Jumat, 30 Oktober 2020

PANDEMI CORONA DAN SOLIDARITAS

Oleh Anisa Octorina SE

(SMPN 1 Panggungrejo,Blitar,Jatim)


Tidak semua orang mudah menjalani hidup di masa pandemi Covid-19. Setiap profesi memiliki ceritanya sendiri. Dokter dan tenaga kesehatan yang rela berpisah sementara dengan keluarga demi tugas mulia. Guru, siswa dan walimurid yang punya masalah dalam Pembelajaran Jarak Jauh(PJJ). Pedagang yang harus memutar otak agar dagangannya tetap laku meski harus online. Yang pasti setiap orang dengan berbagai profesinya memiliki air mata sendiri.

Jika kita mau berfikir lebih dalam, fenomena pandemi ini hampir semua orang mengalaminya. Bagi orang beriman, bisa jadi ini adalah ujian ketaqwaan. Sebagaimana dalam Alqur’an surat Al-Baqarah ayat 155 bahwasanya Allah telah menyampaikan ”Dan kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”

 Berdasar ayat tersebut, jika kita mencoba mengkaji, corona sudah menyebabkan ketakutan  global, bahkan seluruh dunia. Takut yang luar biasa. Dimanapun diseluruh dunia, mengambil kebijakan tetap tinggal di rumah, agar aman, selamat dan mengurangi penyebaran virus mematikan ini. Bahkan setiap negara berusaha untuk menemukan obatmya. Untuk mengantisipasi tertularnya virus, setiap orang diwajibkan memakai masker. Di Indonesia, harga masker luar biasa mengalami kenaikan dari harga wajarnya. Bahkan sempat terjadi kelangkaan. Masker menjadi barang paling diburu awal terjadinya pandemi corona. Ketakutan akan tertularnya virus ini merubah pola kebiasaan hidup manusia. Kita dianjurkan untuk memakai masker, rajin mencuci tangan dan tidak boleh berjabat tangan. Bahkan sampai tidak boleh menyentuh benda-benda yang biasa disentuh orang seperti pegangan pintu dan tangga. Ada aturan menjaga jarak ketika duduk dan antri berdiri. Tidak boleh berkerumun, dan tidak boleh bepergian kalau tidak ada acara penting. Semua harus sesuai protocol kesehatan.


Corona menyebabkan ketakutan akan kelaparan. Awal di berlakukannya kebijakan tetap tinggal di rumah, mungkin bagi sebagian orang berlomba-lomba membeli bahan pokok dalam jumlah besar. Mereka takut jika sampai kelaparan. Akibatnya sempat harga beberapa kebutuhan pokok naik. Bahkan timbul kelangkaan untuk barang-barang tertentu. Sebenarnya pemerintah juga memikirkan hal ini. Beberapa keluarga yang ekonominya kurang mampu, ada program bantuan sembako dari pemerintah.

Kekurangan jiwa, mungkin yang dimaksud disini adalah kematian. Hampir setiap hari, banyak orang meninggal dunia akibat virus corona. Bahkan di berbagai negara, pemakaman sudah penuh. Petugas sampai kewalahan menguburkan orang secara layak. Di Indonesia pun, jika orang yang meninggal karena covid-19, perlakuan pemakamannya pun secara khusus. Bahkan pihak keluarga hanya bisa melihat dari jauh. Tetangga yang ingin ke rumah duka pun dibatasi. Karena tidak boleh ada kerumunan. Dan tentu saja tetap menerapkan protocol kesehatan. Sungguh sangat menyedihkan. Jika kita melihat berita di televisi atau membaca berita di medsos ataupun koran, banyak kisah memilukan orang-orang yang meninggal karena corona ini. Bahkan banyak tenaga medis yang menjadi korban dari virus mematikan ini.

Sedangkan di akhir ayat, dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. Mungkin disini mempunyai maksud, kita harus sabar menjalani ujian ini. Harus yakin bahwa setiap penyakit pasti ada obatnya. Kita harus tetap berfikir positif, karena rencana Tuhan itu pasti lebih indah di luar jangkauan pemikiran kita. Saat ini mungkin kita masih belum tahu hikmah yang tersembunyi dari munculnya virus corona ini. Yang pasti, tidak ada yang sia-sia dalam penciptaan-Nya.

    Kita tidak usah berfikir yang aneh-aneh dan berburuk sangka, tentang virus Corona. Tugas kita adalah mencari solusi, bukan malah membesar-besarkan masalah. Jangan sampai membuat isu yang bisa meresahkan masyarakat di sekitar kita. Corona adalah ujian kita semua. Yakin ujian ini pasti akan berakhir. Malam akan berganti pagi, sedih akan berganti bahagia.


    Alhamdulillah, setidaknya ada hikmah positif dari corona ini, yaitu munculnya solidaritas. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ada 3 definisi tentang solidaritas. Yaitu sifat/perasaan solider, sifat satu rasa, senasib, dan perasaan setia kawan Salah satu program Darma Wanita Dinas Pendidikan Kabupaten Blitar adalah peduli sesama, yaitu  program berbagi masker gratis dan berbagi rejeki di masa pandemi. Setiap anggota menyisihkan rejekinya untuk program berbagi ini. Bulan Romadhon lalu, sekolah kami juga mengadakan amal berbagi sayuran pokok untuk tetangga di sekitar sekolah. Setiap hari secara bergantian guru-guru membawa sayuran secara swadaya untuk diberikan ke warga di sekitar sekolah. Warga sangat antusias dengan program ini. Belum ada satu jam, sayuran di atas meja sudah bersih, diambil oleh warga sekitar sekolah. Kamipun juga bahagia melihat warga yang tersenyum. Sungguh betapa indahnya berbagi dengan sesama.

    Selain berbagi sayuran, program darma wanita sekolah kami juga ada berbagi sembako untuk siswa yang tidak mampu. Pembelian sembako diambilkan dari iuran bapak/ibu guru. Mungkin nilainya  tidak seberapa tapi setidaknya bisa membuat warga tersenyum ditengah sedihnya terkena dampak corona ini. Bukankah membuat seseorang tersenyum itu bisa bernilai ibadah?

    Solidaritas juga mulai muncul dimana-mana. Beberapa sekolah juga berbagi masker gratis dan berbagi rejeki untuk masyarakat dan tenaga medis yang sedang menjalankan tugas mulia di garda paling depan. Kita hanya bisa berharap dan berdoa semoga Corona segera lenyap dari bumi ini dan kehidupan kembali normal sebagaimana mestinya…semoga.