Sabtu, 31 Oktober 2020

PANDEMI COVID-19 DI BUMI SUMEKAR

Oleh : SYAIFUL RIJAL ALINATA, S.Pd

(SMPN 3 Sumenep)


Sumenep Jawa Timur adalah salah satu  diantara empat kabupaten di pulau Madura. Kabupaten ini dikenal juga dengan sebutan Bumi Sumekar, yang mengadung arti “semakin berkembang”.  Pada masa Pandemi Covid-19 saat ini, kota di ujung  timur pulau Madura ini juga ikut merasakan dampaknya. Sudah lebih dari 600 orang terpapar Covid-19 di kota yang jaman dulu dikenal sebagai kota “songenep” ini. Seperti desa yang semula dalam suasana yang tenang, tiba-tiba datang banjir bandang yang mengancam seluruh sisi kehidupan warga desa tersebut. Demikian  juga Covid-19 ini, tiba-tiba datang dan mengusik ketenangan suatu daerah serta mengancam sisi kesehatan, ekonomi, dan pendidikan di wilayah penyebarannya.

Sebagai insan pendidikan, tentu saya merasakan langsung dampak dari pandemi ini. Sepanjang pengalaman sebagai guru, tak terbayang sedikitpun bahwa suatu ketika akan melakukan pembelajaran  jarak jauh seperti sekarang ini. Tidak terkecuali teman-teman sejawat saya di sekolah juga merasakan hal yang sama. Terlebih lagi guru-guru yang kurang menguasai IT, sangat “kerepotan” dengan pola pembelajaran baru ini. Akibatnya di awal pekan ketika Dinas Pendidikan kabupaten mengintruksikan agar peserta didik tidak boleh lagi ke sekolah, sebagai upaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19, dan supaya dilakukan pembelajaran daring, tidak banyak yang bisa kami lakukan, kecuali memanfaatkan media sosial yang sudah ada yaitu melalui grup-grup WA kelas. Tentu sangat sederhana dan terbatas sekali, sehingga suka tidak suka harus diupayakan penggunaan platform belajar atau aplikasi lain yang lebih baik.

Pekan kedua masa pandemi di sekolah saya, beberapa guru mulai mencoba aplikasi zoom dan google classroom dalam  pembelajaran daringnya. Seakan menemukan dunia barunya, tidak sedikit guru-guru yang menikmati pola pembelajaran baru ini. Peserta didik kami juga antusias sekali mengikuti pembelajaran dan bimbingan jarak jauh ini. Guru yang merasa memiliki kemampuan kurang di bidang IT, dengan semangat meminta bimbingan dari guru yang lain untuk meningkatkan keterampilannya. Selanjutnya dalam beberapa pekan kemudian pembelajaran daring di sekolah saya berjalan dengan nyaman dan lancar.

Pada bulan kedua masa belajar dari rumah, mulai menimbulkan masalah. Keluhan dari peserta didik dan atau orang tua siswa mulai bermunculan. Keluhan utama mereka mayoritas berkisar pada ketidakmampuan membeli paket data. Kebutuhan akan paket internet ini digunakan untuk menjalankan aplikasi zoom, mengunduh materi pelajaran ataupun mengirim file-file hasil pekerjaan siswa. Beberapa peserta didik ditemukan mulai tidak aktif mengikuti pembelajaran dikarenakan kendala tersebut. Pihak sekolah tentu harus berfikir keras untuk mengatasi hambatan tersebut. Syukurlah kemudian pada pertengahan April 2020 terbit Permendikbud No. 19 Tahun 2020 tentang Perubahan Petunjuk Teknis BOS Reguler, yang membolehkan sekolah membelikan paket data untuk siswa dan gurunya guna membantu meringankan beban orang tua dan guru pada masa Belajar dari Rumah (BDR) ini. Aturan ini dieksekusi oleh sekolah melalui kebijakan kepala sekolah berupa pembelian paket data untuk semua siswa.

Memasuki tahun pelajaran baru 2020/2021 masa pandemi Covid-19 belum berakhir. Sekolah saya menerima siswa baru melalui proses penerimaan peserta didik baru (PPDB) online. Masa pengenalan sekolah (MPLS) pun dilaksanakan secara daring. Siswa baru kami (kelas 7) adalah benar-benar siswa “dunia maya”. Kehadiran “siswa maya” ini bukan tanpa masalah. Ada di antara mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu sehingga tidak memiliki handphone android atau smartphone. Tentu siswa yang seperti ini tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Mereka juga memiliki hak untuk mendapatkan pembelajaran dan menjadi kewajiban sekolah untuk memenuhinya. Melalui pembahasan dalam forum rapat, akhirnya diputuskan untuk menerapkan pola pembelajaran kombinasi yaitu, daring dan luring. Daring diperuntukkan untuk siswa yang memiliki smartphone, sedangkan luring untuk siswa yang tidak memilikinya. Untuk kepentingan luring ini muncullah istilah “guru kunjung” yaitu guru-guru yang memiliki tugas mengunjungi siswa di rumahnya memberikan pembelajaran atau sekedar mengasihkan tugas atau mengambil tugas yang sudah dikerjakan oleh peserta didik. 

Pembelajaran kombinasi ini tidak berlangsung lama, karena satu demi satu peserta didik yang semula tidak memiliki smartphone akhirnya mereka punya sarana yang vital dalam pembelajaran jarak jauh ini. Di antara mereka ada yang membeli sendiri, ada yang dipinjami oleh wali kelas atau gurunya, dan ada pula yang dipinjami oleh sekolah. Sehingga memasuki bulan ke Agustus 2020, semua siswa kami (termasuk siswa baru kelas 7) dapat melakukan pembelajaran daring kembali.

Memasuki bulan kedelapan masa pembelajaran jarah jauh ini kejenuhan sudah mulai terasa. Tidak hanya siswa yang secara terus terang menyatakan kebosanannya belajar di rumah. Gurupun sudah mulai merasa ada sesuatu yang kurang atau tidak tersampaikan ke siswa. Tentu dengan pembelajaran jarak jauh upaya pembinaan karakter siswa sebagai “ruh” pendidikan menjadi tidak maksimal. Sampai hari ini peta sebaran covid-19 di kota kami masih zona orange, yang artinya tidak diperkenankan melaksanakan pemebelajaran tatap muka (PTM). Kami harus tetap setia dan tetap bersabar dengan PJJ.  Semua (siswa, orang tua, guru, kepala sekolah) dalam posisi menunggu sambil berharap, semoga pandemi Covid-19 ini cepat berlalu sehingga pembelajaran di sekolah kembali normal seperti sedia kala.


Sumenep, 30 Oktober 2020.