Sabtu, 31 Oktober 2020

AZZAM UNTUK NURUL

 Oleh Anta Mu'min Badji

MTs Negeru Kota Kupang NTT


Ciiiiiittt…..tiba-tiba rem tangan mendadak kulakukan. Ban motor bergesek dengan aspal jalan kuat sekali. Nyaris moncong  motor menabrak tubuh ibu hamil itu, kulihat perutnya sangat buncit. Tidak hanya itu tiba-tiba segerombolan kawanan-kawannya muncul dari jalan sebelah. Kubiarkan motor tergeletak begitu saja, perhatianku tertuju kepada keselamatan diriku, tepatnya aku takut jika saja terinjak atau menjadi sasaran amukan gerombolan coklat itu, soalnya pengembalanya memukuli satu persatu dengan cemeti yang ada di tangannya memaksa gembalaannya itu berjalan di pinggir. Kulihat sepintas kuperhatikan banyak sapi yang dalam keadaan hamil. Tak bisa kubayangkan sedihnya jika dalam kondisi hamil begitu kemudian tergilas truk yang banyak lalu-lalang di jalan yang biasa mereka lalui. 

Di atas langit awan berarak-arak, saling berkejaran ditiup angin yang berhembus kencang, mungkin sebentar lagi akan hujan. Para pengguna jalan termasuk pengembala segera pulang menghindari hujan. Kadang sore hari memang harus berhati-hati melintas di sekitas perumahan Alak karena pada saat itu sapi-sapi pada pulang dari merantau mencari rumput dari kelurahan sebelah yang tentunya melintas di perumahan Alak, tempat tinggalku. Wilayah seperti ini, biasanya terjadi perpaduan antara kehidupan perkampungan dan dipaksa menjadi ”perkotaan” karena setiap lahan milik rakyat setempat sudah berpindah tangan ke pengusaha pengembang dan segera disulapnya menjadi perumahan yang padat penduduk. Sehingga bisalah terjadi pengguna jalan raya tediri atas kendaraan bermotor, pejalan kaki, dan binatang ternak.

    “Hati-hati! ” kataku dalam hati, di saat menyusuri jalan menurun yang terjal pada pembelokan perempatan jalan menuju Rumah Qur’an Aflaha. Meskipun aku masih tidak tenang dengan kejadian tadi kuberusaha mepacu motor dengan sedikit kencang. Ini karena sudah terlambat satu setengah jam. Terbayang olehku wajah-wajah polos mereka sudah menunggu lama. Bagi anak-anak kadang menunggu selama itu sudah bisa mengubah keputusannya. Bisa saja agendanya berubah menjadi bermain bola hingga seluruh bajunya basah karena keringat. 

    Dari kejauhan mereka menyambutku sambil berlari memasuki halaman “Assalamu’alaikum……” kataku. Mereka menjawabnya dengan antusias sambil berlarian memasuki rumah setelah kunci pintu kubuka. Seperti biasanya mereka berhamburan masuk sambil bersalam masuk rumah lalu menuju peralatan mengaji; bangku-bangku, yang lainnya segera menggelarkan karpet. Seperti umumnya anak-anak, sering saling berlomba terhadap sesuatu yang disukainya, antri tidak berlaku lagi, seperti itu pula yang terjadi pada mereka berlomba mengambil bangku lipat untuk al Qur’an yang menurutnya paling bagus. “Mengapa Umi terlambat sekali.” Kesya menyampaikan perasaannya dengan polos. Yang lain mengangguk memandangku mengiringi pertanyaan bocah yang kulitnya paling putih di antara mereka. Sebenarnya Kesya masih sangat baru di Aflaha, tapi mungkin karena dibuat suasana menyenangkan, maka siapapun bisa cepat akrab dan senang, termasuk Kesya yang baru empat hari  bergabung. Sebenarnya awalnya kami menolak Kesya  karena kami membatasi murid Aflaha hanya sampai 20 orang, tapi karena alasan ibunya bahwa Kesya hanya sekitar 4 bulan di Kota Kupang, yang sebelumnya Ayah Kesya bertugas di Kabupaten Malaka, ujung Provinsi NTT, akan pindah tugas di Jawa Timur itu, maka kuterima Kesya ikut belajar. Itupun melalui tes kemampuan memahami huruf-huruf iqro. Karena targetku tahap belajar iqro cukup satu bulan saja.

Mereka memanggilku “Umi”, sebagai panggilan hormat bagi ibu muslimah di NTT. Kuberusaha menjelaskan alasanku yang kira-kira mereka bisa pahami. “Maaf ya sayang, kalian menunggu lama karena Umi terlambat datang”, kataku sambil menyambut uluran tangan-tangan mungil mereka. “Maaf, Umi sedang mengikuti pelatihan daring, jadi Umi terlambat”, jelasku sekenanya berharap mereka maklum. Mereka sudah mengerti daring karena tentunya setiap hari sudah belajar daring dari sekolah. Perilaku terlambatku ini sangat kusadari bahwa bukan contoh baik, karena jika mereka terlambat pastinya akan kutanya juga alasannya. Ohhhh aku takut “kaburo maqtan…”hehehe.

