Kamis, 29 Oktober 2020

COVID-19 DAN BDR

Oleh Laila Sariningsih

(Guru IPS MTs N 3 Bandung Barat)


Dampak dan Realitas Sosial

Oktober 2020 ini merupakan bulan ketujuh masa pandemi di Indonesia sejak Maret lalu. Covid-19 atau Coronavirus diseas adalah penyebabnya. Penyakit yang disebabkan oleh virus corona ini sebenarnya mulai merebah di kota Wuhan, Tiongkok akhir 2019 atau tepat pada bulan Desember 2019.  Penyakit ini menyebabkan infeksi saluran nafas pada manusia mulai dari gejala batuk hingga lebih serius seperti Middle East Respiratoryy (MERS) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Kemudian penyakit ini disebut novel coronavirus-2 (N-Cov-2), karena disebabkan oleh virus yang sama dalam jenis baru (novel). N-Cov-2 atau SARS-Cov-2 selanjutnya lebih populer disebut coronavirus diseas (Covid-19)

Covid-19 meski hanya penyakit radang tenggorokan biasa namun memiliki efek yang bisa merenggut nyawa jika tidak segera ditangani dengan telaten dan disiplin, sebab selain tingkat penyebaran atau penularan yang begitu cepat juga merupakan penyakit baru dari virus corona sehingga obatnya belum diketahui. Sehingga cukup menjadikan situasi seolah-olah mencekam dan horor. Antisipasi dan penjagaan diri agar terhindar dari covid tersebut dilakukan dengan cara-cara di luar kebiasaan namun perlu kedisiplinan tingkat tinggi. Misalnya dengan mengurung diri di rumah (stay at home), tidak diperbolehkan beraktifitas di luar, dilarang berinteraksi fisik dengan orang lain, menggunakan masker mulut dan pelindung wajah jika hendak keluar rumah, senantiasa mendisinfeksi diri dengan cuci tangan menggunakan cairan hands sanitizer, menghindari kerumunan, sekolah dari rumah, bekerja dari rumah, ibadah di rumah dan segala bentuk pembatasan lainnya.

Pada awalnya tindakan ini, seperti diam di rumah menjadi solusi, namun sifatnya sementara, sebab jika terus berlanjut menimbulkan permasalahan baru. Permasalahan datang dari dua sisi, permasalahan fisik dan psikis. Justru tinggal di rumah tanpa berinteraksi dengan orang lain apalagi dengan alam sekitar secara fisik imunitas tubuh akan melemah. Kurang pergerakan dan berolahraga, udara alam tidak termanfaatkan secara optimal. Padahal penyakit yang berhubungan dengan saluran pernafasan ini logikanya memerlukan udara baik dan sehat. Secara psikis kegiatan tanpa berkegiatan atau hanya diam di rumah saja mengakibatkan dan memacu tingkat stress, kehilangan ruang refres otak, pikiran, dan mental. Pembatasan sosial ini bukan semakin menguatkan imunitas tetapi bisa jadi bagi sebagian melemahkan jika tanpa edukasi yang benar dan jelas.

Dari sisi ekonomi lebih-lebih. Itulah mengapa banyak orang/masyarakat dituding abai atau membangkang terhadap anjuran dan perintah otoritas. Karena desakan ekonomi, meski pun aturan pemerintah disisipi dengan ancaman. Kebutuhan ekonomi demi kelangsungan hidup tidak bisa seratus persen dijamin pemerintah, apalagi kenyataan di lapangan bantuan pemerintah berupa bansos dan BLT tidak merata.

Mereka lebih memilih disebut tidak menaati aturan ketimbang diam di rumah logistik menipis, bantuan hanya sebatas angan lalu sakit dan mati lemas.

Dari sekian dampak dan paparan covid ini yang paling dikorbankan adalah dunia pendidikan. Sekolah di rumah atau istilahnya BDR (Belajar Dari Rumah), pembelajaran daring (dalam jaringan) mungkin sebuah solusi alternatif demi kesinambungan dan keberlangsungan Pendidikan agar tujuan mencerdaskan bangsa seperti amanat UUD 1945 dan tujuan UU Sisdiknas tetap tercapai. Hanya kemudian pada prakteknya tidak seideal harapan dan langkah-langkah strategi awal. Sebab pola Pendidikan semacam ini tentu saja memerlukan piranti teknologi modern, setidaknya tersedianya prasarana jaringan internet dengan sarana komputer (desktop dan laptop) atau smartphone. 

