Jumat, 18 September 2020

WEBINAR MATINYA SEJARAH SUKSES MENYEDOT PERHATIAN


Bandung.Socius Media (19/9). Di bulan September ini setelah sukses dengan dua pelaksanaan webinar bertajuk Sekolah Siaga Kependudukan hasil kerjasama dengan BKKBN Provinsi Jawa Barat dan Pedagogik Kreatif  hasil kerjasama dengan APKS PGRI Jabar, pada Kamis (19/9) FKGIPS Nasional kembali menorehkan sukses yang ketiga kalinya.

Forum Komunikasi Guru IPS (FKGIPS) Nasional bermitra dengan IKA Sejarah UPI, Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI) dan Perkumpulan Program Studi Sejarah se-Indonesia (PPSSI),  sukses menggelar  webinar bertajuk "Matinya Sejarah, Kritik Atas Rancangan Kurikulum 2020" pada Kamis (17/9) pukul 13.00 sampai 16.30 kemarin. Seminar yang dilaksanakan menggunakan aplikasi zoom dan Youtube ini mampu menyedot ribuan peserta. Tercatat yang hadir di zoom full 500 orang dan yang mengikuti melalui live streaming dan menonton di Youtube sekira 6004. Peserta tidak hanya berasal dari kalangan guru Sejarah dan IPS tetapi juga  akademisi, pejabat dan masyarakat umum dari seluruh wilayah Indonesia dan negara tetangga. Tercatat peserta terjauh berasal dari Malaysia, Australia dan New Zealand.

Menurut Prof. Dr. H. Dadan Wildan, M.Hum. selaku ketua IKA Sejarah UPI, webinar ini digelar sebagai respon atas adanya wacana mata pelajaran Sejarah di tingkat sekolah menengah yang hanya menjadi pilihan bahkan akan dihapus di kurikulum yang sedang dirancang Kemdikbud. "Daripada wacana tersebut hanya bergulir menjadi isu atau bahan perbincangan di media sosial tanpa landasan argumentasi yang kuat, maka lebih baik dibawa ke forum ilmiah berupa webinar ini." tegas Dadan. Dengan bahasa puitis Dadan berharap, "Daripada mengutuk kegelapan, mari kita nyalakan lilin harapan." 

Hadir sebagai pemateri dalam seminar tersebut antara lain: Guru Besar UPI dan pakar kurikulum, Prof. Dr. H. Said Hamid Hasan, MA, Kepala Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemdikbud, Maman Fathurahman, Ph.D. Hadir pula Dr. Restu Gunawan selaku sekretaris Masyarakat Sejarawan Indindonesia yang juga Direktur Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan Kemdikbud dan Dr. Agus Mulyana, M.Hum. selaku Pembina PPSSI dan Dekan FPIPS UPI. Pemateri kelima Dr. Sumardyansyah Perdana Kusuma, Guru Sejarah yang juga Presiden AGSI.

Prof. Hamid Hasan menggaris bawahi bahwa dalam melaksanakan perubahan kurikulum harus ditinjau juga aspek filosofis, dan ide dasar diksi regulasi. Jangan hanya mengandalkan pada narasi dan opini yang keluar dari ide dasar sesungguhnya ketika kurikulum dibuat. Perubahan kurikulum juga jangan hanya sekedar asal menghapus esensi atau mata pelajaran. Kurikulum kita bukan kurikulum yang terberat di dunia ini karena jumlah mapel di kurikulum pendidikan nasional kita sejatinya tidak lebih banyak dari negara lain yang dianggap sudah maju, seperti; Singapura, Malaysia, Korea Selatan, Inggris Jerman dan Finlandia. 

Terkait wacana pengurangan dan penghapusan mapel sejarah, Pakar Kurikulum dari UPI ini menyatakan, "Di setiap negara maju sejarah tetap penting, bukan satu yang bisa diabaikan begitu saja." tegas Hamid. 

Guru Besar UPI yang sudah lama terlibat dalam Tim Penyusun Kurikulum Nasional ini menekankan pentingnya sejarah diajarkan di tingkat persekolahan, terutama di tingkat sekolah menengah, karena sejarah berperan penting untuk mengembangkan jati diri bangsa,  mengembangkan ingatan kolektif sebagai bangsa, mengembangkan keteladan dan karakter dari para tokoh, mengembangkan inspirasi, kreativitas dan kepedulian terhadap bangsa dan penumbuh patriotisme serta nasionalisme. Hal senada juga disampaikan oleh Dr. Agus Mulyana.

Secara khusus Sumardyansah menekankan kurikulum yang sedang dirancang jangan menyebabkan terjadinya amnesia sejarah pada generasi Indonesia pada masa kini dan masa yang akan datang.  "Jangan sakali-kali meremehkan sejarah." tegas Presiden AGSI ini. 

Kapuskurbuk, Maman Faturachman sangat mengapresiasi webinar ini dan berjanji akan menindaklanjuti dengan mengundang pihak-pihak terkait dalam seminar ini untuk dialog tentang rancangan perubahan kurikulum. (Enang Cuhendi-Socius)