Minggu, 06 September 2020

TRANSFORMASI PENDIDIKAN PADA MASA PANDEMI COVID 19, DIMANAKAH EKSISTENSI GURU?

ELISYA SOVIA, S.Pd.Gr.

SMAN 1 PASIE RAJA, ACEH

 

Sudah menjadi rahasia umum bahwa pandemi covid 19 yang melanda dunia pada penghujung tahun 2019 menimbulkan tatanan baru dalam kehidupan dunia, baik itu negara maju maupun negara berkembang. Keberadaan pandemi ini memaksa dunia menerapkan Sistem New NormaL atau kebiasaan baru. Tantangan New Normal ini dirasakan dalam segala aspek dan yang sangat berpengaruh adalah dalam bidang: sosial budaya, ekonomi, pariwisata dan pendidikan.

Corona virus merupakan keluarga besar virus yang menyebabkan penyakit pada manusia dan hewan. Pada manusia biasanya menyebabkan penyakit infeksi saluran pernapasan, mulai flu biasa hingga penyakit yang serius seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan Sindrom Pernafasan Akut Berat/ Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Coronavirus jenis baru yang ditemukan pada manusia sejak kejadian luar biasa muncul di Wuhan Cina, pada Desember 2019, kemudian diberi nama Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-COV2), dan menyebabkan penyakit Corona virus. Tepatnya 20 Januari 2020 Virus corona jenis baru ini mulai menjadi perhatian masyarakat dunia setelah otoritas kesehatan di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok, mengatakan tiga orang tewas di Wuhan setelah menderita pneumonia yang disebabkan virus tersebut.

Melansir data dari laman Worldometers, total kasus Covid-19 di dunia terkonfirmasi sebanyak 24.031.320 (24 juta) kasus hingga Rabu (26/8/2020). Dari jumlah tersebut, sebanyak 16.579.882 (16,5 juta) pasien telah sembuh, dan 822.233 orang meninggal dunia dan di Indonesia sendiri terhitung  160.165 kasus  dengan 37.812 dalam perawatan, 115.409 dinyatakan sembuh dan 6,944 meninggal dunia. Data ini menunjukkan bahwa pandemi Covid 19 masih menjadi PR bagi dunia khususnya Indonesia untuk beberapa waktu kedepan karena sebagaimana diketahui bahwa virus ini sudah bermutasi sehingga penyebarannya semakin sulit untuk dideteksi.

Sampai saat ini, kasus pasien yang telah terindikasi Virus Corona di Indonesia membuat pemerintah menggalakkan aturan kepada seluruh masyarakat untuk melakukan karantina dirumah. Dimana saat karantina dirumah setiap masyarakat dihimbau untuk tetap dapat berkerja dari rumah, belajar dari rumah, dan beribadah dari rumah. Hal ini dilakukan untuk dapat memutuskan rantai penularan Virus Corona atau Covid-19

Di samping itu, pemerintah juga  menerapkan  protokol kesehatan sesuai dengan anjuran WHO. Penerapan protokol kesehatan, seperti: Social Distancing, PSBB di Indonesia pada masa  New Normal membuat beberapa sektor di Indonesia menerapkan aturan-aturan baru dalam pelaksanaanya, terkhususnya di bidang pendidikan, penutupan sekolah semenjak akhir bulan Maret hingga sekarang dan digantikan dengan pembelajaran Daring atau PJJ  secara tidak langsung memberikan dampak yang sangat bertolak belakang dalam paradigma pendidikan Indonesia.

