Sabtu, 31 Oktober 2020

GURU IPS VERSUS CORONA

Oleh Wiwin Wintarsih, S.Pd. M.M.

Guru SMPN 2 Tanjungsiang

Kabupaten Subang


Virus Corona (Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2; SARS-CoV-2) menggemparkan seluruh dunia. Kegemparan melanda seluruh sektor kehidupan manusia. Virus ini menimbulkan penyakit yang disebut Covid-19 (Coronavirus Disease 2019).   Pandemik Covid-19 mengubah kehidupan masyarakat Indonesia. Pemerintah menerapkan berbagai kebijakan dalam masa tanggap darurat akibat virus ini. Semua kebijakan pemerintah bertujuan memutus daur penyebaran Covid-19. Kebijakan pembatasan interaksi sosial berpengaruh terhadap proses pembelajaran.  Kebijakan social distancing dan physical distancing menyebabkan guru dan siswa harus tetap tinggal di rumah. Sekolah-sekolah diliburkan. Fakta di lapangan meskipun sekolah diliburkan, pembelajaran tetap harus diselenggarakan. Guru dan siswa dituntut untuk menyelenggarakan pembelajaran jarak jauh. “Apakah pembelajaran jarak jauh?”

Pembelajaran jarak jauh adalah sekumpulan metode pengajaran dimana aktivitas pengajaran dilaksanakan secara terpisah dari aktivitas belajar (Hamzah, 2007:34). Pemisah kedua kegiatan tersebut dapat berupa jarak fisik, misalnya karena siswa bertempat tinggal jauh dari sekolah. Dapat pula pemisah itu berupa nonfisik, misalnya karena keadaan memaksa siswa meskipun dekat dengan sekolah tetapi tidak boleh datang ke sekolah. Seperti saat ini, pembelajaran jarak jauh diselenggaraan disebabkan oleh faktor nonfisik, yakni karena keadaan. “Bagaimana guru IPS menyelenggarakan pembelajaran jarak jauh?”

Pembelajaran jarak jauh untuk mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di SMP Negeri 2 Tanjungsiang Kabupaten Subang, dilaksanakan menyesuaikan dengan situasi dan kondisi. Fakta di lapangan tidak semua siswa memiliki gawai atau akses internet. Solusi untuk permasalahan tersebut yaitu pembelajaran dilaksanakan secara daring dan luring.

Pembelajaran luring diterapkan kepada siswa yang tidak memiliki gawai atau akses internet. Penerapan pembelajaran dilakukan dengan cara meminta bantuan kepada siswa lain yang tempat tinggal mereka berdekatan. Siswa yang memiliki gawai memberitahukan materi pembelajaran atau pun tugas kepada siswa yang tidak memiliki gawai atau akses internet. Cara mengumpulkan tugas pun sama, ada dua pilihan. Pertama, siswa yang tidak mempunyai gawai menitipkan tugasnya untuk dikumpulkan melalui gawai temannya. Kedua, siswa yang tidak mempunyai gawai mengumpulkan tugas ke penanggung jawab kelas kemudian diserahkan ke sekolah.

Cara pembelajaran ini memuat penerapan karakter sikap sosial simpati dan empati sebagai sikap positif. Menjaga sikap positif merupakan salah satu kunci agar kita tidak terlalu larut dalam nuansa negatif yang timbul akibat pandemik ini. Sikap positif dapat membantu menjaga kesehatan mental kita dan orang-orang di sekitar. Sikap simpati dan empati dapat membuat kita mampu merasakan emosi orang lain. Kita dapat membayangkan apa yang orang lain pikirkan dan rasakan.

Sebagai guru IPS penting untuk terus mengajarkan perilaku positif kepada siswa sebagai pengembangan nilai karakter pembelajaran IPS, terutama di masa-masa seperti ini. Penerapan sikap positif pada pembelajaran jarak jauh mata pelajaran IPS meliputi: 

Pertama, pemberian apresiasi pada setiap pencapaian siswa. Apresiasi dilakukan melalui pemberian nilai, pujian, kata-kata penyemangat, atau penggunaan emoticon tertentu. Dengan begitu, mereka akan merasa usahanya dihargai dan menjadi lebih semangat untuk mengikuti pembelajaran dari rumah. Pemberian apresiasi dapat membangkitkan energi positif. Rasa percaya diri siswa meningkat, kreatifitas dan inovatif berkembang maksimal. Selain itu, karena terbiasa diperhatikan siswa juga akan memiliki kebiasaan tesebut dan cenderung lebih peduli dengan lingkungan di sekitarnya. 

