Minggu, 20 September 2020

DEA 1997

 Oleh Sulianti


Panas.... apa tak cukup seremonial upacara hampir 1 jam ini... deretan gelisah dan dengungan teman-teman yang bisik bisik lelah ingin segera masuk kelas nan teduh sepertinya tidak di gubris pak Irvan wakil kepala sekolah bidang kesiswaan.

"Anak-anak ku sekalian akan bapak kenalkan Mahasiswa yang akan praktik mengajar di sekolah kita" ku pandang deretan para mahasiswa mahasiswi yang berjajar di depan kami berjas almamater abu-abu tersenyum ke arah kami. kupandang dan ku hitung satu-satu untuk menghilangkan bosan... ada sepuluh, 6 mahasiswi yang menurutku biasa saja calon guru memang tampilannya standar, 3 mahasiswa yang menurutku juga biasa tidak ada yang mirip pemain sinetron Anjasmara atau gunawan, kupikir akan membosankan nanti di kelas seperti tiap hari dirasakan oleh kami. Calon guru terakhir hampir membuatku tertawa tapi ku tahan... sepatu dokmart, celana panjang hijau cutbray, kemeja bunga-bunga di balik jas almamaternya terlihat mencolok, rambut klimis di sisir kebelakang kacamata ala Jhon lenon. "inilah yang terakhir pak Dea " namanya membuatku tersenyum... hmmm nama yang sama dengan pemberian orang tuaku. Perkenalan diakhiri pak Irvan dan disambut tepuk tangan dan suit..suitan dari para siswa....


Wangi memenuhi ruang kelas,sudah dipastikan bu Ema guru Bahasa Indonesia ada di kelas. Ketukan pintu membuat ibu guru yang selalu wangi bahkan wanginya dapat mengalahkan toilet putra terbau di sekolah kami,medongakan kepala dan menyuruhku duduk dengan segera. Hari ini tak secerewet biasanya lega hati bercampur kesal karena teman-teman sekelas minta dibelikan permen sugus dan mentos ke warung sekolah padahal aku hanya ingin ke toilet. “aman de.... “bisik marni teman sebangku yang dengan cepat memasukan tangan ke  kolong meja,permen-permen telah berpindah dengan kecepatan kilat tak sampai 10 menit setengah kelas sudah sedia permen di tangan. “gampang kan De...,warung kan samping wc putri, tak sampai 2 menit kau bisa nyambi pipis” bisikan maut Marni sambil menjejalkan uang tiga ribu persis ketika mau pergi ke toilet tadi pas jam pelajaran berganti. Seplastik permen yang bisa menyumpal semua mulut di kelas sukses diselundupkan tanpa bu Ema sadari. Permen jadi amunisi ampuh untuk mengusir kantuk jam-jam darurat jelang istirahat siang.


Warung baso murah meriah mang Koko selalu penuh jam istirahat siang, Gubuk baso sederhana dengan tutup terpal,dua meja panjang danbangku panjang menghiasinya, baso dengan kuah bening berisi 5 baso kecil mie kuning toge dan sawi hijau pas menjadi makan siang kami. Setidaknya itu harapan siang ini,ketika kakiku sudah berada di ujung lapangan basket menuju lahan luas berumput yang berada disebelah kanannya tidak terasa kakiku seolah membeku,meja-meja telah penuh oleh kelas dua yang terkenal penguasa tingkat dua,hanya kalah jika penguasa utama turun tangan yakni  tentu saja kelas 3. “ayo De..ngabaso kok diem sih’. Marni hampir menabrakku. “aah teu jadi euy... yuk ka warung bu Dani weeh meser kupat tahu” Marni membalikan badan setelah tahu situasi yang terjadi. Marni gadis paling rapi di kelas dengan baju selalu tersertrika rapi dan wangi serta tak pernah kusut meski seharian di sekolah. Rambutnya sebahu lurus hitam dengan jam silver yang dia bilang oleh-oleh Singapura dari Ayahnya. Aku mengejar Marni yang sudah duluan pergi ke warung Dukkk.... aku bertabrakan dengan mahluk nyentrik, sepatu dokmartnya menginjak sepatu warriorku “aduuuuh” Jeritku. Kemeja bunga-bunga dan rambut klimis didepanku cepat-cepat mundur namun kemudian maju membantuku bangun serasa meminta maaf suaranya kontras dengan pakaian noraknya “maaf ya Dea...” kok dia tahu namaku, ooh lupa aku kan menggunakan bet nama tentu saja dia baca. Suaranya mirip dengan penyiar radio kesukaanku,namun penampilannya membuatku memberikan penilaian minus. “sakitkah..? mau di obati...? tawaran dengan suara merdunya membuatku terpana ketika jalanku agak pincang. “Pak... itu sepatunya ada batunya ya...saakiit banget” protesku  “Maaf..maaaf ya Dea tidak sengaja bapak sedang buru-buru,sesama nama Dea jangan protes oke...” nanti bapak tunggu di baso Mang Koko sepulang sekolah buat nebus jempolmu yang sakit” sambil lari Mahasiswa PPL norak itu menghilang di balik tembok perpustakaan. bukan jempol saja tapi semua jari kaki kiriku pegel “awas jika nanti tak datang”gumamku 

