Senin, 19 Oktober 2020

MENURUNYA RASA HORMAT SISWA PADA GURU

 


Sulistyowati

Smpn 1 Pujon – Kab.Malang



Pendahuluan 

Peran guru sebagai pendidik merupakan peran-peran yang berkaitan dengan tugas-tugas memberi bantuan dan dorongan, tugas-tugas pengawasan dan pembinaan serta tugas-tugas yang berkaitan dengan mendisiplinkan anak agar anak menjadi patuh terhadap aturan-aturan sekolah dan norma hidup dalam keluarga serta masyarakat. Tugas-tugas ini berkaitan dengan meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan anak untuk memperoleh pengalaman-pengalaman lebih lanjut. Oleh karena itu tugas guru dapat disebut pendidik dan pemeliharaan anak. Guru sebagai penanggung jawab pendisiplinan anak harus mengontrol setiap aktivitas anak-anak agar tingkah laku anak tidak menyimpang dengan norma-norma yang ada.

Dalam kultur Indonesia, hubungan guru dengan siswa sesungguhnya tidak hanya terjadi pada saat sedang melaksanakan tugas atau selama berlangsungnya pemberian pelayanan pendidikan. Meski seorang guru sedang dalam keadaan tidak menjalankan tugas, atau sudah lama meninggalkan tugas (purna bhakti), hubungan dengan siswanya (mantan siswa) relatif masih terjaga. Bahkan di kalangan masyarakat tertentu masih terbangun “sikap patuh pada guru” (dalam bahasa psikologi, guru hadir sebagai “reference group“). Meski secara formal,  tidak lagi  menjalankan tugas – tugas keguruannya, tetapi hubungan batiniah antara guru dengan siswanya masih relatif kuat, dan sang siswa pun tetap berusaha menjalankan segala sesuatu yang diajarkan gurunya.

Namun belakangan ini telah terjadi penurunan rasa hormat atau respect siswa terhadap guru. Dimana siswa tidak lagi menganggap guru sebagai panutan, seorang yang memberikan ilmu dan pengetahuan yang patut di hormati dan disegani. Seperti yang terjadi pada januari 2010 seorang siswa berani menikam gurunya sendiri dengan senjata tajam. Siswa tersebut merasa tersinggung karena sang guru menasihatin didepan teman – temannya oleh perbuatannya yang merugikan siswa lain (kompas : 2010). 

Ada istilah, bila seorang siswa mengganggu atau berbuat jahil dengan siswa yang lain disebut bullying. Sekarang lebih parah lagi, hal tersebut dilakukan didunia maya atau sosial network sehingga semua orang bisa membaca dan memberikan komentar. Perilaku ini disebut cyberbullying. Bahkan bukan antara siswa dengan siswa, efek dari menurunya rasa hormat tersebut berdampak pada guru bahkan sekolah yang dikenal dengan cyberbaiting. Dimana siswa merekam atau membuat tulisan yang berisi ejekan atau kata – kata tidak sopan terhadap seorang guru ataupun sekolah. Sehingga bisa menimbulkan pendapat negatif dari masyarakat yang malahan belum tahu duduk masalah yang sebenarnya. Seperti yang dilakukan oleh tiga siswi di Malang dan delapan siswi di Bandung yang curhat negatif di facebook tentang guru dan sekolahnya (kompas : 2011).

Yang Viral diawal tahun 2018 dan  sangat mengenaskan “Tragedi sampang” dimana terjadi kekerasan yang mengakibatkan kematian oleh salah seorang siswa terhadap sang guru ketika pembelajaran sedang berlangsung. Sikap pelajar-pelajar dahulu dengan sekarang amat jauh berbeda seperti “langit dan bumi”. Persoalannya, mengapa masalah ini timbul sekarang?  



c. Profil Siswa Sekarang

1. Faktor – faktor menurunnya rasa hormat siswa terhadap guru

Merosotnya rasa hormat dipengaruhi banyak faktor, baik faktor dari siswa maupun guru yang merupakan faktor internal dan juga faktor eksternal. Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi, kadang menjadi kambing hitam dalam masalah ini. Tetapi bukan hanya TIK atau ICT yang menjadi faktor eksternal, pengaruh moderenisasi kultur, pergaulan bebas dan penyalahgunaan obat – obat terlarang juga mengambil peranan dalam proses menurunnya respect siswa terhadap guru.  

  a. faktor – faktor eksternal yang mempengaruhi menurunnya rasa hormat siswa terhadap guru: 

  1. Pengaruh perkembangan TIK, kebebasan meng-akses informasi yang didukung oleh akses dari internet yang mudah melalui laptop, TAB, malahan dari handphone / smartphone sehingga mempengaruhi pikiran siswa.

