Sabtu, 31 Oktober 2020

HAMBATAN DAN SOLUSI PADA PEMBELAJARAN JARAK JAUH


Oleh:

Lestari Sudiartuti, M.Pd

SMP Negeri 1 Sagalaherang Kabupaten Subang

Email: sudiartutilestari@gmail.com


Sejak diberlakukannya aturan belajar dan bekerja dari rumah, pada umumnya kita sebagai guru ingin segera kembali belajar melalui tatap muka. Keinginan tersebut semakin menguat manakala pemerintah mengeluarkan Surat Keputusan Bersama 4 Menteri tentang Panduan Penyelenggaraan Pendidikan Tahun Ajaran 2020/2021 yang memperbolehkan pembelajaran tatap muka pada zona hijau dan rencana perluasan pada zona kuning. Namun karena tingkat penularan Covid-19 yang masih tinggi, tentu hal tersebut tidak akan segera terjadi. Bahkan uji coba tatap muka dengan penerapan protocol kesehatan yang sangat ketat di beberapa sekolah malah menyebabkan munculnya cluster baru. 


Sebenarnya, mengapa banyak guru mengharapkan untuk segera dapat melakukan pembelajaran tatap muka. Hal tersebut disebabkan oleh banyaknya masalah yang dirasakan oleh para guru ketika melaksanakan pembelajaran jarak jauh. Pertama, bagaimana kita merancang pembelajaran jarak jauh agar tercapai ketuntasan materi dan beban kurikulum. Kedua, bagaimana mengelola pembelajaran jarak jauh yang dapat melibatkan siswa secara aktif sedangkan motivasi belajar siswa tidak sama. Ketiga, bagaimana melakukan penilaian otentik pada pembelajaran jarak jauh sedangkan kemampuan siswa dan tingkat ekonomi orangtua berbeda. Dan  keempat, bagaimana memanfaatkan teknologi untuk pembelajaran jarak jauh secara efektif dan efisien ditambah minimnya kemampuan guru dalam penggunaan teknologi. Meskipun banyak hambatan yang dihadapi, namun Pembelajaran Jarak Jauh sudah seharuskan dilaksanakan agar hak belajar peserta didik terpenuhi dengan tetap melindungi seluruh warga sekolah dari penularan Covid-19. 


Sudah menjadi kewajiban pemerintah dalam hal ini Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk mengeluarkan sejumlah peraturan  yang menjadi pedoman dalam pelaksanaan pendidikan pada masa darurat sehingga berbagai hambatan atau masalah dapat diminimalisir. Melalui Surat Edaran Sekretaris Jendral Kemendikbud Nomor 15 Tahun 2020 tentang Pedoman Penyelenggaraan Belajar Dari Rumah Dalam Masa Darurat Penyebaran Covid-19 dan berdasarkan Surat Keputusan Mendikbud No 719/2020 tentang Pedoman Pelaksanaan Kurikulum pada Satuan Pendidikan dalam Kondisi Khusus, pemerintah memberikan kebebasan penggunaan kurikulum pada setiap satuan pendidikan sesuai dengan situasi dan kondisi masing-masing sekolah. 


Berdasarkan pada peraturan-peraturan yang telah dikeluarkan tersebut, terdapat sejumlah informasi untuk mengatasi berbagai kendala yang dihadapi para guru, pertama  tentang merancang pembelajaran jarak jauh yang hanya difocuskan pada kompetensi dasar esensial kontekstual dan prasyarat untuk kelanjutan pendidikan di tingkat selanjutnya. Guru tidak lagi diharuskan untuk menyelesaikan seluruh capaian kurikulum. Pembelajaran dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna dan ditekankan pada pendidikan kecakapan hidup sehingga rencana pelaksanaan pembelajaran dapat disusun secara sederhana namun mampu memberikan gambaran secara menyeluruh mengenai pembelajaran jarak jauh yang akan dilaksanakan.

Untuk mengatasi kendala kedua yaitu mengelola Pembelajaran Jarak Jauh yang dapat melibatkan siswa, diperkenalkan model pembelajaran daring (online), luring (offline) atau kombinasi memadukan daring dan luring sesuai dengan kondisi dan ketersediaan sarana pembelajaran. Model pembelajaran daring adalah pembelajaran yang menggunakan gawai dan jaringan internet, misalnya menggunakan aplikasi pembelajaran seperti google classroom, google meet, zoom, webex atau menggunakan Learning Management System. Model pembelajaran luring adalah pembelajaran yang tidak ,menggunakan jaringan internet, misalnya melaui televisi, radio, modul belajar mandiri dan lembar kerja, bahan ajar cetak dan alat peraga atau media belajar dari berbagai benda di lingkungan sekitar siswa. Model pembelajaran daring seringkali terkendala gawai, jaringan internet ataupun kuota, maka dapat digunakan model terpadu yaitu melakukan kombinasi model daring dan luring. Kelebihan yang diperoleh bila menerapkan model kombinasi adalah guru dapat menerapkan sesi sinkron dan asinkron. Pada sesi sinkron siswa dapat berinteraksi langsung secara serentak sesuai jadwal yang disepakati. Sedangkan pada sesi asikron siswa dapat melakukan tugas secara mandiri dengan waktu yang lebih fleksibel, sehingga sesi ini dapat menjadi antisipasi bila siswa terkendala hadir pada sesi sinkron. 


