Selasa, 08 September 2020

MELATIH KEMANDIRIAN ANAK DALAM PEMBELAJARAN DARING DI ERA PANDEMI COVID 19

 


Oleh : Supriyanto, M.Pd*

 

Awal tahun 2020 ini dunia dikejutkan dengan munculnya pandemic Covid 19. Berawal dari Kota Wuhan di Negera Cina virus tersebut secra cepat menyerang seluruh dunia, hingga sampai juga ke Indonesia pada awal Maret 2020. Mau tidak mau kita smua harus patuh pada protocol kesehatan yang telah disusun oleh WHO demi keselamatan bersama untuk segera bisa memutus mata rantai penyebaran dan penularan Covid 19. Pandemi ini telah berdampak diberlakukannya perubahan disegala bidang. Salah satu bidang yang terdmpak tersebut adalah bidang pendidikan. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia telah mengeluarkan Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 yang berisi tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Corona Virus Disease (Covid-19).

Oktavian Riskey dan Aldya Riantina Fitra dalam artikelnya di Jurnal Ilmu dan Pengetahuan (2020:16) yang berjudul “Efektifitas Pembelajaran Daring Terintegrasi di Era Pandemi mengemukakan bahwa sekitar 7,5 juta mahasiswa dan hampir 45 juta pelajar sekolah dasar dan menengah “dipaksa” melakukan pembelajaran dari rumah dikarenakan kampus dan sekolah ditutup untuk sementara.

Penerapan pambelajaran di rumah secara daring ini memang jauh dari ideal. Karena berbagai keterbatasan yang dimiliki oleh guru maupun siswa juga karena kendala jaringan internet maupun kemampuan oran tua siswa dalam menyediakan fasilitas gawai yang memadai kepada anaknya membuat hasil pembelajaran daring ini kurang optimal. Hal ini membuat siswa banyak yang merasa kesulitan dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Banyak diantara mereka yang kurang bisa memahami materi yang diberikan oleh para guru, baik yang berupa modul, file PPt, Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) maupun tayangan digital berupa video pembelajaran, 

Jika dalam pembelajaran tatap muka guru bisa dengan mudah mendeteksi para siswa yang belum memahami materi pelajarannya dengan baik, maka pada pembelajaran daring ini para guru akan kesulitan juga melakukan deteksi secara langsung dan cepat keculai dengan melihat hasil penilaian harian dan tugas-tugas yang telah diselesaikan oleh para  siswa. Kendala ini sebenarnya masih bisa diatasi jika para siswa memiliki keberanian untuk segera bertanya kepada guru jika ada materi yang kurang mereka pahami. Pertanyaan tersebut bisa diajukan melalui berbagai aplikasi komunikasi yang telah disepakati bersama antara guru dan siswa semisal WhatsApp, SMS, Telepon, email dan sebagainya.

Akan tetapi banyak diantara para siswa yang enggan untuk bertanya kepada para gurunya jika mengalami kesulitan. Mereka lebih suka untuk bertanya dan mengeluhkan kesulitannya ini kepada orang tua atau kakak mereka. Beruntung sekali jika para orang tua dan kakak yang ditanya ini bisa memberika n penjelasan layaknya seorang guru dalam mengajar dan mendidik atau mengarahkan anak atau adiknya untuk bertanya kepada para gurunya. Yang sering terjadi malah ketidaksabaran para orang tua. Mereka cenderung membiarkan anaknya dalam kesulitannya tanpa memberikan solusi karena mereka sendiri sangat sibuk dengan pekerjaannya atau kalau pun sudah di rumah setelah bekerja seharian, mereka sudah dalam kondisi yang sangat lelah.

