Senin, 07 September 2020

POLA ASUH ORANG TUA SAAT PANDEMI

 

Rizki Mega Saputra, S.Pd

Pengajar SMPN Satu Atap Nyogan

 

Sejak Pandemi ini melanda dunia, semua negara sudah kewalahan mengadapinya sedangkan virus ini terus berkembang dan entah sampai kapan berakhirnya. Berkembangnya virus Corona ini ternyata tidak hanya berdampak di bidang kesehatan saja namun juga pada bidang lainnya termasuk ekonomi, pendidikan dan lainnya. Terkhusus bidang pendidikan adanya virus Corona ini pemerintah Indonesia mengeluarkan aturan bahwa proses pendidikan dan pembelajaran pada setiap tingkat satuan pendidikan dilaksanakan dirumah yang biasa di sebut dengan Belajar dirumah (BDR).

Pelaksanaan proses pembelajaran yang seharusnya dilaksanakan di sekolah dengan sangat terpaksa harus dirumah, berbagai permasalah datang ketika pembelajaran hanya dilakukan dari rumah. Peran orang tua dalam mengasuh dan mendampingi peserta didik belajar dirumah bukan perkara mudah. Orang tua peserta didik tidak semua mampu untuk mengajarkan atau bahkan menggantikan peran seorang guru dari semua mata pelajaran yang ada didalam kurikulum yang diterapkan sekolah.

Kurikulum yang diterapkan selama bebarapa bulan ini masih menggunakan yang kurikulum tatap muka, sehingga memberatkan dan membingungkan para pendidik juga peserta didik karena ada bebarapa target dan capaian yang harus dipenuhi untuk mengisi standar penilaian peserta didik.

Kita perlu memahami bawah perkembangan anak di tiap tahapnya akan terus berbeda. Kondisi ini kerap membawa tantangan tersendiri bagi orangtua yang membuat mereka kebingungan dan memilih menghukum anak saat bersikap kurang tepat. Banyak kasus sudah terjadi dengan cara orang tua yang mengajarkan peserta didik dengan cara yang kasar. Sebagai contoh kasus yang penulis kutip dari surat kabar online sebagai berikut “kekerasan pada anak di rumah, merupakan bentuk kegagalan orang tua dalam mengekspresikan cintanya. Hal tersebut terjadi lantaran orang tua belum mampu mengelola emosi dengan baik. Banyak perilaku kekerasan muncul bukan karena anaknya nakal, tetapi karena kegagalan orang tua mengekspresikan cintanya,” kata Pendiri Keluarga Kita, Najelaa Shihab.

Menurut Najella, buruknya orang tua dalam mengelola emosional, justru akan berujung kepada lingkaran kekerasan. Bahkan, tingkatan kekerasannya bisa semakin meningkat (https://www.radarcirebon.com/2020/07/26/di-rumah-saja-anak-jadi-korban-kekerasan/)

Orang tua merupakan tempat dimana anak memperoleh  pendidikan. Keluarga juga mempunyai arti penting dalam kehidupan manusia, terbentuknya keluarga untuk memperoleh kepentingan yang sama (Triyo Suprayitno, 2010:117). Orang tua sebagai pendidik utama dan pertama bagi anak memiliki peranan untuk dapat memberikan pendidikan awal sebagai bekal pengalaman untuk anak-anak mereka. Peranan orang tua sangat penting bagi pendidikan anak-anak karena orang tua memberikan pengaruh yang di signifikan terhadap prilaku anak sebab seorang anak akan meniru sikap dan perilaku ayah dan ibunya. Lalu bagaimana dengan peserta didik yang kebetulan orang tua bekerja diluar rumah dan tidak bisa mendampingi secara penuh atau dengan peran hanya salah satu orang tua saja yang mendampingi sedangkan peran orang tua dalam hal proses belajar melibatkan kedua orangnya yang menjadikan motivasi untuk belajar.

Pola asuh orang tua dalam pembelajaran dirumah juga menjadi hal penting untuk menjaga agar peserta didik tetap dalam kondisi motivasi dan psikologi yang baik.

Cara Pola Asuh

Kata pola asuh berasal dari dua kata yaitu pola dan asuh. Pola dapat diartikan sebagai corak tenun, corak batik, potongan kertas yang dipakai mal untuk memotong bakal baju (Fajri, 2000:662). Sedangkan asuh berarti memelihara dan mendidik anak kecil (Fajri, 2000:89). Secara umum pola asuh dapat diartikan sebagai corak atau model memelihara dan mendidik anak.

Keluarga sebagai sebuah lembaga pendidikan yang pertama dan utama. Keluarga diharapkan senantiasa berusaha menyediakan kebutuhan, baik biologis maupun psikologis bagi anak, serta merawat dan mendidiknya. Keluarga diharapkan mampu menghasilkan anak-anak yang dapat tumbuh menjadi pribadi, serta mampu hidup di tengah-tengah masyarakat. Sekaligus dapat menerima dan mewarisi nilai-nilai kehidupan dan kebudayaan.

Menurut Selo Soemarjan, keluarga adalah sebagai kelompok inti, sebab keluarga adalah masyarakat pendidikan pertama dan bersifat alamiah. Dalam keluarga, anak dipersiapkan untuk menjalani tingkatan-tingkatan perkembangannya sebagai bekal ketika memasuki dunia orang dewasa, bahasa, adat istiadat dan seluruh isi kebudayaan, seharusnya menjadi tugas yang dikerjakan keluarga dan masyarakat di dalam mempertahankan kehidupan oleh keluarga. (Selo Soemarjan, Sosiologi Suatu Pengantar. Yogyakarta: Gajah Mada Press, 1962), hlm. 127.)

