Sabtu, 26 September 2020

SEUNTAI ASA DI SEPERTIGA MALAM

  


Oleh: Anisa Octorina SE


Rasanya aku harus kecewa untuk kesekian kalinya. Namaku tidak tertulis di deretan peserta yang lolos ke tahap wawancara. Ku coba teliti sekali lagi dan hasilnya masih saja nihil. Nafasku terasa begitu sesak. Padahal sebelumnya aku begitu yakin akan lulus kali ini. Bagaimana aku bisa menjawab pertanyaan orang tuaku nanti? Bagaimana aku berani menatap wajah mereka yang penuh harap? Jadi gak berani pulang. Begitu susahnya mencari sebuah pekerjaaan.

    Dengan langkah gontai, ku coba meninggalkan gedung tinggi Graha Pangeran di Surabaya itu. Rasa Nano-nano berkecamuk direlung hati dan pikiranku. Sirna sudah harapan bisa bekerja menjadi pegawai di  salah satu Perbankan milik pemerintah itu. Padahal dalam hati ingin sekali bekerja di gedung yang tinggi, ruang ber-AC, tampil bersih dan bekerja sesuai latar belakang pendidikanku, yaitu Sarjana Ekonomi, Akuntansi. Itulah impianku, meskipun tidak harus menjadi pegawai Bank, yang penting pekerja kantoran.

    Sudah berkali-kali aku mencoba melamar pekerjaan, mengikuti  tes tulis psikotes dan bahasa Inggris,  bahkan sampai panggilan wawancara, tapi tak satupun pekerjaan yang ku dapatkan. Aku merasa jadi manusia paling bodoh sedunia.

    Kadang aku berfikir, kurang apa lagi usahaku. Tiap saat ke toko buku, aku selalu  membeli buku latihan soal psikotes, toefl bahkan buku siap tes cpns. Sudah banyak soal yang aku kerjakan. Rasanya ingin menangis saja. Terus bagaimana nanti kalau sampai di rumah? Terbayang wajah-wajah penuh harap menyambutku. Belum lagi menghadapi pertanyaan beberapa teman dan tetanggaku, duh rasanya ingin sembunyi dari bumi ini..berat banget ujian yang harus aku hadapi.

    Di dalam bus antara Surabaya dan Blitar, aku hanya bisa melihat pemandangan ke arah jendela dengan mata berkaca-kaca. Entahlah, bagaimana perasaanku saat itu.Sampai akhirnya ada seseorang yang menepuk bahuku, menyadarkanku dari lamunan.

    “Manisan mbak, dijamin enak”, kulihat seorang anak laki-laki ABG, mungkin seusia SMP menawarkan dagangannya ke arahku. Aku cuma menggelengkan kepala”

    “Ayolah mbak, dibeli manisan nya, murah, sepuluh ribu dapat empat, penglaris hari ini”, rayunya sekali lagi penuh iba.

    Kuambil uang dari dompetku dan memberikannya ke penjual manisan itu.Wajah anak itu berubah gembira. Sambil tersenyum, dia menyerahkan manisan nya kepadaku dan perlahan meninggalkanku.

    Tiba-tiba saja pikiranku berubah ke penjual manisan itu. Kalau dipikir-pikir, lebih berat anak itu ujian hidupnya. Mestinya seusianya, dia tinggal bermain dan belajar saja. Tapi malah harus berpanas-panas mencari uang demi sesuap nasi. Ya Allah, kok aku jadi hamba Mu yang kurang bersyukur. Mestinya aku gak sesedih ini. Nasibku masih lebih beruntung, mempunyai  orang tua yang selalu menjaga dan mencukupi semua kebutuhanku, masih bisa membiayaiku kuliah bahkan belum mendapat pekerjaan pun mereka senantiasa mendukungku. Entah mengapa hatiku mulai agak tenang saat itu.

    Tepat sang surya tenggelam, aku sampai juga di depan rumah. Rasanya jantungku masih gimana gitu, bismillah, pelan-pelan ku ketuk pintu sambil mengucapkan salam. Perlahan pintu terbuka, wajah ibuku tersenyum menyambut kedatanganku.



    “Ayo, cepatlah mandi, sudah hampir Magrib,tadi sudah sholat Ashar atau belum?”. Aku menggelengkan kepala, dan tanpa banyak bicara aku segera pergi ke kamar mandi. Dalam hati aku bersyukur, untung pertanyaan pertama itu. Setelah mandi dan sholat, aku masih belum berani keluar kamar. Tiba-tiba terdengar pintu kamarku diketuk ibuku.