  2. Moderenisasi kultur, kemudahan akses internet membuat siswa bisa melihat budaya dari negara lain. Yang secara tidak langsung mereka mengaplikasikan dikehidupan sehari – hari tanpa adanya filterisasi terhadap budaya yang diambil.

  3. Pergaulan bebas, merupakan efek dari moderenisasi kultur yang tidak sesuai dengan adat istiadat Indonesia. Hal ini akan menimbulkan sifat meniru budaya barat yang cendrung bebas tanpa ada ikatan adat istiadat yang telah lama berlaku dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

  4. Penyalahgunaan obat – obat terlarang, sifat labil dalam diri siswa akan membuat siswa mencari – cari jati dirinya. Bila mana hal ini tidak tersalur secara positif, siswa akan terjerumus dalam kenikmatan semu obat – obat terlarang yang akan berpengaruh pada tingkah laku siswa tersebut.

b. faktor internal ditinjau dari siswa dan guru yaitu :

Siswa

  1. Posisi sosial lebih tinggi dari guru, hal ini sering terjadi bila mana sang siswa berasal dari keluarga yang terpandang atau orang tuanya merupakan pejabat. Jadi dengan posisi orang tuanya tersebut siswa seakan tidak takut pada apapun termasuk pada guru karena orangtunya pasti akan mendukung anaknya.

  2. Posisi ekonomi lebih baik dari guru, hal ini banyak terjadi disekolah favorit dan internasional. Siswa tersebut akan memandang rendah gurunya, karena posisi ekonominya lebih baik dari gurunya. Dimana siswa kesekolah dengan kendaraan mobil, sedangkan sang guru hanya naik sepeda motor.

  3. Siswa lebih paham dengan materi yang diajarkan, pada masa sekarang pendalaman materi bukan hanya didapat dari sekolah. Bagi siswa yang serius belajar, mereka akan mencari cara untuk menperdalam materi dengan cara kursus baik melalui lembaga atau privat. Hal ini memungkinkan siswa bisa saja lebih paham dari siswa lainya. Apa lagi bila siswa itu lebih paham dari gurunya maka akan memberikan pandangan rendah terhadap guru tersebut.

Guru

  1. Penampilan guru, ini sangat penting karena siswa akan menilai rapi atau kucel cara berpakaian guru, harum atau bau aroma tubuh guru tersebut, panjang atau pendek rambut guru (khusus guru laki – laki).

  2. Telat atau jarang masuk, dengan beban 24 jam pelajaran dan banyaknya adminitrasi yang harus dibuat oleh seorang guru ditambah lagi ada side job untuk menambah penghasilan. Akan berdampak pada performa guru tersebut sehingga sering telat dan tidak masuk.

  3. Pilih kasih, sifat ini yang sering tidak disadari oleh guru dan sering membanding – bandingkan siswa yang satu dengan siswa yang lain.

  4. PR dan tugas sering gak dikoreksi, dengan mengoreksi dan memberikan nilai merupakan reward bagi siswa dimana guru telah menghargai hasil kerja keras siswa tersebut.

  5. Berkata kasar, perkataan yang kasar akan membat pandangan negatif siswa terhadap guru.

  6. Suka perintah, suka memerintah siswa diwaktu dan tempat yang tidak sepantasnya.

  7. Menghukum semena-mena, guru hanyalah manusia biasa dimana ada masalah diluar sekolah yang sering terbawa disekolah. Perlunya sikap profesional guru untuk membedakan masalah sekolah dengan masalah luar sekolah. Sehingga siswa tidak menjadi pelampiasan untuk masalah – masalah guru tersebut.

