Jumat, 30 Oktober 2020

MENGAMBIL HIKMAH DI TENGAH PANDEMI

Ace Abidin, M.Pd.

SMPN 2 Curugbitung Kabupaten Lebak



Banyak ungkapan yang menggambarkan bahwa sebuah keberhasilan harus diraih dengan sebuah ujian. Membuat sebuah parang tajam diperlukan tempaan dan asahan yang baik. Begitupun kehidupan. Tidak disebut manusia berhasil dalam kehidupan jika ia belum melewati ujian hidup. Banyak orang-orang yang berhasil melewati ujian hidupnya. Namun tidak sedikit pula orang yang gagal dalam kehidupan dan bahkan menyalahkan dirinya sendiri.


Pandemi Covid-19 yang sedang melanda dunia, sampai juga di negara kita. Berbagai strategi dan usaha sudah dan tengah dilakukan untuk melewati masa darurat ini. Semua aspek kehidupan berlomba-lomba mencari jalan agar tidak terlalu berpengaruh meskipun kecil kemungkinan tidak terdampak sama sekali. Tidak terkecuali dengan dunia pendidikan. Pelaksanaan pembelajaran berubah seratus delapan puluh derajat dari kebiasaan. Hampir seluruh insan pendidikan terutama guru dan siswa merasa tidak siap dengan keadaan tersebut. Awalnya belajar identik dengan suasana nyata ruang kelas kini menjadi kelas maya. Siswa dan guru disekat oleh ruang dan jarak. Pada akhirnya banyak diantara guru kesulitan untuk melakukan pendampingan belajar, pengawasan bahkan penilaian.


Sebenarnya, pemerintah melalui kementerian pendidikan dan kebudayaan sudah menggulirkan kebijakan dan memberikan pilihan terkait kurikulum pembelajaran yang memungkinkan bisa diterapkan di sekolah masing-masing. Pilihan tersebut berupa: (1) tetap dengan kurikulum 2013 secara normal; (2) kurikulum darurat; dan (3) kurikulum yang dibuat sendiri oleh satuan pendidikan. Nyatanya tetap saja banyak sekolah yang belum bisa menyesuaikan dengan tiga pilihan tersebut. Banyak diantara guru yang kebingungan. Berbagai karakteristik wilayah di Indonesia tidak bisa begitu saja mampu menyesuaikan dengan keadaan darurat ini. Keluhan-keluhan muncul seiring berjalannya pembelajaran di masa pandemi. Tentu muaranya akan berdampak pada angka partisipasi siswa untuk tetap bersekolah. Hal laten yang dikhawatirkan yaitu adanya siswa yang akan putus sekolah (drop out).


Ujian pandemi Covid 19 ini benar-benar menempa guru dan siswa. Hasil tempaan ini terlihat dari karakter yang mulai muncul. Di pihak siswa, ada sebagian siswa yang tetap semangat belajar meskipun belajarnya di rumah. Mereka tidak terpengaruh ada atau tidak ada pandemi. Belajar bisa dimana saja. Mereka optimis bahwa keadaan seperti ini hanya bersifat sementara. Akan ada masa dimana semua kehidupan kembali berjalan normal seperti biasa. Belajar di kelas bersama guru dan siswa lainnya. Mereka inilah para siswa yang tangguh, yang mampu beradaptasi dengan situasi dan kondisi. Ada pula siswa yang malas dan cuek dengan adanya pandemi. Apalagi harus belajar dari rumah (BDR). Mereka tidak memiliki gairah untuk belajar walaupun dimotivasi oleh guru. Mereka pesimis tidak bisa mengikuti proses pembelajaran. Bahkan sistem BDR mereka anggap seperti “sekolah-sekolahan”. 


Sementara di pihak guru, ada guru yang menyalahkan keadaan dan tidak mau mencari strategi dalam mengajar bahkan tidak mau meningkatkan kompetensinya di masa pandemi. Mereka menikmati kenyamanan bekerja dari rumah (work from home) meskipun kenyataannya mungkin saja tidak bekerja (melakukan pembelajaran). Mereka menyibukan diri dengan rutinitas pekerjaan rumah yang selama ini kurang mereka geluti disamping mendampingi anak-anak mereka belajar di rumah. Namun api itu belum padam. Ada sekelompok guru yang tetap semangat meningkatkan kompetensi meskipun dalam keterbatasan disela-sela menjalankan kewajibannya sebagai pendidik. 


Bak jamur di musim hujan. Disaat pandemi sekarang ini banyak kegiatan virtual yang diselenggarakan oleh komunitas maupun organisasi. Berbagai webinar dan pelatihan telah menghasilkan gagasan dan karya yang bisa dinikmati. Tidak lupa beberapa kegiatan yang diselenggarakan pemerintah juga untuk mendukung peningkatan kompetensi guru. Sebut saja Pembatik, Guru Berbagi, Guru Belajar dan Guru Penggerak merupakan wadah dan ruang bagi guru-guru di Indonesia untuk menunjukkan pada masyarakat bahwa guru mampu menjawab tantangan global menuju abad 21. Beribu-ribu sertifikat sudah keluar sebagai tanda bahwa beberapa kompetensi yang dimiliki guru bertambah.


Hikmah yang dapat kita petik dari situasi ini yaitu semakin banyaknya guru-guru yang melek teknologi. Guru-guru “dipaksa” untuk mampu menyesuaikan dengan zamannya. Mereka mulai membiasakan menggunakan sumber, alat dan media pembelajaran yang berbasis IT. Aplikasi-aplikasi pembelajaran seperti Kahoot, Quizizz, Microsoft Teams, Google form, Zoom Meeting, Webex, Google Meet dan seabreg aplikasi-aplikasi lainnya yang mendukung pembelajaran sudah tidak asing lagi ditelinga mereka. Semua hasil “paksaan” pandemi Covid 19 ini laksana pedang yang siap dihunus di medan perang. Guru-guru tangguh sudah siap berlaga di belantara zaman yang semakin kompleks. Tentu semua itu tidak semudah yang diucapkan. Hanya niat baik dan konsistensi untuk terus belajar merupakan modal dasar yang paling utama.


Sebagai guru kita dihadapkan pada dua pilihan. Pilihan pertama, guru yang nyaman dengan memanfaatkan pandemi sebagai “cuti besar”. Sehingga dengan kenyamanannya tidak mau memanfaatkan waktu senggang untuk meningkatkan kompetensinya. Pilihan kedua, guru yang melihat peluang masa pandemi untuk memanfaatkan dan mengerahkan segala potensinya demi mendukung peningkatan kompetensi dirinya. Pilihan itu kembali kepada masing-masing guru. Tentu semua keputusan tersebut mendatangkan konsekuensi. Yang perlu diingat adalah jangan menunggu masa pandemi jilid 2 kembali sehingga baru sadar betapa berharganya sebuah kesempatan yang tidak datang untuk kali kedua. Naudzubillah himindzalik, semoga pandemi Covid-19 ini segera berakhir sehingga kita bisa hidup normal seperti sedia kala.