Marni menatapku dengan jengkel dari pintu masuk kelas, sambil berjalan ke bangku kami,jajaran terdepan sayap sebelah kanan kelas “kemana kamuu ditunggu di warung bu Dani kok gak nongol..? aku hanya mengela napas dan bilang jika aku jatuh dan kembali ke kelas karena sakit di kakiku tak mau diajak kompromi. Tak aku ceritakan tentang kejadian dengan mahasiswa norak itu,nanti marni malah terlalu ingin tahu, aku hanya penasaran  bentuk penebusan apa yang akan dilakukan mahasiswa itu, meskipun semangkok baso lumayan lah toh makan siangku gagal gara-gara insiden itu. 

Pelajaran matematika  tak pernah membuatku bahagia,  tidak membenci tapi juga tak suka, mata teman-teman yang telah lelah berusaha tetap fokus menatap ke depan.Bu Lusi yang bajunya selalu trendi dan serasi, kali ini guru beretnis Thionghoa satu-satunya di sekolah itu menggunakan baju terusan dengan rok berlipit, lengan pendek, bajunya mirip para  pemain dorama yang sedang hits biasa aku tonton di salah satu televisi nasional berlogo ikan, dengan rambut super lurus melebihi bahu, mata runcingnya terlihat tak ramah dan menurutku memang guru yang tak ramah,dari pengalamanku tadi pagi sebelum masuk kelas saat bertemu aku sapa beliau dengan senyuman paling manis yang aku punya. Setidaknya anggukan kepala sudah cukup buatku ini jangankan jawaban selamat pagi beliau hanya menatapku lurus tanpa ekpresi. Aku mengutuk dalam hati “kalo aku jadi guru gak mau kayak beliau”. “Marni maju selesaikan soal dipapan tulis” ucapan Bu lusi membuatku kaget, lamunanku buyar dan Marni menginjak kaki kiriku ketika dia terburu-buru kedepan, hampir saja aku berteriak karena sakit dikakiku bertambah.


Bel  pulang menyelamatkan ketegangan pembahasan Trigonometri bu Lusi, kami bernafas lega. Inu sang ketua kelas dengan memilin kumisnya mengomandoi doa dan salam akhir jelang pulang. Teman – teman berhamburan keluar, Marni pamit katanya tergesa-gesa  janji dengan pacarnya mau ke bioskop di pusat kota.katany pacarnya ini dari SMA negeri ternama di kota ini dan katanya akan dijemput menggunakan motor terbaru keluaran Jepang. Aku hanya tersenyum mendengar penjelasan Marni, sudah terlalu biasa paling bertahan 2 bulan pacaran, itu rekord terlama yang selama ini dia ceritakan. “tahu gak tadi ada kejadian, di pojok sekolah pas kita istirahat” Nuke temen kelasku yang selalu dapat berita terbaru bercerita dan kami yang belum keluar kelas mendengarkan dengan antusias bahwa ada siswa kelas 2 hampir di tampar guru, “eh bukan guru itu mah PPL,beranian ya mahasiswa PPL ribut sama anak paling berkuasa d sekolah kita”  Siswa paling berkuasa, aah tak salah ini pasti anak kelas 2 namanya sama persis denganku Dea, Dea Pratama. Nama yang sering di panggil meskipun itu bukan aku,setiap panggilan apalagi di depan umum dengan keras “Dea....,sini kamu Dea...” pasti aku akan merajuk... ternyata panggilannya selalu untuk  kakak kelasku yang satu itu. sering kali kami membicarakan dirinya,satu sisi kagum dengan otak encernya karena masuk kelas unggulan,dan juga keberandalannya sering buat onar. 


