Sabtu, 31 Oktober 2020

Covid-19 dan Kebebasan Anak dalam Belajar

 Amiruddin, S.Pd. 

Guru IPS SMP Negeri 23 Simbang Kabupaten Maros. Sulawesi Selatan

Banyak dampak yang diakibatkan oleh pandemic covid-19, bahkan hampir dalam segala sendi kehidupan sangat dirasakan oleh masyarakat. Dalam tulisan saya ini saya akan menulis dari sisi sebagai orang tua dan guru dampak covid-19 terhadap anak, utamanya kebebasan anak. Semenjak bulan Maret 2020, atau tepatnya 18 Maret 2020 ketika pemerintah menetapkan pembelajaran dilakukan dirumah dan dilakukan secara daring, maka pada saat itu telah terjadi perubahan yang sangat besar yang dirasakan oleh anak anak utamanya yang usia sekolah, mulai dari tingkat PAUD/TK sampai Perguruan Tinggi.  

Pemerintah telah memutuskan bahwa mulai tanggal 18 Maret 2020 sampai 14(empat belas) hari kedepan pembelajaran dilakukan secara jarak jauh atau belajarnya dari rumah. Diawal anak anak sorak kegirangan, “horee kita libur,” ucap mereka. Mereka menganggap bahwa belajar di rumah itu libur. Pembelajaran Jarak Jauh ( PJJ) mulai berjalan, merekan menerima tugas dari sekolah kemudian menyetorkan tugas tersebut ke guru mereka. Satu dua hari berjalan secara normal, bagi anak –anak yang memiliki fasilitas HP android. Masalah baru timbul bagi siswa yang tidak memiliki atau orang tuanya tidak memiliki HP android.  Kendala mulai bermunculan. Guru sebenarnya belum siap menghadapi situasi ini, mereka belum siap baik secara teknis maupun persiapan model pembelajaran yang cocok terhadap pembelajaran jarak jauh. Dalam pikiran guru sebagian bahwa pembelajaran jarak jauh itu adalah pembelajaran online, sehingga semua dilakukan secara online tanpa mempertimbangkan bagaimana kondisi siswa yang tidak memiliki HP android.

Anak – anak yang selama ini aktif mengikuti kegiatan pembelajaran tatap muka, namun karena kondisi orang tuanya yang tidak memiliki HP android mulai ketinggalan dalam hal tugas. Ada beberapa siswa yang cukup berprestasi di sekolah mengalami kendala ini, mereka dalam pembelajaran online hilang. Kendalanya adalah HP. Hal ini harus menjadi perhatian dari guru dan sekolah agar hak anak tetap mereka dapatkan dalam pembelajaran dengan menerima pengetahuan yang seharusnya diperoleh dari bangku sekolah. Disisi lain dengan penutupan sekolah dan pembelajaran jarak jauh memperburuk kesenjangan akses pendidikan. Utamanya siswa miskin mereka sangat terdampak disatu sisi mereka ingin belajar tapi disisi lain mereka tidak memiliki HP Android untuk belajar seperti teman-temannya. Lamanya waktu belajar dari rumah sekarang ini sudah 10 bulan tentu bukan hal yang menyenangkan bagi anak. Bagi siswa sia mereka adalah usia yang masa masa mereka untuk bersosialisasi dengan teman – temannya. Namun karena adanya aturan mereka tidak boleh keluar rumah, tidak boleh berkelompok sehingga ada waktu atau masa mereka yang hilang. 

Saya berfikir jika situasi ini terus berlanjut maka akan banyak efek yang akan dialami oleh anak anak Indonesia. Dari segi kecerdasan dan karakter mereka akan sangat terdampak, sebab dengan belajar dari rumah maka pengambil alihan beban membimbing dikembalikan kepada orang tua mereka. Jika orang tua yang paham akan pendidikan dan pentingnya pendidikan bagus, namun bagaimana dengan orang tua yang sibuk bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka dan tidak bisa mendampingi pembelajaran anak – anaknya, sungguh akan terasa bagi anak anak tersebut, pembelajaran dari rumah itu berat. Ini akan membuat beban psikologis tersendiri bagi anak. Tugas yang diberikan oleh bapak ibu guru dari sekolah dengan sekian mata pelajaran tentu butuh bimbingan dan arahan dari orang tua, utamanya anak anak yang masih di pendidikan dasar. 

Pandemic Covid – 19 , telah merubah tatanan di dunia pendidikan yang selama ini telah berlangsung. Anak – anak telah melewati dan menyelesaikan pendidikannya dengan begitu saja, bagi yang di kelas akhir. Tahun ini ada sejarah baru mereka lulus tanpa ujian. Bagi mereka ada sesuatu yang hambar walaupun mereka gembira dapat lulus tapi ada hal – hal yang tidak dapat mereka lakukan, seperti bertemu dengan teman  teman mereka dan merayakan kelulusan mereka, bahkan sampai penamatan dan penerimaan ijasah yang biasanya pihak sekolah rayakan semuanya dihentikan. Istilah mereka “alumni corona”. 

Saat ini kerinduan anak anak untuk sekolah sudah memuncak, mereka sudah mulai bosan dengan kondisi seperti ini. Mereka sudah rindu dengan sekolah mereka, guru dan teman – teman, serta suasana belajar di sekolah. Namun sampai saat ini hal itu masih dibatasi khusus bagi daerah yang dianggap aman. Berbagai curhatan mereka muncul, kapan kita sekolah?. Kami mau belajar seperti biasa, belajar dari rumah tidak enak, tidak ada teman. Dari curhatan mereka ada kesan bahwa mereka lebih senang belajar secara tatap muka di sekolah. Anak anak mari kita berdoa bersama semoga wabah ini segera berlalu. Dan kita upayakan disetiap kegiatan kita tetap mematuhi protokol kesehatan  dengan memakai masker jika keluar rumah, rajin mencuci tangan dengan menggunakan sabun dan air mengalir dan tetap menjaga jarak.

Melalui tulisan ini saya dapat menyimpulkan bahwa pembelajaran jarak jauh yang berlangsung sekarang hanyalah sebuah alternatif , semoga di segerakan pembelajaran tatap muka seperti biasa. Sehingga anak anak tetap merasakan kebahagiaan dan senang dalam belajar dan kita bisa belajar normal seperti biasa.


Suka duka di masa pandemi covid 19

Oleh Nova Lusianti, S.Pd

SMPN 5 Kerinci Kanan


    

Sudah 10 bulan belakangan Nova Lusianti, guru SMP Negeri 5 Kerinci Kanan Kabupaten Siak Riau. telah  menerapkan pembelajaran jarak jauh dengan memanfaatkan aplikasi Google Classroom, untuk mencegah penyebaran virus SARS-CoV-2 penyebab Coronavirus disease 2019 (Covid-19).


       Imbauan untuk belajar di rumah juga sudah disampaikan pemerintah sejak pertengahan Maret 2020. Peralihan pembelajaran ke ranah digital menjadi segalanya berubah.Dalam situasi normal biasanya saya dapat memaparkan mata  pelajaran IPS  di empat kelas dalam sehari. Namun, semasa pembelajaran jarak jauh seperti sekarang, saya  hanya melaksanakan kegiatan belajar pada satu atau dua kelas dalam sehari.

        Selain itu, jam pembelajaran untuk siswa bisa lebih fleksibel. Akan tetapi, dalam beberapa kali pelaksanaan pembelajaran jarak jauh, sebagian siswa mengalami beberapa kendala. Paling utama adalah akses internet dan siswa yang tidak mau mengerjakan tugas. Karena tidak semua punya akses internet yang lancar, guru jadi agak susah mengoordinasikan siswa untuk pengerjaan tugas,. Dalam mengerjakan tugas saya beri  batas waktu untuk mengumpulkan tugas. Ini disebabkan karena jaringan yang kurang bagus , ada juga siswa yang tidak bisa membuka google classroomnya di karenakan aplikasinya yang bermasalah.

