa latihan yang rutin sulit untuk kita bisa terampil menulis. Bukankah Leonel Messi dan Cristiano Ronaldo, dua mega bintang sepakbola dengan bayaran milyaran rupiah per hari, walau berbakat besar mereka setiap hari masih berlatih, bahkan porsi latihannya jauh lebih banyak dari yang lain. Kalau kita ingin terampil menulis ya berlatihlah dengan tekun, menulis, menulis dan menulislah.

Saya ingin terampil menulis? Saya ingin terbiasa menulis? Harus menulis apa? J.K. Rowling sang penulis Herry Potters, memberi tips khusus. Menurutnya, “Mulailah dengan menuliskan hal-hal yang kamu ketahui. Tulislah pengalaman dan perasaan sendiri”. Jadi mulailah belajar menulis dengan mencari bahan dari apa yang dekat dengan kita, apa yang kita kuasai, dan apa yang kita sukai. Janganlah menulis sesuatu yang di luar kemampuan kita atau tidak kita sukai, semua hanya akan menjadi beban yang akhirnya menyurutkan semangat berlatih kita. Jangan pula menulis sesuatu yang tidak kita sukai, karena yang hadir nantinya hanyalah sebuah keterpaksaan.

Jenis tulisan yang diambil sesuaikan dengan kegemaran masing-masing. Bisa tulisan fiksi atau non fiksi. Tulisan fiksi bisa berupa novel, cerpen, puisi, dongeng dan sebagainya. Sedangkan non fiksi bisa berupa opini, feature, biografi, resensi atau laporan, Apa yang mau ditulis sekali lagi sesuaikan dengan yang kita sukai. Yang penting mulailah menulis.

Untuk itu salah satu kiat jitu jika eksistensi kita di masyarakat dan sejarah tidak ingin hilang musnah tertelan masa, maka mulailah untuk menulis. Dengan menulis kita sudah bekerja dalam keabadian. Bahkan bonusnya kita pun akan dikenal dunia selamanya. “Jika engkau ingin mengenal dunia maka membacalah, namun jika engkau ingin dikenal oleh dunia, maka menulislah.” Demikian kata Pram.

Cicalengka, 30 Agustus 2020