Masih sakit,kuseret kaki ke warung baso mang koko, sudah sepi tumben “ sudah abis neng... bapak udah mau beres-beres” aku tersenyum sambil mengangguk “iya mang gak apa-apa,ikut duduk ajah ya mang”. Sepatu ku lepas, dan kaki kiriku terlihat bengkak,membiru pantassaja  dua kaki menginjak tanpa ampun. Bahkan yang satu tak minta maaf saking tegangnya urusan matematika tadi. Kakiku tak kuasa dijejalkan ke sepatu,nyeri menjalar hingga paha.”siiiaall... dasar mahasiswa norak...!!”  Mang Koko sampai meleparku dengan sisa sawi saking kagetnya “Neng bikin kaget ajah,kunaon...ada apah meni jejeritan” “Nyeri mang, bengkak tah...” sungutku sambil melemparkan sepatu kedalam tas. “Mang pinjem sendal jepit lah..sebelah ajah,saya gak sanggup  pake sepatu”  mang koko tertawa terkekeh campur prihatin” ari neng,nanti mang koko mesti nyeker...?


“Makin sakit ya?” suara merdu dari samping mengakhiri bincang ku dengan mang Koko. Mahasiswa norak itu berjongkok di depanku ditangannya telah ada gumpalan kain kemudian di tempelkannya  kekakiku yang bengkak,dingin namun membuatku nyaman. Ternyata es batu  dalam kain yang dia bawa. “Maaf ya De...” matanya teduh menatapku dengan penuh penyesalan,mata cokelat dan bulu mata lentiknya membuatku tergagap “gak papa pak..”terimakasih sendiri ajah” sambil ku ambil gumpalan es berkain dari tangannya. Mahasiswa berkacamata itu sekali lagi berjongkok, dibalik tangannya telah ada sepasang sendal swallow warna kuning. “pake ini saja pas pulang, mau ku antar? Tawarannya membuatku salah tingkah “gak ah pak makasih,bisa sendiri kok”. ini mahasiswa norak perhatian amat. “ Baiklah nanti ku bantu berjalan” janjinya sambil mengacak lembut rambutku 


“Heh... Kamu .. ... “ suara teriakan membuat kami berpaling. Astaga itu Dea Pratama, matanya merah rambutnya kusut tidak karuan “ ada apa Dea,tadi urusannya sudah kita selesaikan di ruang BP kan” Mahasiswa norak itu mencoba meredakan amarah Dea” “saya gak trima tuduhan kamu’ Dea Pratama merangsek maju dan melempar tas ke samping gerobak baso mang Koko.  ini kakak kelas gak ada sopan santunnya tidak pakai bahasa sopan, tangan berkacak pinggang. ternyata benar cerita Nuke, Dea Pratama memang garang.

“masih belum puas Dea? Duduk dulu kita bicarakan lagi Mahasiswa norak mendekati  Dea berusaha berkompromi. “Tililit.... tililit.... “ kami mencari sumber suara, Dea Pratama mengambil sesuatu dari saku dia baca sekilas matanya semakin merah,napasnya memburu, “ siiiiaaaaaallllllll.....” dia lempar benda kecil dari tangannya kemudian merangsek maju meninjau muka mahasiswa norak, “taaakkkk” benda kecilyang dia lempar mendarat di mataku.....”aaaduuh”jeritku” dan mataku sakit berair. Mang Koko  berlari mencari pertolongan. Kacamatanya mahasiswa norak itu sudah patah jadi dua matanya kemungkinan bengkak dapat hajaran dan sekarang dia peluk Dea Pratama yang terus memukulinya bertubi-tubi hingga dipisahkan Mang Koko dan tiga siswa yang kebetulan belum pulang bermain basket. Aku berdiri terpana sambil menutupi mata kananku yang perih. Mang Koko membantu mahasiswa norak membawa Dea ke arah kantor guru, tiga siswa membantu memapah dan membawakan tas Dea. 

