Jumat, 25 September 2020

Pentingnya Reinforcement


Oleh Sulistyowati
SMPN 1 Pujon – Kab. Malang  

Reinforcement adalah pemberian penguatan atau reward atas kejadian atau aktivitas yang telah dilaksanakan sehingga aktivitas tersebut tetap mampu dipertahankan atau memberikan respon yang serupa dan pada aktivitas berikutnya dapat meningkat lagi (Harjasuganda, 2008). Skinner memandang reward atau reinforcement sebagai unsur yang paling penting dalam proses belajar. Kita cenderung untuk belajar suatu respon jika segera diikuti oleh reinforcement (Junaidi & Prasetyo, 2015). Reward adalah segala sesuatu yang berupa penghargaan yang menyenangkan perasaan, yang diberikan kepada anak karena telah berperilaku baik, mendapat hasil yang baik atau telah berhasil melaksanakan tugas yang diberikan guru dengan baik (Wilujeng, N. E. 2015). Pemberian reward sendiri juga bisa diberikan oleh siapapun. Bisa orang tua, guru, saudara, teman atau bahkan diri sendiri.        

Reinforcement Theory ini merupakan suatu pendekatan psikologi yang sangat penting bagi manusia.Teori ini menjelaskan bagaimana seseorang itu dapat menentukan, memilih dan mengambil keputusan dalam dinamika kehidupan. Teori ini bisa digunakan pada berbagai macam situasi yang seringkali dihadapi manusia.

Reinforcement Theory ini mengatakan bahwa tingkah laku manusia itu adalah hasil kompilasi dari pengalaman-pengalaman yang ia temui sebelumnya, atau dalam bahasa lainnya disebut “Consequences influence behavior”. Contoh yang paling mudah yang bisa saya gambarkan disini adalah bagaimana sikap yang diambil oleh seorang siswa di dalam kelas. Asumsikan bahwa sang guru sudah menjelaskan seperangkat aturan yang harus ditaati oleh siswa di dalam kelas. Suatu ketika, seorang siswa berteriak di dalam kelas. Maka sang guru langsung memberikan hukuman kepada siswa tersebut. Dari hukuman itu, siswa tadi akan merubah sikapnya untuk tidak berteriak lagi. Juga demikian, kepada siswa yang tekun mengikuti pelajaran di dalam kelas, maka sang guru memberikan kepada mereka semacam hadiah atau penghargaan. Jika sistem ini berjalan dalam jangka waktu tertentu, maka keadaan siswa tadi pasti akan konvergen untuk mengambil sikap yang baik di dalam kelas. Reward dan Reinforcement sendiri juga pasti mempunyai manfaat. Manfaat Reward dan Reinforcement untuk anak adalah membantu anak untuk mendorong perilaku yang baik dan kerja keras, membantu anak untuk memotivasi diri sendiri terutama anak yang tidak memiliki kecenderungan alami untuk berusaha dengan keras (Ulfa, 2016).  

Kenyataanya kebiasaan yang mulai berkurang dilakukan oleh guru di kelas adalah memberikan reinforcement (penguatan) kepada siswa, jarang sekali kita mendengar guru mengatakan bagus, hebat atau mengacungkan jempol, kepada siswa yang berhasil menjawab pertanyaan maupun kegiatan lain dalam pembelajaran. 

Padahal salah satu kompetensi profesional yang harus dimiliki seorang guru adalah mampu membangkitkan motivasi belajar siswa,  reinforcement merupakan salah satu cara yang efektif untuk membangkitkan motivasi belajar siswa.

Sumantri dan Permana (1999) menyebutkan beberapa tujuan yang bisa dicapai dari pemberian reinforcement yaitu

1) Membangkitkan motivasi belajar peserta didik,

2) Merangsang peserta didik berpikir lebih baik,

3) Menimbulkan perhatian perserta didik,

 4) Menumbuhkan kemampuan berinisiatif secara pribadi,

5) Mengendalikan dan mengubah sikap negatif peserta didik dalam belajar ke arah perilaku yang  mendukung belajar.

Secara umum reinforcement bermanfaat bagi siswa karena akan meningkatkan motivasi belajar siswa dan motivasi belajar merupakan hal yang penting dalam belajar karena melalui motivasi maka seseorang akan mau dan terus  untuk belajar.