       Sampai saat ini ada siswa yang tidak mengumpulkan tugasnya ,sebagai guru saya sudah memberitahukan ke anak yang tidak membuat tugas supaya mengerjakan tugasnya, sudah menelpon orang tuanya bahwa anaknya tidak mengumpulkan tugas. Selain sistem daring di sekolah tempat mengajar juga mengadakan sistem luring, dalam sistem luring siswa menjemput dan mengantar tugas ke sekolah sekali seminggu. Tugas yang diberikan adalah tugas setiap mata pelajaran yang sudah di photocopy. Pada awalnya kepala sekolah memberi saran dalam pembuatan tugas luring ini harus dicantumkan kd dan indikatornya, pada kegiatan ini diwajibkan untuk memotivasi anak dalam belajar dan menjaga kesehatan. Langkah selanjutnya pemberian materi dan tugas yang akan dikerjakan. Pada tahap akhir ada batas waktu pemberian tugas dikumpulkan Minggu depan

          Pemberian tugas daring dan luring saya lakukan setiap hari di mulai jam 07.30 sampai jam 11.00 wib. Rutinitas ini saya tambah dengan aktivitas ibu rumah tangga. Kegiatan daring bisa dilakukan sambil melakukan aktivitas memasak, mencuci dan bersih bersih rumahAwalnya kegiatan ini bisa berjalan lancar tapi pada bulan berikutnya menimbulkan kebosanan pada diri sendiri. Untuk mengusir rasa jenuh setelah daring dan luring maka saya lakukan  menyalurkan hobi yaitu menjahit, memasak dan menanam bunga

           Hobi menjahit saya lakukan setelah aktivitas daring dan rumah tangga selesai. Saya paling suka membuat baju sendiri. Alasan saya membuat baju karena saya orangnya tinggi. Kalau membeli baju selalu lengan baju dan panjang bajunya kurang dari 10 cm. Prinsip saya dari pada membeli baju mahal tapi nantinya tidak terpakai  lebih baik buat sendiri

            Langkah awal membuat baju saya membeli kain kiloan atau meteran untuk dijadikan sebuah baju. Setelah ada bahan atau bakal baju saya membuat pola baju. Untuk mendapatkan pola baju dasar cukup melihat YouTube , dari melihat YouTube bisa saya buat pola baju modifikasi yang saya inginkan. Pola baju yang saya buat saya tempel di dasar kain kemudian diberi batas untuk mengumpulkannya.

            Setelah kain digunting barulah saya jahit secara bertahap sesuai suasana hati . Jika suasana hati sedang baik maka bisa  siap jadi sebuah baju.Selama masa pandemi ini sudah bisa menghasilkan 7 stel baju dan 4 hijab.Rasanya ada kepuasaan memakai baju buatan sendiri

        Rutinitas setiap pagi yang dilakukan melaksanakan PJJ adalah memberi layanan kepada siswa dalam mengerjakan tugasnya, ada anak yang tidak bisa masuk di classroom karena sinyal yang tidak bersahabat, maka solusinya adalah memberikan batas waktu pengumpulan tugas selama seminggu. Waktu seminggu itu dimanfaatkan untuk mengecek tugas yang sudah masuk dan di hari terakhir mengingatkan kembali kepada siswa akan tugasnya yang harus dikumpulkan. Bagi siswa yang mengalami masalah selama seminggu tidak bisa mengumpulkan tugas biasanya menghubungi guru bahwa tidak bisa mengerjakan tugas,guru akan menyuruh membuatkan hasil tugas ke wa supaya siswa tersebut bisa mengumpulkan tugasnya.

Siswa yang luring biasanya mengambil tugas setiap hari Kamis ke sekolah, Tugas yang diambil siswa ada 11 mata pelajaran setiap minggunya. Di dalam tugas luring siswa mengerjakan tugas sesuai petunjuk dalam lembar kerja  yang sudah ditentukan guru 

        Sebagai pertanggungjawaban tugas guru kepada sekolah, setiap guru diwajibkan guru untuk merekap tugas siswa dan mengumpulkan absen siswa. Jika dalam sebulan siswa tidak mengumpulkan tugas maka kepala sekolah memberikan tugas kepada wali kelas untuk membuat surat pemberitahuan kepada siswa. Isi surat pemberitahuan itu isinya antara lain adalah siswa tidak mengerjakan tugasnya dan dipanggil ke sekolah adalah wali murid beserta siswanya.

Setelah surat ini sampai kepada orangtua dan di cari solusi supaya siswa bisa mengerjakan tugasnya dan dapat diperhatikan orang tuanya di rumah

Demikianlah rutinitas ini dilakukan sampai sekarang


CORONA BERAKHIR INDAH

Oleh : Linda Purnama Sari, S.Pd

( SMP Negeri 4 Payung , Bangka Selatan )


Infeksi coronavirus merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus corona dan menimbulkan gejala utama berupa gangguan pernapasan. Penyakit ini muncul di akhir tahun 2019 pertama kali di Wuhan, China. Mendengar berita virus tersebut sudah menyebar ke berbagai negara termasuk Indonesia. Maka Indonesia harus menyiapkan perlengkapan yang memadai untuk menangani kasus virus corona

Berdasarkan informasi dari Tim Pakar Gugus Tugas covid-19 pada Maret 2020 bahwa sudah banyak warga negara Indonesia yang terpapar virus corona maka pemerintah mengumumkan kebijakannya, melalui surat edaran menteri pendidikan dan kebudayaan No.4 Tahun 2020 tentang kebijakan untuk melakukan pembelajaran jarak jauh atau Daring. Informasi tersebut sontak membuat pihak sekolah dan siswa panik karena bagi kami belum siap untuk melakukan Daring. Keesokan harinya sekolah yang biasanya ramai dengan suara anak-anak kini sunyi. Padahal sebelum kebijakan tersebut  sekolah sedang mengadakan PTS ( Penilaian tengah semester) maka dengan terpaksa sekolah memberhentikan kegiatan PTS dan dilanjutkan di rumah masing-masing.

Pembelajaran jarak jauh atau Daring bagi kami pembelajaran yang asing karena selama ini  hanya tatap muka. Maka dengan adanya ini maka Guru dan siswa harus beradapatasi dengan pembelajaran online. Guru pun dituntut harus bisa memakai aplikasi pembelajaran yang ada. Aplikasi whatsaap menjadi salah satu yang biasa digunakan oleh siswa karena siswa sebelumnya sudah ada grup kelas maka guru bisa memberikan infromasi melalui grup WA. Namun kenyataan nya Banyak kendala yang dialami ketika pada saat belajar online seperti  siswa tidak memiliki HP, karena hampir 10% siswa tidak memiliki HP dikarenakan faktor ekonomi keluarga. Otomatis kami sulit untuk menghubungi siswa tersebut memberikan tugas maka guru meminta bantuan kepada teman yang dekat dengan rumahnya untuk memberikan informasi kepada siswa  untuk mengerjakan tugas yang diberikan. Bahkan ada siswa memakai HP orang tua atau saudaranya

Selain itu kendala yang dialami siswa sinyal yang tidak mendukung  kebanyakan siswa tinggal di daerah yang sangat terpencil seperti di perkebunan sawit, maka mereka kesulitan untuk mendapatkan informasi. Bahkan ada siswa yang rela pergi ke kebon Karet demi mendapatkan sinyal yang bagus. sungguh usaha yang sangat luar biasa agar tidak tertinggal informasi. 

Pemerintah juga mengadakan pembelajaran melalui Televisi yang ditayangkan oleh TVRI. Setelah siswa menonton maka guru memberikan soal melalui aplikasi google from , agar mengetahui sejauh mana pemahaman siswa tentang materinya, Namun masalahnya hanya beberapa siswa yang menjawab soal tersebut dikarenakan sinyal dan tidak memiliki HP.  Selain itu Guru juga menyuruh siswa untuk membuat kerajinan tangan seperti masker, Hand sanitizer, dan Poster tentang virus corona serta membuat video tentang cara memcuci tangan yang benar

Pihak sekolah setelah mendapat infromasi mengenai kendala yang dialami siswa maka guru memberikan solusi agar semua anak mendapatkan pembelajaran . guru langsung mendatangi  rumah siswa-siswa yang tidak memiliki HP dan siswa yang tinggal di daerah terpencil. Ketika di perjalanan pun guru mengalami bnyak kendala seperti jalan yang rusak , sempit bahkan melewati jalan yang sedikit terjal demi untuk mendatangi kerumah siswa dan langsung bertemu dengan orang tua agar membimbing anak pada saat mengerjakan tugas dan dikumpulkan sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan.

Dengan adanya virus corona ini kami pihak sekolah jadi tau bagaimana perjuangan anak-anak selama ini demi ingin menuntut ilmu untuk masa depannya dengan melewati jalan yang rusak, sempit, dan jalan sedikit terjal bahkan ketika musim hujan maka mereka akan kesusahan untuk melewati jalan tersebut kadang ada siswa yang baju nya sudah berwarna kuning ketika sampai di sekolah. Guru dan siswa pun berharap agar virus corona segera hilang karena belajar online sangatlah tidak efektif .