Munculnya Pembelajaran Daring menggantikan PBM Tatap Muka  sebagai model baru pembelajaran di Indonesia merupakan revolusi yang besar di dunia pendidikan. Bagaimana tidak,  pemerintah dipaksa berbenah untuk mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan dalam menerapkan model pembelajaran baru ini. Terdapat banyak tantangan yang dihadapi hingga saat sekarang ini yang masih menjadi problematika besar bagi pemerintahan untuk mewujudkan pola pendidikan yang memang mumpuni dalam masa pandemi. Jika dijabarkan secara singkat, maka tantangan pemerintahan lebih kepada hal yang bersifat teknis, seperti  penerapan standar kesehatan di sekolah, kebijakan dalam penyediaan fasilitas yang diperlukan, dan juga aspek lain yang menunjang terlaksananya pendidikan yaitu kebijakan mengenai penyederhanan kurikulum, akses internet untuk guru dan peserta didik

Tantangan terbesar  justru berada di tangan guru yang merupakan agentutama dalam pendidikan. Keberadaan guru yang selama ini sebagaimana  dikatakan dalam tradisi Jawa merupakan akronim dari "digugu lan ditiru" (orang yang dipercaya dan diikuti), ), bukan hanya bertanggung jawab mengajar mata pelajaran yang menjadi tugasnya, melainkan lebih dari itu juga mendidik moral, etika,integritas, dan karakter .Dalam kontes sekolah, guru dipercaya karena diharapkan guru akan selalu menyampaikan pengetahuan dan  ketrampilan yang bermanfaat bagi kehidupan peserta didiknya baik secara akademis maupun pribadi. Guru juga diharapkan bertingkah laku sesuai azas moral dan adat istiadat setempat..

Pembelajaran tatap muka yang sangat berbanding terbalik dengan pembelajaran Daring atau PJJ pada masa pandemi ini mengisyaratkan guru harus mampu bersaing melawan keterbatasan yang dimilikinya untuk  tetap menjalankan tugas  tidak hanya mentransfer ilmu kepada siswa tetapi mampu mendidik dan menjadikan dirinya sebagai motivator, inovator dan fasilisator bagi  peserta didiknya. Keberadaan guru yang biasanya di depan kelas, memotivasi peserta didik melalui kata-kata dan sikap yang ditunjukkan berganti dengan pola lain yang sama sekali belum pernah dilakukan. Guru harus dituntut tetap bisa menjadi motivator melalui pembelajaran daring yang dilakukan, seperti apa??hal ini adalah pertanyaan yang menjadi pekerjaan rumah bagi para guru saat ini dan pertanyaan tersebut harus dijawab sebagai suatu tanggung jawab yang harus diselesaikan.

 Memotivasi siswa secara tidak langsung memang tidak mudah, ditambah lagi dengan kejenuhan yang dirasakan siswa dengan tumpukan tugas yang harus diselesaikan, namun semua itu bukan tidak ada solusinya, guru hanya perlu sedikit terbuka dan mau meluangkan waktunya untuk tidak hanya mengoreksi lembaran demi lembaran kertas mapun tugas yang dikumpulkan melalui aplikasi yang digunakan. Perhatian dan sedikit kata apresiasi yang diselipkan dalam lembar jawaban peserta didik mampu membuat mereka termotivasi mengerjakan tugas. Selain itu, guru bisa memotivasi siswa dengan tetap menerima keluhan dan juga permasalahan yang ingin didskusikan peserta didik via WA maupun Messenger, hal ini dapat menimbulkan pemikiran  peserta didik sendiri bahwa guru nya masih sangat peduli dan bagi guru sebagai bentuk tanggung jawab dalam  melaksanakan tugas.

Permasalahan lain yang harus dihadapi guru adalah teknologi, di satu sisi pembelajaran daring mampu mengapikasikan dan menerima keberadaan Revolusi 4.0. Pandemi ini merupakan moment Revolusi dalam bidang pendidkan, kertas hampir tidak dipergunakan lagi digantikan dengan Android dan berbasis digital. Pelatihan- pelatihan menjamur tidak harus lagi dihadiri di suatu ruangan dengan segala prosedurnya, namun berganti dengan istilah baru yang disebut dengan webinar yang bisa diikuti dari mana saja . Pemerintah dan lembaga-lembaga pendidikan bersenergi membuka pelatihan webinar ini dengan berbagai narasumber yang kredibel dan materi  yang sangat relevan dengan kebutuhan guru dalam menghadapi penbelajaran Jarak Jauh ini.