Solusi untuk kendala ketiga, yaitu tentang melakukan penilaian atau asesmen dalam Pembelajaran Jarak Jauh, guru diharapkan melakukan tiga jenis penilaian yaitu 1) asesmen diagnosis awal yang bertujuan untuk memonitor perkembangan non kognitif dan kognitif siswa selama masa pandemic dalam memenuhi target capaian belajar, 2) asesmen diagnosis berkala yang bertujuan untuk mengamati perkembangan belajar siswa sehingga guru dapat memberikan pengalaman belajar yang terarah dan berkelanjutan melalui pemberian umpan balik, 3) asesmen sumatif yang bertujuan untuk menentukan tingkat pencapaian hasil belajar siswa yang dilakukan di akhir materi pembelajaran. Agar asesmen sumatif mampu mengukur apa yang ingin diukur,  maka guru harus merancang rencana penilaian secara jelas dan terinci. Pada umumnya rencana penilaian sumatif meliputi: 1) hasil tes, produk,  karya atau aksi yang akan dihasilkan siswa, misalnya poster, video, presentasi, laporan proyek, atau simulasi; 2) Kriteria yang akan dinilai, misalnya kerapihan hasil karya, penjelasan dalam presentasi dan keaktifan dalam simulasi; 3) alat ukur yang digunakan, misalnya perangkat tes, rubric, atau daftar periksa.


Untuk mengatasi kendala keempat, yaitu tentang penggunaan teknologi yang bertujuan agar pembelajaran jarak jauh dapat berlangsung secara efektif dan menarik adalah dengan mengintegrasikan pengetahuan pedagogic, pengetahuan konten dan pengetahuan teknologi menjadi Konten Pedagogis Teknologi, yaitu pengetahuan dan pemahaman tentang penggunaan teknologi yang melibatkan cara-cara pedagogis konstruktif untuk mengajarkan konten atau materi pelajaran, sehingga pemilihan jenis integrase teknologi berdasarkan pada pengalaman belajar siswa.


Terdapat empat jenis media pembelajaran yang dapat digunakan untuk memperjelas pesan atau materi pelajaran yaitu: media pembelajaran yang focus pada indera penglihatan (visual), media yang hanya melibatkan indera pendengaran (audio), media yang melibatkan indera penglihatan dan pendengaran (audio visual), dan beberapa media yang terintegrasi dalam suatu kegiatan pembelajaran (multimedia). Bahkan untuk membantu pemahaman siswa terhadap konten pembelajaran guru dapat merancang sumber belajar sendiri misalnya berupa buku aktivitas belajar, video pembelajaran, bahan tayang yang terkait dengan materi pelajaran. Atau dapat memanfaatkan sumber belajar yang telah tersedia misalnya buku atau modul pelajaran yang ada di perpustakaan, menggunakan buku-buku yang tersedia di situs EPerpusdikbud atau video-video pembelajaran dari youtube.


Meskipun beberapa solusi terhadap hambatan dalam pelaksanaan pembelajaran jarak jauh sudah diterapkan, namun keberhasilan penyelenggaraan  pembelajaran jarak jauh tidak hanya ditentukan oleh satu pihak saja yaitu guru. Maka diperlukan dukungan dan kerjasama dari pihak lain yaitu sekolah diharapkan dapat memfasilitasi kegiatan belajar mengajar dengan model, metode dan media yang paling tepat. Orangtua diharapkan berpartisipasi aktif dalam kegiatan proses belajar mengajar di rumah. Pemerintah baik pusat maupun daerah bekerjasama dalam menyusun dan menerapkan kebijakan yang berpihak kepada anak. Layanan Kesehatan untuk memantau dan mengevaluasi resiko di daerah demi mengutamakan kesehatan anak. Masyarakat sipil dan lembaga social saling mendukung dalam membantu kegiatan anak. Dengan adanya kerjasama dari pihak-pihak terkait, maka dapat dipastikan bahwa anak akan mendapatkan pengalaman belajar yang bermakna dan menantang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhannya dengan sehat dan selamat terlindung dari dampak buruk Covid-19.




Referensi:

Kemendikbud. Program Guru Belajar