Akhir Agustus 2020 Tim Pakar Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten memberikan informasi bahwa kabupaten Bangka Selatan sudah zona hijau dan memberikan izin untuk membuka kembali sekolah. Sungguh kabar gembira yang ditunggu-tunggu oleh guru dan siswa. Dinas Pendidikan dan kebudayaan Bangka selatan mengumumkan bahwa sekolah sudah dibuka. Namun sebelum dibuka pihak sekolah wajib mempersiapkan pembelajaran tatap muka. Pertama membuat surat keterangan untuk orang tua/wali murid menyetujui pembelajaran tatap muka di sekolah. Orang tua berhak memutuskan anakanya akan ikut belajar tatap muka atau tidak. Kedua sekolah wajib sudah memenuhi daftar periksa dan siap melaksanakan tatap muka

Daftar periksa seperti, kebersihan toilet, sarana cuci tangan memakai sabun dengan air mengalir atau cairan pembersih ( hand sanitizer) dan penyemprotan desinfektan, sekolah menerapkan area wajib masker atau pelindung wajah, sekolah memiliki pengukur suhu( Thermogun ).


    Sekolah yang sudah siap maka akan diperiksa oleh Tim Satgas Kecamatan mensurvei apakah sudah mempersiapkan pembelajaran tatap muka. Setelah di survei Alhamdulilah sekolah kami diberi izin untuk melaksanakan tatap muka. Setelah sekolah mendapat izin maka pihak sekolah mengadakan rapat dan hasil rapatnya siswa dibagi per sesi ada pagi dan siang dan setiap guru yang piket mengukur suhu tubuh siswa sebelum masuk sekolah dan dicatat. Pesan yang selalu di sampaikan ke siswa pada saat pembelajaran tatap muka selalu menerapakan protocol kesehatan.


        “SELALU CUCI TANGAN, PAKAI MASKER DAN JAGA JARAK”

    



Menjadi Guru yang Kreatif dan Inovatif Dalam Pembelajaran IPS dengan Memanfaatkan Teknologi di Masa Pandemi Covid-19

Oleh Linda Seventri, S.Pd,M.Pd

MTsN 1 Siak,Riau

Dimasa sekarang ini terjadinya musibah wabah penyakit yang menyebar hampir di seluruh dunia. Wabah corona virus disease 2019 (Covid-19) yang telah melanda 215 negara di dunia, memberikan tantangan tersendiri bagi lembaga pendidikan,. Untuk melawan Covid-19 Pemerintah telah melarang untuk berkerumun, pembatasan sosial (social distancing) dan menjaga jarak fisik (physical distancing), memakai masker dan selalu cuci tangan. Melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Pemerintah telah melarang sekolah-sekolah untuk melaksanakan pembelajaran tatap muka (konvensional) dan memerintahkan untuk menyelenggarakan perkuliahan atau pembelajaran secara daring (Surat Edaran Kemendikbud Dikti No. 1 tahun 2020). sekolah dituntun untuk dapat menyelenggarakan pembelajaran secara daring atau on line maupun luring atau luar jaringan. 

Sebagai seorang guru yang terus dituntut untuk berinovasi maka saya harus selalu memikirkan materi essensial yang akan diberikan pada siswa serta model pembelajaran serta media apa yang tepat digunakan atau efektif dalam pelaksanaaan pembelajaran 

Dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), guru dituntut untuk kreatif dalam memberikan atau menyampaikan materi agar pembelajaran IPS menjadi menarik bagi peserta didik berdasarkan pengalaman dan pengamatan guru di dalam kelas selama pembelajaran banyak peserta didik merasa jenuh dengan pembelajaran yang disampaikan tanpa menggunakan media sebagai alat penyampaian informasi, hal ini nantinya juga akan berakibat pada keberhasilan penyerapan ilmu yang kurang maksimal serta hasil belajar yang akan menurun

Untuk peningkatan minat peserta didik dalam pembelajaran IPS penyampaian atas penyajian informasi kepada peserta didik maka guru juga harus melirik pemanfaatan teknologi jadi tidak hanya tergantung pada benda-benda saja yang dijadikan media pembelajaran. Pesatnya teknologi saat ini menimbulkan dampak yang luar biasa bagi dunia pendidikan, baik dampak positif maupun negative, hal tersebut tergantung dari bagaimana cara guru maupun peserta didik memanfaatkan teknologi tersebut. 

Guru yang kreatif tentunya mampu menguasai materi pelajaran dan strategi serta keterampilan menggunakan media pembelajaran termasuk dalam penggunaan teknologi. Di zaman modern ini guru diharapkan dinamis terhadap perkembangan teknologi yang berkembang pesat.  

Dengan memanfaatkan media teknologi ini sangat mudah sekali bagi seorang guru dalam menyampaikan ilmunya, tidak hanya itu penggunaan media teknologi ini sangat sederhana juga bagi peserta didik untuk menangkap dan memahami materi pelajaran secara mudah.  

Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Siak di bawah naungan Kementerian Agama merupakan sebuah lembaga pendidikan yang menyelenggarakan proses belajar mengajar sama seperti madrasah atau sekolah umum lainnya, berdasarkan rapat yang dilksanakan di MTsN 1 Siak yang di pimpin oleh Kepala Madrasah maka diambil keputusan bersama untuk melaksanakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang berpedoman pada peraturan Daerah serta kurikulum darurat, serta dibentuknya Tim PJJ yang bertujuan untuk mengevaluasi proses belajar jarak jauh yang dilaksanakan.

Sebagai seorang guru saya melihat adanya kecenderungan guru mata pelajaran hanya lebih fokus pada penyampaian materi serta tugas-tugas yang diberikan serta tuntutan penyelesaian tugas, setiap hari ada 2 atau 3 mata pelajaran yang disampaikanmulai hari senin sampai jum’at. setiap kali pertemuan adanya tugas atau materi yang harus siswa catat atau print, bentuk materi yang diberikan beruda tulisan yang sudah diketik berupa word dan pdf. Ada beberapa guru yang membuat media dari Power point (PPT) dan ada dua orang guru yang menggunakan chanel youtube untuk membuat materi serta memberikan penjelasan, sedangkan bentuk tugas berupa CBT dari platform E-Learning madrasah. 

Bayangkan kalau setiap kali pertemuan yang didapatkan siswa hanya materi dan tugas tanpa menggunakan media yang menarik dalam menyampaikan tugas atau materi tentu membuat siswa menjadi jenuh atau bosan bahkan stress. Apalagi materi yang disampaikan tanpa ada penjelasan yang mudah dipahami oleh siswa. Oleh sebab itu saya berpikir bagaimana caranya agar pembelajaran IPS lebih menarik dan tidak membosankan, maka saya harus bisa menjadi guru yang kreatif serta inovatif dalam membuat media pembelajaran IPS sehingga siswa lebih asyik dalam membaca, memahami serta mengerjakan tugas yang diberikan tanpa dibebani ketuntasan yang harus dicapai karena masa sekarang guru tidak bisa menuntut siswa harus tuntas ketercapaian tujuan pembelajaran seperti pembelajaran tatap muka.

Saya mulai belajar secara otodidak dengan melihat tutorial di youtube serta membaca buku untuk mencari media yang menarik yang bisa digunakan selain itu saya juga mengikuti webinar tentang media serta model dan metode pembelajaran agar pengetahuan dan wawasan saya bertambah, jadi selama WFH (Work from Home) dimulai dari bulan Maret saya sudah mulai belajar dan secara berangsur-angsur membuat media dan uji coba pada siswa, sehingga saya tahu media mana yang sesuai dan mudah digunakan. Kendalanya pada belajar daring (dalam jaringan) ini yaitu jaringan internet dan kuota internet yang dimiliki siswa. Naman Alhamdulillah sekarang sudah adanya bantuan kuota internet yang diberikan pada guru dan siswa sehingga permasalahan ini dapat diatasi.

Media yang saya gunakan untuk menciptakan pembelajaran IPS agar menarik antara lain Game, Quiz, LMS (learning Management System) atau kelas maya, komik digital, media presentasi, Channel youtube, pertemuan virtual menggunakan aplikasi Zoom. Sedangkan pengenalan materi pada awal masuk menggunakan flyer.

Aplikasi yang paling berpengaruh besar dalam pembelajaran adalah Whatssapp (WA), saya menggunakan untuk membuat Group kelas untuk menyampaikan informasi setiap kali saya memulai pembelajaran, contoh disaat menyampaikan judul materi saya mengirim flyer serta memberikan salam menyapa siswa dan kalimat motivasi untuk memulai pembelajaran dan memberikan Ice breaking. 

