Senin, 14 September 2020

Galau Sejarah


 Oleh Enang Cuhendi 

 

Suatu ketika di Negeri Sejuta Pulau terjadi kegusaran. Para sejarawan pendidik ramai berkumpul. Suasana sedikit rada-rada panas. Mereka terlibat diskusi dengan nada tinggi setinggi teriakan sang rocker yang juga manusia. Situasi panas ini tersulut adanya isu yang berhembus bahwa Si Mas akan melahirkan keputusan baru terkait kurikulum. Nah, dalam kurikulum baru ini satu yang bikin heboh katanya ada reduksi dari eksistensi mata pelajaran sejarah, terutama di tingkat sekolah menengah atas dan kejuruan.

Menurut para sejarawan pendidik ini adanya reduksi jam dan kesempatan belajar sejarah yang hanya diajarkan di kelas bawah dengan status peminatan ini akan berdampak besar. Rasa nasionalisme dan patriotisme yang akan memudar dijadikan alasan mereka untuk menolak keinginan si Mas. Sebenarnya sih, karena terkait juga dengan nasib mereka sendiri yang akan banyak kehilangan jam dan berdampak pada kesejahteraan. Hanya menurut  mereka alasan utama terkait nasib anak bangsa ke depan, kalau kesejahteraan sih nomor satu.

“Ada pelajaran sejarah saja, patriotisme dan nasionalisme bangsa kita masih rendah, apalagi tidak ada, gimana jadinya ini?“ tanya Mbak Pur dengan lantang.

“Keputusan blunder nih, gimana nasib bangsa kita ke depan, urusan gini jangan dijadikan main-main, ayo siapa yang tanggung jawab kalau bangsa kita semakin hilang jati dirinya?” teriak Mas Bobo dengan gaya retorisnya bak orator ulung.

“Katanya Jasmerah, eh malah jas hitam, mendung dan mengundang hujan deras cucuran air mata anak bangsa.” celetuk Om Frans.

“Sudah kita demo, demo harus dilakukan sebelum ketok palu. Masa bangsa mau dihancurin kita diam. Ayo demo, sekali demo tetap demo!” teriak Bang Provo seperti biasa memprovokasi.

Beragam eksperesi tercurah tumpah pada diskusi itu. Berkali-kali pula Meka sang meja kayu tua yang dikelilingi mereka menjadi korban luapan emosi. Mas Bobo sering menggebrak Meka, Bang provo juga gak mau kalah keras memukul Meka, Uda Boong hampir saja terpancing untuk melempar Meka, untungnya gak jadi karena body si Meka lumayan gemuk. Mbak Pur dan Teh Imit pun terpancing beberapa kali ingin mencubit Meka saking gemasnya dengan keadaan. Alhasil si Meka babak belur dan berniat lapor ke KOMNAS HAM (Komisi Nasional Hak Asasi Meja) untuk mengadukan hak hidupnya yang teraniaya.

Di sudut sebelah kiri dekat pintu terlihat Kak Uti duduk tenang. Sedikit pun ia tak terpancing untuk ikut marah. Sambil menyimak diskusi hangat menjurus panas yang dilakukan teman-temannya Kak Uti tetap asyik dengan cemilan kegemarannya. Tiba-tiba Mbak Pur berteriak memanggil. “Kak Uti sini! Orang lain ramai membahas masa depan anak negeri dan nasib kita sebagai sejarawan pendidik, eh Kakak enak saja asyik nongrong di sana. Coba kalau nanti sejarah benar-benar dihapus total, Kak Uti juga bisa nganggur. Kalau nganggur atau kurang jam gimana coba? Sertifikasi Kakak bisa gak cair lho. Status Kakak juga bisa jadi pengangguran.” Mbak Pur nyerocos panjang kali lebar kali tinggi dengan semangat 45 yang luar biasa.

Mendengar omongan Mbak Pur, Uti hanya tersenyum. Kakinya melangkah mendekati salah satu sisi Meka yang masih kosong. Diam sejenak, seakan berusaha menangkap kegalauan yang ada, dan mulai bicara dengan gayanya yang selalu bijak. “Janganlah kita risau, jangan pula bimbang, apalagi mengutuk atas keputusan yang menggelapkan masa depan anak-anak bangsa. Biarkan kurikulum terus berganti, bahkan jika pun harus berganti tiga kali sehari. Daripada mengutuk kegelapan, mari kita nyalakan lilin harapan. Kita, para guru sejarah tetaplah guru peradaban. Berbahagialah kawan-kawan, berbahagialah guru sejarah. Suasana yang berkembang tak perlu disikapi dengan emosi, konsep itu hasil kerja otak, kita lawan dengan buah karya otak lagi. Konkritnya ayo adakan diskusi lebih jauh, undang pihak terkait biar mereka tahu isi hati kita.”

Semua yang hadir seperti tersadarkan. Serentak Bang Provo bangkit dan teriak,”Konsep kita lawan dengan konsep! Ayo, singkirkan demo ganti diskusi! Sekali diskusi, tetap diskusi! Hidup diskusi!” Jurus provokasi berubah haluan yang diteriakan Bang Provo kontan membuat hadirin dan hadirat tertawa. Suasana panas berubah adem. Kepala yang mendidih jadi sejuk. Mereka pun sepakat pulang dan besok akan menggelar diskusi lanjutan dengan mengundang pihak terkait, bila perlu Si Mas pun akan diundang. Tema diskusi pun sudah disepakati, “Menggugat Sejarah yang Akan Hilang dari Sejarah”.

Setelah semua bubar, tinggalah Si Meka, meja kayu tua yang menderita. Badan babak belur dan benjol-benjol. Niat untuk melapor ke KOMNAS HAM tidak jadi dilakukan, karena sebelum pulang, Kak Uti menasehatinya, “Berkorbanlah untuk negeri, jadilah pahlawan sejati, ia rela mati demi kemerdekaan negerinya.”

 

Cicalengka, jelang Isya 13/9/2020