Tidak jarang pula para orang tua yang mendapati anaknya mengalami kesulitan dalam memahami materi pelajaran daringnya ini malah melakukan tindakan instan  dengan mangembil alih tugas anak atau adiknya. Mereka sendiri yang mengerjakan semua tugas belajar yangs eharusnya dikerjakan oleh anak atau adiknya dan segera dikirimkan kepada guru yang memberikan tugas tersebut. Hali ini tentu saja sangat tidak dibenarkan. Selain melakukan pembohongan kepada guru anaknya, tindakan ini juga akan berdampak buruk pada melemahnya rasa percaya diri dan semangat kemandirian anak/adiknya. 

Sikap kebanyakan orang tua dan para siswa di negeri kita berbeda jauh dari sikap para orang tua di negeri Inggris sebagaimana yang penulis saksikan sendiri selama bertugas sebagai Delegasi Pendidikan Kota Surabaya di sana. Salah satu hal yang membedakan para siswa di negeri kita dengan para siswa di United Kingdom ini adalah masalah kepercayaan diri dan semangat kemandirian mereka. Kami melihat sendiri bagaimana para siswa di Inggris ini sangat percaya diri dalam berkomunikasi dengan siapa pun. Mereka akan sangat lancar mengutarakan pendapatnya. Jika ada pertanyaan dari guru mereka tentang apa yang mereka ketahui tentang topik yang akan dibahas dalam pertemuan di kelasnya, maka mereka akan berebut mengacungkan tangan untuk mengutarakan apa saja yang mereka ketahui. Tidak ada yang malu-malu atau pun minder. 

Gambaran seperti itu terjadi di kelas mana pun di negeri ini. Termasuk juga di kelas para siswa berkebutuhan khusus. Bahkan terjadi juga di kelas para siswa penyandang tuna netra dan visual impairment. Kami para Delegasi Pendidikan Kota Surabaya yang mendampingi para siswa ABK kami melihat sendiri bagaimana besarnya rasa percaya diri para siswa di sini. Kami pun menyaksikan betapa lancarnya mereka menyampaikan pendapat, gagasan dan apa pun yang mereka ketahui tentang topik yang sedang dibicarakan di kelas mereka. Sang guru mereka pun mendengarkan semua yang disampaikan para muridnya dengan seksama dan sesekali menimpalinya. Topik yang dibahas pun selalu disesuaikan dengan konteks keseharian para siswa tersebut.

Selain peran guru yang begitu sabar, telaten dan mengajar berdasarkan Contextual teaching and Learning tersebut apakah ada peran serta orang tua dalam membentuk karakter percaya diri dan skill komunikasi yang baik bagi para siswa ini? Tentu saja ada. Kami melihat sendiri bagaimana para orang tua dari para siswa tuna netra dan berkebutuhan khusus lainnya di St Vincent’s School bersikap dan memperlakukan anak-anak mereka.

Satu contoh yang sangat mengesankan bagi kami adalah sosok seorang gadis kecil, sebut saja namanya Lucy. Dia adalah anak berusia SD kelas bawah, putri dari salah satu guru di St. Vincent’s School. Pada saat kami ada kegiatan Wall Climbing, seluruh delegasi Pendidikan Kota Surabaya beserta beberapa siswa penghuni asrama sekolah dan beberapa pengurus ikut belajar dan berlatih di Awesome Walls Liverpool, sebuah pusat pelatihan profesional indoor wall climbing di Kota Liverpool. Lucy ikut serta besama kami.

Begitu sesi latihan dimulai dan para peserta masih sedikit ragu untuk melakukan panjat tebing, Lucy dengan penuh percaya diri maju untuk mencoba salah satu wahana panjat tebing yang agak tinggi dan lebih sesuai untuk usia remaja. Belum sesuai dengan umur Lucy. Tapi dengan penuh percaya diri dia mencoba dan berusaha keras untuk memanjat wahana panjat tebing tersebut hingga mencapai puncak. Apakah Lucy langsung berhasil saat itu? Tentu saja tidak. Beberapa kali dia gagal dan terjatuh. Tapi tali pangaman yang kuat dan juga adanya seorang asisten pelatih yang menemaninya membuat dia aman. Dengan susah payah Lucy pun berhasil mencapai puncak dinding. 