Untuk pengelolaan kelas maka saya menggunakan platform Google Classroom, di sini saya memasukkan siswa agar bergabung dan di sini saya bisa memasukkan bahan ajar baik berupa word, pdf, youtube atau link materi atau tugas lainnya agar bisa diakses siswa, selain itu saya memasukkan absensi siswa agar memudahkan saya merekap kehadiran siswa. Sementara itu untuk membuat tugas agar tidak monoton maka saya menggunaka quiz seperti menggunakan aplikasi Nearpod dan Quizlet, selain itu agar siswa tidak hanya game lain yang dimainkan saya gunakan game edukasi dengan menggunakan aplikasi Who wants to be a Millionaire, World warld serta Edugame dari Rumah belajar Kemendikbud.

Media lain yang saya gunakan untuk menyampaikan bahan ajar agar lebih bervariasi saya gunakan Blog dan  Padlet disana saya memasukkan absen, link youtube serta voice note suara saya untuk menjelaskan apa yang kita arahkan ke siswa, lalu saya juga membuat Komik mdigital menggunakan Make Beliefe untuk menyampaikan materi agar lebih menarik. Nah untuk menjelaskan materi agar siswa lebih memahami maka saya membuat Channel youtube sendiri dan di sana saya buat penjelasan materi lalu diberikan pada siswa, untuk mengevaluasi pembelajaran maka saya mengadakan pertemuan virtual menggunakan apikasi Zoom.

Alhamdulillah setelah mencoba media di atas berdasarlkan survey yang saya buat maka siswa lebih bersemangat belajar IPS dan antusias lebih meningkat karena setiap kali pertemuan selalu menggunakan media pembelajaran yang menarik dan menyenangkan, bahkan respon dari wali murid atau orang tua juga positif yang saya terima.

 




70-an Peserta Aktif Tuntaskan Pelatihan Menulis Guru IPS 2020

Sesi zoom Pelatihan Guru IPS Menulis 2020

Socius Media.
(31/10) Tepat seiring berakhirnya hari di bulan Oktober 2020, sekira 70-an peserta aktif menuntaskan kegiatan Pelatihan Menulis Guru IPS Tahun 2020 yang digagas Socius Writers Club (SWC) FKGIPS Nasional. Kegiatan berakhir tepat bersamaan dengan berkumandangnya gema adzan Ashar waktu Indonesia Bagian Barat.

Enang cuhendi, Waketum III PP FKGIPS Nasional

Kegiatan ditutup oleh Enang Cuhendi mewakili Ketua Umum PP FKGIPS Nasional yang berhalangan hadir karena sedang terganggu kesehatannya. Dalam sambutannya Waketum III PP FKGIPS Nasional ini berpesan agar peserta tidak hanya memanfaatkan momentum kegiatan ini hanya untuk mengejar selembar kertas sertifikat semata, tetapi terus bisa bersinergi mengembangkan kompetensi di bidang menulis. "Ucapan terimakasih disampaikan secara khusus kepada para nara sumber, crew kegiatan dan para peserta aktif yang telah mensukseskan kegiatan pelatihan dalam rangka milad ke-4 FKGIPS ini." ujar Kang Enang, panggilan akrab lelaki yang juga  Koordinator SWC. 

Selama empat hari dari 27 sampai dengan 31 Oktober 2020 peserta mendapatkan materi dari enam nara sumber. Hari pertama (27/10) peserta mendapatkan tambahan wawasan tentang literasi dari Wijaya, M.Pd, Ketum PP FKGIPS Nasional dan tentang teknik menulis reportase dari Jayadi Prajadin, penulis dan reporter senior Liputan6.com. Hari kedua (29/10) peserta dibakar motivasinya untuk terus menulis oleh Enang Cuhendi, dan mendapat tambahan ilmu tentang kiat menulis artikel ilmiah populer dari Esep Muhammad Zaini, penulis yang juga Pemred ,ajalah Pendidikan Guneman.

Esep Muhammad Zaini tampil di sesi 2 dan 3


Setelah sempat istirahat sehari terkait libur peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW (29/10) pada Jumat (30/10) peserta mendapat pembekalan hari ketiga dengan materi kreatif menulis cerpen. Pemateri sesi ketiga sempat berganti ke Esep Muhammad Zaini, karena Oesep Kurniadi yang sejatinya akan memberi materi keluarganya mendapat musibah. 

Pelatihan sesi terakhir, Sabtu (31/1) peserta bisa berdialog dengan Wijaya Kusumah, M.Pd. terkait dengan menulis di blog. Sosok guru yang dikenal dengan panggilan Om Jay ini merupakan bloger terkenal yang banyak meraup sukses dari hasil berkreasi menulis di blog. Satu kesempatan berharga bagi peserta bisa banyak mendengarkan kisah sukses dan inspiratif dari Om Jay tentang sepak terjangnya di dunia bloger.


Sesi keempat bersama Om Jay

Dari 120 orang yang terdaftar sebagai peserta, tercatat hanya sekira 70 orang yang dapat menuntaskan pelatihan. Selain kehadiran dalam sesi Zoom, tantangan bagi peserta untuk untuk bisa mendapatkan sertifikat adalah wajib menulis satu artikel dengan tema "Aku dan Pandemi Covid-19" dan satu tulisan optional berupa karya cerita pendek. Menurut panitia karya-karya peserta ini akan dihimpun menjadi sebuah buku antologi tulisan guru IPS Nasional.(EC-Socius).




DUNIAKU DIBALIK TIRAI PANDEMI - 19

 

Oleh

EFRIZAL


Bersumber dari beberapa informasi yang diperoleh wabah Pandemi sudah pernah terjadi beberapa kali melanda dunia dengan berbagai nama pandeminya, namun fenomena kali ini cukup mengetarkan hampir seluruh sendi kehidupan penghuni bumi ini. 


Pandemi 19 merupakan epidemi atau wabah yang terjadi dengan  skala besar menjadi momok menakutkan dan telah banyak memakan korban hampir seluruh negara didunia, tidak luput juga terhadap negara kita Indonesia. 



Efrizal, guru IPS SMPN 1 VII Koto Sungai Sarik, Kab.Padang Pariaman, Sumatera Barat. Kelahiran Pekan Baru, 16 Agustus 1968. Alumni SMA. Negeri 1 Sungai Penuh. Kerinci dan  Pendidikan Dunia Usaha  FKIP Universitas Jambi. Aktif pada MGMP IPS SMP Kabupaten Padang Pariaman dan  MGMP IPS SMP Provinsi Sumatera Barat. 


Pandemi COVID-19 atau dikenal sebagai coronavirus disease 2019 yang dinyatakan oleh WHO sebagai nama resminya, pertama kalinya wabah ini melanda kota Wuhan sebuah kota dalam wilayah Tiongkok Cina pada akhir bulan Desember 2019. 


Begitu cepatnya  penyebaran virus corona ini keberbagai negara didunia dan bahkan ke negara Indonesia sudah dirasakan pada awal bulan Maret 2020. Virus ini bagaikan musuh tak berwujud dan siap menerkam mangsanya tanpa pandang bulu dan tanpa belas kasihan.


Momok yang sangat menakutkan membuat porak porandanya tatanan diberbagai segi kehidupan masyarakat dan bahkan dari segi interaksi sosialnya untuk  menghindari atau memutuskan mata rantai penyebaran virus didunia ini bagaikan penjara tak berterali. Kehidupan ekonomi menjadi lumpuh, tatanan sosial budaya masyarakat menjadi terganggu, begitu juga terhadap dunia pendidikan. 


Sangat terasa sekali perubahan sosial budaya dalam interaksi sosial dinegara kita dengan tujuan mengatasi penyebaran virus corona 19 ini, mau tidak mau tindakan yang harus dilakukan ada yang berseberangan dengan kebudayaan yang telah mengakar sejak dari nenek moyang kita sampai sekarang yang  dikenal memiliki budaya gotong royong dan santun.

Mengantisipasi penyebaran wabah corona dinegara kita, biasanya masyarakat suka berkumpul, bersalaman dengan berjabat tangan, kondisi sekarang ini masyarakat diminta tidak berkumpul atau berintekrasi terlalu banyak, selalu menjaga jarak dan bersalaman tidak perlu dengan jabatan tangan serta selalu memakai masker ( penutup mulut ).


Begitu juga imbasnya terhadap dunia pendidikan, proses pendidikan biasanya dilakukan dengan berintegrasi langsung peserta didik dengan pendidik, sekarang Proses belajar mengajar dilakukan dengan pembelajaran jarak jauh, baik secara Daring, Luring atau gabungan kedua nya. 


Berdasarkan judul di atas yang dimaksud dengan Duniaku dibalik Tirai Pandemi- 19, untuk mengajak kita semua melihat sisi lain dampak positif dari musibah Pandemi covid- 19 terhadap dunia pendidikan yang terjadi sekarang ini, terutama  terhadap pendidikan dasar. 

