Sabtu, 26 September 2020

SENDIRI

 Elih Hendartini

SMPN 4 Rangkasbitung Banten


Meski ini bukan yang pertama kalinya naik burung besi, Ratih merasa gugup. Mungkin karena kali ini dia harus pergi sendiri. Dikibaskan tangannya berusaha mengusir galau di hatinya. Bismillah, dia langkahkan kaki masuk area Bandara Sukarno Hatta. Tas hitam memeluk punggungnya dan tangan kiri menarik koper. Dengan tersenyum manis, disodorkannya kartu identitas kepada petugas di gerbang pemeriksaan, kemudian memasuki ruang tunggu bandara yang luas nan gemerlap. 


Sengaja Ratih berangkat jauh lebih awal dari waktu pemberangkatan. Masih sekitar 7 jam menjelang waktu penerbangan. Sekilas matanya manatap jam digital di atas salah satu gerai boarding pass, terbentuk angka 23,00. “Satu rute telah terlalui selamat”, pikirnya. Kembali senyumnya mengembang kali ini lebih lega dirasakannya. Langkahnya berhenti di salah satu deretan kursi yang kosong, “Cukuplah tiga kursi kosong untuk skedar merebahkan diri”, bathinnya. Ratih meletakkan koper disamping kursi, dan menurunkan tas punggungnya. Tengok kanan kiri, duduk santai berusaha menikmati suasana dan waktu menunggunya. Tak disadarinya, Ratih merebahkan badan, dan tas punggung dijadikan alas kepala. Terlelap. 


Seketika terbangun, jam digital membentuk angka 05,15. Dengan tergesa mengaitkan tas di pundak kirinya, tangan kanan cepat meraih koper langsung masuk antrian untuk boarding pass. Di hadapan petugas disodorkannya HP untuk memperlihatkan tiket. Petugas ganteng dihadapannya tersenyum manis dan bertutur, “Mohon maaf, mbak terlambat 10 menit untuk boarding pass!” 


Lebak, 26 September 2020