Sabtu, 31 Oktober 2020

DUNIAKU DIBALIK TIRAI PANDEMI - 19

 

Oleh

EFRIZAL


Bersumber dari beberapa informasi yang diperoleh wabah Pandemi sudah pernah terjadi beberapa kali melanda dunia dengan berbagai nama pandeminya, namun fenomena kali ini cukup mengetarkan hampir seluruh sendi kehidupan penghuni bumi ini. 


Pandemi 19 merupakan epidemi atau wabah yang terjadi dengan  skala besar menjadi momok menakutkan dan telah banyak memakan korban hampir seluruh negara didunia, tidak luput juga terhadap negara kita Indonesia. 



Efrizal, guru IPS SMPN 1 VII Koto Sungai Sarik, Kab.Padang Pariaman, Sumatera Barat. Kelahiran Pekan Baru, 16 Agustus 1968. Alumni SMA. Negeri 1 Sungai Penuh. Kerinci dan  Pendidikan Dunia Usaha  FKIP Universitas Jambi. Aktif pada MGMP IPS SMP Kabupaten Padang Pariaman dan  MGMP IPS SMP Provinsi Sumatera Barat. 


Pandemi COVID-19 atau dikenal sebagai coronavirus disease 2019 yang dinyatakan oleh WHO sebagai nama resminya, pertama kalinya wabah ini melanda kota Wuhan sebuah kota dalam wilayah Tiongkok Cina pada akhir bulan Desember 2019. 


Begitu cepatnya  penyebaran virus corona ini keberbagai negara didunia dan bahkan ke negara Indonesia sudah dirasakan pada awal bulan Maret 2020. Virus ini bagaikan musuh tak berwujud dan siap menerkam mangsanya tanpa pandang bulu dan tanpa belas kasihan.


Momok yang sangat menakutkan membuat porak porandanya tatanan diberbagai segi kehidupan masyarakat dan bahkan dari segi interaksi sosialnya untuk  menghindari atau memutuskan mata rantai penyebaran virus didunia ini bagaikan penjara tak berterali. Kehidupan ekonomi menjadi lumpuh, tatanan sosial budaya masyarakat menjadi terganggu, begitu juga terhadap dunia pendidikan. 


Sangat terasa sekali perubahan sosial budaya dalam interaksi sosial dinegara kita dengan tujuan mengatasi penyebaran virus corona 19 ini, mau tidak mau tindakan yang harus dilakukan ada yang berseberangan dengan kebudayaan yang telah mengakar sejak dari nenek moyang kita sampai sekarang yang  dikenal memiliki budaya gotong royong dan santun.

Mengantisipasi penyebaran wabah corona dinegara kita, biasanya masyarakat suka berkumpul, bersalaman dengan berjabat tangan, kondisi sekarang ini masyarakat diminta tidak berkumpul atau berintekrasi terlalu banyak, selalu menjaga jarak dan bersalaman tidak perlu dengan jabatan tangan serta selalu memakai masker ( penutup mulut ).


Begitu juga imbasnya terhadap dunia pendidikan, proses pendidikan biasanya dilakukan dengan berintegrasi langsung peserta didik dengan pendidik, sekarang Proses belajar mengajar dilakukan dengan pembelajaran jarak jauh, baik secara Daring, Luring atau gabungan kedua nya. 


Berdasarkan judul di atas yang dimaksud dengan Duniaku dibalik Tirai Pandemi- 19, untuk mengajak kita semua melihat sisi lain dampak positif dari musibah Pandemi covid- 19 terhadap dunia pendidikan yang terjadi sekarang ini, terutama  terhadap pendidikan dasar. 

Tidak dapat dipungkiri sebelum terjadinya musibah Covid-19 ini, masih banyak anggapan orang tua bahwa tanggung jawab pendidikan sepenuhnya diserahkan pada guru di sekolah. Ada beberapa orang tua kurang dan bahkan tidak memperhatikan cara belajar anak dirumah, guru selalu menjadi sararan kesalahan bertanggung jawab terhadap pendidikan anaknya. 

Namun semenjak wabah ini melanda negara kita sudah banyak orang tua menyadari beban tanggung jawab yang dipikul guru dalam membina dan mendidik anak – anak mereka, sehingga kondisi sekarang ini lebih menunjukan rasa tanggung jawab dan kebersamaan orang tua dengan guru terhadap pendidikan anak dirumah.

Proses pembelajaran semasa kondisi normal dengan kata lain sebelum wabah corona 19 melanda negara kita. Masih banyak anak didik beranggapan bahwa proses belajar mengajar hanya terjadi dan dilakukan di sekolah dengan bimbingan guru, tanpa guru tidak akan terjadi proses pembelajaran. Dampak positif wabah ini telah memberikan kesadaran pada anak didik serta mengenal, menumbuh kembangkan bahwa proses pembelajaran ternyata perlu juga dilaksanakan secara mandiri.

Saat kondisi normal ada aturan sekolah pendidikan dasar dibeberapa daerah melarang anak didik memiliki dan membawa Handphone Android ke sekolah, bahkan aturan ini ditetapkan dengan kebijakan pemerintah daerah setempat. Menghadapi kondisi Pandemi saat ini suasana menjadi terbalik, seakan – akan setiap anak didik sudah harus memiliki HP Android untuk menunjang kegiatan pembelajarannya.

