Minggu, 27 September 2020

SAJAK DUKA DI PENGHUJUNG SEPTEMBER

oleh Enang Cuhendi

 

September menjadi salah satu bulan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Khususnya terkait dengan satu peristiwa bersejarah yang terjadi di penghujung bulan. Hampir setiap September pembicaraan selalu mengarah ke satu titik peristiwa, yaitu Tragedi Nasional 30 September 1965. Satu peristiwa tragis yang menimbulkan luka yang dalam dan permasalahan yang tak kunjung selesai. Ada darah tertumpah, ada pengkhianatan atas negeri tercinta, ada upaya penggantian ideologi bangsa, semua terjadi pada dalam tragedi satu malam ini.

Banyak orang mencoba berkomentar seputar peristiwa 30 September 1965. Tidak sedikit yang berbagi hasil analisis tentang apa, siapa, dan mengapa terkait peristiwa tersebut. Masyarakat dari berbagai lapisan seakan tidak pernah bosan untuk membicarakan, dari mulai obrolan di warung kopi sampai ke meja-meja seminar di hotel berbintang. Intinya  semua masih tertarik dengan tragedi ini. Ada yang tertarik untuk mencoba menghapus dan melupakan, dan ada juga yang tertarik untuk tetap mengingatnya supaya selalu waspada agar tidak terulang lagi.

Dari pagi di WA Grup Socius Writers atau grup belajar menulis FKGIPS Nasional yang penulis kelola ada hal yang menarik. Jelang peringatan tragedi nasional 1965 di akhir bulan ini, penulis mengajak para anggota grup untuk mencoba menanggapi peristiwa tersebut dengan cara yang lain. Kami tidak terlibat dan melibatkan diri dalam diskusi ilmiah yang berkerut kening, tapi mencoba untuk menanggapinya dengan karya lain. 

Sejumlah untaian kata tersusun rapi dalam bentuk puisi atau sajak khas guru sosial sebagai ekspresi atas tragedi nasional 30 September 1965. Penulis fikir ini sebuah kreatifitas yang luar biasa dari guru-guru yang tidak pernah bergelut dengan teori sastra dan bahasa. Satu modal yang mereka berani mengekspresikan diri lewat karya. 

Berikut tersaji sebagian untaian karya-karya mereka:

 

September Kelabu

Oleh Enang Cuhendi (SMPN 3 Limbangan. Garut, Jabar)

 

September kelabu

Ibu pertiwi berduka

Di penghujung bulan

Di sini

Di Lubang Buaya

Atas fitnah yang tertumpah

Terpercik api licik

Akhirnya membawa petaka

Menebar duka 

 

Kala itu

Batang pisang menjadi saksi

Alunan genjer-genjer

Berhasil memadukan palu dengan sabit

Palu menghantam dalam-dalam

Lebam dendam terdalam

Kulit tersisit di ujung sabit

Darah pun tertumpah ruah

 

Di ujung September

Ada mayat yang tersayat

sungguh menyayat rasa

Dikubur dalam sumur 

Tanpa bisa membujur

Berhimpit-himpitan dalam sakit 

Aroma busuk menusuk

Dari daging yang tertusuk

 

Di Lubang Buaya

September kelabu

Tangis lirih mengurai pedih

Seiring alunan gugur bunga 

 

Terselip seuntai doa

Menyemat direkah tanah

Untukmu sukma sejati. 

 

Cicalengka, 27 September 2020

 

Noda September 

Oleh Enang Cuhendi

 

Di penghujung September

Ada noda di dada persada

Dari tumpahan segenggam fitnah

Yang terendam dendam mendalam

Dari sisitan yjng sabit

Tersisit kulit

Lebam dihantam palu godam 

 

Noda September

beraroma darah

Melimpah ruah

Berbau busuk menusuk 

dari setiap mayat yang tersayat

Mereka yang terkubur

Di sini

Dalam sumur

Tanpa bisa membujur

Terhimpit sakit menjerit-jerit

 

Noda revolusi

dari satu sisi

Dari kiri yang iri sendiri

Menekan kanan agar tertekan 

Memerah merah agar marah

Menebar noda di lembar putih  

 

Noda di ujung September 

Jangan lagi muntahkan amarah

Tak perlu hamburkan dendam

Sukma sejati tetap suci

Yang ada waspada

Persada jangan kembali ternoda.

 

Cicalengka, 27 September 2020

 

Darah Itu Memang Merah 

Oleh : Neneng Irmawati (SMPN 3 Baleendah, Kab. Bandung, Jabar)

 

Jangan ..

Tidak ...

Suatu masa tenggelam atas nama kesedihan

Suatu jaman terlena dalam lupa

Atau sengaja dilupakan

Suatu era berganti dengan debat berkelana

 

Jangan ...

Tidak ...

Pura-pura mati

Seakan korban

Karena melecehkan ideologi

 

Ingat ...

