Sabtu, 31 Oktober 2020

GURU IPS DIMASA PANDEMI

 Oleh: Rosyidah, S. Pd.

SMP Negeri 2 Pangkalpinang


Corona Virus Disease yang muncul pada tahun 2019 atau yang lebih dikenal dengan singkatan COVID-19 mengakibatkan perubahan besar dalam bidang kehidupan. Pemberlakuan lockdown oleh pemerintah semakin membuat masyarakat merasa dilema akan ketakutan penularan dan pemenuhan kebutuhan hidup. Pemberlakuan Work From Home (WFH) atau masa dirumahkan bagi pegawai, baik pegawai aparatur sipil negara (ASN) maupun pegawai non-aparatur sipil negara (Non-ASN) yang ditujukan untuk memutus rantai penyebarannya membelenggu untuk tidak keluar rumah akibat adanya beban takut tertular.

Virus yang pertama kali ditemukan di Wuhan, Cina  ini begitu saja memporak-porandakan segala bidang kehidupan, termasuk bidang pendidikan. Virus ini mengakibatkan proses pembelajaran di sekolah menjadi terhenti akibat pemberlakuan WFH  yang mengharuskan guru dan siswa dirumahkan. Secara otomatis, interaksi tatap muka antara guru dan siswa dalam proses pembelajaran tidak terjadi karena guru dan siswa terpisah.

Hidup harus terus berjalan! Rasa takut harus dikalahkan! Ternyata, ketakutan yang dirasakan bertolak belakang dengan keadaan di luar. Kenyataan kehidupan di sekitar tetap berjalan normal, dimana orang-orang tetap berkutat dengan kegiatannya masing-masing, seolah aturan pemerintah tidak berlaku bagi masyarakat awam yang lebih mementingkan pemenuhan kebutuhan, terbukti dengan penampakan pasar dan fasilitas-fasilitas umum yang tetap ramai oleh masyarakat.

Pemberlakuan New Normal oleh pemerintah menjadikan pegawai ASN termasuk guru kembali ke sekolah untuk melakukan pembimbingan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Sesuai  Surat  Edaran MENDIKBUD  Nomor 3 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat serta Surat Edaran KEMENDIKBUD Nomor 15 mengenai Paduan Pebelajaran Jarak Jauh, kegiatan pembelajaran dilaksanakan melalui dua metode, yakni metode daring dan metode luring. Pembelajaran daring atau online dilakukan menggunakan beberapa portal dan aplikasi pembelajaran seperti Google Classroom, Whatsapp, dan Zoomeeting. Pembelajaran luring atau offline dilakukan dengan menggunakan sarana belajar seperti televisi, radio, dan modul belajar mandiri termasuk media belajar dari benda di lingkungan sekitar.

Selanjutnya, metode pembelajaran lain yang digunakan yaitu Learning, Practice, and Test (LPT). Pada metode pembelajaran ini, siswa terlebih dahulu diberikan materi, dilanjutkan dengan berlatih soal, kemudian mengikuti tes. Output dari metode pembelajaran ini adalah siswa akan mendapatkan nilai, dan nilai tersebut akan dicantumkan di dalam rapor layaknya sistem sekolah luring.

Masalah mulai terasa ketika kebanyakan siswa belajar menggunakan gawai yang terkoneksi dengan internet akibat guru melakukan pembelajaran secara daring. Keluhan mulai bermunculan dari siswa dan orang tuanya, dimana siswa terutama yang berada di kelas tujuh belum begitu mengenal aplikasi pembelajaran seperti Google Classroom dan Google Drive, orang tua siswa yang masih awam akan kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi, masalah kuota internet yang memberatkan masyarakat ekonomi kelas menengah kebawah, hingga siswa yang dilanda kebosanan tinggal di rumah tanpa bisa bersosialisasi dan beraktivitas dengan teman sebayanya.

Selain hal-hal di atas, PJJ membawa dampak negatif lain bagi siswa, yakni:

  1. Ancaman putus sekolah, karena siswa diharuskan membantu orang tua memenuhi kebutuhan rumah tangga.

  2. Learning Loss (kehilangan pembelajaran), karena siswa tidak mendapat bimbingan langsung dari guru.

  3. Siswa berpotensi menjadi korban kekerasan rumah tangga.

  4. Siswa kurang bersosialisasi.

Sementara itu, dampak positif dari PJJ adalah siswa mau tidak mau harus mengeksplorasi teknologi, sehingga siswa akan lebih peka lalu beradaptasi dengan perubahan.

Bagaimana dengan para pendidik, dimana tidak semua guru memiliki kompetensi  dalam menguasai Informasi Teknologi? Bukan rahasia lagi dimana pendidik yang berada jauh di bawah era milenium sangat kurang berkemampuan di bidang IT (komputer dan alpikasi), termasuk penulis sendiri. PJJ menjadi tantangan baru bagi kaum pendidik, dimana kemampuan untuk menjalankan aplikasi-aplikasi pada pembelajaran daring sangat dibutuhkan.

Sebagai guru yang mengampu pelajaran ilmu pengetahuan sosial (IPS), ada bebepapa materi yang mengharuskan guru melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan alat peraga seperti peta dan globe. Pembelajaran jarak jauh merupakan suatu tantangan terkait bagaimana guru IPS mampu membuat aplikasi pembelajaran berupa peta agar dapat menarik minat siswanya sehingga dapat dengan mudah dimemahami materi. Mau tidak mau guru yang selama ini menganggap komputer sebagai sesuatu yang tidak begitu dibutuhkan, mulai berusaha mengoperasikannya dan mencoba berbagai aplikasi yang dimilikinya.

Hal ini sangat dirasakan oleh Penulis sendiri. Masa PJJ banyak membuat Penulis berpikir seperti yang disampaikan oleh Bapak Enang Cuhendi, S. Pd MM. Pd. dalam Pelatihan Menulis Guru IPS pada 28 Oktober 2020, bahwa setidaknya ada jejak yang ditinggalkan oleh seorang guru pada saat dia telah tiada. Pembelajaran daring terasa tidak lagi memberatkan karena perlahan tapi pasti aplikasi-aplikasi pembelajaran daring sudah mulai dikuasai Penulis. Selama hampir enam bulan PJJ di tempat Penulis bertugas sudah berlangsung pembelajaran daring dan luring ditambah metode LPT. Penulis bahkan sudah berusaha membuat jejak peninggalan ilmu walaupun belum sempurna, karena sempurna hanya dimiliki oleh Allah SWT. Setidaknya penulis sudah berusaha dengan cara membuat vlog dan video pembelajaran di Youtube dengan nama CIKGU IPS (https://www.youtube.com/c/CIKGU).

Selain dampak negatif yang ditimbulkan oleh musibah pandemi yang tengah melanda negeri kita ini, Penulis patut bersyukur karena masih ada secuil dampak positif yang dirasakan oleh Penulis, dimana WFH yang diberlakukan memberikan waktu luang bagi Penulis untuk berkreasi dalam membuat media pembelajaran metode daring.

Kesimpulan yang didapat Penulis adalah setiap musibah pasti memiliki hikmah di baliknya. Maka, Penulis berharap kepada sesama guru untuk tetap semangat mengeksplorasi diri, karena kita mungkin saja akan menemukan kompetensi lain dari diri kita saat usia kita sudah tidak muda lagi. Kita  tidak akan pernah tahu apabila kita belum mencobanya, semoga dengan meningkatnya kompetensi guru dapat melahirkan generasi yang berkualitas.