Sabtu, 31 Oktober 2020

KETIKA MURID DAN GURU SALING MERINDU

Oleh Erik Kurniawa, S.Sos., M.Pd

SMP Negeri 17 Depok – Jabar





Covid-19 menghantam hampir seluruh sektor kehidupan masyarakat. Salah satu bidang yang sampai saat ini belum pulih benar adalah bidang Pendidikan. Pada umunya daerah-daerah (kabupaten/kota dan provinsi)  mengakhiri belajaran tatap muka sejak tanggal 16 Maret 2020. Untuk saat ini ada beberapa daerah sudah memberlakukan pembelajaran tatap muka secara langsung, namun dengan berbagai kebijakan dan protokol kesehatan yang sangat ketat. Walau demikian, sebagian besar daerah masih melakukan kegiatan belajar mengajar dengan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

Pemberlakuan pembelajaran secara virtual atau biasa disebut pembelajaran jarak jauh secara mendadak membuat pendidik maupun peserta didik beradaptasi terhadap hal tersebut. Kegiatan belajar mengajar yang biasanya berada di dalam kelas secara tatap muka tiba-tiba merubah menjadi pembelajaran jarak jauh dengan menggunakan teknologi informasi berupa ponsel cerdas maupun leptop dengan dukungan jaringan internet. Kita sadari peran teknologi sangat membantu proses belajar mengajar, khususnya pada masa pandemik ini.

Sebagai seorang guru, menurut UU No 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen memiliki 4 (empat) kompetensi yang melekat pada diri masing-masing pendidik. Ke-Empat kompetinsi tersebut antara lain : 1). Kompetensi Pedagogik adalah kemampuan yang harus dimiliki guru berkenaan dengan karakteristik siswa dilihat dari berbagai aspek seperti moral, emosional, dan intelektua. 2). Kompetensi kepribadian adalah kemampuan personal yang mencerminkan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia. 3). kompetensi sosial adalah adalah kemampuan guru untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar 4) kopetensi profesional adalah penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam, yang mencakup penguasaan materi kurikulum mata pelajaran di sekolah dan substansi keilmuan yang menaungi materinya, serta penguasaan terhadap struktur dan metodologi keilmuannya.

Dari ke-empat kompetensi guru di atas, hampir semua membutuhkan pertemuan secara tatap langsung antara guru dan murid. Walaupun demikian, menurut hemat penulis yang bisa sedikit banyak digantikan teknologi informasi adalah kompetensi profesional. Kompetensi profesional terkait tentang materi pembelajaran dapat disampaikan guru ke murid dengan tidak perlu bertatap muka secara langsung. Materi dapat di share (kirim) melalui sosial media. Pendalaman materi dapat dilakukan oleh siswa dengan arahan guru melalui portal-portal pendidikan seperti : Rumah Belajar, Zenius, Quipper, Sekolahmu, Ayo Belajar, Cakap, Bahaso dll.

Namun untuk ke-tiga kompetensi yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial membutuhkan pertemuan antara guru dan murid secara langsung. Untuk mengaplikasikan kompetensi pedagogik yaitu mengetahui karakteristik siswa diperlukan pengamatan secara langsung. Pengamatan guru terhadap siswa tidak bisa digantikan oleh peran camera aplikasi zoom, video call atau yang sejenisnya. Karakteristik siswa dapat dilihat dari pengamatan secara langsung dari berbagai sudut pandang, dari waktu ke waktu, baik siswa itu sadar dalam pengamatan guru atau tidak sadar dalam pengamatan guru. Dari pengamatan tersebut guru mampu mamahami dan membedakan karakter masing-masing siswanya.

Pada kompetensi kepribadian, haruslah mencerminkan kepribadian guru yang mantap, stabil, dewasa, arif dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia hanya bisa dilihat ketika bertemu secara tatap muka. Kepribadian guru tidak bisa didiskripsikan melalui tayangan video rekaman yang dijadikan media pembelajaran. Kematangan kepribadian guru dapat dilihat dengan jelas ketika terjadi pertemuan langsung antara guru dan murid. Pertemuan langsung tersebut tidak hanya terjadi sekali atau dua kali, tapi berkesinambungan dari waktu-ke waktu. Sehingga murid bisa memaknai bahwa gurunya adalah guru yang berwibawa, guru yang bisa dijadikan tauladan dan guru yang inspiratif. Hal tersebut sulit di ejawantahkan melalui dunia maya.

Terakhir kompetensi sosial, dimana kemampuan guru untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar. Komunikasi yang efektif tetaplah komunikasi secara langsung. Pada komunikasi langsung, pesan yang disampaikan melalui lesan didukung dengan gestur tubuh, mimik wajah dan intonasi memiliki makna lebih mendalam. Gestur tubuh, mimik wajah dan intonasi tidak maksimal jika komunikasi dilakukan secara tidak langsung, sehingga pesan yang disampaikan terasa kering. Interaksi di dunia maya tidaklah sama dengan dunia nyata. Kehangatan interaksi  secara tatap muka antara guru dan siswa tetaplah tidak bisa tergantikan dengan teknologi informasi. Proses kegiatan belajar mengajar di dalam kelas akan menjadi salah satu cara siswa menilai gurunya. Mereka akan menilai guruku itu asyik apa tidak, guruku itu  menarik atau tidak, dan seterusnya.

Pembelajaran dengan menggunakan perantara teknologi informasi sejatinya tidak akan mampu menggantikan keseluruhan peran seorang guru. Teknologi pembelajaran itu penting untuk mempermudah proses belajar mengajar, namaun kehadiran sososk guru didepan kelas jauh lebih penting. Kegiatan belajar mengajar sejatinya masih membutuhkan pertemuan secara langsung antara guru dan murid. Bahasa tubuh seorang guru dalam mengajar sering membuat suasana menjadi menarik dan menggembirakan. Sehingga anak akan betah dan kangen berjumpa dengan gurunya. Teknologi sehebat apapun belum mampu menggantikan pembelajaran tatap muka. Raut wajah guru yang teduh dan gimik wajah imut seorang murid masih belum mampu ditampilkan secara utuh dilayar ponsel cerdas maupun leptop, sehingga ikatan hati antara guru dan murid tidak terjalin dengan erat. Semoga covid-19 segera mampu diatasi dan ditanggulangi di negara Indonesia dan dunia pada umunya sehingga kehidupan berjalan seperti sediakala.