Setelah melantungkan do’a memulai mengaji,  satu persatu kuperiksa buku agendanya, apakah usaha mereka di rumah mencapai target atau tidak. Itu ditandai oleh catatan orang tua mereka-ibu atau ayah mereka. Yang kemudian kuperiksa kemampuan perorang sesuai tugas mereka yang kutulis di buku agenda setiap orang dengan kalimat “Tugas menyenangkan”, atau “Tugas Membahagiakan”. Awalnya mereka bertanya, arti kalimat itu. Kujelaskan bahwa tugas kalian ini adalah tugas yang menyenangkan dan membahagiakan, karena nanti kalau kalian mencapai target pasti kalian akan senang karena bisa menghafal ayat-ayat al Qur’an dengan mudah yang kalian sebelumnya tidak pernah menyangka bisa melakukannya. Kemudian, kujelaskan bahwa nanti kalian akan dapat mempersembahkan mahkota yang saangat indah di surga kepada orang tua. Selain itu kujelaskan pula tentang gambaran kesenangan dan kebahagiaan sesuai surah ar Ra’du ayat 23, bahwa bagi para hafidz yang bersabar menghafal, di surga nanti akan Allah  buatkan parade dirinya beserta ayah, ibu, kakek, nenek, kakek-nenek buyut, paman, tante dan seluruh orang yang dikenalnya, termasuk guru-guru, kawan-kawan yang disayangi, sahabatnya, dan siapapun yang beriman kepada Allah bisa diajaknya masuk surga bersama-sama.  Kemudian, kusampaikan lagi bahwa al Qur’an itu mulia, dan siapapun yang berinteraksi atau berurusan dengan al Qur’an, pasti Allah akan menjadikannya mulia. Suatu hari, pernah kami mendapat buah apel dari salah seorang orang tua murid. Buah apel yang sangat manis dan jumahnya banyak. Betapa mereka senang karena buah itu di Kota Kupang lumayan jarang dikonsumsi karena mahal. Tapi kali ini makan gratis. Salah seorang dari mereka berujar, “Ini baru di dunia kita sudah dapat apel gratis, apalagi di surga”. Yang lain menyambutnya ketawa terbahak-bahak sangat senang. 

Keasyikan mengaji di Aflaha, sore itu hanya 50 menit saja. Biasanya selama dua jam setengah-alhamdulillah bisa dilakukan dengan cara tutor sebaya yaitu menyetorkan hafalan ke kawan yang hafalannya melampaui, cara ini biasa kulakukan untuk membiasakan mereka menyimak bacaan orang lain dan mengoreksinya. Tak terasa di luar sudah mulai gelap dan akhirnya terdengar kumandan azan magrib dari corong masjid. Segera kami menutup majelis ilmu dengan do’a kaffarat majelis.

Seperti terkomando ingatanku tertuju pada laptop dan telepon genggam yang kutinggalkan begitu saja di kamar. “Oh semoga rekamannya tersimpan baik dan tidak ada yang mengganggunya”, harapku. Karena faktor sudah tergesa-gesa ke Aflaha, kuputuskan untuk pamit ke host untuk sholat ashar dan mute video di zoom meeting pada laptop. Karena rasa penasaranku pada penjelasan dari narasumbernya tentang materi penulisan cerpen tersebut, maka kurekamlah seadanya. Aku berniat segera pulang, dan berharap dapat melaksanakan sholat magrib di rumah dan sesegera mungkin kulakukan apa yang menjadi angan-anganku sejak lama. Tanpa kuperdulikan kondisi cuaca lagi kumulai menuju jalan raya, eh ternyata tiba-tiba hujan sangat deras di ujung gang. Jilbabku basah kuyup, tapi tak masalah. Hujan semakin deras saja bahkan sudah membasahi sekujur tubuhku, tidak kuperdulikan. Malam ini harus kulakukan hal yang sudah menjadi tekadku sejak lama. 

Satu persatu kurangkai kata yang tersusun menjadi kalimat. Sangat kupahami, aku belum piawai menuliskannya. Namun sangat kurasakan bahwa aku bisa. Setiap memori kepala pasti menyimpan banyak cerita, yakinku. Tinggal kumuntahkan di atas halaman word. Tak tik tuk suara keyboard mengiringi liuk liuk imajinasiku. Di luar sana awan berarak kompak. Angin berhembus semakin kencang. Tiada lagi cericit burung seperti tadi sore, mungkin sudah pada tidur nyenyak dan bermimpi lokasi baru mana lagi pencarian makanannya. Berganti dengan sahut-sahutan kodok memainkan konser musim hujannya, tidak merdu memang, bahkan bisa membuatku tidak bisa tidur nyenyak karena terganggu suaranya, tapi tak ada yang bisa melarangnya karena jumlannya terlalu banyak dan tentunya menjijikkan. Malam semakin larut, sebisa mungkin kuakhiri menuliskan imajinasiku malam ini. Semoga saja Nurul, anakku yang beranjak remaja itu bisa kuhadiahi cerpen ini di ulang tahunnya besok pagi.