Jumat, 30 Oktober 2020

Dilema di Masa Pandemi Corona

 

Oleh : Nursyamsi, S.Pd.

SMPN 4 Pare-pare Sulsel


Siapa yang pernah membayangkan jika saat ini akan dilakukan pembelajaran dengan jarak jauh. Belajar dari rumah tanpa harus bertemu dan bertatap muka secara langsung dengan peserta didik kita. Saya pun sama sekali tidak pernah terbersit ataupun terlintas dalam benak akan melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan gaway dalam waktu yang cukup lama. 

Sebagai guru di era milenial, saya adalah sosok guru yang sangat jarang menggunakan gawai untuk kegiatan pembelajaran di kelas, bukan karena saya tidak mau ataupun keterbatasan pengetahuan saya mengenai penggunaan aplikasi yang bisa mendukung pembelajaran di kelas. Karena saya tahu keterbatasan siswaku, mereka sebagian besar berasal dari masyarakat ekonomi menengah ke bawah. Jangankan untuk memakai ponsel pintar, ponsel yang standar untuk telepon dan mengirim pesan SMS pun mereka tidak punya. Bahkan mereka kerap jalan kaki ke sekolah, karena tidak memiliki uang untuk sewa mobil angkot.

Akhir 2019, kabar dari Wuhan, China, tentang Corona ramai diperbincangkan, dan kami pun beranggapan bahwa virus tersebut tidak akan sampai ke Indonesia, apalagi di kota kecil ini. Sekarang, Covid-19 bukanlah nama yang asing di telinga kita. Jangankan orang sepuh, anak kecil pun kenal siapa dia. Si kecil yang membuat dunia ini gempar, sehingga kehidupan manusia pun menjadi berubah drastis. Yang tadinya kita memiliki banyak kegiatan di luar rumah, tiba-tiba harus terkungkung dalam rumah dengan tetap melakukan aktivitas seadanya. Demi terhindar dari serangan virus mematikan itu. 

Meskipun banyak orang yang tidak percaya dengan adanya virus Corona dan masih melakukan aktivitas seperti biasanya, namun pemerintah semakin gencar memberlakukan kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) terutama bagi wilayah yang dianggap zona merah.

Pada 16 Maret 2020, Pemerintah mengumumkan kebijakannya, melalui surat edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 4 tahun 2020 tentang pelaksanaan kebijakan pendidikan dalam masa darurat penyebaran corona virus disease (Covid-19). Kegiatan belajar mengajar di alihkan ke moda daring (dalam jaringan/ online). Ini menjadi sebuah berita yang mengejutkan bagi beberapa guru maupun siswa yang belum siap untuk melaksanakan pembelajaran daring. Walau begitu,  apa mau dikata. Ini adalah kondisi darurat. Mau tidak mau, suka tidak suka, mampu tidak mampu, kita harus menjalani kehidupan baru. Pagar sekolah terkunci rapat, sekolah menjadi sunyi, jalanan pun lengang. Pembelajaran tetap harus berjalan meskipun tanpa tatap muka dan diganti dengan pembelajaran jarak jauh. Guru dan siswa melakukan kegiatan pembelajaran dari rumah. Pembelajaran dilakukan dengan memanfaatkan teknologi. 

Aplikasi Whatsapp menjadi salah satu alternatif pertama yang ditempuh saat itu. Guru menginformasikan ke siswa untuk membuat grup whatsapp sebagai media informasi. Selain itu, beberapa organisasi guru cepat bergerak dengan melakukan pelatihan-pelatihan online untuk meningkatkan kompetensi guru dalam menggunakan beberapa aplikasi yang dianggap bisa membantu dalam proses pembelajaran jarak jauh. Aplikasi zoom termasuk salah satu aplikasi yang banyak dipakai dengan harapan siswa bisa bertatap muka dengan guru dan teman-temannya meskipun secara virtual.

Ternyata penggunaan aplikasi Whatsapp, zoom, google meet, google classroom dan lain-lain tidak selancar yang diharapkan. Beberapa siswa mengeluh tidak bisa mengikuti pemlajaran karena beberapa alasan diantaranya siswa tidak memiliki perangkat HP, ada yang punya HP tapi harus berbagi dengan saudaranya dan ada pula yang harus meminjam HP orang tuanya, sementara orang tua mereka bekerja di pagi hingga sore hari, sehingga mereka tidak bisa mengikuti pembelajaran dengan maksimal. Belum lagi siswa yang mengeluh tentang jaringan internet yang tidak ada di sekitar lingkungan mereka. Mereka yang tinggal di pinggiran kota, kesulitan untuk mendapatkan akses internet.

Agar pembelajaran tetap berjalan, guru berinisiatif mencarikan solusi bagi siswa yang tidak memiliki gaway ataupun yang kesulitan mendapatkan sinyal internet. Siswa diberikan kesempatan untuk datang ke rumah gurunya bertatap muka secara langsung dengan secara kelompok kecil. Tetapi rupanya hal ini pun menjadi tidak efektif karena dianggap masih rentang penyebaran virus corona.

Selanjutnya pemerintah memberi solusi belajar melalui media televisi di stasiun TVRI maupun televisi lokal daerah, namun masalah kemudian muncul kembali, Interaksi yang terjadi hanya satu arah sehingga siswa tidak bisa berdiskusi dengan guru. Pemerintah pun kemudian memberikan bantuan kuota internet untuk siswa dan guru demi kelancaran proses pembelajaran daring, namun lagi-lagi masih menemui kendala yaitu terletak pada siswa yang tidak mempunyai perangkat HP. 

Pelatihan yang telah diikuti oleh guru, kuota internet yang diberikan pemerintah terasa sia-sia karena siswa tidak mampu menggunakan aplikasi tersebut. sebagai guru, saya lebih cenderung mengajar bertatap muka dari pada secara daring karena melalui pembelajaran daring pendidikan karakter akan sulit tercipta jika dibandingkan dengan pembelajaran secara tatap muka.

Kehadiran covid-19 di sisi lain sebenarnya memiliki dampak positif, karena sebelum adanya covid-19 banyak guru ataupun siswa yang masa bodoh dengan perkembangan tekhnologi. Namun, sejak kebijakan belajar dari rumah diterapkan oleh pemerintah, maka guru dan siswapun berlomba-lomba meningkatkan kopetensi dan pengetahuan mereka menggunakan beberapa aplikasi pembelajaran, meskipun dampak negatif covid-19 pun tidak bisa kita pungkiri adanya.

Menurut saya, pembelajaran secara daring atau online ini tidak efektif, terutama bagi siswa yang berada di wilayah pinggiran kota tidak bisa diterapkan. Kebanyakan guru hanya memberikan tugas kepada siswa tanpa adanya timbal balik atau diskusi mengenai materi antara siswa dengan gurunya. 

Meskipun hadirnya covid-19 memberi dampak negatif dan positif bagi kalangan guru dan siswa, namun harapan kita, semoga pandemi ini segera berakhir. Dan sekolah segera dibuka kembali, sehingga guru dan siswa dapat belajar dengan tatap muka tanpa mengabaikan perkembangan tekhnologi dan informasi.