Setelah itu Lucy pun bergeser ke fasilitas panjat tebing lainnya yang lebih tinggi level kesulitannya. Sama seperti sebelumnya, dia beberapa kali mengalami kegagalan meski pada akhirnya dia pun berhasil mencapai puncak.Setelah berhasil di level tersebut Lucy terus mencoba beberapa fasilitas panjat tebing berikutnya yang tentu saja level kesulitannya lebih tinggi lagi. Begitu seterusnya hingga sesi kegiatan kami di Awesome Walls ini berakhir. Seakan-akan Lucy tak kenal lelah terus mencoba dan mencoba berbagai wahana baru dengan tingkat kesulitan yang lebih menantang.

Selama kegatan tersbut, kami melihat kedua orang tua Lucy yang ikut hadir di lokasi tersebut sama sekali tidak melakukan intervensi atas semua latihan dan pengalaman baru bagi Lucy tersebut. Kedua orang tuanya mengawasi dari lokasi yang agak jauh sambil memberikan pelayanan konsumsi kepada para peserta kegiatan ini. Jangankan melakukan intervensi, mendekat ke Lucy atau memegangi tali pengamannya pun tidak mereka lakukan. Mereka percaya penuh kepada para pelatih Awesome yang sudah sangat profesional untuk membimbing dan mengamankan Lucy.

 


Siswa ABK Visual Impairment berlatih wall climbing layaknya siswa normal di Awesome Indoor Wall Climbing, Liverpool Inggris.




Penulis berpose di area Awesome Profesional Indoor Wall Climbing, Liverpool Inggris

 

Para orang tua ini memberikan dukungan penuh atas tumbuh kembang anak-anak mereka. Mereka berupaya memberikan pendidikan terbaik kepada putra putri mereka. Mereka pun memberikan bimbingan dan tuntunan sebagaimana seharusnya. Tapi bukan berarti mereka harus terus menuntun dan memanjakan anak-anak mereka dengan mengambil alih semua tugas dan kewajiban sang anak. Mereka memberikan ruang yang cukup untuk tumbuh kembang anak mereka dalam mengembangkan kreatifitas dan produktifitasnya. Tanpa banyak melakukan intervensi. Hal ini mengingatkan kita pada filosofi metamorfosis ulat dan kepompong hingga menjadi kupu-kupu yang sangat indah sayap-sayapnya.  

Kupu-kupu merupakan salah satu jenis serangga yang bisa terbang karena memiliki sayap. Kuku-kupu memiliki bagian kepala, dada, dan perut. Bagian yang paling indah dari kupu-kupu adalah sayapnya. Sayap kupu-kupu berwarna-warni sehingga enak dipandang mata. Tahukah anda, mengapa kupu-kupu memiliki sayap yang sangat indah? Perlu diketahui sebelum menjadi kupu-kupu yang indah, seekor kupu-kupu harus melewati proses yang cukup panjang.

Proses kehidupan kupu-kupu ini dikenal dengan sebutan daur hidup kupu-kupu.  Kupu-kupu mengalami metamorfosis sempurna. Adapun proses daur hidupnya yaitu dimulai dari “telur larva (ulat)-kepongpong-kupu-kupu. Proses menjadi telur berlangsung selama 4 hari, proses menjadi larva berlangsung selama 2 minggu, dan proses menjadi kepongpong berlangsung 10 hari. Setelah itu, baru berubah menjadi kupu-kupu yang indah.

Ada hal yang menarik dari proses daur hidup kupu-kupu tersebut. Coba kita perhatikan. Sebelum menjadi kupu-kupu, terlebih dahulu menjadi telur dan ulat. Selama proses ini, tantangan sudah dimulai. Telur tidak bisa berkembang menjadi ulat apabila tidak tahan terhadap gangguan luar seperti cuaca dan kemungkinan dimangsa binatang lain.