Tidak dapat dipungkiri sebelum terjadinya musibah Covid-19 ini, masih banyak anggapan orang tua bahwa tanggung jawab pendidikan sepenuhnya diserahkan pada guru di sekolah. Ada beberapa orang tua kurang dan bahkan tidak memperhatikan cara belajar anak dirumah, guru selalu menjadi sararan kesalahan bertanggung jawab terhadap pendidikan anaknya. 

Namun semenjak wabah ini melanda negara kita sudah banyak orang tua menyadari beban tanggung jawab yang dipikul guru dalam membina dan mendidik anak – anak mereka, sehingga kondisi sekarang ini lebih menunjukan rasa tanggung jawab dan kebersamaan orang tua dengan guru terhadap pendidikan anak dirumah.

Proses pembelajaran semasa kondisi normal dengan kata lain sebelum wabah corona 19 melanda negara kita. Masih banyak anak didik beranggapan bahwa proses belajar mengajar hanya terjadi dan dilakukan di sekolah dengan bimbingan guru, tanpa guru tidak akan terjadi proses pembelajaran. Dampak positif wabah ini telah memberikan kesadaran pada anak didik serta mengenal, menumbuh kembangkan bahwa proses pembelajaran ternyata perlu juga dilaksanakan secara mandiri.

Saat kondisi normal ada aturan sekolah pendidikan dasar dibeberapa daerah melarang anak didik memiliki dan membawa Handphone Android ke sekolah, bahkan aturan ini ditetapkan dengan kebijakan pemerintah daerah setempat. Menghadapi kondisi Pandemi saat ini suasana menjadi terbalik, seakan – akan setiap anak didik sudah harus memiliki HP Android untuk menunjang kegiatan pembelajarannya.

Dampak positif dari masa pandemi ini terhadap anak didik dengan memiliki HP Android pertama sekali mengajar anak menjadi melek dengan alat Informasi dan Telekomunikasi ( IT ), anak bisa mengenal berbagai aplikasi yang bisa dimanfaatkan untuk belajar, sumber belajar anak lebih terkombinasi, pengalaman belajar anak lebih bervariasi karena IT lebih membuka cakrawala pengetahuan yang sangat luas, informasi yang diperoleh lebih komplek dari pada buku – buku yang tersedia diperpustakaan sekolah.

Namun yang harus menjadi perhatian, tuntunan dan pengawasan ekstra ketat orang tua terhadap kegiatan anak dengan IT ini agar jangan sampai  penyalah gunaan Hp tersebut kearah yang negatif. Aplikasi yang terdapat pada IT memiliki pengaruh yang sangat kuat sekali dalam pembentukan sikap, mental, watak bahkan tingkah laku dan kesehatan anak.

Orang Tua maupun guru perlu menanamkan dalam diri anak didik  sejauhmana wewenang yang boleh dilakukan dengan memakai IT ini, baik terhadap aplikasi yang digunakan  serta pengaturan waktu pengunaannya dibawah pengawasan orang tua.

Pada bulan – bulan awal masa pandemi-19, ada masyarakat beranggapan seperti sekarang ini jadi guru senang tidak mengajar tapi tetap menerima gaji, karena diberlakukannya Lockdown. Pernyataan seperti ini bentuk nyata dari hasil pemikiran yang terlalu dangkal dalam mendeskripsikan profesi guru tanpa melihat atau mengetahui secara terinci dari kegiatan para guru tersebut.

Siapapun pasti sepakat bahwa pendidikan memiliki ranah Afektif, ranah Kognitif dan ranah Psykomotor dengan penerapan pembelajaran terbaiknya melakukan interaksi dua arah langsung antara pendidik dengan anak didik pada waktu dan tempat yang sama, hal ini sudah dilakukan guru sebelum diberlakukannya masa Lockdown.

Pada masa Pandemi ini proses pembelajaran dituntut dengan pelaksanaan pembelajaran jarak jauh. Kejadian ini baru yang pertama terjadi semenjak Indonesia merdeka sudah sangat jelas tujuan pendidikan tidak akan tercapai sebagaimana mestinya, namun kondisi ini memicu guru untuk lebih kreatif melakukan bebagai cara dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik, agar proses pembelajaran terlaksana dengan baik.

Walaupun guru dirumah, namun bukan berarti guru tidak memberikan pembelajaran pada anak didik, bahkan guru menyediakan waktunya melebihi dari waktu yang tersedia disekolah terhadap proses pembelajaran anak didik.

Manakah yang banyak guru melek IT sebelum terjadinya pandemi atau selama terjadinya pandemi?. Jawaban yang pasti benar, logis dan rasional adalah guru banyak yang melek IT  selama terjadinya pandemi. Sebelumnya masih banyak guru – guru kurang atau tidak membiasakan dirinya terhadap penggunaan IT dalam pelaksanaan proses pembelajarannya disekolah.

Berdasarkan Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Corona Virus Disease (COVID-19). Proses pembelajaran dapat dilaksanakan dengan Dalam Jaringan ( DARING ), Luar Jaringan ( LURING ) dan secara gabungan ( BLENDED ), sehingga dengan kondisi demikian memicu guru walau boleh dikatakan awalnya ada beberapa guru untuk harus melek IT terkesan secara terpaksa oleh keadaan, namun akhirnya sudah menjadi kebutuhan dalam menjalankan profesi.

Berbagai jenis aplikasi yang membantu pelaksanaan proses pembelajaran jarak jauh sudah banyak dikenal, diketahui dan di kuasai oleh para guru, seperti Google Classroom, Google meet, zoom, webex, Kine mater, Bandicam dan sebagainya.

Sebelumnya aplikasi – aplikasi ini dianggap belum dibutuhkan, sehingga untuk mengetahui dan mempergunakannya kurang diminati, bahkan lebih jauh lagi IT sudah merupakan bagian literasi yang sangat dibutuhkan untuk pengayaan materi pembelajaran yang akan di transferkan pada anak didik. 

Kondisi Pandemi ini juga sangat membawa berkah bagi guru untuk mengembangkan diri mengikuti berbagai kegiatan yang menunjang profesinya sebagai tenaga pendidik, seperti mengikuti Diklat, Bintek maupun Webinar. Sebelum terjadinya kondisi seperti sekarang ini tidak semua guru mendapatkan kesempatan, bahkan mungkin ada yang belum pernah sekalipun mengikutinya. Hal ini mungkin saja dikarenakan keterbatasan jumlah peserta yang di utus oleh pimpinan maupun dinas terkait.

Peluang ini sangat dimanfaatkan para guru untuk menambah wawasan, bertambahnya sahabat seprofesi dari berbagai daerah di Indonesia serta bukti keikutsertaannya disetiap kegiatan dapat dijadikan sebagai syarat untuk kenaikan pangkat golongan berikutnya.

Tidak selamanya kondisi Pandemi menjadi momok yang menakutkan dan menghalangi aktifitas dunia pendidikan kalau kita semua dapat menyiingkapinya dengan berbagai kiat  serta aktifitas yang bermanfaat untuk pribadi kita sendiri, maupun untuk orang banyak.






KETIKA MURID DAN GURU SALING MERINDU

Oleh Erik Kurniawa, S.Sos., M.Pd

SMP Negeri 17 Depok – Jabar





Covid-19 menghantam hampir seluruh sektor kehidupan masyarakat. Salah satu bidang yang sampai saat ini belum pulih benar adalah bidang Pendidikan. Pada umunya daerah-daerah (kabupaten/kota dan provinsi)  mengakhiri belajaran tatap muka sejak tanggal 16 Maret 2020. Untuk saat ini ada beberapa daerah sudah memberlakukan pembelajaran tatap muka secara langsung, namun dengan berbagai kebijakan dan protokol kesehatan yang sangat ketat. Walau demikian, sebagian besar daerah masih melakukan kegiatan belajar mengajar dengan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

Pemberlakuan pembelajaran secara virtual atau biasa disebut pembelajaran jarak jauh secara mendadak membuat pendidik maupun peserta didik beradaptasi terhadap hal tersebut. Kegiatan belajar mengajar yang biasanya berada di dalam kelas secara tatap muka tiba-tiba merubah menjadi pembelajaran jarak jauh dengan menggunakan teknologi informasi berupa ponsel cerdas maupun leptop dengan dukungan jaringan internet. Kita sadari peran teknologi sangat membantu proses belajar mengajar, khususnya pada masa pandemik ini.

