Sabtu, 26 September 2020

T I W A H : Upacara Ritual Hindu Kaharingan

                   Oleh : Maryati, S.Pd

(SMP Negeri 9 Muara Teweh, Kabupaten Barito Utara)


Indonesia adalah negara kepulauan terdiri dari berbagai suku bangsa, bahasa , adat istiadat dan budaya yang menjadi ciri khas dan kekayaan bagi bangsa Indonesia. Sebagai bangsa yang kaya akan sumber daya baik manusia atau penduduk, sumber daya alam dan sunber daya  budaya  bangsa Indonesia tetap menjaga dan melestarikannya sehingga tetap terpelihara  dan menjadi daya tarik tersendiri bagi penduduk Indonesia serta dunia.

Sumber  daya budaya bangsa Indonesia sangat beragam serta merupakan kekayaan yang tak ternilai harganya dan tetap utuh berkembang lestari meskipun zaman telah berubah, karena merupakan warisan yang menjadi ciri khas daerah khususnya, juga bangsa Indonesia umumnya

Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu “Buddhayah”, merupakan      bentuk jamak dari “Buddhi (budi dan akal)” yang diartikan sebagai hal-hal yag berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia arti kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai mahluk sosial yang digunakan untuk memahami lingkungan dan pengalamannya yang menjadi pedoman tingkah lakunya. Ahli Antropologi E.B.Tylor dalam Soerjono Soekanto mendefinisikan  “Kebudayaan sebagai Sesuatu yang kompleks mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan lain kemampuan serta kebisaaan-kebiasaan yang didapat oleh manusia sebagai anggota masyarakat.

Kalimantan Tengah merupakan propinsi terbesar nomor empat setelah Papua Barat, Papua dan Kalimantan Timur. Di propinsi ini terkandung kekayaan yang sangat luar biasa baik alam, manusia dan budayanya. Masyarakat Kalimantan tengah memiliki kekayaan budaya yang menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat atau penduduknya serta dunia luar. Dari kekayaan budaya tersebut salah satunya adalah “ Tiwah”. 

Sama halnya dengan adat-istiadat daerah lain masyarakat Dayak Kalimantan Tengah khususnya suku Dayak Ngaju memiliki juga adat atau kebiasaan yang turun temurun sebagai kekayaan budaya yang harus dan tetap dilestarikan walau kehidupan manusia telah berkembang dan modern di pengaruhi oleh teknologi seperti sekarang ini. 

Tiwah merupakan salah satu upacara keagamaan suku Dayak Ngaju yang menganut Agama Hindu Kaharingan.  Pada tahun 2014, upacara Tiwah telah dimasukkan kedalam  Warisan Budaya Tak Benda Indonesia yang dilakukan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Dalam Ilmu Antropologi dikenal dengan istilah Kebudayaan Non Material. Kebudayaan Non Material, adalah ciptaan-ciptaan abstrak (yang tidak kelihatan) yang diwariskan dari generasi ke generasi. Suku Dayak Ngaju adalah suku asli dan subetnis Dayak terbesar di Kalimantan Tengah. Persebarannya cukup luas dan utamanya terkonsentrasi di daerah Kotamadya Palangkaraya,Kabupaten Pulang pisau, Gunung Mas,Kapuas, Katingan, Kotawaringin Timur dan Kabupaten Seruyan. 

Secara Etimologis kata “ Ngaju “ berarti  “Udik”  atau kampung.Suku Ngaju kebanyakan mendiami daerah aliran sungai Kapuas, Kahayan, Rungan Manuhing, Barito dan Katingan bahkan ada pula yang mendiami daerah Kalimantan Selatan. Upacara Tiwah sendiri merupakan upacara sakral terbesar dalam suku Dayak. Dikatakan demikian karena melibatkan sumber daya yang banyak,waktu yang cukup lama serta biaya yang lumayan besar.

Dalam mitos suku Dayak Ngaju, awalnya manusia tidak mengenal kematian, karena kehidupan duniawi sesuatu yang kekal. Suatu ketika karena manusia membuat kesalahan, akhirnya hidup duniawinya dicabut oleh dewata. Manusia yang meninggal akan melanjutkan perjalanannya kedunia para arwah. Manusia yang berganti wujud menjadi arwah itulah yang di sebut dengan Liau/Liaw. Oleh masyarkat Dayak Ngaju yang menganut keyakinan Hindu Kaharingan, Liau wajib di antar ke dunia arwah. Liau/Liaw terbagi atas tiga jenis, yaitu:                   

  1. Salumpuk Liau Haring Kaharingan yakni roh rohani dan jasmani.

  2. Salumpuk Liau Balawang Panjang yakni roh tubuh atau badan.

  3. Salumpuk Liau Karahang Tulang yakni roh tulang belulang.

Tiwah bertujuan untuk mengantarkan jiwa atau roh manusia yang telah meninggal dunia menuju tempat yang dituju, yaitu Lewu Tatau atau ke Lewu  Liau yang merupakan tempat tujuan akhir sempurna bersama Ranying Hatalla (Tuhan). Upacara Tiwah bagi masyarakat Dayak Ngaju dianggap sebagai Ssesuatu yang wajib secara moral dan sosial. Pihak keluarga yang ditinggalkan merasa memiliki kewajiban untuk mengantar arwah sanak saudara yang meninggal ke dunia roh. Selain itu, dalam kepercayaan Dayak Ngaju arwah  orang yang belum diantar melalui upacara Tiwah akan selalu berada di sekitar lingkungan manusia yang masih hidup. Keberadaan mereka dianggap membawa gangguan misalnya : sakit penyakit, gagal panen dan bahaya-bahaya lainnya.