Subuh gaduh

Kabut melepuh

Dan darah merah itu ... Tetap merah

Kalian kuburkan di bebatuan atau tanah lapang

Kalian sembunyikan di tiang hidup

Lalu kalian ratakan agar datar kecoklatan

Darah merah itu ... Tetap merah

 

Sampai ketika buku ditutup

Ingatan terkunci ... Lalu mulut tak lagi bersuara

Sampai ketika tangan-tangan tanpa daya 

Tak bisa lagi memberi hormat

Atau ketika taburan bunga menjadi kerikil kering kusam tak terjamah....

Mereka tetap berdarah merah ...

Tulang, daging, sendi-sendi rapuh ...

Senyum ... Di antara kekuatan 

Tatapan ... Di antara keteguhan

Masa ke masa

Tidak .....

Tidak akan lupa

Tetap merah

 

Catatan Bedebah

Oleh : Neneng Irmawati

 

Catatan itu

Diambil dari kasak-kusuk busuk 

Mendengki ke tulang rusuk

Baunya menusuk ..... Merajalela

 

Catatan itu 

Seumpama kata-kata neraka

Terlilit lidah angkara

Cadas  menyiksa ..... Memaksakan 

 

Kau bicara seakan tuhan tak ada

Dan rakyat kau suap dengan roti harapan

Genderang perang kau tiupkan

Atas nama kesejahteraan 

 

Kembali ke catatan

Yang kau kirim berlembar kebohongan

Bahwa agama racun  penuh bisa

Semesta ada karena ada

Mati adalah akhir

 

Kalimat demi kalimat bercabang dusta

Paragraf penipuan

Jika kekalahan diujung titik

Kalian melantur bahwa revolusi sebentar menepi

 

Dengarlah ... Bedebah

Huruf-huruf licikmu 

Biarlah tergeletak .... 

Terdampar sesat selamanya

 

Tinta September

oleh Rusmita (SMPN 1 Ciruas, Serang, Banten)

 

Mungkin ...

Angin telah menerbangkan tangis-tangis pilu, yang pernah kalian hadirkan di malam itu

Atau ...

Barangkali ...

Hujan telah membasuh amis darah, yang pernah kalian cecerkan di lorong ini

 

Namun ...

Luka anak pertiwi yang engkau ciptakan dari sisitan arit

telah menembus nadi, 

Darinya mengalir darah yang menganak sungai

Menjadi lautan tinta catatan sejarah

Menceritakan perih dan sakit yang telah kalian hunjamkan

tepat mengenai jantung ibu pertiwi

 

Kenangan itu tak akan hilang

Tinta September akan terus menulis

Tragedi ini akan kekal dalam ingatan

 

Tinta September adalah energi ibu pertiwi

Akan menjadi bekal untuk bertahan

Sambil berusaha menghapus dendam

 

Ciruas,  27/09/2020

 

September  Hitam

Oleh:  Rina Malia (SMPN 2 Cilawu, Garut, Jabar)

 

September.

Kerusuhan berdarah

Timah panas dari perut senapan

Menerjang, merenggut, meregang nyawa

Korban asas tunggal di Bumi Tanjung Priok

 

September.

Peri kemanusiaan terabaikan

Korban atas isu berdarah

Jiwa-jiwa revolusi dibantai dan dihinakan

Lubang Buaya dijadikan kuburan mengenaskan

 

September.

Penolakan akan sebuah keputusan

Demonstrasi tak terelakkan

Semangat-semangat muda terpatahkan

Semanggi saksi bisu tetesan-tetesan darah 

 

September.

Kematian bermisteri peri

Racun ganas perenggut nyawa

Sebagai imbas dari penegakkan Hak Asasi Manusia

Darah terhenti tanpa penyelesaian pasti

 

Kenduri di Akhir September 

oleh Sulianti (Guru Sejarah SMKN 10 Kota Bandung, Jabar)

 

Madsaeri berseri tangannya menenteng berkat kenduri 

Madsaeri berseri sang istri bisa makan daging hari ini

Madsaeri berseri atas janji hidup tanpa perih dari orator pintar di kenduri tadi malam

 

Madsaeri berseri ia pergi ke ladang masih terngiang "sama rata sama rasa"

Madsaeri berseri tak akan ada lapar lagi bagi Darti, Tini dan Warsi

Madsaeri berseri bersujud kepada Illahi 

 

Madsaeri berlari tanpa henti

Begidik, menjerit…

rumahnya terbakar hangus terberangus 

Darti, Tini dan Warsi tak ada lagi

Madsaeri mematung, tangannya menggantung 

raganya di arak warga kampung

diteriaki PKI ia tak mengerti

Madsaeri hanya datang ke kenduri

 

*Teringat cerita si Mbah di kampung

Bukit Panyandaan, 27 September 2020

 

G. 30 S 55 11

oleh Rozaco ( Efrizal) (SMPN. 1 VII KOTO Sungai Sarik. Padang Pariaman. Sumbar)

 

Buku itu telah lusuh dimakan usia

Kubuka helai demi helai 

Tertumpuk tajam hujaman mata 

Lirisan tgl air mata ber-urai

 