Sebagai seorang guru, menurut UU No 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen memiliki 4 (empat) kompetensi yang melekat pada diri masing-masing pendidik. Ke-Empat kompetinsi tersebut antara lain : 1). Kompetensi Pedagogik adalah kemampuan yang harus dimiliki guru berkenaan dengan karakteristik siswa dilihat dari berbagai aspek seperti moral, emosional, dan intelektua. 2). Kompetensi kepribadian adalah kemampuan personal yang mencerminkan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia. 3). kompetensi sosial adalah adalah kemampuan guru untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar 4) kopetensi profesional adalah penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam, yang mencakup penguasaan materi kurikulum mata pelajaran di sekolah dan substansi keilmuan yang menaungi materinya, serta penguasaan terhadap struktur dan metodologi keilmuannya.

Dari ke-empat kompetensi guru di atas, hampir semua membutuhkan pertemuan secara tatap langsung antara guru dan murid. Walaupun demikian, menurut hemat penulis yang bisa sedikit banyak digantikan teknologi informasi adalah kompetensi profesional. Kompetensi profesional terkait tentang materi pembelajaran dapat disampaikan guru ke murid dengan tidak perlu bertatap muka secara langsung. Materi dapat di share (kirim) melalui sosial media. Pendalaman materi dapat dilakukan oleh siswa dengan arahan guru melalui portal-portal pendidikan seperti : Rumah Belajar, Zenius, Quipper, Sekolahmu, Ayo Belajar, Cakap, Bahaso dll.

Namun untuk ke-tiga kompetensi yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial membutuhkan pertemuan antara guru dan murid secara langsung. Untuk mengaplikasikan kompetensi pedagogik yaitu mengetahui karakteristik siswa diperlukan pengamatan secara langsung. Pengamatan guru terhadap siswa tidak bisa digantikan oleh peran camera aplikasi zoom, video call atau yang sejenisnya. Karakteristik siswa dapat dilihat dari pengamatan secara langsung dari berbagai sudut pandang, dari waktu ke waktu, baik siswa itu sadar dalam pengamatan guru atau tidak sadar dalam pengamatan guru. Dari pengamatan tersebut guru mampu mamahami dan membedakan karakter masing-masing siswanya.

Pada kompetensi kepribadian, haruslah mencerminkan kepribadian guru yang mantap, stabil, dewasa, arif dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia hanya bisa dilihat ketika bertemu secara tatap muka. Kepribadian guru tidak bisa didiskripsikan melalui tayangan video rekaman yang dijadikan media pembelajaran. Kematangan kepribadian guru dapat dilihat dengan jelas ketika terjadi pertemuan langsung antara guru dan murid. Pertemuan langsung tersebut tidak hanya terjadi sekali atau dua kali, tapi berkesinambungan dari waktu-ke waktu. Sehingga murid bisa memaknai bahwa gurunya adalah guru yang berwibawa, guru yang bisa dijadikan tauladan dan guru yang inspiratif. Hal tersebut sulit di ejawantahkan melalui dunia maya.

Terakhir kompetensi sosial, dimana kemampuan guru untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar. Komunikasi yang efektif tetaplah komunikasi secara langsung. Pada komunikasi langsung, pesan yang disampaikan melalui lesan didukung dengan gestur tubuh, mimik wajah dan intonasi memiliki makna lebih mendalam. Gestur tubuh, mimik wajah dan intonasi tidak maksimal jika komunikasi dilakukan secara tidak langsung, sehingga pesan yang disampaikan terasa kering. Interaksi di dunia maya tidaklah sama dengan dunia nyata. Kehangatan interaksi  secara tatap muka antara guru dan siswa tetaplah tidak bisa tergantikan dengan teknologi informasi. Proses kegiatan belajar mengajar di dalam kelas akan menjadi salah satu cara siswa menilai gurunya. Mereka akan menilai guruku itu asyik apa tidak, guruku itu  menarik atau tidak, dan seterusnya.

Pembelajaran dengan menggunakan perantara teknologi informasi sejatinya tidak akan mampu menggantikan keseluruhan peran seorang guru. Teknologi pembelajaran itu penting untuk mempermudah proses belajar mengajar, namaun kehadiran sososk guru didepan kelas jauh lebih penting. Kegiatan belajar mengajar sejatinya masih membutuhkan pertemuan secara langsung antara guru dan murid. Bahasa tubuh seorang guru dalam mengajar sering membuat suasana menjadi menarik dan menggembirakan. Sehingga anak akan betah dan kangen berjumpa dengan gurunya. Teknologi sehebat apapun belum mampu menggantikan pembelajaran tatap muka. Raut wajah guru yang teduh dan gimik wajah imut seorang murid masih belum mampu ditampilkan secara utuh dilayar ponsel cerdas maupun leptop, sehingga ikatan hati antara guru dan murid tidak terjalin dengan erat. Semoga covid-19 segera mampu diatasi dan ditanggulangi di negara Indonesia dan dunia pada umunya sehingga kehidupan berjalan seperti sediakala.


Menata Ulang Kehidupan

Oleh Sulistyowati

SMPN 1 Pujon – Kab. Malang 


Dunia saat ini  dikejutkan dengan mewabahnya suatu penyakit yang disebabkan oleh sebuah virus  yang bernama corona atau dikenal dengan istilah covid-19 (Corona Virus diseases-19). Virus yang disinyalir mulai mewabah 31 Desember 2019 di Kota Wuhan Provinsi Hubei Tiongkok, saat ini menyebar hampir ke seluruh penjuru dunia dengan sangat cepat, sehingga WHO tanggal 11 Maret 2020 menetapkan wabah ini sebagai pandemi global. Ratusan ribu manusia terpapar virus ini di seluruh dunia, bahkan puluhan ribu menjadi korban meninggal. Tercatat negara-negara yang memiliki kasus tinggi terpapar covid-19 saat ini adalah Italia, Tiongkok, Spanyol, Amerika Serikat, dan Iran dengan tingkat kematian mencapai ribuan orang. Penularan yang sangat cepat dan sulitnya mendeteksi orang yang terpapar karena masa inkubasi covid-19 kurang lebih dua minggu menjadi penyebab banyaknya korban berjatuhan.
    Penularan lewat kontak antar manusia yang sulit diprediksi karena kegiatan sosial yang tidak bisa dihindari merupakan penyebab terbesar menyebarnya covid-19 ini. Obat penawar yang belum bisa ditemukan dan membludaknya jumlah pasien terpapar covid-19 menjadi penyebab kematian yang paling tinggi. Rumah sakit dan paramedis yang menagani merasa kewalahan sehingga banyak pasien yang tidak tertangani dengan baik. Sulitnya Alat Pelindung Diri (APD) bagi paramedis menjadi penyebab pasien berjatuhan termasuk dokter dan paramedis lainnya yang juga terpapar covid-19 sehingga akhirnya meninggal. 

Rumitnya penanganan wabah ini membuat para pemimpin dunia menerapkan kebijakan yang super ketat untuk memutus mata rantai penyebaran covid-19. Social distancing menjadi pilihan berat bagi setiap negara dalam menerapkan kebijakan untuk pencegahan penyebaran covid-19, karena kebijakan ini berdampak negatif terhadap segala aspek kehidupan. Pandemi Covid-19 yang bersifat global telah berdampak pada seluruh aspek kehidupan. Bermula hanya berdampak pada aspek kesehatan, kemudian meluas kepada aspek ekonomi, pendidikan, keagamaan, pemerintahan, pangan dan aspek interaksi masyarakat. 

Sejalan dengan tugas menjalankan ibadah, tentu tugas kita adalah bagaimana menemukan hikmah dari bencana ini. Melihat karakteristik Covid-19 dan multiplier effect yang ditimbulkan, prasangka baik kita adalah bahwa Tuhan tidak saja sedang menguji kesabaran kita, tetapi juga sedang meminta kita untuk menata ulang tata kehidupan baru. Mengapa ?



1. Menata ulang ulang tata kehidupan ekologis

Bumi sudah merasakan beban yang berat. Kerusakan lingkungan terjadi dimana-mana. Polusi udara, pencemaran sungai dan laut, sampah menggunung, deforestasi, dan bahkan pemanasan global telah kita rasakan. Seiring meningkatnya intensitas aktivitas ekonomi maka carbon footprint juga meningkat. Lapisan ozon makin menipis. Namun kini sebagian besar orang berdiam di rumah dan menjalankan pekerjaan dari rumah. Akibatnya jalan sepi, pasar sepi, toko tutup, warung sepi, dan mobilitas sosial makin terbatas. Kemudian polusi udara teratasi, lapisan ozon membaik, langit makin bening biru, sampah berkurang, dan udara makin segar. Saat bumi beristirahat seperti sakarang ini, mestinya menjadi momentum kita untuk merenung: apakah ketika pandemi Covid-19 berakhir lalu alam yang sudah tenang seperti ini akan tetap tenang dan membuat hidup kita lebih nyaman dan sehat? 

