Sabtu, 19 September 2020

Menyoal Mata Pelajaran Sejarah!

Oleh : Dudung Nurullah Koswara

(Ketua Pengurus Besar PGRI)


Menarik  melihat kepekaan IKA Alumni Sejarah UPI Bandung yang merespon cepat adanya “diskursus” tentang Mata Pelajaran Sejarah. IKA Upi Sejarah dengan cepat tanggap mengadakan Webinar dan dihadiri ribuan peserta. Peserta webinar adalah representasi masyarakat dan kaum pendidik.  Mayoritas peserta seminar sangat menyayangkan dan menolak keras adanya rencana penyederhanaan kurikulum terutama dipersepsi “melenyapkan” mata pelajaran sejarah.


Sebelumnya Kementerian Pendidikan  dan Kebudayaan berencana membuat mata pelajaran sejarah menjadi tidak wajib dipelajari siswa SMA dan sederajat. Di kelas 10, sejarah digabung dengan mata pelajaran ilmu pengetahuan sosial (IPS). Sementara Bagi kelas 11 dan 12 mata pelajaran sejarah hanya masuk dalam kelompok peminatan yang tak bersifat wajib.  Hal itu tertuang dalam rencana penyederhanaan kurikulum yang akan diterapkan Maret 2021.


Khusus bagi mata pelajaran sejarah hal ini menjadi unik dan menarik untuk dikaji. Mendikbud Nadiem Makarim pernah menyatakan dirinya “Tidak tahu masa lalu tetapi tahu masa depan”.  Jangan sampai persepsi ini menjadi pijakan dalam memperlakukan mata pelajaran sejarah yang banyak menyingkap rahasia masa lalu dan nilai-nilai karakter bangsa sejak bangsa ini lahir.


Wajar bila cendikiawan Fachry Ali meminta Mendikbud Nadiem Makarim agar belajar sejarah.  Terutama hal ini terkait NU dan Muhammadiayah yang dianggap bagian dari masa lalu. Masa depan seolah tak butuh NU, Muhammadiyah dan mata pelajaran sejarah. Wajar bila publik menilai Mendikbud Nadiem Makarim  ahli masa depan namun tak paham masa lalu. Padahal masa depan berkelindan dengan masa lalu.


Masa lalu itu ibu kandung dari masa depan.  Keterikatan kehidupan masa lalu, masa kini dan masa depan tak bisa dipisah. Melupakan masa lalu sama dengan melupakan ibu  kandung. Hanya generasi Malin Kundang yang melupakan ibu kandung. Bila bangsa kita mengabaikan pentingnya sejarah yang menyimpan  rahasia masa lalu, bahaya! Apalagi bila mata pelajaran sejarah malah menjadi mata pelajaran pilihan bukan wajib!


Nadiem Makarim nampaknya lupa atau tak paham gagasan Nawacita Presiden RI.   Dalam Nawa Cita prioritas ke  8 dinyatakan  “Pentingya melakukan revolusi karakter bangsa melalui kebijakan penataan kembali kurikulum pendidikan nasional dengan mengedepankan aspek pendidikan kewarganegaraan, yang menempatkan secara proporsional aspek pendidikan, seperti pengajaran sejarah pembentukan bangsa, nilai-nilai patriotisme dan cinta Tanah Air, semangat bela negara dan budi pekerti di dalam kurikulum pendidikan Indonesia”.


Dalam Nawa Cita justru dua mata pelajaran yang  harus lebih mendapat prioritas yakni mata pelajaran PKn dan sejarah.  Bila faktanya ada gagasan di kurikulum baru mata pelajaran menjadi pelajaran pilihan ini menjadi aneh. Mata pelajaran pilihan identik dengan  mata pelajaran “masa bodoh” artinya mau memilih atau tidak terserah.  Ini bahaya ketika mata pelajaran sejarah menjadi mata pelajaran “masa bodoh”.


Sebuah generasi Malin Kundang dan generasi “amnesia” akan terlahir dari generasi bangsa yang tidak mengenali sejarah bangsanya.  Sebagai pendidik, pengurus organisasi profesi,  Saya “merekomendasikan” pertama, wajib hukumnya mata pelajaran sejarah dijadikan mata pelajaran wajib bukan pilihan. Bukan mata pelajaran “masa bodoh” ini bahaya akan melahirkan massa yang bodoh.


Kedua  tidak menolak adanya penyederhanaan kurikulum namun jangan sampai mengabaikan mata pelajaran  substantif yang sangat penting bagi nilai-nilai nasionalisme, kebangsaan,  karakter dan masa depan bangsa. Ketiga membaca pesan Tuhan dalam  kitab suci Al Quran, Surat al-Hasyr ayat 18, “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang *memperhatikan apa yang telah diperbuatnya* untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan”.


Menjadikan mata pelajar sejarah sebagai  mata pelajaran “masa bodoh” (terserah dipilih atau tidak), bukan wajib  adalah sebuah kekeliruan yang fatal!  Semua orang boleh menjadi ahli masa depan namun jangan coba-coba  mengabaikan masa lalu. Pepatah bijak mengatakan, “Untuk mengetahui apa yang akan terjadi pada masa depan, lihatlah masa lalunya dan hari ini”. Bahkan kitab suci yang dianut para pemeluk agama adalah menyimpan kisah-kisah dan pesan-pesan rahasia kehidupan di  masa lalu.