Sabtu, 31 Oktober 2020

Covid-19 dan Kebebasan Anak dalam Belajar

 Amiruddin, S.Pd. 

Guru IPS SMP Negeri 23 Simbang Kabupaten Maros. Sulawesi Selatan

Banyak dampak yang diakibatkan oleh pandemic covid-19, bahkan hampir dalam segala sendi kehidupan sangat dirasakan oleh masyarakat. Dalam tulisan saya ini saya akan menulis dari sisi sebagai orang tua dan guru dampak covid-19 terhadap anak, utamanya kebebasan anak. Semenjak bulan Maret 2020, atau tepatnya 18 Maret 2020 ketika pemerintah menetapkan pembelajaran dilakukan dirumah dan dilakukan secara daring, maka pada saat itu telah terjadi perubahan yang sangat besar yang dirasakan oleh anak anak utamanya yang usia sekolah, mulai dari tingkat PAUD/TK sampai Perguruan Tinggi.  

Pemerintah telah memutuskan bahwa mulai tanggal 18 Maret 2020 sampai 14(empat belas) hari kedepan pembelajaran dilakukan secara jarak jauh atau belajarnya dari rumah. Diawal anak anak sorak kegirangan, “horee kita libur,” ucap mereka. Mereka menganggap bahwa belajar di rumah itu libur. Pembelajaran Jarak Jauh ( PJJ) mulai berjalan, merekan menerima tugas dari sekolah kemudian menyetorkan tugas tersebut ke guru mereka. Satu dua hari berjalan secara normal, bagi anak –anak yang memiliki fasilitas HP android. Masalah baru timbul bagi siswa yang tidak memiliki atau orang tuanya tidak memiliki HP android.  Kendala mulai bermunculan. Guru sebenarnya belum siap menghadapi situasi ini, mereka belum siap baik secara teknis maupun persiapan model pembelajaran yang cocok terhadap pembelajaran jarak jauh. Dalam pikiran guru sebagian bahwa pembelajaran jarak jauh itu adalah pembelajaran online, sehingga semua dilakukan secara online tanpa mempertimbangkan bagaimana kondisi siswa yang tidak memiliki HP android.

Anak – anak yang selama ini aktif mengikuti kegiatan pembelajaran tatap muka, namun karena kondisi orang tuanya yang tidak memiliki HP android mulai ketinggalan dalam hal tugas. Ada beberapa siswa yang cukup berprestasi di sekolah mengalami kendala ini, mereka dalam pembelajaran online hilang. Kendalanya adalah HP. Hal ini harus menjadi perhatian dari guru dan sekolah agar hak anak tetap mereka dapatkan dalam pembelajaran dengan menerima pengetahuan yang seharusnya diperoleh dari bangku sekolah. Disisi lain dengan penutupan sekolah dan pembelajaran jarak jauh memperburuk kesenjangan akses pendidikan. Utamanya siswa miskin mereka sangat terdampak disatu sisi mereka ingin belajar tapi disisi lain mereka tidak memiliki HP Android untuk belajar seperti teman-temannya. Lamanya waktu belajar dari rumah sekarang ini sudah 10 bulan tentu bukan hal yang menyenangkan bagi anak. Bagi siswa sia mereka adalah usia yang masa masa mereka untuk bersosialisasi dengan teman – temannya. Namun karena adanya aturan mereka tidak boleh keluar rumah, tidak boleh berkelompok sehingga ada waktu atau masa mereka yang hilang. 

Saya berfikir jika situasi ini terus berlanjut maka akan banyak efek yang akan dialami oleh anak anak Indonesia. Dari segi kecerdasan dan karakter mereka akan sangat terdampak, sebab dengan belajar dari rumah maka pengambil alihan beban membimbing dikembalikan kepada orang tua mereka. Jika orang tua yang paham akan pendidikan dan pentingnya pendidikan bagus, namun bagaimana dengan orang tua yang sibuk bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka dan tidak bisa mendampingi pembelajaran anak – anaknya, sungguh akan terasa bagi anak anak tersebut, pembelajaran dari rumah itu berat. Ini akan membuat beban psikologis tersendiri bagi anak. Tugas yang diberikan oleh bapak ibu guru dari sekolah dengan sekian mata pelajaran tentu butuh bimbingan dan arahan dari orang tua, utamanya anak anak yang masih di pendidikan dasar. 

Pandemic Covid – 19 , telah merubah tatanan di dunia pendidikan yang selama ini telah berlangsung. Anak – anak telah melewati dan menyelesaikan pendidikannya dengan begitu saja, bagi yang di kelas akhir. Tahun ini ada sejarah baru mereka lulus tanpa ujian. Bagi mereka ada sesuatu yang hambar walaupun mereka gembira dapat lulus tapi ada hal – hal yang tidak dapat mereka lakukan, seperti bertemu dengan teman  teman mereka dan merayakan kelulusan mereka, bahkan sampai penamatan dan penerimaan ijasah yang biasanya pihak sekolah rayakan semuanya dihentikan. Istilah mereka “alumni corona”. 

Saat ini kerinduan anak anak untuk sekolah sudah memuncak, mereka sudah mulai bosan dengan kondisi seperti ini. Mereka sudah rindu dengan sekolah mereka, guru dan teman – teman, serta suasana belajar di sekolah. Namun sampai saat ini hal itu masih dibatasi khusus bagi daerah yang dianggap aman. Berbagai curhatan mereka muncul, kapan kita sekolah?. Kami mau belajar seperti biasa, belajar dari rumah tidak enak, tidak ada teman. Dari curhatan mereka ada kesan bahwa mereka lebih senang belajar secara tatap muka di sekolah. Anak anak mari kita berdoa bersama semoga wabah ini segera berlalu. Dan kita upayakan disetiap kegiatan kita tetap mematuhi protokol kesehatan  dengan memakai masker jika keluar rumah, rajin mencuci tangan dengan menggunakan sabun dan air mengalir dan tetap menjaga jarak.

Melalui tulisan ini saya dapat menyimpulkan bahwa pembelajaran jarak jauh yang berlangsung sekarang hanyalah sebuah alternatif , semoga di segerakan pembelajaran tatap muka seperti biasa. Sehingga anak anak tetap merasakan kebahagiaan dan senang dalam belajar dan kita bisa belajar normal seperti biasa.