Semua tergantung kita, tapi sebenarnya Pandemi Covid-19 adalah pesan bahwa kita harus berubah dan memulai hidup dengan cara baru. Pandemi Covid-19 memberi pesan bahwa bumi harus istirahat agar kondisi lingkungan pulih. Adalah tugas kita untuk saat ini merancang bagaimana pemulihan lingkungan terus terjaga meski Pandemi Covid-19 telah berakhir. Suatu saat di Los Banos saya bertemu dengan profesor dari Jepang yang bercerita tentang pendidikan ekologi manusia (human ecology) di Tokyo University. Beliau mengatakan bahwa pendidikan ekologi manusia ada di fakultas kedokteran, bukan di fakultas lingkungan. Ini memang agak aneh. Ternyata baginya menjaga kesehatan bukan persoalan tersedia-tidaknya obat. Rezim obat-obatan adalah masa lalu. Sebaliknya dia menegaskan bahwa ke depan kesehatan adalah akibat kondisi lingkungan. Bagi Jepang, harmoni dengan alam dan harmoni secara sosial adalah “obat” paling mujarab menjaga kesehatan kita, karena keduanya adalah sumber kebahagiaan. Jadi, kesehatan, kebahagiaan dan status lingkungan hidup semakin kuat tali temalinya. 

2. Menata ulang tata hidup sehat.

Hidup sehat kini menjadi obsesi semua orang. Pandemi Covid-19 telah memaksa kita semua untuk mengubah cara hidup. Sebelum ini hand-sanitizer hanya kita gunakan saat keluar masuk ruang rawat inap rumah sakit. Cuci tangan dengan sabun sebelumnya hanya saat sebelum dan sesudah makan. Namun kini setiap saat orang mencuci tangan. Kini semua orang tahu apa itu hand-sanitizer dan menggunakannya setiap saat. Masker dulu hanya digunakan tenaga medis, kini digunakan semua orang. Hal ini karena kesadaran masyarakat makin meningkat tentang mobilitas virus. Kini orang berlomba-lomba untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi untuk meningkatkan daya tahan tubuh, mengingat daya tahan tubuh adalah “obat” penangkal efektif Covid-19. Orang pun tanpa disuruh mulai rajin berolahraga dan berjemur. 

Praktik baru tersebut sebagian besar merupakan bagian dari prinsip gizi seimbang. Dulu, para ahli gizi mempromosikan prinsip gizi seimbang hingga berbusa-busa. Namun kini orang dengan sendirinya telah menerapkan prinsip gizi seimbang meski tidak tahu bahwa yang dilakukannya adalah implementasi gizi seimbang. Dengan demikian Covid-19 telah memaksa kita meng-install ulang cara hidup kita dengan cara hidup sehat yang lebih baik.  



3. Menata ulang tata kehidupan sosial-ekonomi. 

Solidaritas sosial makin berubah. Dulu individualisme orang perkotaan begitu menonjol. Kini empati mereka makin meningkat. Gerakan solidaritas untuk membantu korban ekonomi Covid-19 semakin marak. Aneka program donasi melalui media sosial berkembang secara spontan. Telah meningkat kesadaran kolektif bahwa musibah ini harus dihadapi bersama-sama. Solidaritas sosial ini merupakan modal sosial yang luar biasa. Masyarakat modern yang telah terspesialisasi, berhubungan dengan sesama atas dasar ikatan kontraktual, kini tergerak untuk bersama-sama atas dasar ikatan moral. Jiwa kemanusiaan makin tumbuh. 

Tata kehidupan sosial kota telah berubah. Namun sebenarnya yang menarik adalah bukan semata solidaritas dalam konteks ekonomi. Bukan semata berbagi rezeki kepada golongan menengah ke bawah yang terkena dampak ekonomi Covid-19 tetapi solidaritas berbagi nilai moral dan ilmu. Seruan moral untuk membangun optimisme diviralkan melalui media sosial. Tips-tips untuk beradaptasi dengan situasi baru ini beredar dimana-mana. Berbagi nasehat dan berbagi ilmu tiap hari kita rasakan. 


4. Menata ulang tata kehidupan para pembelajar. 

Kini kita berlomba-lomba dalam inovasi. Ternyata musibah ini mendorong para pembelajar untuk mengerahkan ilmunya untuk memberikan solusi. Banyak inovasi bermunculan, baik inovasi peralatan medis, inovasi pelayanan medis, maupun inovasi obat-obatan. Musibah ini memberi pelajaran pentingnya mencari ilmu yang bermanfaat. Di saat-saat seperti inilah taruhannya pada kapasitas keilmuan kita. Ilmu bukan untuk unjuk kebanggaan tetapi ilmu untuk solusi. Karena itulah kesadaran para pembelajar makin meningkat untuk melakukan riset-riset transformatif, yakni riset-riset yang berdampak, dan bukan sekedar riset untuk riset. Install ulang mindset para pembelajar telah terjadi. 


5. Menata ulang kehidupan spiritual. 

Semula Tuhan dianggap terlalu jauh dari urusan duniawi, namun kini orang berusaha agar Tuhan hadir sedekat-dekatnya dengan kita. Kebetulan Pandemi Covid-19 terjadi pada bulan Ramadhan, semakin membuat proses install ulang spiritual kita makin sempurna. Salah satu proses refleksi spiritual penting adalah bahwa kita ternyata bukan siapa-siapa. Menghadapi virus kecil saja tak berdaya. Ilmu kita benar-benar hanya setetes air dari lautan luas. Disinilah kesadaran spiritual mulai tumbuh. Semua tidak mungkin terjadi tanpa kehendak Tuhan. Kapan pandemi berakhir pun mesti dengan campur tangan Tuhan. Namun intervensi Tuhan untuk memulihkan keadaaan juga melalui proses-proses yang obyektif. Tuhan meminta kita tidak sombong dengan ilmu yang kita miliki, sehingga kita dengan rendah hati belajar dan belajar untuk menemukan cara pengobatan dan pencegahan Covid-19. Tuhan meminta kita untuk saling menolong. Tuhan telah meminta kita untuk menjaga alam. Tuhan telah meminta kita untuk mensyukuri nikmat yang telah Dia berikan. Mungkin hidup kita sudah kebablasan jauh dari koridor yang telah Tuhan tetapkan, dan mengabaikan sejumlah permintaan Tuhan tersebut. 

Mungkin inilah cara Alloh SWT meminta kita untuk manata ulang tata kehidupan kita, agar kita makin bersyukur atas nikmat alam, nikmat kesehatan, nikmat ilmu dan nikmat iman. Kita telah dikaruniai akal dan hati. Mari kita gunakan untuk menata ulang tata kehidupan sebagai wujud syukur kita, dengan tatap didasari keyakinan bahwa kita bukan siapa-siapa di hadapan Alloh Yang Maha Akbar. Ikhtiar menata ulang ini penting sebagai sikap tunduk dan bakti kita, pada QS Ar-Ra’d:11: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu sendiri yang mengubah apa yang ada pada diri mereka”. 

Sungguh sangat jelas tuntunan dalam Al-Quran sebagai pedoman kehidupan manusia di bumi ini, marilah senantiasa membekali dan menata diri maupun semua tata kehidupan. Terbiasa mengambil hikmah dari setiap peristiwa maupun kejadian di Jagad raya yang merupakan Ayat-ayat Alloh. Wahai semua sahabat Nusantara selamat mereformasi diri menuju pada kepatuhan dan kesempurnaan Iman, Barokallloh. 





DAFTA REFERENSI

 

https://mediaindonesia.com/read/detail/294557-10-pelajaran-hidup-di-tengah-wabah-covid-19

https://www.goodreads.com/book/show

https://www.bbc.com/indonesia/majalah-51767994




HAMBATAN DAN SOLUSI PADA PEMBELAJARAN JARAK JAUH


Oleh:

Lestari Sudiartuti, M.Pd

SMP Negeri 1 Sagalaherang Kabupaten Subang

Email: sudiartutilestari@gmail.com


Sejak diberlakukannya aturan belajar dan bekerja dari rumah, pada umumnya kita sebagai guru ingin segera kembali belajar melalui tatap muka. Keinginan tersebut semakin menguat manakala pemerintah mengeluarkan Surat Keputusan Bersama 4 Menteri tentang Panduan Penyelenggaraan Pendidikan Tahun Ajaran 2020/2021 yang memperbolehkan pembelajaran tatap muka pada zona hijau dan rencana perluasan pada zona kuning. Namun karena tingkat penularan Covid-19 yang masih tinggi, tentu hal tersebut tidak akan segera terjadi. Bahkan uji coba tatap muka dengan penerapan protocol kesehatan yang sangat ketat di beberapa sekolah malah menyebabkan munculnya cluster baru. 