Masih tak percaya kejadian tadi aku gendong tas dan kuambil benda kecil yang dilempar Dea ternyata pager merek motorola berwarna Hijau muda,tanpa sengaja ku baca pesan di dalamnya “Cepat pulang.Ibu kabur”

aku tak masuk sekolah,bengkak dikaki  kiri dan biru di mata kanan membuatku harus istirahat  “ibu kira kamu habis tawuran De, masa anak cantik ibu bengeb-bengeb begini” hari ini ibu masih bisa becanda, kemaren ketika melihatku di depan pintu histeris dan langsung membawaku kedokter. Tak ku ceritakan detailapayang terjadi cukup kubilang tertabrak lari sepeda motor  agar urusan cepat beres. Tapimalah makin runyam,ayah tidak terima  anak gadisnya di tabrak tanpa tanggung jawab mulai kasak-kusuk mencari pelaku. Akhirnya cerita sebenarnya ku ceritakan ke ayah. 

Marni menelponku dan bercerita jika mahasiswa norak itu harus berhenti praktik mengajar di sekolahku.  Berita itu dia sampaikan di sela-sela curhatannya kehilangan pacar dan permohonan maaf belum menengokku. 

“De... ada tamu...anak muda ganteng loh De” ibu memanggilku, aku berharap sosok kacamata bulat, celana cutbray dan kemeja bunga-bunga norak yang datang. Di depanku ada ternyata remaja berambut hitam lurus perpotongan emo ala band Inggris dia berdirisaat aku memasuki ruang tamu. Mataku menatap tajam,Dea Pratama  menunduk dan berucap “maafkan aku ya Dea, tidak bermaksud melukaimu” di memandang mata kananku dengan tatapan menyesal. “hmmmm....”jawabku  “sesama Dea harus saling memaafkan bukan”jawabku. Dea menghela nafas lega. Sebelum pulang aku berikan pager hijau ke tangan Dea “sabar ya” kataku  Dea Pratama tersenyum,senyum tegarnya membuat dia tak tampak garang seperti biasanya. “kalo kau nanti masuk sekolah ku traktir baso Mang koko” janji Dea aku tersenyum  aku ingin Dea Mahasiswa Norak itu yang mentraktirku.


Aku rebahkan badan sambil mendengarkan radio anak muda,yang selalu menperdengarkan lagu-lagu hits “Malam ini penyiar kita yang absen beberapa hari akan bergabung lagi dengan kita. Suara dari radio yang kuputar pelan membuatkumembalikan badan ke arah radio,akhirnya dia balik lagi suara yang mirip mahasiswa norak itu mulai menyapa pendengar. “hai semua lama tak jumpa, ketemu lagi dengan penyiar kalian nih, Fauzi. Sebelumnya Fauzi sampaikan salam-salam buat pendengar juga kamu-kamu yang bernama Dea yang sudah mewarnai duniaku” lagu mmbob dari Hanson buat kalian.... “ Aku terpana dan tersenyum lebar.


++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++


Catatan:

Pernah dimuat dalam antologi cerpen Storia Un Adolescente, penerbit Medaca Aurora Publisher.


Vitemagistra

Terjebak dimasa lalu dan tak mau kembali, merindukan masa tanpa telepon pintar, rindu menelpon dengan koin dan setiap hari tak pernah lepas dari drama koreyaaah ^_^. Kata Cicero “ Historia Magistra Vitae” sejarah adalah guru kehidupan, maka dari itu saya jadi guru sejarah dan karenanya terjebak di masa lampau hehe…

Selain belajar merajut kata juga sedang menyelesaikan rajutan syal yang berbulan-bulan belum selesai 😁


CATATAN

Mulai Minggu ini, Setiap Sabtu dan Minggu Socius Media akan menampilkan rubrik baru, dengan judul Karya Fiksi.

Rubrik ini untuk menampung karya rekan-rekan guru yang gemar menulis karya fiksi sekaligus hiburan di akhir pekan.