Pembelajaran Daring atau PJJ  muncul dengan berbagai video conference, seperti ZOOM, Google Meet, WEBEX, Google Form dan Google Classroom dsb dengan menampilkan powerpoint atau video pembelajaran. Kondisi ini mau tidak mau mengharuskan  para guru untuk melek IT agar proses pembelajaran daring bisa berjalan lancar

Disinilah eksistensi guru sebagai inovator dalam bidang pendidikan.Guru harus mampu menguasai dan mengikuti arus perubahan yang muncul.  Zaman telah berganti, kebudayaan lama telah hilang, sekarang kita memasuki zaman digital dalam bidang pendidikan. Tidak dipungkiri, masih banyak guru yang belum melek teknologi, namun sekali lagi guru harus berbenah dalam menemukan metode baru yang dapat dilakukannya dalam pembelajaran Daring ini. Tuntutan terbesar saat ini untuk bisa menjadi innovator adalah guru harus banyak belajar dan tidak malu belajar. Mengikuti webinar dan belajar  mengaplikasikannya adalah cara yang tepat dilakukan untuk saat ini, karena guru lah yang paling mengerti media maupun metode mana yang cocok dengan karakteristik  peserta didiknya pada masa pembelajaran daring ini.

Pembelajaran daring telah menempatkan digital sebagai sumber utama bagi peserta didik  dalam mencari dan menemukan jawaban setiap tugas yang diberikan guru,hal ini sesuai dengan tujuan kurikulum 2013 yang menginginkan pembelajaran tidak hanya satu arah atau sumber belajar tidak hanya dari guru. Kenyataan ini membuat posisi   guru sebagai fasilisator pada pembelajaran daring ini justru sangat diperlukan. Bukan berarti tanpa adanya  pembelajaran tatap muka guru tidak lagi menjadi fasilisator bagi peserta didiknya. Fasilisator yang dimaksud disini adalah keberadaan guru yang mampu menjadi filter bagi peserta didik dalam mengakses konten-konten yang menunjang proses pembelajaran. Keberadaan dan bimbingan guru sangat diperlukan sehingga peserta didik menjadi terarah dalam mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang telah diberikan Selain itu, penilaian sikap dapat dilakukan oleh guru dengan melihat bagaimana peserta didik dapat mendengarkan arahan dan melalukan perbuatan yang sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan di sekolah.

Melihat dari perkembangan pembelajaran Daring yang telah dilakukan selama ini, teknologi memang telah memudahkan dan menimbulkan budaya baru dalam proses belajar, namun peran guru sebagai pendidik tidak berhenti hanya karena tidak berada di dalam kelas. Pengalaman di lapangan memberikan pemahaman baru bagi kami para pendidik bahwa teknologi bukanlah pengganti guru secara keseluruhan sebagaimana wacana yang menyebutkan kecerdasan buatan akan menggantikan posisi guru, namun pandemi ini mengajarkan kita bahwa teknologi akan bersanding dengan nurani.

 Pandemi ini menjadi moment bagi guru untuk menunjukkan bahwa guru adalah Garda Terdepan memberantas  keterbelakangan  pola fikir suatu negara dan guru harus mampu menunjukkan profesionalismenya dalam bekerja dengan berbenah menyadari kekurangan yang dimiliki, mendorong diri untuk menjadi pribadi yang tangguh ditengah keterbatasan waktu dan permasalahan ,  berkompetensi  dan memiliki daya saing yang tinggi untuk meningkatkan keterampilan sesuai dengan tuntutan perubahan yang terjadi. Guru tetaplah diperlukan dan tidak akan terganti jika mampu mempertahankan eksistensinya sebagai guru yaitu fasilisator, innovator dan motivator bagi peserta didik .