Jumat, 07 Agustus 2020

PJJ AMANAH SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL?

 

                     Oleh Suriani, S.Pd.

SMPN 1 Karang Bintang Kab. Tanah Bumbu Kalsel

Maraknya media massa membicarakan seputar PJJ yang akan dipermanenkan oleh menteri pendidikan menarik minat saya untuk ikut membahasnya.  Sambutan meriah dari berbagai kalangan termasuk dari organisasi profesi guru PGR, IGI (Ikatan Guru Indonesia) dan FSGI (Federasi Serikat Guru Indonesia) atau pun atas nama pribadi praktisi pendidikan, guru, dosen dan pemerihati pendidikan  angkat bicara. Ada yang pro ada pula yang kontra, ada yang pesimis ada yang optimis.

Sejarah Singkat PJJ di Indonesia.

PJJ bukan hal yang baru. Jadi tidak perlu ditanggapi pesimis, mari kita tinjau sejenak perjalanan sejarah pendidikan di Indonesia terekam jejak  PJJ di Indonesia.

  1. Tahun 1950 pemerintah membentuk BKTPG (Balai Kursus Tertulis Pendidikan Guru), kebutuhan guru sangat mendesak di Indonesia, sehingga dibentuk lembaga pendidikan guru dengan jarak jauh. Cara kerjanya guru  didik dengan dikirimi buku materi dan buku kerja. Buku kerja dikembalikan untuk dinilai dengan cara dikirim melalui jasa kurir. BKTPG lembaga penyelenggara  PJJ pertama di Indonesia.

  2. Tahun 1960-an sampai awal orde baru,  BKTPG berganti nama PPPGT (Pusat Pengembangan Penataran Guru Tertulis) mengingat perannya yang semakin dibutuhkan dan berkembang sampai pada masa Orde Baru. Peran lembaga semakin dikuatkan dengan digunakannnya radio dan televisi untuk meratakan pembangunan pendidika. Pada masa ini dikenal menggunaan Satelit Palapa salah satunya untuk menunjang pendidikan dengan pola PJJ.

  3. Tahun 1974 diselenggarakan siaran radio pendidikan untuk penataran guru SD dan diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.  

  4. Pada tahun 1979 diselenggarakan perintisan SMP Terbuka salah satu teknik pembelajaran menggunakan PJJ dengan media radio.

  5. Tahun 1980-an PJJ mengunakan kanal TVRI semakin memasyarakat, contoh pelayanan belajar bahasa Inggris diasuh oleh Ibu Nusrina Nur Ubay.

  6. Tahun 1990-an muncul kanal TPI (Televisi Pendidikan Indonesia), salah satu ciri khasnya menyajikan materi pembelajaran di berbagai tingkat satuan pendidikan. 

  7. Bulan Oktober tahun 2004 ketika menteri pendidikan kita Bapak Malik Fadjar meluncurkan TV Edukasi yang dikelola oleh Pustekom Kemendikbud.

  8. Rumah Belajar  merupakan hasil pengembangan portal sebelumnya yang diluncurkan pada 15 Juli 2011, berisi konten bahan belajar yang dapat dimanfaatkan oleh pendidik dan peserta didik Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas/Kejuruan (SMA/SMK) sebagai sumber media pembelajaran.

Berdasarkan data sejarah pendidikan ternyata PJJ bukan hal yang baru di bumi pertiwi ini. Keberadaannya sudah ada sejak tahun 1950-an sampai saat ini sesuai bermetaformosa sesuai perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Kita telah berada di zaman digital, PJJ telah berubah pula baik perangkat kerasnya ataupun perangkat lunaknya. 

Penulis memiliki pengalaman menarik PJJ di tahun 1988, ketika itu saya tertarik promosi salah satu penyelenggara belajar kursus bahasa Inggris komersial jarak jauh dengan e-learning. Badan penyelenggara ada di Jakarta saya sebagai peserta ada di Kalimantan. Peserta membeli paket yang terdiri buku petunjuk, buku materi (handbook), buku kerja (practice book),  kaset dan walkman. Peserta wajib membaca buku petunjuk terlebih dahulu, baru membuka buku materi dan mendengarkan rekaman dalam tape untuk dipraktikan. Kemudian mengerjakan  buku kerja, hasilnya dikirim via kurir. Peserta yang dinyatakan lulus mendapat sertifikat keahlian bahasa Inggris sesuai level yang diikuti. Itulah PJJ pertama yang penulis pernah alami sendiri ketika masih duduk di bangku SLTA. 