Ini pun tidak cukup, kemampuan ekonomi masyarakat sebagai sasaran pendidikan pun menjadi ukuran atau indikator mutlak, selain tingkat kemampuan mengoperasikannya. Banyak masyarakat yang tidak mampu membeli perangkat smartphone sebab keuangan mereka yang terbatas untuk kebutuhan hidup primer saja. Jangan-jangan demi sebuah konsep modernitas dan teknologi ternyata masyarakatnya masih gagap teknologi dan mengakibatkan tingkat stress meninggi. Anak harus sekolah dan “wajib” memiliki smartphone tetapi kebutuhan hidup lebih mendesak. Maka bukan sebuah fenomena aneh jika ada letupan social yang mengarah pada tindakan kriminal. 

Dan hal penting lainnya dalam proses dan keberlangsungan pembelajaran BDR atau daring sisi penentu lainnya adalah geografis. Perkampungan, pegunungan, pelosok, sudahkan tersentuh jaringan internet? Jika tidak atau belum, daring bukan lagi sebuah solusi tetapi menjadi problematika baru, sebab pendidikan tetap akan timpang dan sangat senjang. Para pemenangnya adalah masyarakat yang tinggal di perkotaan dan daerah yang sudah terdapat jaringan internet, masyarakat yang memiliki strata ekonomi menengah ke atas dan kaum pemilik modal. Masyarakat kampung akan kian jauh tertinggal, terbelakang dan kualitas hidupnya tidak terangkat.

Bisa saja masyarakat bawah membeli perangkatnya berupa smartphone tetapi data atau kuota serta pulsa tidak terbeli. Atau terbil keduanya (smartphone dan kuota) namun jaringan tiada. Jaringan tersedia tetapi harus menempuh perjalanan jauh ke puncak bukit atau gunung misalnya. Jadi idealism Pendidikan daring dengan memberikan pelayanan kemudahan bisa di mana saja dan kapan saja ternyata tidak seideal strategi awal, meski kemudian akhir-akhir ini ada program kuota internet pendidikan gratis dari pemerintah. Sebab realitas di lapangan tidak bisa dibantah dan direkayasa. Kecuali dengan rekayasa pembangunan dengan penyediaan fasilitas.


Solusi

Maka seyogyanya Pendidikan jarak jauh atau BDR ini tidak dibuat secara generalisasi. Satgas covid bisa membantu, menentukan dan memfasilitasi selain mengedukasi agar sekolah-sekolah di daerah hijau (green zone) yang nol kasus positif dan nir penderita terutama di perkampungan dan pelosok diperkenankan belajar tatap muka. Tentu saja dengan mematuhi prosedur dan protokol kesehatan yang disepakati dan ditetapkan. Sebab sekolah-sekolah di kampung mayoritas bahkan serratus persen peserta didik dan tenaga pendidik serta tenaga kependidikannya adalah masyarakat sekitar yang jarang terjadi kontak dengan penduduk asing. Agar mereka mampu dan kembali ke sekolah, agar pendidkan tidak timpang dan senjang meski mereka tak memiliki perangkat teknologi, sehingga tujuan pendidikan dan pemerataannya tetap tercapai dan terealsasikan, sekalipun dalam keadaan terbatas dan suasana pandemi seperti ini.


Kesimpulan

Bahwa setiap penyakit harus dihindari dengan upaya dan protokol kesehatan tertentu adalah keniscayaan dan keharusan, termasuk covid-19 ini. Hal tersebut agar masyarakat tetap sehat, kuat dan memiliki kekuatan imunitas lahir dan batin. Kesehatan tidak sekadar mengukur imun tetapi mampu menakar iman dan menjamin rasa aman. Namun demikian edukasi elegan, jelas, tegas dan terarah menjadi langkah strategi penting agar masyarakat tidak merasa horor dan terintimidasi sehingga berakibat paranoid terhadap. Masyarakat mampu mempertahankan keseimbangan hidupnya tentu dengan jaminan dan fasilitas beraktivitas dan berkreatifitas tanpa ada ketakutan. Tentu saja termasuk beraktivitas dalam pendidikan. Sekolah tatap muka di daerah hijau penjadi sebuah kebutuhan, sebab pendidikan jarak jauh tidaklah sesempurna imajinasi. Kontak guru dengan siswa dan wiyata mandalanya menjadi marwah dalam mentransfer, mentransformasikan damn mengintegrasikan nilai-nilai luhur pengajaran dan pendidkan.


Semoga bermanfaat.