Dampak positif dari masa pandemi ini terhadap anak didik dengan memiliki HP Android pertama sekali mengajar anak menjadi melek dengan alat Informasi dan Telekomunikasi ( IT ), anak bisa mengenal berbagai aplikasi yang bisa dimanfaatkan untuk belajar, sumber belajar anak lebih terkombinasi, pengalaman belajar anak lebih bervariasi karena IT lebih membuka cakrawala pengetahuan yang sangat luas, informasi yang diperoleh lebih komplek dari pada buku – buku yang tersedia diperpustakaan sekolah.

Namun yang harus menjadi perhatian, tuntunan dan pengawasan ekstra ketat orang tua terhadap kegiatan anak dengan IT ini agar jangan sampai  penyalah gunaan Hp tersebut kearah yang negatif. Aplikasi yang terdapat pada IT memiliki pengaruh yang sangat kuat sekali dalam pembentukan sikap, mental, watak bahkan tingkah laku dan kesehatan anak.

Orang Tua maupun guru perlu menanamkan dalam diri anak didik  sejauhmana wewenang yang boleh dilakukan dengan memakai IT ini, baik terhadap aplikasi yang digunakan  serta pengaturan waktu pengunaannya dibawah pengawasan orang tua.

Pada bulan – bulan awal masa pandemi-19, ada masyarakat beranggapan seperti sekarang ini jadi guru senang tidak mengajar tapi tetap menerima gaji, karena diberlakukannya Lockdown. Pernyataan seperti ini bentuk nyata dari hasil pemikiran yang terlalu dangkal dalam mendeskripsikan profesi guru tanpa melihat atau mengetahui secara terinci dari kegiatan para guru tersebut.

Siapapun pasti sepakat bahwa pendidikan memiliki ranah Afektif, ranah Kognitif dan ranah Psykomotor dengan penerapan pembelajaran terbaiknya melakukan interaksi dua arah langsung antara pendidik dengan anak didik pada waktu dan tempat yang sama, hal ini sudah dilakukan guru sebelum diberlakukannya masa Lockdown.

Pada masa Pandemi ini proses pembelajaran dituntut dengan pelaksanaan pembelajaran jarak jauh. Kejadian ini baru yang pertama terjadi semenjak Indonesia merdeka sudah sangat jelas tujuan pendidikan tidak akan tercapai sebagaimana mestinya, namun kondisi ini memicu guru untuk lebih kreatif melakukan bebagai cara dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik, agar proses pembelajaran terlaksana dengan baik.

Walaupun guru dirumah, namun bukan berarti guru tidak memberikan pembelajaran pada anak didik, bahkan guru menyediakan waktunya melebihi dari waktu yang tersedia disekolah terhadap proses pembelajaran anak didik.

Manakah yang banyak guru melek IT sebelum terjadinya pandemi atau selama terjadinya pandemi?. Jawaban yang pasti benar, logis dan rasional adalah guru banyak yang melek IT  selama terjadinya pandemi. Sebelumnya masih banyak guru – guru kurang atau tidak membiasakan dirinya terhadap penggunaan IT dalam pelaksanaan proses pembelajarannya disekolah.

Berdasarkan Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Corona Virus Disease (COVID-19). Proses pembelajaran dapat dilaksanakan dengan Dalam Jaringan ( DARING ), Luar Jaringan ( LURING ) dan secara gabungan ( BLENDED ), sehingga dengan kondisi demikian memicu guru walau boleh dikatakan awalnya ada beberapa guru untuk harus melek IT terkesan secara terpaksa oleh keadaan, namun akhirnya sudah menjadi kebutuhan dalam menjalankan profesi.

Berbagai jenis aplikasi yang membantu pelaksanaan proses pembelajaran jarak jauh sudah banyak dikenal, diketahui dan di kuasai oleh para guru, seperti Google Classroom, Google meet, zoom, webex, Kine mater, Bandicam dan sebagainya.

Sebelumnya aplikasi – aplikasi ini dianggap belum dibutuhkan, sehingga untuk mengetahui dan mempergunakannya kurang diminati, bahkan lebih jauh lagi IT sudah merupakan bagian literasi yang sangat dibutuhkan untuk pengayaan materi pembelajaran yang akan di transferkan pada anak didik. 

Kondisi Pandemi ini juga sangat membawa berkah bagi guru untuk mengembangkan diri mengikuti berbagai kegiatan yang menunjang profesinya sebagai tenaga pendidik, seperti mengikuti Diklat, Bintek maupun Webinar. Sebelum terjadinya kondisi seperti sekarang ini tidak semua guru mendapatkan kesempatan, bahkan mungkin ada yang belum pernah sekalipun mengikutinya. Hal ini mungkin saja dikarenakan keterbatasan jumlah peserta yang di utus oleh pimpinan maupun dinas terkait.

Peluang ini sangat dimanfaatkan para guru untuk menambah wawasan, bertambahnya sahabat seprofesi dari berbagai daerah di Indonesia serta bukti keikutsertaannya disetiap kegiatan dapat dijadikan sebagai syarat untuk kenaikan pangkat golongan berikutnya.

Tidak selamanya kondisi Pandemi menjadi momok yang menakutkan dan menghalangi aktifitas dunia pendidikan kalau kita semua dapat menyiingkapinya dengan berbagai kiat  serta aktifitas yang bermanfaat untuk pribadi kita sendiri, maupun untuk orang banyak.