 Menurut seorang ahli pendidikan jarak jauh merupakan pendidikan yang dirancang untuk peserta yang berbeda tempat dengan pengajar. Sebagai konsekuensinya dibutuhkan: disain strategi pembelajaran yang khusus, metoda komunikasi melalui elektronika dan teknologi lain yang khusus, juga pengaturan organisasi dan administrasi yang khusus. (More dalam Ubaidah, S.Pd, M.Pd, 2019).

Definisi tersebut menekankan pada rancangan pembelajaran, menggunakan peralatan elektronika, teknologi lain yang khusus boleh diartikan menggunakan kecanggihan ilmu pengetahuan dan keterampilan penggunaan teknologi komunikasi. Tidak salah jika para guru membuat RPP adaptif yang sesuai dengan situasi pandemi covid-19.

Kesiapan guru dalam PJJ

Satu hal yang menarik adalah jika ditinjau dari sudut kuantitas guru di Indonesia. Menyitir pendapat Bapak Gatot Suhartowo Kepala Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan dan Kebudayaan (Pustekkom) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyampaikan data hasil survey 2018 menyebut saat ini dari total guru yang ada di Indonesia, baru 40 persen yang melek dengan teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Selebihnya, masih 60 persen guru masih gagap dengan kemajuan di era digital ini. Bila jumlah guru se Indonesia tiga juta orang. Berarti baru 1,2 juta yang melek dengan teknologi informasi komunikasi. Sisanya sebanyak 1,8 juta guru masih gagap alias tidak siap dengan kemajuan zaman dunia digital dalam pendidikan. Salah satu syarat PJJ akan efektif terlaksana jika guru tidak gaptek IT, sungguh sebuah tantangan  di era digital ini.

Ada tiga faktor penyebab menurut Kepala Pustekom Kemendikbud. Pertama, dari tiga jutaan guru di Indonesia 30% telah berusia di atas 45 tahun. Guru yang berada pada kelompok umur ini tidak familiar dengan ilmu dan teknologi komunikasi. Kebanyakan belajar ilmu dan teknologi komunikasi sudah bebal, membosankan dan tidak menarik. Faktor  kedua, minimnya informasi konten teknologi pendidikan. Faktor ketiga, terkait tidak meratanya fasilitas dan infrastruktur yang berhubungan dengan teknologi pendidikan berbasis e-learning. PJJ berbasis e-learning dengan moda dalam jaringan (daring) memerlukan pembiasaan guru untuk selalu meningkatkan keterampilan IT.

Menurut hemat penulis, tidak semua guru berusuia 45 tahun ke atas gaptek IT. Pada forum-forum pelatihan di berbagai tingkat   atau forum temu guru tingkat regional nasional bahkan tingkat internasional, justru ditemukan guru-guru berusia di atas 45 tahun lihai menggunakan teknologi IT dan menjadi mentor/instruktur. Kemauan untuk selalu belajar teknologi komunikasi pengajaran wajib hukumnya bagi setiap guru, iptek begitu cepat berubah termasuk teknologi pendidikan yang  selalu berbanding lurus kemutakhiran teknologi komunikasi.

Jika PJJ dipermanenkan apakah aneh? Tidak, menurut pendapat penulis. Mari kita buka pasal 31 Undang-Undang. Nomor 3 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bagian  Kesepuluh Pasal 31 sangat jelas termaktub mengenai PJJ. Ayat 1: Pendidikan jarak jauh dapat diselenggarakan pada semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan. Ayat 2: Pendidikan jarak jauh berfungsi memberikan layanan pendidikan kepada kelompok masyarakat yang tidak dapat mengikuti pendidikan secara tatap muka atau reguler. Ayat 3: Pendidikan jarak jauh diselenggarakan dalam berbagai bentuk, modus, dan cakupan yang didukung oleh sarana dan layanan belajar serta sistem penilaian yang menjamin mutu lulusan sesuai dengan standar nasional pendidikan. Ayat 4 : Ketentuan mengenai penyeleng-garaan pendidikan jarak jauh sebagaimana dimaksud dalam ayat 1, ayat 2, dan ayat 3 diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.


PJJ dalam Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas)

Ternyata sejak tahun 2003 PJJ sudah diamanahkan dalam Sisdiknas di Indonesia. Hanya saja aturan baku mengenai tatalaksana dan teknisnya belum diatur dengan baku/permanen, pemerintah sebaiknya membuat peraturan terkait PJJ agar ada payung hukum yang  jelas. Semoga saja kalimat Mneteri Pendidikan PJJ akan dipermanenkan yang dimaksudkan mengandung arti akan dibuatkan peraturan pemerintahnya.

