Jumat, 30 Oktober 2020

Aku dan Pandemi Covid -19

 Oleh Meifarida

SMPN 15 Semarang, Jateng


Virus Corona atau severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SAR–Co – 2)adalah virus yang menyerang system pernafasan . Penyakit karena infeksi virus ini yang disebut COVID – 19 . Virus Corona bias menyebabkan gangguan ringan pada system pernafasan, infeksi paru – paru yang berat hingga kematian.

Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) yang lebih dikenal dengan nama virus Corona adalah jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia. Virus ini bisa menyerang siapa saja, seperti lansia (golongan usia lanjut), orang dewasa, anak-anak, dan bayi, termasuk ibu hamil dan ibu menyusui. Kemunculan virus corona mulai terdeteksi pertama kali di negara China pada awal Desember 2019., Yang kemudian merebak kenegara lainnya

Di Indonesia mulai terdampak pandemi COVID -19 bulan maret,pada waktu itu disekolahku baru mengadakan PTS gasal. Akhir bulan maret ,Wali kota Semarang memberikan perimtah untuk melakukan PSBB. Inilah awal cerita baru dalam kehidupanku di masa Pandemi COVID – 19. Yang semula aku jarang sekali masak pagi,aku harus masak pagi dikarenakan ,kantin –kantin disekolahku harus ditutup,karena anak – anak disekolahan harus melakukan pembelajaran jarak jauh. Apalagi putri kesayanganku memintaku membawakan makan untuk kerja,dikarenakan banyak warung yang tutup sementara. Putriku memberikan  menu untuk dimasak,padahal aku sama sekali tidak tahu ,baigamana cara masak menu tersebut,mau tidak  mau akhirnya setiap pagi,aku memasak makanan dengan belajar lewat google. 

Pada bulan Juni adik suamiku yang tinggal di Banjarmasin  , memberi undangan resepsi pernikahan putrinya,Untuk naik pesawat kami harus di rapid terlebih dahulu. Hal itu yang membuat aku kuatir,karena aku  termasuk lansia yang mempunyai penyakit dalam.Ketika kami sekeluarga melakukan rapid,yang telah ditunjuk oleh perusahaan penerbangan,akulahyang paling kuatir ,dikarenakan kondisi kesehatanku kurang baik,aku terserang flu cukup berat. Takut nanti hasilnya rerapid. Ketika dokter memanggil aku dan suamiku untuk mengambil hasilnya dadaku benar – benar berdebar – debar tidak karuan,. Dokter bercerita macam – macam ,tapi aku kurang mengerti apa yang dikatakan,karena pikiranku hanya tertuju pada hasil rapid. Ketika dokter mengatakan bahwa aku dan suamiku bebas dari corona maka legalah hatiku.

Di sekolahku,  kepala sekolah membri perintah pelaksanaan  pembelajaran dengan menggunakan zoom meeting  atau video pembelajaran. Dengan adanya perintah seperti itu ,aku mulai mengikuti webinar –webinar agar bertambah ilmuku.

Selain apa yang kuceritakan diatas ,banyak perubahan yang terjadi pada diriku.Aku yang semula jarang membaca Al-Qur’an,mulailah aku lebih sering membaca Al-Quran.Mengikuti kegiatan pembelajaran Al-Quran yang diadakan oleh MGMP PAI disekolahanku , supaya dalam membaca Al-Quran bisa sesuai dengan tajwidnya. Dengan mengikuti pembelajaran pembacaan Al-Quran , aku lebih lancar membaca surat suci Al-Quran dan lebih percaya diri,membaca Al-Quran didepan umum. 

Pada awal Oktober,aku dan teman –tenman sekolahku melakukan taziah di Klaten. Salah satu guru PKn , orang tuanya meninggal dunia . Pukul 02.30 ,suamiku mengirim WA,agar aku lebih berhati – hati, karena Klaten merupakan daerah zona merah. Tumben suamiku WA seperti itu,pikirku. 

Pulang kerumah ,aku baru mengetahui di balik pesan dari suamiku lewat Wa tersebut, salah satu dari keluargaku ada yang terkena virus CORONA-19..Perasaanku tidak karuan ketika mendengar berita tersebut,Siapa yang tidak gelisah mendengar berita kalau putra kesayangnnya terkena virus Corona. Putraku habis pergi jalan –jalan ke Salatiga bersama teman –teman kerjanya. Sampai dirumah badannya panas, kepala pusing, dan terakhir hidungnya tidak membaui apapun.Putraku kerja di salah satu rumah sakit swasta di Semarang. 

Pihak rumah sakit menyuruh anakku beserta teman-temannya  melakukan sueb, dan hasinya semua positif terkena Covid -19. Bagaimana anakku dan teman-temannya bisa terkena Covid -19,ya?,pikirku. Besuknya aku mendapat kabar dari istri anakku bahwa putraku dan teman-temannya tertular Covid dari salah satu dokter yang pada waktu jalanjalan juga ikut.Sedang sang dokter terkena Covid dari sang istri.Semula ,sang dokter memeriksakan istrinya yang sedang sakit,dari pihak rumah sakit melakukan sueb, sang dokter sekalian meminta rumah sakit untuk melakukan sueb pada dirinya,dan ternyata dokter dengan istrinya terkena Covid – 19,tanpa gejala.

Putraku melakukan isolasi mandiri dirumahnya . Aku dan suamiku menyediakan bahan – bahan yang harus disediakan di rumah selama anaku melakuakn isolasi mandiri., Setelah tahu anaku terkena Covid -19, besuknya aku dan seluruh keluarga melakukan Rapid mandiri.Syukurlah hasilnya negatif semua. Setiap hari , aku menyediakan masakan yang, kuterimakan lewat istrinya. Oh ya istri anaku tidak terkena Covid -19 , meski satu rumah , sehingga memudahkan aku untuk memantau kondisi putraku. Dua hari setelah Rapid,tepatnya hari selasa, putraku mendapat WA dari Puskesmas,agar keluargaku untuk segera melakukan sueb di Puskesmas. Mendengar berita itu , aku sangat kuatir sekali,melebihi kuatirku ketika di rapid,dikarenakan pada waktu itu, aku lagi sakit. Selain kena Flu , aku kena radang tenggorokan, dan maagku juga kumat.Meski sangat kuatir , aku harus tetap melakukan sueb. Keluarga memutuskan untuk melakukan sueb hari rabu,dan aku menyetujuinya.

Hari rabu,aku , suami dan putriku datang ke puskesmas untuk melakukan sueb. Pada hari itu yang melakukan sueb cukup banyak,kami menunggu sampai perawat datang. Saat perawat mulai memanggil kami satu persatu, perutku mulai mual, aku kuatir banget. Apalagi setelah aku tahu bahwa seorang yang dudukku terkena Covid, dia cerita bahwa sudah dua kali ini untuk melakukan sueb. Tambahlah rasa mualku..Disueb itu diambil cairan dari hidung dan sebelah dalam mulut kita.Pemberitahuan hasil sueb, tiga hari setelah disueb..              Hari jum’at, aku mendapat kabar, bahwa  seluruh keluargaku negative dari Covid -19.

Sepuluh hari setelah isolasi mandiri , putraku melakukan sueb lagi dan hasilnya negatif.Selain disueb anaku juga harus melakukan Rongsen Thorak, dan hasilnya,thoraknya bagus.Alhamdulillah akhirnya anaku sdh sembuh dari Covid-19  dan sudah boleh bekerja lagi.

Inilah sekelumit cerita mengenai Aku dan Pandemi Covid – 19.