    “Nis, ayo makan dulu nduk, itu lho nasi Padang kesukaanmu.” 

Dengan memberanikan diri aku keluar kamar. Jujur, perutku terasa lapar, belum makan siang dari tadi. Setelah makan, bapakku mulai bertanya, “Tadi bagaimana hasil ujiannya? Lulus apa enggak?” 

Dengan wajah sedih aku cuma menggelengkan kepala. Aku tidak berani menatap wajah mereka.

    “Kalau belum lulus ya tidak apa-apa, anggap saja belum rezekimu. Yang penting sudah berusaha semampunya dan jangan lupakan doa. Mungkin ibadahmu selama ini yang masih kurang. Jangan pernah tinggalkan sholat dhuha dan sedekah. Itu semua pembuka pintu rezeki. Lebih baik lagi kalau kamu mendekati yang Maha Pemberi rezeki di sepertiga malam. Kerjakan sholat tahajud, minta sendiri sama Allah dengan sungguh-sungguh, Allah itu Maha Mendengar semua doa, insya Allah dikabulkan”,kata bapakku dengan suara pelan dan sabar.

    “Rezeki itu sudah ada yang ngatur, gak usah khawatir. Allah itu paling tahu yang terbaik untuk hambaNya. Tidak harus jadi pegawai kantoran. Sepertinya kamu kok lebih cocok jadi guru. Anak-anak yang les ke rumah sepertinya semangat belajar semuanya. Lagian kamu kan juga punya ijazah akta mengajar. Coba melamar jadi guru saja. Mungkin rezekimu ada di situ” tambah ibuku.

    “Iya Pak, Bu, nanti kalau ada lowongan guru insyaAllah saya mencoba melamar. Doakan lancar, ya." jawabku.

    “Selalu kami doakan nduk, setiap saat. Bukan Anisa anak ibu kalau gampang menyerah”, tambah ibuku.Aku cuma bisa membalasnya dengan senyum.

    Selama belum mendapat pekerjaan, memang ada beberapa anak sma yang les akuntansi. Setidaknya ilmu yang ku dapat selama kuliah tidak sia-sia. Aku merasa bersyukur mempunyai orang tua yang sabar dan bijaksana. Selalu memberiku semangat jika aku mulai gundah. Rasanya ingin sekali bisa mendapatkan pekerjaan yang sesuai, dan jika sudah mendapat gaji, sebagian akan ku berikan ke orang tuaku, meski mereka tidak pernah memintanya, gumamku dalam hati.

    Di sepertiga malam, aku terbangun. Ku coba membasuh wajahku dengan air wudhu. Semoga doa dan asa ku malam ini yang kubisikkan di bumi terdengar di langit dan dikabulkan Nya, aamiin.


                                                                                                             Blitar, 14 Juni 2020

                                    22.25

                                                                                      






BIODATA PENULIS
Anisa Octorina SE merasa bersyukur dilahirkan oleh Ibunda hebat yang super sabar (Suswantin) dan ayahanda yang pekerja keras (Suparno) yang rela bekerja jauh dari keluarga demi membesarkan 8 orang anaknya hingga kuliah semua. Lahir di Palopo,13 Oktober 1978, tetapi tumbuh besar di Blitar, Jawa Timur. 

Lulus Akuntansi di Universitas Muhammadiyah Malang. Bercita-cita jadi pegawai kantoran di gedung yang tinggi dan megah, tetapi sepertinya Allah mempunyai rencana yang terindah. Berburu pekerjaan hingga kemana-mana, sering merasakan sedih dan kecewanya gagal tes, hingga akhirnya berhasil lulus  CPNS 2006 dan menjadi guru di UPT SMPN 1 Panggungrejo. 

Paling suka makanan Padang dan paling benci kalau mengupas bawang merah. Kaya Air mata, apalagi kalau lihat film yang sedih-sedih. Hatinya lembut sekali dan gampang terharu (wkwk).

Sebenarnya sudah pernah mempunyai blog, pernah mencoba belajar menulis, tapi lupa password-nya (wkwk). Pernah mencoba menulis artikel dan cerpen, dimuat di majalah dinas pendidikan provinsi Jatim, rasanya senang sekali (tahun 2011). Setelah menikah belum menemukan inspirasi, sehingga berhenti menulis. Kini semangat menulis mulai bangkit lagi, mencoba menulis artikel di Guru Berbagi Kemendikbud, berharap hadiah pulsa tetapi yang terbit hanya RPP-nya (hehehe, gak apa-apa, setidaknya bisa berbagi RPP). Jejaknya bisa dilihat di akun facebook Anisa Octorina. Thanks.