Sabtu, 24 Oktober 2020

MATAHARI DI LANGIT PANGGUNGREJO

 


Oleh : Anisa Octorina S.E

(SMPN 1 Panggungrejo,Blitar, Jatim)

Hari masih pagi. Upacara tiap hari Senin baru saja selesai. Aku dan beberapa temanku mulai berjalan menuju ruang guru. Alhamdulillah hari ini tidak ada anak yang pingsan. Biasanya upacara baru dimulai, ada saja anak yang pingsan. Tiba-tiba ada yang menepuk bahuku dari belakang. Ternyata bu Titin temanku yang sudah seperti saudara sendiri. Beliau membisikkan sesuatu di telingaku.

“Bu Arini, senin depan giliranmu lho jadi Pembina Upacara”.

Sungguh ucapan Bu Titin membuat jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya.

“.Apa bu?” Aku gak percaya. Dia menarik tanganku dan mengajakku berjalan lebih cepat ke ruang guru. Beliau menunjukkan daftar Pembina Upacara yang baru saja dipasang.

 “Semua akan dapat giliran. Gak peduli guru yang sudah lama atau baru semua dapat giliran”, jelas bu Titin sambil beranjak meninggalkanku yang bingung sendirian.

 Waduh, gawat ini….aku mending di belakang anak-anak daripada disuruh di depan jadi Pembina Upacara... Oh...moga saja Senin depan hujan deras biar gak jadi upacara. Doaku dalam hati.

Hari terus berganti Sesaat aku bisa melupakan tugasku itu. Aktivitas mengajar masih berjalan seperti biasanya. Tak terasa hari sudah berganti Jumat. Bu Titin mendekatiku.

“ Jangan lupa lho…Senin ini jadi Pembina. Anak-anak nanti biar berlatih persiapan upacara Senin ini”ucap bu Titin sambil tersenyum.

“Buu… jenengan saja yaa yang jadi pembina?… Please… Pintaku sambil memasang wajah penuh harap cemas.

“Saya gak berani….sumpah….saya Phobia bu…. kalau harus bicara di depan orang banyak. Bu Titin hanya menatapku sambil tersenyum.

“Kalau di depan anak-anak saja saya berani, tapi ini ada Bapak Kepala Sekolah, Bapak-bapak Waka, bapak Ibu Guru dan Staff Tata Usaha…..apa saya bisa?”

“Masak gitu saja gak berani…..anggab saja semuanya patung.” Ucapnya sambil tertawa.

“Beneran ini buu…..saya gampang grogi kalau bicara di depan. Benar-benar gak percaya diri.” Jawabku.

Sekali lagi bu Titin hanya tersenyum. Seolah berfikir aku mencoba mencari-cari alasan. Padahal kenyataannya memang aku benar-benar takut. Aku mending memilih kegiatan di balik layar daripada tugas yang harus dilihat banyak orang. Rasanya seperti gimana gitu….. susah untuk dijelaskan dengan kata-kata.

“Buat catatan kecil, nanti dibaca saja pas jadi Pembina…..biar gak lupa. Isinya yang sederhana saja yang biasa dilihat, biar gak gampang lupa. Kebersihan, ketertiban anak-anak atau tentang motivasi belajar. Satu lagi… jangan melihat kearah mata…..tapi alis saja …. biar gak grogi….” Nasihat bu Titin sambil tersenyum.

“Terimakasih bu supportnya…..tapi gak tahu…bisa apa enggak” Jawabku lirih.

“Belum dicoba kok sudah nyerah…..harus bisa….semua juga dapat giliran nantinya” Jawab Bu Titin sambil beranjak dan meninggalkanku.

