Kamis, 29 Oktober 2020

PJJ, Racun atau Madu

Oleh Rizki Mega Saputra,S.Pd


Virus Corona kita rasakan saat ini adalah sebuah momok yang sangat menakutkan. Sejak Maret 2020 diumumkan oleh pemerintah bahkan dunia sudah menyatakan bahwa virus Corona itu sangat mematikan.

Banyak sektor di dunia bahkan sangat kualahan sudah hampir setengah tahun kita merasakan ini, kebijakan pemerintah masih terkadang tidak memenuhi sasaran. Beberapa sektor yang sangat berpengaruh yaitu ekonomi kesehatan dan pendidikan.

Sektor ekonomi sangat sangat carut-marut dengan adanya panen seperti ini kebijakan psbb kebijakan lockdown tidak mampu untuk membendung pandemi ini. Kebijakan dan kebijakan pemerintah sudah dilakukan namun kita tahu masyarakat Indonesia sangat senang dengan berkumpul maka setelah ditetapkannya dengan kebijakan yang disampaikan pemerintah tidak akan menjadi jera masyarakat kita bahkan beberapa masyarakat kita tidak percaya kalau virus Corona itu memang benar adanya. Mengapa demikian inilah yang mungkin menjadi PR kita untuk saling mengingatkan dan menyampaikan dengan bijak.

Berbicara tentang virus Corona dampaknya terhadap bidang pendidikan kita sebagai pendidik kerepotan dengan adanya PJJ atau istilah lain yang muncul setelah adanya pandemi. Menurut saya sebagai pendidik itu perlu ada penyederhanaan silabus pembelajaran untuk sebagai panduan seorang guru menyampaikan kepada peserta didiknya materi apa saja yang harus atau mendesak disampaikan saat ini, memang sudah ditetapkan kurikulum darurat namun bagi saya itu tidaklah efektif.

Seharus ada pedoman yang memang ditetapkan oleh Kemendikbud untuk pembelajaran ini sehingga tidak ada ketimpangan dengan daerah-daerah yang di pedalaman karena pembelajaran ini harus tetap disampaikan. Kebijakan pemerintah yang saat ini dengan memberikan kuota belajar bagi saya akan menimbulkan kecemburuan contohnya peserta didik Saya tidak semuanya memiliki perangkat seperti smartphone sehingga siswa saya merasa tidak adil bagi mereka yang tidak punya HP tidak punya kesempatan untuk mendapatkan kuota belajar ditambah lagi dengan pendukung yang tidak memadai seperti sinyalnya tidak ada bahkan yang tidak mendukung mati listrik. 

Mengapa saya mengatakan PJJ itu racun atau madu alasannya PJJ akan menjadi racun ketika pembelajaran itu tidak disampaikan dengan baik oleh guru, baik materi yang diberikan tidaklah tuntas atau pelajaran hanya sebatas memberikan tugas kepada siswa, tidak ada penyampaian materi, tidak ada sugesti, tidak ada pengaruh psikologi atau bahkan yang sangat miris tidak adanya tanggung jawab seorang guru guru bahwa dia adalah pengajar.  PJJ akan menjadi madu apabila pembelajaran itu disampaikan dengan menyenangkan ada inovasinya, kreativitasnya dan  peserta didik bisa menerima dengan baik sehingga sumber daya manusia kita yang sudah masuk generasi 4.0 atau generasi milenial bisa belajar tentang teknologi, memang sampai kapanpun seorang guru itu tidak akan pernah bisa digantikan dengan aplikasi ataupun dengan robot.

Harapan saya sebagai pengajar untuk pembelajaran pandemi ini yaitu penyederhanaan materi dengan begitu bisa dengan baik materi yang diserap oleh siswa maka pembelajaran bermakna dan merdeka itu bisa dinikmati peserta didik kita dengan bahagia.