Setelah menjadi ulat, tantangan bertambah, yaitu selain tantangan terhadap cuaca dan dimangsa binatang lain, juga harus bisa survive mencari makanan. Setelah melewati fase larva (menjadi ulat), fase kritis berikutnya adalah menjadi kepompong. Fase Kepompong ini adalah fase dimana ulat mengubah dirinya dan menempel (berdiam) pada ranting kayu.

Selama menjadi kepompong inilah tantangan terakhir yang harus dihadapi. Pada masa menjadi kepompong merupakan masa-masa yang sulit karena jika terjadi gangguan sedikit saja seperti hujan atau gangguan binatang lainnya, maka kepompong tersebut tidak akan berhasil berubah menjadi kupu-kupu yang indah. Proses kehidupan kupu-kupu  mengajarkan kepada kita bahwa sebelum menjadi kupu-kupu yang indah, ia harus melewati beberapa tahapan sampai harus “bertapa” terlebih dahulu dengan menjadi kepompong. Masa “pertapaan” ini harus dilewati dengan baik. 

Ada satu bagian penting dari fase kepompong menjadi kupu-kupu ini yaitu fase keluarnya kupu-kupu baru  dari kepompongnya. Proses ini membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Juga memerlukan upaya yang tidak mudah. Kondisi kupu-kupu yang baru berubah dari fase larva di dalam kepompong tersebut dalam kondisi lemah dan basah semua sayap dan tubuhnya. Dia harus berusaha sekuat tenaga dengan mengeluarkan semua kemampuannya untuk bisa merobek kepompongnya sedikit demi sedikit dan keluar dengan perlahan dari kepompongnya tersebut. Setelah semua upaya yang keras dan melelahkan itulah baru dia bisa keluar dan terbang ke alam bebas dengan sayap-sayapnya yang indah.

Pertanyaannya, mengapa kupu-kupu harus bersusah payah untuk keluar dari kepompongnya dengan mengeluarkan tenaga ekstra? Dia harus berupaya menggerak-gerakkan tubuhnya bergesekan dengan kepompongnya. Hal ini membuat tubuh dan terutama sayapnya menjadi kering. Dengan sayap dan tubuh yang kering itulah kupu-kupu baru bisa terbang dengan ringan dan leluasa. 

Bayangkan jika kupu-kupu tersebut keluar dari kepompongnya tanpa upaya seperti itu sehingga tubuh dan sayap-sayabnya masih basah. Apakah kupu-kupu tersebut bisa segera terbang bebas? Tentu saja tidak. Dan kondisi tersebut sangat berbahaya baginya. Bisa saja dia langsung terjatuh dari kepompongnya yang menggantung di ranting pohon atau daun tersebut.  Bisa saja dia langsung dimakan oleh pemangsa alaminya.

Bayangkan saja jika Anda hadir disamping kupu-kupu yang sedang berupaya keras untuk kluar dari kepompongnya tersebut. Lantas karena merasa kasihan dengan kupu-kupu imut yang basah kuyup dengan lendirnya tersebut Anda berusaha menolong untuk meringankan bebannya. Anda kemudian mengambil sebuah gunting dan memotong ujung kepompong tersebut untuk nmembantu si kupu-kupu imut keluar dari kepompongnya. Apakah setelah usaha Anda berhasil si kupu-kupu imut bisa terbang bebas dengan kedua sayap indahnya yang warna-warni itu? Tentu saja tidak. Si kupu-kupu justru akan terjatuh ke tanah atau tersangkut di rimbunnya dedaunan di bawah kepompongnya. Ya, Anda telah membunuh kupu-kupu itu secara tidak sadar. Anda telah mematikan kesempatan hidup bagi kupu-kupu untuk melewati masa-masa kritis dalam siklus metamorfosisnya.