Bila ditinjau lebih jauh, terdapat banyak perbedaan antara siswa dulu (tahun 90-an) dengan siswa sekarang. Dikutip dari tulisan Mudzakkr Hafidh (ideguru.wordpress.com : 2010) yang memberikan opini perbedaan antara siswa dulu dengan siswa sekarang.  

  1. Kurang menghormati guru bahkan cenderung berani

  2. Ketika diberitahu / dinasehati tidak langsung mendengar bahkan kadang membantah

  3. Kurang perhatian kepada guru, bahkan lebih senang kalau gurunya tidak hadir.

  4. Ketika diperintahkan guru untuk mengerjakan tugas, menggerutu, kalau SD ia meminta tolong kepada orang tua / guru kelasnya

  5. Tidak malu kalau belum mengerjakan tugas

  6. Kalau dihukum / diberitahu  malah menantang, bahkan tidak jarang jika dihukum malah senang.

  7. Menganggap guru sebagai teman, bukan orang tua. bahkan tak jarang ada yang panggil bukan sebagai pak guru misalnya dibeberapa sekolah SMA memanggil dengan gurauan.

2. Dampak yang ditimbulkan.

Faktor internal dan eksternal yang telah dijelaskan diatas apabila tidak ditanggulangi dan diatasi secara serius akan berdampak pada kegiatan belajar mengajar. Sikap profesional guru dengan kode etiknya diharapkan bisa meredam sifat labil, energi yang besar, dan gelora yang tinggi dari siswa.

Adapun dampak yang akan terjadi apabila guru dan siswa tidak lebih jeli dan selektif untuk menyikapi faktor – faktor tersebut yaitu :

  1. Siswa tidak hormat dan segan pada guru

  2. Siswa tidak mau dinasehati.

  3. Tidak mendengarkan perkataan guru

  4. Menganggap guru sebagai teman

  5. Sampai berani berkata kasar kepada guru.

3. Solusi untuk mengembalikan respect siswa terhadap guru

“Bagaimana cara mengembalikan respect siswa terhadap guru?” Merupakan pertanyaan yang tepat daripada “Bagaimana cara mengatasi menurunnya respect siswa terhadap guru?”. Karena masalah ini telah menjadi masalah umum didunia pendidikan era sekarang.

Guru harus mempunyai strategi atau cara untuk mendapatkan rasa hormat (respect) siswa, agar kegiatan pembelajaran berjalan dengan baik. Sebagaimana telah ditulis oleh Edna Sackson seorang guru yang berasal dari Australia (whatedsaid.wordpress.com : 2010), ada 10 cara untuk mendapatkan respect (rasa hormat) siswa yaitu :

  1. Hormati siswa anda, untuk mendapatkan rasa hormat dari siswa, guru harus menghormati siswa terlebih dahulu. Hormatilah sikap dan sifat positif siswa, pendapat siswa, karya siswa dan secara automatis maka mereka akan menghormati guru tersebut.

  2. Buatlah perjanjian dengan siswa, ini bertujuan untuk membuat peraturan kelas yang akan disetujui oleh siswa sesuai batas kemampuan siswa dan dikombinasikan dengan aturan sekolah. Sehingga siswa akan lebih patuh pada peraturan yang telah mereka buat sendiri.

  3. Jadilah bagian dari mereka, guru harus lebih jeli dimana harus menempatkan diri dalam situasi belajar. Dimana guru bisa jadi teman belajar, fasilitator, dan guru bukan menjadi diktator dalam kelas.

  4. Memberikan hak kebutuhan fisik mereka, misalnya untuk buang air ditengah proses belajar atau makan dan minum pada waktu yang telah diberikan.

  5. Bersikap adil dan wajar, sebagai guru harus dituntut adil sehingga tidak pilih kasih atau berpihak pada seseorang atau satu kelompok. Dan bersikap wajar, bukan membuat suasana yang tidak mungkin sehingga memba\uat ketegangan antar siswa.