Sebenarnya, mengapa banyak guru mengharapkan untuk segera dapat melakukan pembelajaran tatap muka. Hal tersebut disebabkan oleh banyaknya masalah yang dirasakan oleh para guru ketika melaksanakan pembelajaran jarak jauh. Pertama, bagaimana kita merancang pembelajaran jarak jauh agar tercapai ketuntasan materi dan beban kurikulum. Kedua, bagaimana mengelola pembelajaran jarak jauh yang dapat melibatkan siswa secara aktif sedangkan motivasi belajar siswa tidak sama. Ketiga, bagaimana melakukan penilaian otentik pada pembelajaran jarak jauh sedangkan kemampuan siswa dan tingkat ekonomi orangtua berbeda. Dan  keempat, bagaimana memanfaatkan teknologi untuk pembelajaran jarak jauh secara efektif dan efisien ditambah minimnya kemampuan guru dalam penggunaan teknologi. Meskipun banyak hambatan yang dihadapi, namun Pembelajaran Jarak Jauh sudah seharuskan dilaksanakan agar hak belajar peserta didik terpenuhi dengan tetap melindungi seluruh warga sekolah dari penularan Covid-19. 


Sudah menjadi kewajiban pemerintah dalam hal ini Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk mengeluarkan sejumlah peraturan  yang menjadi pedoman dalam pelaksanaan pendidikan pada masa darurat sehingga berbagai hambatan atau masalah dapat diminimalisir. Melalui Surat Edaran Sekretaris Jendral Kemendikbud Nomor 15 Tahun 2020 tentang Pedoman Penyelenggaraan Belajar Dari Rumah Dalam Masa Darurat Penyebaran Covid-19 dan berdasarkan Surat Keputusan Mendikbud No 719/2020 tentang Pedoman Pelaksanaan Kurikulum pada Satuan Pendidikan dalam Kondisi Khusus, pemerintah memberikan kebebasan penggunaan kurikulum pada setiap satuan pendidikan sesuai dengan situasi dan kondisi masing-masing sekolah. 


Berdasarkan pada peraturan-peraturan yang telah dikeluarkan tersebut, terdapat sejumlah informasi untuk mengatasi berbagai kendala yang dihadapi para guru, pertama  tentang merancang pembelajaran jarak jauh yang hanya difocuskan pada kompetensi dasar esensial kontekstual dan prasyarat untuk kelanjutan pendidikan di tingkat selanjutnya. Guru tidak lagi diharuskan untuk menyelesaikan seluruh capaian kurikulum. Pembelajaran dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna dan ditekankan pada pendidikan kecakapan hidup sehingga rencana pelaksanaan pembelajaran dapat disusun secara sederhana namun mampu memberikan gambaran secara menyeluruh mengenai pembelajaran jarak jauh yang akan dilaksanakan.

Untuk mengatasi kendala kedua yaitu mengelola Pembelajaran Jarak Jauh yang dapat melibatkan siswa, diperkenalkan model pembelajaran daring (online), luring (offline) atau kombinasi memadukan daring dan luring sesuai dengan kondisi dan ketersediaan sarana pembelajaran. Model pembelajaran daring adalah pembelajaran yang menggunakan gawai dan jaringan internet, misalnya menggunakan aplikasi pembelajaran seperti google classroom, google meet, zoom, webex atau menggunakan Learning Management System. Model pembelajaran luring adalah pembelajaran yang tidak ,menggunakan jaringan internet, misalnya melaui televisi, radio, modul belajar mandiri dan lembar kerja, bahan ajar cetak dan alat peraga atau media belajar dari berbagai benda di lingkungan sekitar siswa. Model pembelajaran daring seringkali terkendala gawai, jaringan internet ataupun kuota, maka dapat digunakan model terpadu yaitu melakukan kombinasi model daring dan luring. Kelebihan yang diperoleh bila menerapkan model kombinasi adalah guru dapat menerapkan sesi sinkron dan asinkron. Pada sesi sinkron siswa dapat berinteraksi langsung secara serentak sesuai jadwal yang disepakati. Sedangkan pada sesi asikron siswa dapat melakukan tugas secara mandiri dengan waktu yang lebih fleksibel, sehingga sesi ini dapat menjadi antisipasi bila siswa terkendala hadir pada sesi sinkron. 


Solusi untuk kendala ketiga, yaitu tentang melakukan penilaian atau asesmen dalam Pembelajaran Jarak Jauh, guru diharapkan melakukan tiga jenis penilaian yaitu 1) asesmen diagnosis awal yang bertujuan untuk memonitor perkembangan non kognitif dan kognitif siswa selama masa pandemic dalam memenuhi target capaian belajar, 2) asesmen diagnosis berkala yang bertujuan untuk mengamati perkembangan belajar siswa sehingga guru dapat memberikan pengalaman belajar yang terarah dan berkelanjutan melalui pemberian umpan balik, 3) asesmen sumatif yang bertujuan untuk menentukan tingkat pencapaian hasil belajar siswa yang dilakukan di akhir materi pembelajaran. Agar asesmen sumatif mampu mengukur apa yang ingin diukur,  maka guru harus merancang rencana penilaian secara jelas dan terinci. Pada umumnya rencana penilaian sumatif meliputi: 1) hasil tes, produk,  karya atau aksi yang akan dihasilkan siswa, misalnya poster, video, presentasi, laporan proyek, atau simulasi; 2) Kriteria yang akan dinilai, misalnya kerapihan hasil karya, penjelasan dalam presentasi dan keaktifan dalam simulasi; 3) alat ukur yang digunakan, misalnya perangkat tes, rubric, atau daftar periksa.


Untuk mengatasi kendala keempat, yaitu tentang penggunaan teknologi yang bertujuan agar pembelajaran jarak jauh dapat berlangsung secara efektif dan menarik adalah dengan mengintegrasikan pengetahuan pedagogic, pengetahuan konten dan pengetahuan teknologi menjadi Konten Pedagogis Teknologi, yaitu pengetahuan dan pemahaman tentang penggunaan teknologi yang melibatkan cara-cara pedagogis konstruktif untuk mengajarkan konten atau materi pelajaran, sehingga pemilihan jenis integrase teknologi berdasarkan pada pengalaman belajar siswa.


Terdapat empat jenis media pembelajaran yang dapat digunakan untuk memperjelas pesan atau materi pelajaran yaitu: media pembelajaran yang focus pada indera penglihatan (visual), media yang hanya melibatkan indera pendengaran (audio), media yang melibatkan indera penglihatan dan pendengaran (audio visual), dan beberapa media yang terintegrasi dalam suatu kegiatan pembelajaran (multimedia). Bahkan untuk membantu pemahaman siswa terhadap konten pembelajaran guru dapat merancang sumber belajar sendiri misalnya berupa buku aktivitas belajar, video pembelajaran, bahan tayang yang terkait dengan materi pelajaran. Atau dapat memanfaatkan sumber belajar yang telah tersedia misalnya buku atau modul pelajaran yang ada di perpustakaan, menggunakan buku-buku yang tersedia di situs EPerpusdikbud atau video-video pembelajaran dari youtube.


Meskipun beberapa solusi terhadap hambatan dalam pelaksanaan pembelajaran jarak jauh sudah diterapkan, namun keberhasilan penyelenggaraan  pembelajaran jarak jauh tidak hanya ditentukan oleh satu pihak saja yaitu guru. Maka diperlukan dukungan dan kerjasama dari pihak lain yaitu sekolah diharapkan dapat memfasilitasi kegiatan belajar mengajar dengan model, metode dan media yang paling tepat. Orangtua diharapkan berpartisipasi aktif dalam kegiatan proses belajar mengajar di rumah. Pemerintah baik pusat maupun daerah bekerjasama dalam menyusun dan menerapkan kebijakan yang berpihak kepada anak. Layanan Kesehatan untuk memantau dan mengevaluasi resiko di daerah demi mengutamakan kesehatan anak. Masyarakat sipil dan lembaga social saling mendukung dalam membantu kegiatan anak. Dengan adanya kerjasama dari pihak-pihak terkait, maka dapat dipastikan bahwa anak akan mendapatkan pengalaman belajar yang bermakna dan menantang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhannya dengan sehat dan selamat terlindung dari dampak buruk Covid-19.




Referensi:

Kemendikbud. Program Guru Belajar