 

Pada ayat 2 UU No.3/2003 pasal 31 ayah 4 PJJ diselenggarakan bagi kelompok warga yang tidak bisa mengikuti pendidikan formal. PJJ dalam ayat tersebut belum menyingung  basis pembelajaran elekronis (e-learning base). Persoalannya yang terjadi hari ini adalah mewabahnya covid-19, sehingga memaksa pendidikan berlangsung jarak jauh dengan basis eletronik dan internet. Aturan dalam masa pandemi memang sudah diterbitkan, namun hanya saja berlaku surut semasa pendemi covid-19 saja, artinya berlaku situasional. Bagaimana jika terjadi pandemi penyakit yang lain? Apakah ada yang bisa menjamin bangsa kita tidak akan mengalami wabah yang lain? Inilah alasan mengapa PJJ perlu dibuat peraturan tersendiri terkait situasi yang luar biasa (force major), sehingga menjawab terpenuhinya pendidikan dalam situasi apa pun di masa yang akan datang.


Hybrid e-learning  dan Blended Learning

Istilah Hybrid bukan hal baru di Indonesia khususnya bagi dunia pertanian/perkebunan/peternakan. Pernahkan anda mendengar istilah bibit hibrida? Arti secara bebas bibit hibrida mengacu dari hasil rekayasa dan pengembangan bibit yang menghasilkan bibit unggul yang terbaik. Nah, arti bebas hybrid learning mengandung maksud bahwa pembelajaran terbaik. Tentu saja berorientasi pada anak didik, menyajikan pembelajaran terbaik untuk anak didik, sehingga pembelajaran berkesan yang tak mudah dilupakan. Seiring kemajuan zaman IT tentu saja hybrid learning tidak bisa terlepas dari penggunaan teknologi IT. Mengapa? Alasan mendasar bahwa anak milineal dilahirkan dan dibesarkan di lingkungan yang akrab dengan dunia gawai. Gawai sebagai alat permainan paling menarik anak-anak saat ini, hampir tak ditemukan anak-anak saat ini tidak memegang gawai. Apakah menarik minat anak didik untuk giat belajar jika PBM disajikan dengan metode konvensional? 

Blended learning dimaksudkan dengan pembelajaran yang mencampurkan, memadu-padankan teknik pembelajaran satu dengan teknik pembelajaran lainnya.  Misalnya saat ini sedang trend saat ini PJJ dengan moda daring. Guru yang kreatif sering kali memadukan BDR dengan moda daring singkronus dicampur dengan daring asinkronus yang dapat menimbulkan kesan mendalam pagi anak didik. Pengalaman penulis selama mengajar WFH (work from home) bagi guru dan LFH (learn from home) bagi anak didik, tidak bisa dengan moda daring asinkronus melulu, tetapi dicampur dengan moda luring sinkronus. Situasi dan kondisi sekolah perdesaan yang terpencar-pencar berdasarkan zonasi sekolah saya memaksa untuk moda daring dipadu dengan moda luring. Moda daring digunakan untuk anak didik yang tergolongmampu memiliki gawai. Moda luring digunakan untuk melayani akses pendidikan pagi anak-anak yang tidak memiliki gawai karena kondisi ekonomi yang mampu.   

 

 

 

 

Bahan Bacaan

http://disbun.jabarprov.go.id/tmplts/disbun/assets/

https://i1.wp.com/ethinkeducation.com/wpcontent/uploads/2019/12/Bluehorizontal.png?fit=1201%2C191&ssl=1

https://sevima.com/wpcontent/themes/sevima2019

https://mediaindonesia.com/read/detail/325468-interaksi-sosial-anak-hilang-kalau-belajar-daring-dipermanenkan. 15:33 wib

https://prfmnews.pikiran-rakyat.com/assets/desktop/images/network/logo_prfm.png?v=10  4 Juli 2020, 09:19 WIB

https://jagokata.com/arti-kata/hibrida.html

https://cdn.shortpixel.ai/client/to_webp,q_glossy,ret_img/https://jejakrekam.com/wp-content/uploads/logoJejakrekam325-1.gif    .Edisi 19- 03- 2019.

https://static.republika.co.id, Edisi 05- 07- 2020

Undang-Undang RI No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.


Penerapan  Sistem Pembelajaran Jarak Jauh Berbasis  Massive Open Online  Course (MOOC) Di Universitas  Ciputra  Enterpreneur  Online (UCEO), Irfan Rahman Nurdin, 2017.

Pembelajaran Berbasis Elektornis ( e-learning), Prof. Dr. Ir. Marsudi Wahyu Kisworo, IPU, 2020.