  6. Humoris, sikap yang menyenangkan dari guru akan membuat pelajaran menjadi rileks dan jauh dari ketegangan. Dan tegaslah apabila terjadi lelucon siswa yang merugikan siswa lain.

  7. Berikan ruang berekspresi siswa, berikan siswa motivasi agar berfikir kreatif dan inovatif dalam menentukan pembelajaran. Dan jangan membatasi mereka dengan cara – cara kaku atau guru yang bersifat text book.

  8. Jujur, jangan ada pura – pura. Katakan salah bila salah dan benar bila benar dengan tutur kata yang baik agar tidak menyakiti hati dan diterima oleh siswa.

  9. Guru adalah manusia, katakan maaf kalau guru melakukan kesalahan dan jangan melemparkan kesalahan kepada siswa.

  10. Kebebasan, berikan siswa kebebasan untuk berpendapat dan memilih dalam pembelajaran. Jangan selalu mem-vonis semua pendapat dan pilihan siswa salah. Biarkan dulu mereka berpendapat dan memilih sampai ada pendapat atau pilihan yang benar. Dan kalaupun belum ada maka ini adalah tugas guru untuk membenarkan dan menjelaskan pendapat dan pilihan yang benar.

Dengan 10 cara diatas diharapkan dapat menjadi solusi untuk mengembalikan rasa hormat (respect) siswa terhadap guru. Namun hal tersebut bukan satu-satunya cara yang sakti, sebagai orang timur yang Religius (Indonesia) tentunya iktiar memang wajib namun kita harus senantiasa memohon/berdoa agar dimudahkan semua niat dan perjuangan kita mendidik anak-anak bangsa agar menjadi manusia yang berwawasan imtaq dan iptek beradab serta berakhlak mulia. Terpenting sebagai pendidik terus mengasah dan menambah pundi-pundi khasanah ilmunya, berusaha menjadi terbaik dalam segala dan selalu menjadi teladan maupun tuntunan bukan hanya sekedar tontonan. 

4. Penutup

Menurunnya rasa hormat (respect) siswa terhadap guru merupakan masalah umum yang tengah dihadapi oleh dunia pendidikan era sekarang. Terdapat banyak faktor yang sangat mempengaruhi terjadinya masalah ini baik internal maupun eksternal. Untuk internal faktor tersebut berasal dari siswa dan guru itu sendiri sebagai pelaku kegiatan pembelajaran. Sedangkan faktor eksternal yaitu perkembangan ICT, moderenisasi kultur, pergaulan bebas dan penyalahgunaan obat – obat terlarang. 

Dari faktor eksternal, perlunya kesadaran dan filterisasi siswa untuk memanfaatkan ICT dan menyerap budaya asing. Dan dari sisi guru perlunya strategi atau cara untuk mengembalikan rasa hormat siswa kembali. Semuanya merupakan suatu ikatan yang utuh serta saling mempengaruhi, dan apabila terputus maka akan menimbulkan masalah besar.    

Sepatutnya para pendidik terus merevolosi diri untuk makin profesioanal dalam segala dimensi, dapat menjadi tuntunan bukan hanya sekedar tontonan serta teladan bagi para siswanya. Tidak hanya mengandalkan dimensi Fikriyah/Intelektualitas, tapi terus menguatkan dimensi Ruhiyah/Spiritualitas, karena hanya Rahmad & Karunia Allah SWT yang akan menuntun pada kebenaran, profesianalisme serta tugas kita untuk mendidik anak- anak bangsa menjadi manusia paripurna sesuai dengan tujuan Pendidikan Nasional. 

Semoga bermanfaat, terus semangat merevolosi diri. Salam sukses untuk semuanya, bersama Allah  SWT pasti Bisa dan terselesaikan. Percayalah!                                     

Referensi 

  1. http://whatedsaid.wordpress.com/2010/08/28/10-ways-to-get-your-students-respect/

  2. http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2012/10/28/hubungan-guru-dengan-siswa/

  3. http://dunia.news.viva.co.id/news/read/281864-indonesia-di-mata-pengajar-australia

           4https://mazlan66.wordpress.com/2009/03/13/isu-kurangnya-pelajar-menghormati-guru