Kedua, menerapkan disiplin positif kepada siswa. Selama pandemik guru dapat mengajarkan sikap disiplin untuk sama-sama melakukan upaya pencegahan penyebaran virus Corona dengan rajin mencuci tangan serta patuh pada peraturan pemerintah unutuk melakukan social distancing dan physical distancing. Kedisiplinan untuk mematuhi setiap himbauan dan peraturan adalah salah satu cara untuk memutuskan rantai penyebaran virus Corona. Dengan demikian, pandemik Covid-19 dapat segera berlalu. Sehingga guru dan siswa dapat segera kembali ke sekolah untuk menyelenggarakan proses pembelajaran di tempat dan waktu yang sama. 

Ketiga, membangun sikap tolong menolong. Sikap saling tolong menolong tidak dapat muncul begitu saja, harus diajarkan dan dipraktekan.  Salah satunya adalah dengan menolong teman yang tidak memiliki gawai agar dapat mengikuti pembelajaran daring. Selain itu, para siswa diajak untuk melakukan donasi yang ditujukan kepada masyarakat kurang mampu yang terdampak pandemik Covid-19.

Keberhasilan pembelajaran jarak jauh ditunjang oleh beberapa faktor, diantaranya: Pertama, desain dan pengembangan sistem pembelajaran. Pengembangan pembelajaran jarak jauh terdiri atas perencanaan, pelaksananan, evaluasi, dan refleksi. Dalam mendesain pembelajaran jarak jauh yang efektif, harus diperhatikan mengenai tujuan pembelajaran, kebutuhan ketercapaian target kurikulum, karakteristik siswa, dan hambatan teknis yang mungkin terjadi. 

Kedua, interaksi dan komunikasi. Keberhasilan pembelajaran jarak jauh antara lain ditentukan oleh adanya interaksi dan komunikasi antara siswa dengan guru, antara siswa dengan fasilitas pembelajaran, dan antara siswa dengan siswa lainnya. 

Ketiga, pembelajaran aktif. Partisipasi aktif siswa mempengaruhi cara bagaimana siswa berhubungan dengan materi yang akan dipelajari. 

Keempat, Visual imagery. Pembelajaran melalui media daring dapat terjadi distorsi. Siswa bukan hanya mempelajari materi tetapi akan tergoga untuk melihat hal-hal di luar materi pembelajaran. Perlu pengawasan dari orang tua untuk memastikan siswa di jalur yang benar.

Kelima, disiplin dan kerja sama. Pembelajaran jarak jauh perlu kedisiplinan tinggi agar target dapat tercapai sesuai rencana. Sikap acuh tak acuh terhadap proses pembelajaran dan pengumpulan tugas sangat mungkin terjadi, karena siswa tidak berada dalam pengawasan guru. Kerjasama antara guru, orang tua dan teman untuk selalu saling mengawasi dan mengingatkan, dapat menjaga siswa tetap disiplin mengikuti proses pembelajaran dan mengumpulkan tugas.

Guru dan siswa SMP Negeri 2 Tanjungsiang Kabupaten Subang harus bersinergi untuk tetap dapat menyelenggarakan pembelajaran mata pelajaran IPS di tengah pandemik Covid-19. Tantangan ini harus dijawab melalui penerapan sikap positif, menyingkirkan sikap negatif, dan selalu bersama-sama mencari solusi dari setiap permasalahan agar pembelajaran IPS yang diselenggarakan secara jarak jauh dapat berhasil sesuai tujuan yang telah ditetapkan. 

Perlu disadari, kecanggihan aplikasi pembelajaran jarak jauh secara daring tidak dapat menggantikan kehadiran guru secara nyata dihadapan para siswa. Pada pembelajaran jarak jauh meskipun diselenggarakan secara daring terdapat nilai-nilai yang hilang. Dan nilai-nilai itu hanya tampak ketika guru hadir dihadapan siswa. Sosok guru tidak diapat digantikan oleh apapun. Terdapat nilai-nilai tertentu pada kehadiran guru secara nyata. Bertatap muka langsung dengan siswa akan memberikan dampak yang berbeda!

Semoga pandemik ini segera berlalu, sehingga guru dan siswa dapat menyelenggarakan proses pembelajaran pada waktu dan tempat yang sama.*)


Tanjungsiang, 30 Oktober 2020


Daftar Pustaka

B. Uno, Hamzah. 2007. Model Pembelajaran. Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang Kreatif dan Efektif. Jakarta: PT. Bumi Aksara.