Peran keluarga dalam hal ini sangatlah penting, yakni menciptakan suasana dalam keluarga proses pendidikan yang berkelanjutan (continues progress) guna melahirkan generasi penerus (keturunan) yang cerdas dan berakhlak (berbudi pekerti yang baik). Baik di mata orang tua, dan masyarakat. Fondasi dan dasar-dasar yang kuat adalah awal pendidikan dalam keluarga, dasar kokoh dalam menapaki kehidupan yang lebih berat, dan luas bagi perjalanan anak-anak manusia berikutnya.

Keluarga sebagai sebuah lembaga pendidikan yang pertama dan utama. Keluarga diharapkan senantiasa berusaha menyediakan kebutuhan, baik biologis maupun psikologis bagi anak, serta merawat dan mendidiknya. Keluarga diharapkan mampu menghasilkan anak-anak yang dapat tumbuh menjadi pribadi, serta mampu hidup di tengah-tengah masyarakat. Sekaligus dapat menerima dan mewarisi nilai-nilai kehidupan dan kebudayaan.

 

 

 

Beberapa hal yang perlu dilakukan orang tua dalam membimbing peserta didik belajar dirumah, yaitu:

1.      Memberikan contoh

Memberikan contoh merupakan hal yang sederhana namun terkadang sebagai orang tua tidak menyadari bahwa seorang anak akan meniru apa saja yang kita lakukan. Berikan contoh bawah kita sebagai orang tua mau untuk mengajari mampu untuk memotivasi bahwa belajar dirumah itu menyenangkan. Tujuannya agar anak tetap berada dirumah untuk menjaga kesehatan terutama pada saat pandemi seperti ini.

2.      Pahami Karakter Anak

Mengapa orang tua paham dengan karakter anak? Karena dengan kita memaksakan kehendak maka anak akan merasa tertekan yang pada akhirnya terjadi kejenuhan dan stres yang berlanjut apalagi banyaknya mata pelajaran yang harus diselesaikan.

Pahami gaya belajar anak seperti anak suka dengan musik bisa kita putarkan musik yang menyenangkan agar tidak merasa psikologi anak terancam kemudian ajak bicara dan berdikusi akan membangkitkan anak untuk menyampaikan pendapat dan berani bertanya.

3.      Anggap anak adalah seorang teman

Orang tua juga terkadang harus memposisikan diri sebagai teman mereka. Memposisikan sebagai teman bukan berarti kita mengajari anak untuk tidak hormat melaikan tidak adanya benar salah terhadap anak. Ada anggapan bahwa orang tua itu selalu benar dan yang paling muda yaitu anak harus nurut dan dipaksa ikut aturan orang tua. Memerdekaan anak bukan harus seperti itu, akan tetapi anak akan merasa nyaman bahwa orang tua juga bisa sebagai teman bicara. Belajar dirumah saat ini orang tua juga harus bisa seperti ini karena seorang anak akan butuh teman-temannya dalam motivasi belajar.

4.      Kuasai Diri

Selain mengakomodasi aspirasi anak, orang tua juga perlu melakukan introspeksi diri. Ketika sedang mengalami mood yang tidak stabil, orang tua disarankan untuk menyelesaikan masalah terlebih dahulu sebelum berhadapan dengan anak.

5.      Orang tau kompak atau sepemahaman

Selain itu, orang tua juga harus bersepakat dan kompak dalam mengasuh anak selama pandemi. Meskipun sikap dari suami istri memang berbeda, akan tetapi dalam pengasuhan anak mereka harus satu kata.

Diskusi antara ibu dan ayah, jangan sampai anak bingung, ayahnya permisif namun ibunya otoriter.

Cara pengasuhan ini mendorong proses perkembangan anak dan memahami serta mendorong keunikan individu, berdasarkan interaksi, relasi dan koneksi antara anak dengan orangtua. Cara pengasuhan ini dapat membantu mengoptimalkan perkembangan anak, serta mencegah stres dan meningkatkan hubungan anak dan orangtua.

Masyarakat kita secara luas tidak jarang ditemukan orang tua dalam melakukan pendampingan pola asuh pada anak masih dilakukan dengan cara keras, membentak, memaksa dan bahkan sampai memukul jika anaknya tidak mau menuruti kemauan orang tuanya dalam hal belajar hingga anaknya menangis. Jika tekanan-tekanan yang demikian ini setiap hari dilakukan orang tua walaupun tujuannya baik yakni supaya anaknya pintar tapi dengan pendekatan yang kurang tepat, sama halnya setiap hari yang disaksikan anak adalah seperti monster –monster pendidikan yang selalu menakutkan.

Terlebih anggapan kita bahwa anak pintar itu harus masuk jurusan kategori  sains atau IPA sehingga anak-anak yang kempuan tidak masuk ketegori tersebut dianggap bodoh.

Saat pandemi ini suasana keluarga yang hangat dan memiliki relasi serta pondasi hubungan yang sehat akan mendukung perkembangan dan pertumbuhan anak hingga anak dewasa nantinya.

Beberapa point tentang pola asuh orang tua terhadap anak memang seharusnya sudah kita miliki sebagai orang tua, tujuannya seorang anak akan merasa bahaga berada dikehidupan orang tuanya.