Ritual Tiwah memakan waktu kurang lebih selama dua bulan dan dalam pelaksanaannya ada sembilan belas tahapan yang harus dilalui untuk mengantar perjalanan panjang para arwah menuju Lewu Tatau atau Lewu Liau. Tahapan pertama Upacara Tiwah adalah dimulai dengan mendirikan Balai Nyahu yang akan berfungsi sebagai tempat tulang belulang yag sudah diangkat dari kubur.Tahapan berikutnya mendirikan anjung-anjung, yaitu bendera simbol jumlah arwah yang akan  angkat tulangnya dan ditiwahkan. Jumlah anjung-anjung harus tepat dengan yang akan ditiwahkan, karena anjung-anjung itu semacam tiket. Jika anjung-anjung kurang, kemungkinan bisa jadi ada arwah yang tidak mendapat tiket sehingga tidak bisa meneruskan perjalanan menuju Lewu Tatau atau Lewu Liau. Demikian pula jika anjung-anjung itu berlebihan, juga tidak baik bagi keluarga atau masyarakat yang masih hidup.

 Setelah tahapan tadi selesai dipersiapkan, kemudian masuk pada tahap atau tahapan ritual inti yang dikenal sebagai titik perjalanan terberat serta paling riskan serta berbahaya secara supranatural untuk mengantarkan arwah. Oleh karena itu banyak keluarga dan warga yang harus begadang untuk berjaga-jaga setelah tulang–belulang dimasukkan ke balai. Ritual inti ini diberi nama Tabuh I, Tabuh II dan Tabuh III yang dilaksanakan dalam tiga hari berturut-turut.

Tabuh I sampai Tabuh III memiliki ritual yang sama, hanya pada titik beratnya berbeda. Semakin tinggi tingkatan tabuhnya, semakin banyak sesajinya. Pada ritual tabuh para keluarga yang melaksanakan Tiwah menggelar tarian Manganjan. Meraka menari-nari mengelilingi Sangkai Raya, yaitu pusat kegiatan upacara Tiwah. Selain ada Sangkai Raya, di tengah-tengah kegiatan itu ada diletakkan sepasang patung laki-laki dan perempuan yang disebut Sapundu. Di patung Sapundu itulah diikat kerbau-kerbau yang akan digunakan sebagai hewan korban. Hewan korban berfungsi sebagai media pengantar untuk mengiringi perjalanan arwah tersebut menuju Lewu Liau atau Lewu Tatau. Selain kerbau, ada juga dikorbankan babi dan ayam.

Pada setiap upacara tabuh, satu persatu sanak keluarga dari para leluhur/Liau menombak kerbau. Orang yang lebih tua mendapat giliran yang pertama kali menombak kerbau. Darah segar yang mengucur dari kerbau yang ditombak, diyakini bisa menyucikan arwah secara supranatural. Kepala hewan dipotong untuk diletakkan dalam Senggaran, yaitu tempat khusus meletakkan kepala hewan korban sebagai persembahan kepada arwah leluhur/Liau. Badan hewan korban kemudian dimasak secara khusus oleh keluarga atau peserta Tiwah untuk pesta.

Upacara Tiwah sebagai acara ritual Suku Dayak penganut Keyakinan Hindu Kaharingan juga ada dilaksanakan secara perorangan atau satu keluarga saja. Namun karena waktu pelaksanaannya lama, biaya yang diperlukan juga besar dan melibatkan banyak orang, berdasarkan kesepakatan warga Hindu Kaharingan dibeberapa daerah bisa bergabung. Artinya acara ritual dilakukan bersama-sama dalam sebuah acara ritual massal. Bisa berpusat di satu desa atau wilayah atau juga tempat ibadah/balai Hindu Kaharingan. 

Sebagai warisan budaya, Ritual Tiwah tidak hanya  milik suku Dayak Ngaju dan umat atau penganut Hindu Kaharingan tetapi juga milik masyarakat Kalimantan Tengah serta Indonesia yang tetap harus dijaga dan dilestarikan.


                     Muara Teweh, 23 September 2020.


     Daftar Pustaka :

  • Buchory Achmad, (2020), Budaya, Surakarta, Jawa Tengah : CV Putra Nugraha.

  • Yuananto Nugroho, (2008), Selayang Pandang Kalimantan Tengah, Klaten :PT Intan Pariwara.

  • Id.m.wikipedia.org