Bagaimana mekanisme tumbuhnya motivasi akibat reinforcement ? Maslow pernah mengatakan bahwa setiap manusia memiliki hirarkis kebutuhan dari mulai kebutuhan fisik, rasa aman, penghargaan, dicintai dan mencintai, aktualisasi diri, dan kebutuhan akan pengetahuan. Sebenarnya reinforcement yang diberikan guru  merupakan salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan dihargai, dicintai bahkan sebagai salah satu bentuk bahwa subjek belajar telah berhasil membuktikan dirinya (aktualisasi diri), tentu saja ketika kebutuhan subjek belajar terpenuhi akan merasakan kepuasan, selanjutnya mendorong untuk kembali melakukan hal yang sama.

Pengalaman di kelas ketika seorang siswa yang nakal diberikan reinforcement karena siswa tersebut secara kebetulan bisa menjawab pertanyaan yang dilontarkan. Terbukti menunjukkan perilaku kebiasaan berbuat onar ketika jam pelajaran menjadi berkurang bahkan siswa tersebut berbalik menjadi siswa yang aktif berpartisipasi ketika pertanyaan di lontarkan kepada seluruh siswa di kelas.

Dari contoh tersebut, selain untuk membangkitkan motivasi, reinforcement juga berguna untuk mempertahankan perilaku yang diinginkan dari subjek belajar. Dalam sejarah teori belajar sendiri, reinforcement dipakai hampir di setiap aliran teori belajar. Teori belajar behavioristik yang menekankan kepada stimulus dan respon, menggunakan reinforcement sebagai bentuk stimulus lanjutan untuk mempertahankan respon yang tepat, teori belajar psikologi humanistik juga menekankan pentingnya motivasi agar siswa bisa mengeluarkan potensi dalam dirinya.

Namun perlu diingat bahwa reinforcement yang kita berikan haruslah diberikan dalam situasi dan waktu yang tepat agar bisa efektif. Terdapat beberapa situasi yang cocok dalam memberikan penguatan (Ainurrahman, 2009) yaitu:

1) Pada saat peserta didik menjawab pertanyaan, atau merespon stimulus guru atau peserta didik yang lain,

2) Pada saat peserta didik menyelesaikan PR,

3) Pada saat peserta didik mengerjakan tugas-tugas latihan,

4) Pada waktu perbaikan dan penyempurnaan tugas,

5) Pada saat penyelesaian tugas-tugas kelompok dan mandiri,

 6) Pada saat membahas dan membagikan hasil-hasil latihan dan ulangan,

7) Pada saat situasi tertentu tatkala peserta didik mengikuti kegiatan secara sungguh-sungguh.

8) Pada saat peserta didik  berperilaku sopan dan santun. 

Penggunaan reinforcement positif dalam pembelajaran dapat meningkatkan motivasi belajar siswa, sehingga siswa dapat berperan aktif selama proses pembelajaran berlangsung. Sedangkan penggunaan reinforcement negatif dalam pembelajaran dapat menurunkan motivasi belajar siswa, sehingga kondisi kelas menjadi kurang kondusif. Guru hendaknya menggunakan sisipan reinforcement positif dalam pembelajaran, agar siswa dapat berperan aktif dalam pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Dengan catatan Reinforcement diberikan melalui berbagai pertimbangan, yaitu tepat sasaran, tepat waktu dan tempat, tepat isi, tepat cara, dan tepat orang yang memberikannya.

Secara umum kita bisa mengatakan bahwa reinforcement yang tepat diberikan dalam situasi ketika individu tengah melakukan aktivitas belajar. Kesimpulannya, mengingat begitu banyaknya manfaat dari reinforcement dalam mendukung kegiatan pembelajaran di kelas maka seharusnya guru mulai membiasakan diri untuk memberikan reinforcement kepada para siswanya  secara santun dan elegan. Di era digital ini komunikasi dan pembelajaran terbanyak menggunakan media sosial, hendaknya juga dibiasakan memberikan reinforcement maupun koment secara benar dan santun. Mengedepankan etika dalam bahasa online agar komunikasi terjaga, dapat memotivasi dan menginspirasi. Terpenting didasari niat yang tulus dari sanubari yang jernih,  karena hati akan tersentuh juga dengan hati.  Perlu dipahami  tulisan menggambarkan diri penulisnya.  Selamat berjuang semua sahabat untuk terus menghebatkan diri agar dapat melayani dan mendampingi para anak-anak bangsa  untuk menghantarkan menuju kehidupan yang lebih bermartabat dan hebat. 

                                       


DAFTAR PUSTAKA 

Harjasuganda, D. (2008). "Pengembangan Konsep Diri yang Positif pada Siswa."  Nomor, 9. 

https://polipapers.upv.es/index.php/MUSE/article/view/6370/9790

http://eprints.uny.ac.id/46394/1/PUJA%20SORAYA%20ULFA_121032490

http://repository.ump.ac.id/52/3/BAB%20II.pdf