Seperti itulah kurang lebih gambaran yang terjadi pada proses pendidikan putra-putri kita. Demikian itulah proses belajar bagi semua siswa kita. Semua membutuhkan upaya maksimal yang memerlukan waktu dan semangat kemandirian yang tinggi menuju keberhasilan. Upaya yang harus dilakukan sendiri oleh putra-putri kita. Perjuangan yang harus ditempuh sendiri oleh semua siswa kita. Tanpa ada intervensi dari kita semua sebagai orang tua maupun gurunya. 

Tugas kita adalah memberikan bimbingan yang terbaik kepada mereka. Tugas kita adalah memberikan dukungan dana dan fasilitas yang diperlukan oleh mereka dalam masa-masa tumbuh kembang dan masa-masa pendidikannya. Tugas kita bukan melakukan intervensi pada wilayah yang seharusnya dilakukan sendiri oleh anak-anak dan siswa-siswa kita. Tugas kita bukan untuk mengambil alih tugas dan apa pun yang seharusnya dikerjakan sendiri oleh anak-anak dan siswa-siswa kita.

Sebagai seorang guru, kami sangat prihatin atas banyaknya campur tangan orang tua dalam mengerjakan tugas-tugas sekolah anaknya. Sebagai guru, kami sangat prihatin atas adanya sebagian oknum guru les privat yang mengambil alih tugas-tugas yang seharusnya dikerjakan sendiri oleh siswa. Sebagai seorang intruktur, kami pun sangat prihatin atas adanya sebagian oknum peserta pelatihan yang sanggup patungan untuk memberikan ‘uang lelah” dan “uang lembur” kepada para instruktur dan nara sumber pelatihan agar membantu mereka mengerjakan post test di akhir masa diklatnya.

Kalau masih seperti itu mental belajar kita, bagaimana kita bisa maju dan berkembang? Kalau masih seperti itu kita memperlakukan anak-anak dan para siswa kita, bagaimana bisa kita melihat dan mengukur tingkat keberhasilan belajar siswa dan anak-anak kita yang sesungguhnya? Bukankah semua hanya kepalsuan belaka?  

Untuk bisa maju dan berkembang, untuk bisa bertumbuh dan menjadi pemenang serta menggenggam asa di masa depannya, anak-anak kita butuh berlatih dan berjuang dengan kemampuannya sendiri. Agar semakin kuat otot-otot tubuhnya. Agar semakin perkasa otot-otot otaknya. Agar semakin tangguh semangat dan semangat kemandiriannya. Jika kita para orang tua dan guru-gurunya terus mengambil alih sesuatu yang seharusnya dilakukan sendiri oleh mereka, sama saja dengan kita menggunting kepompong kupu-kupu. Kita telah membunuhnya dengan tidak sadar. Ironisnya bahkan kita masih tetap merasa sebagai pahlawan. Sungguh sangat memprihatinkan.

Anak-anak dan para siswa kita tidak akan bisa memiliki rasa percaya diri dan semangat kemandirian yang tinggi jika kita para orang tua dan guru-gurunya masih manja. Mereka butuh contoh dan teladan yang nyata. Mari kita berubah untuk menjadi lebih baik. Mari kita mulai dari yang kecil. Mari kita mulai dari diri kita sendiri. Mari kita mulai dari sekarang. Semoga pendidikan di negeri kita akan semakin maju dan berkembang dengan para guru dan orang tua yang tidak lagi manja.

 

******** 

Asrama St Vincent's School,  Minggu, 14 Juli 2019 pukul 21.45 Waktu Liverpool dan di daur ualng saat pandemic Covid 19 di Bukit Bambe, Senin 7 September 2020 pukul 18.19 WIB

Penulis : SUPRIYANTO, M.Pd

• Delegasi Pendidikan Kota Surabaya di Liverpool United Kingdom
• Guru dan Staff Kurikulum SMPN 40 Surabaya
• Kadiv Lembaga Pelatihan dan Kurikulum JSIT Indonesia Wilayah Jawa Timur
• Kabid Humas dan Publikasi PP FKG IPS Nasional APKS PGRI Pusat
• Kabid Penelitian dan Pelatihan HISPISI Jawa Timur