Saat anak-anak latihan upacara, aku cuma duduk sambil melamun di dekat lapangan. Suara latihan musik Drumband Indonesia Raya masih terdengar sangat jelas, membuat jantungku berdetak lebih cepat. Entahlah…..apa bisa senin itu tampil percaya diri. Berharap ada keajaiban, semoga ada pengawas atau pak polisi datang memberi pembinaan ke anak-anak biar tidak jadi pembina upacara, atau hujan deras biar upacara ditiadakan, doaku dalam hati.


Minggu malam udara panas sekali, seperti akan turun hujan. Aku masih berharap besok pagi hujan deras biar tidak jadi upacara. Dan benar,malam itu  hujan turun sangat derasnya. Hatiku terasa lebih tenang. Ku bayangkan besok pagi pasti rumput di lapangan basah semua, dan upacara ditiadakan. Akhirnya bisa tidur nyenyak malam ini. 

Senin pagi semua berbeda dari perkiraanku. Perjalanan ke sekolah melewati hutan Panggungrejo terasa sangat menakutkan bagiku. Ku lihat sinar matahari muncul di sela-sela pepohonan Jati tanpa malu-malu. Matahari bersinar sangat cerahnya. Padahal semalam hujan turun begitu  deras. Entahlah, apa yang kurasakan saat itu...seperti mau menerima hukuman saja, sangat menakutkan.

Senim Jam 06.45 tepat bel berbunyi. Tanda persiapan upacara. Semua peralatan upacara sudah siap semuanya. Anak-anak juga sudah berbaris rapi. Kucoba memberanikan diri menemui bapak Kepala Sekolah yang mau keluar dari kantornya.  Kucoba bertanya apa ada sesuatu yang mau disampaikan ke anak-anak. Ternyata cuma menggeleng sambl tersenyum.

“Sesuai jadwal saja buu….sambil latihan berbicara.” Beliau pergi meninggalkanku yang cuma berdiri tanpa harapan. Gagal sudah usahaku. Tidak ada polisi atau pengawas satupun yang datang ke sekolah. Berarti memang benar-benar giliranku. Mulutku komat-kamit berzikir berusaha menenangkan diri. Keringat dingin mulai keluar menambah ketakutanku. Tangan juga terasa dingin seperti mau pingsan saja. Bismillah, badai pasti berlalu, kucoba menghibur diri.

Musik Drumband mengiringi langkahku memasuki area upacara. Entahlah, seperti bukan aku saja. Pokok maju saja, modal nekat dan berharap semua segera terlewati.

Saat naik ke atas tempat Pembina Upacara jantungku mulai berdetak lebih kencang.Apalagi saat tiba giliranku menjalankan tugas sebagai pembina upacara. Phobia ku mulai datang lagi. Kucoba mencubit kecil tanganku biar tidak tertawa. Kertas kecil yang ada di sakuku, entahlah, lupa tidak ku ambil. Semuanya terasa berbeda dari rencana. Cuma kata-kata bu Titin yang masih terngiang-ngiang di telingaku. Jangan lihat mata, lihat alis, anggab semuanya patung.

Percaya diri mulai mucul. Ide-ide sederhana juga begitu mudahnya keluar dari mulutku. Seperti bukan aku saja. Alhamdulillah, semuanya terlewati dengan lancar.

Selesai upacara beberapa guru memberi selamat. Mereka tersenyum. Terlebih bu Titin. Beliau mendekatiku.

“Alhamdulillah, akhirnya bisa kan?” sambil memegang tanganku yang masih terasa dingin.

“Iya bu….terimakasih banyak supportnya.” Tapi sungguh, sangat menegangkan.”Jawabku.

“Gak apa-apa…anggab saja masih belajar, lama-lama juga terbiasa” Yang penting percaya dirinya di tambah. Nasihat beliau.

“Ya bu….terimakasih banyak”

Alhamdulillah hari ini terlewati juga. Hatiku terasa lebih tenang. Seperti lepas dari sebuah bahaya. Ku lihat rumput di tepi lapangan mulai bercanda dengan sinar matahari yang mulai panas. Sungguh hari yang menegangkan bagiku.