Rabu, 26 Agustus 2020

UPACARA TURUN BAKUL : EKSISTENSI BUDAYA LOKAL DI TENGAH ANCAMAN TRAGEDI SOSIAL BUDAYA

 


Oleh Lestari Kurniawati, M.Pd.

SMPN 1 Rangkasbitung, Banten


Setiap daerah di Indonesia memiliki tradisi unik dalam upaya menunjukkan keberadaan mereka di tengah masyarakat modern. Tradisi-tradisi yang beragam membuat bangga warga masyarakat, karena menunjukkan bahwa Indonesia adalah negara yang berbudaya. Senada dengan kondisi saat ini, tak dipungkiri bahwa gempuran teknologi informasi dan komunikasi, membawa dampak serius bagi keberlangsungan kehidupan berbudaya kita. Bagaimana yang salah menjadi viral dan membawa profit ekonomi, sebut saja “Tilik”. Jika kita tidak bisa mengendalikan ini semua, maka akan menghancurkan tatanan sosial budaya masyarakat kita.


Haruskah kita hanya menjadi penonton saja ketika gelombang tragedi sosial budaya datang? Galibnya, kita harus menyadari bahwa kehadiran teknologi informasi dan komunikasi hadir tanpa dilengkapi dengan aturan memakainya, regulasi yang abu-abu, dan adanya partisipasi berlebihan dari masyarakat, (Rachbini, 2018) di mana yang ramai followersnya di anggap “baik”.


Hal yang perlu kita lakukan untuk mengatasi ancaram tragedi budaya ini adalah dengan “mengenal, mempelajari dan memaknai” melalui potret kehidupan lingkungan terdekat. Bagaimanapun, sebagai manusia berbudaya kehidupan yang sudah menjadi tradisi adalah pengikat lahir batin “siapa kita”. Tradisi yang dimaksud adalah suatu kebiasaan yang sudah berlangsung lama dan turun-temurun sebagai wujud hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan Tuhan, dan manusia dengan lingkungannya, dan kebiasaan itu dianggap sesuatu yang baik untuk dilanjutkan. (Basariyadi, 2018)


Kabupaten Lebak banyak menyimpan beragam tradisi yang masih di pertahankan, misalnya tradisi Seba Baduy, Sedekah Bumi, Seren Taun, Upacara Ngunjal, dan masih banyak lainnya yang tidak terlepas dari kehidupan masyarakat pertanian. 


Upacara turun bakul, penulis angkat sebagai salah satu bentuk local genius yang berlangsung di masyarakat Hariang, Kecamatan Sobang Kabupaten Lebak-Banten. Upacara Turun Bakul adalah rangkaian prosesi yang berlangsung di bulan Mulud (tanggalan Islam) dan Ruwah sebagai bentuk tanda syukur melalui makanan yang bermediakan bakul. Menurut KBBI bakul artinya wadah atau tempat yang terbuat dari anyaman bambu atau rotan dengan mulut berbentuk lingkaran, sedangkan bagian bawahnya berbentuk segi empat yang ukurannya lebih kecil daripada bagian  mulutnya. 


Tujuan dilaksanakannya upacara turun bakul : Pertama untuk memperingati hari lahir Rasulullah SAW dilaksanakan pada bulan Mulud, kedua upacara turun bakul yang dilaksanakan di bulan Ruwah juga sebagai wujud ajaran Islam yang ditujukan untuk saling membersihkan diri menjelang Ramadhan, saling berbagi atau bersedekah  sebagai ucapan rasa syukur atas hasil panen dan sebagai ajang bersilaturrahmi sesama anggota masyarakat. Jadi, upacara turun bakul ini dua kali dalam setahun dengan prosesi yang sama. 


Sebagai salah satu upacara adat, dalam rangkaian kegiatan upacara Turun Bakul ada beberapa syarat-syarat sebagai berikut: pertama, semua barang yang digunakan untuk perlengkapan memasak harus bersih karena ditujukan upacara selamatan. Tidak hanya peralatannya saja yang bersih, yang memasaknya pun harus perempuan dan sedang tidak haid. Kedua, untuk tempat menyimpan makanan yang telah di masak harus pakai bakul, makanan yang disajikan di bakul diantarkannya ke mesjid, ketiga orang yang mengantarkan ke mesjid harus anak laki-laki dewasa, maupun pemuda pemuda, terutama bapak-bapak. 