Memori melayang kemasa silam

Tertulis kata G 30 S dipojok kiri

Kujajaki ejaan aksara sebagai kalam

Tergiang bisikan didalam hati

 

G 30 S...dua peristiwa yang menyedihkan tapi berbeda

Keduanya sama menyentuh bathin bangsa

55 Tahun yang lalu peristiwa ulah manusia

11 Tahun yang lalu bencana dari yang kuasa

 

Berita pertama sejarah yang kuterima

Genangan darah pahlawan membasahi bumi persada

Kejadian kedua ku alami dengan nyata

Petaka gempa menghantam tak memandang strata

 

Bumi bergoncang menyapa 

Luluh lantak semua jadi rata

Korban nyawa, korban harta dan korban semua

Gempa 30 September di Sumatera

 

Kota Tabuik Pariaman, 27 September 2020

 

September Kala Itu

Oleh Erni Melati Sari (SMPN Wukirsari, Tugumulyo, Musirawas, Sumsel)

 

Sore ini kopiku pahit, terasa getar sampai dikerongkongan

Raut wajah sendu, yang mulai memelas 

melihat para pendosa negara memberontak membuat bumi menangis

Satu, dua,  tiga dan bahkan lebih

berita duka menyelimuti  negeri

Sakit hingga mati

 

Merah Putih tetaplah dihati, berkibarlah selalu

Demi engkau mereka berani berkorban

Untuk Indonesiaku

 

Diakhir September ini

Kopiku jangan pahit lagi terasa

 

Kudeta September

oleh Yanuar Iwan S. (SMPN 1 Cipanas, Cianjur. Jabar)

Malam kelam malam jahanam malam pengkhianatan meruntuhkan revolusi menghancurkan kemanusiaan

 

Fitnah menjadi-jadi yang benar jadi salah yang salah jadi benar manusia menjelma menjadi srigala. Srigala yang haus kekuasaan haus akan aroma darah

 

Tidak bisakah kau berhenti sejenak di malam itu merenungi nurani merenungi kemanusiaan dan malam itu menjawab tidak karena tirani komunis menghancurkan nurani, menghancurkan kesetiaan, menghancurkan kehormatan

 

Kudeta September adalah trauma sejarah berkepanjangan, hanya dengan trauma itu tersandar harapan jangan ada lagi rekayasa dan pemutarbalikan sejarah

 

Sukaresmi, 27 September 2020

 

55 Tahun Yang Lalu

Oleh Sri Wahyu Utami (SMPN 3 Pule,  Trengalek,  Jatim) 

Walau lama berselang

Dari cerita yang ditorehkan

Hati tercabik-cabik

Miris melihat tragedi

 

Tindakan biadab 

Tanpa perikemanusiaan

Darah segar membasahi pertiwi

Darah pahlawan sejati

 

DUKA SEPTEMBER

Oleh Syafyendri, S.Pd.,M.Pd




KEJAMNYA IDIOLOGI

Sepenggal sejarah menyayat jiwa

Terjadi pada malam yang sunyi

Menggurat luka beribu pilu

Mendatangkan duka yang mengoyak hati

 

Luncurkan peluru menembus jiwa

Tetesan merah membasahi  tanah

Sakit yang amat pedih tak terbendung

Akibat keserakahan sebuah ideologi

 

Ksatria bangsa disiksa tiada ampun

Menghujat hingga habis kata

Sumur adalah saksi nyata

Bagai negri diperkosa, yang meninggalkan noda beraroma

 

Kini tinggalah jasa-jasamu yang abadi

Yang akan selalu dikenang di Bumi Indonesia

Walau saat memori itu diputar kembali

Tangis lirih mengurai pedih

 

Hanya untaian do’a  yang bisa terucap

Dan hanya sebuah cahaya gemilang

Yang dapat kami persembahkan

Untukmu Ksatria Bangsa, Untukmu Bumi Indonesia.

 

Jambi (Batang Hari), 30 September 2020


Oleh Syafyendri, S.Pd.,M.Pd


Sadis tanpa ada rasa di jiwa

Nyawa tak ada harga untuk mereka

Kekejaman merajalela

Pemberontakan dimana-mana

 

Malam yang pedih

Malam yang penuh pemaksaan

Malam yang penuh darah

Penuh tragedi dan memori

 

Rakyat sengsara menangis nanah

Kesana Kemari mencari daerah singgah

Sungguh negeri dalam masalah

Akibat insan tak mengemban amanah

 

Para pahlawan disiksa

Sumur sebagai saksi nyata

Kekejaman penghiatan bangsa

Sumpah serapah yang menusuk sukma

 

Kekejaman sebuah idiologi 

Kekejaman yang terasa amat pedih

Menggugah, mendobrak

Sejarah bangsa ini

 

Yang tak mau ganti ideologi

Demi Pancasila Sakti

Lima dasawarsa berlalu

Luka masih menganga

Nestapa masih berasa

 

Jambi (Batang Hari), 30 September 2020