Keempat, Turun Bakul dilaksanakan untuk anggota masyarakat yang mampu saja, masyarakat yang tidak mampu boleh tidak mengumpulkan bakul makanan. (Jajang, Persyaratan dan Prosesi Upacara Turun Bakul, 2019).


Adapun bahan pokok dalam upacara turun bakul antara lain: beras, ayam bakar, garam, daun pisang, mie instan, telur, dan Ikan. Selanjutnya upacara turun bakul yang akan diadakan memiliki beberapa tahapan prosesi yang harus dilakukan: 

  1. Mengumpulkan bakul yang berisi bahan makanan ke tempat prosesi akan diadakan.

  2. Mengumpulkan masyarakat setempat yang akan menjadi peserta upacara.

  3. Setelah masyarakat berkumpul, bakul yang sudah di kumpulkan di masjid di taruh di tengah lingkaran orang yang membaca do’a. Kemudian bakul-bakul tersebut diikutkan dalam do’a bersama.

  1. Selanjutnya, pembagian bakul makanan secara rata, kepada seluruh masyarakat, tapi bakul yang diambil harus milik orang lain. (Nani, 2019).


Ketika penulis mengikuti kegiatan prosesi upacara Turun Bakul mulai dari tahap persiapan sampai selesai, makna yang penulis dapatkan adalah pertama, nilai sosial seperti kehidupan gotong royong masih begitu terasa. Toleransi, keguyuban akan menjadi warisan yang terus mengalir dalam darah anak cucu kelak. 

Kedua, upacara turun bakul ini merupakan salah satu ajang untuk berkumpul bersama dan bersilaturrahmi dengan warga sekitarnya. Hal ini mengingatkan kita pada George Simmel (1995). Ia memperkenalkan konsep “Dyad dan Triad” dalam interaksi kehidupan manusia. “Dyad” merupakan kelompok terkecil dalam hubungan kemanusiaan. Hubungan yang hanya terjadi pada dua orang. Biasanya hubungan seperti ini lebih bersifat erat, memiliki perasaan yang sama, dan pada hubungan ini setiap orang memainkan peranan masing-masing, langsung sesuai kedudukannya. Sedangkan “Triad” merupakan hubungan yang lebih kompleks. Hubungan lebih rumit disebabkan oleh keterlibatan dan kehadiran pihak lain, sehingga struktur hubungan jauh berbeda. Pembentukan struktur dan pertukaran gagasan, pertukaran peranan, pertukaran kepentingan lebih bersifat kompleks dibandingkan dengan  pembentukan struktur dan pertukaran peranan pada hubungan yang bersifat “dyad”. Semua unsur kepentingan berkelindan di dalam hubungan yang bersifat “triad”, sehingga hubungan ini selalu cenderung kepada keadaan yang tak stabil, mudah retak. Upacara Turun Bakul kemudian menjadi penting, karena ia akan menjadi medium memelihara jarak antara hubungan yang bersifat “dyad” dan “triad”. (Mahya, 2015)

Ketiga, Ikatan komunal yang terangkai dalam ikatan tradisi akan menemukan karakternya, kepribadiannya, dan rasa memiliki atas anugerah kekayaan budaya. Hanya dengan memposisikan diri kita bagian dari kelangsungan tradisi, ancaman sosial budaya dapat dihadapi. 

Akhirnya, keterikatan seseorang pada kelompok atau komunitas budaya adalah tak terlepaskan, bahkan abadi.

BAHAN BACAAN:


Basariyadi, A. (2018, April Rabu). Dipetik April Rabu, 2019, dari https://majalahpendidikan.com.

Jajang, U. (2019, April, 19 Jum'at). Persyaratan dan Prosesi Upacara Turun Bakul. (L. Kurniawati, Pewawancara)

Mahya, W. N. (2015, November 22). Warung Ilmu. Dipetik August 25, 2020, dari http://blog.unnes.ac.id/warungilmu/2015/11/22/georg-simmel/

Nani, K. D. (2019, April, 20 Sabtu). Prosesi Upacara Turun Bakul. (L. Kurniawati, Pewawancara)

Rachbini, D. J. (2018, May 14). Detik. Dipetik August 25, 2020, dari https://news.detik.com/kolom/d-4019816/tragedi-sosial-budaya