Sabtu, 10 Oktober 2020

Satria Kembar Negeri Arsi

 


Oleh Suriani

Bagian 1 :

Lonceng Kematian

Teng …! Teng …! Teng …! Keras sekali terdengar dentingan lonceng di negeri Arsi. Pertanda sebentar lagi akan dilaksanakan eksikusi mati. Persiapan di altar eksikusi mulai terlihat. Sang Algojo yang berbadan besar bak raksasa, kekar, mata bertutup satu layaknya seorang bajak laut dan  kampak lebar besar, senjata eksikusi. Ia berjalan dengan memikul kampak besar di pundaknya, semakin  seram, angker, menakutkan!

 


 Istana Kerjaaan Arsi


Penduduk di kota raja mendengar denting lonceng dari atas menara benteng kerjaan Arsi. Tak terkecuali pusat keramaian penduduk di pasar kota raja. Sejenak pedagang dan pembeli, bahkan penduduk di jalanan menghentikan  langkah sesaat, khusu mendengar denting lonceng. 

“45 menit lagi…..,” gumam seseorang. “Tak lama lagi….,” gumam yang lain.“Sungguh malang nasib pangeran pegasus itu,” tukas seorang pedagang di salah satu pasar kota raja.

Mereka  tahu bahwa pertanda eksikusi terhadap seseorang yang akan dipancung. “Siapa yang didukum mati?” tanya yang lain. “Bukan dihukum, tapi berkorban,” tukas yang lain.“Ah, mengapa harus Pangeran Torasy?” Seorang pedagang minyak wangi menggerutu sambil bertanya, “dia pangeran yang baik hati,” sambungnya. “Aneh…,” sela seorang pembeli yang berdiri di depan seorang pedagang minyak wangi itu.


Pasar  Kota Raja

 

Waktu terus berjalan. Sang algojo  menuju altar eksikusi, terlihat garang,  semakin mencekam! Sang algojo siap menjalankan tugas. Beberapa punggawa membawa  kuda pegasus yang malang. Empat punggawa mengawal dan menggiring calon tereksikusi  dari ruang tahanan bawah tanah ke altar eksikusi. Kuda pegasus itu merengek menyeringai nyaring berkali-kali memecah kebisuan suasana, tahu apa yang akan terjadi. 

Di lain tempat di tengah kota raja Pangeran Agory  asyik bermain pedang-pedangan, bertarung sesama usia sebaya. Semua tahu bahwa Pangeran Agory adalah pangeran mahkota, tetapi mereka tidak tahu bahwa teman anak-anak  mereka yang gemar bermain pedang dan suka permainan bertarung adalah sang pangeran. 

Pengeran Agory seringkali menyelinap ke luar istana dengan pakaian rakyat jelata. Dia keluar istana ketika pergantian jam jaga  punggawa. Beberapa menit ketika serah terima tugas jaga dari petugas malam berganti pada pagi hari. Waktu terbaik yang dimanfaatkan oleh Pengeran Agory. 

Dia tidak merasa nyaman dengan suasana mewah  kerajaan sebagaimana  seorang pangeran putra mahkota. Teman sepermainannya pun tidak tahu  rekan mereka adalah seorang putra mahkota. Sang pangeran memperkenalkan  diri  dengan nama Arnandi sebagai seorang anak saudagar di kota raja. Ia dikenal oleh rekan sebaya ketika membela seorang bocah dirundungi, dipukuli, dikeroyok kawanan geng anak kota raja utara. Arnandi mengibaskan  pedang mainannya kepada salah seorang pengeroyok yang paling sadis  kali memukuli anak yang malang itu, seketika pengeroyok terpental. 

Bocah nakal itu bangkit dan menentang duel.  Arnandi melayani tantangan, “anak kecil baru?, rasakan ini …!,” sambungnya bocah sombong itu sambil menendang gaya sabit dengan kaki kanan. Arnandi berpostur lebih kecil sejengkal dari lawannya,  menunduk dan mengibaskan pedang-pedangan tepat di kaki kiri  lawan. Buk! Kaget, anak pembuli yang sombong  itu terjatuh. 

“Kurang ajar …!,” teriaknya sambil menyerang dengan tamparan tangan kanan. Plak! Arnandi menangkis dengan mainan pedangnya tepat di bagian tengah pedang mainannya. Menjongkok menghindari serangan sambil berputar setengah badan. Kaki kanan Arnandi menendang kuat kaki kuda-kuda lawan tepat bersarang di kaki kanan. Lagi terdengar bunyi “bruk!”, jatuh. Pedang Arnandi terhunus di leher. Bos geng itu segera bangkit dan berlarian ketakutan bersama anak geng anaknya. 

“Terima kasih telah membantu,” ujar kawan baru yang dibelanya,” namaku Rotar,” lanjutnya bocah malang itu mengenalkan diri sambil menyalami Arnandi. 

“Siapa mereka?,” Arnandi bertanya.“Geng Taror di utara kota raja. Mereka sering mengganggu bocah di gang ini.” Jelas Rotar,” aku yakin mereka kapok setelah kejadian hari ini.”         

Mulai saat itu Arnandi akrab dengan Rotar dan dikenalkan kepada kawanannya di kota raja. Ia sengaja menyembunyikan identitas diri dan tidak mau terikat dengan protokol pengamanan sebagaimana protokol pengamanan anak bangsawan, apalagi protokol untuk putra mahkota! 

Pangeran Agory pagi itu meninggalkan istana  membawa mainan kegemaran pedang-pedangan yang bagus dan kuat, hadiah panglima perang. Pangeran keluar istana  melalui jalan tikus yang dibuatnya. 

Di taman labirin pangeran  tidak bosan  bermain menelusuri taman  yang luas. Bermain mengayunkan  pedang, seakan-akan ada musuh yang melawannya. Pangeran Agory sering memainkan pedang kecil miliknya layaknya seperti seorang satria gagah bertempur tangkas, lihai memainkan jurus pedang. 

Pergantian jam jaga penjagaan. Segera ia menyelinap, menyusup, merayap menuju ke luar istana di lubang yang digalinya. Tak ada yang tahu, jalan tikus ini bermuara dari taman istana. Sebuah lubang di bawah tembok istana  menembus pagar yang kokoh tinggi. Jalan tikus seukuran bocah  merayap. Cerdik untuk seorang bocah berusia lima tahun. 

Pangeran Agory gemar sekali bermain di taman labirin setiap pagi setelah sarapan, segera berlari ke taman labirin yang berada tepat di depan kamar pribadi pangeran beberapa tingkat ke bawah. Tak lupa ia membawa mainan terfavoritnya pedang-pedangan. 

Taman labirin tampak di bagian bawah beberapa tingkat dari kamar pengeran. Kamar pribadi Pangeran Agory menghadap ke belakang istana, terdapat taman labirin di bawah beberapa tingkat dari kamarnya. Bagian belakang istana terdapat gunung batu yang sangat terjal dan di bentengi oleh bangunan tembok kokoh yang tinggi membentang. Di bagian pojok tanaman rimbun taman labirin digalinya perlahan dengan mainan pedang kesukaannya. Setiap hari dicongkel dan digali tanah yang tertutup rimbunan tanaman labirin. Tanah galian dihamparkannya dengan rapi di punggung tanaman yang berdaun lebat dan disusun berjejer rapi. Tak nampak  dilihat dari atas tanaman labirin yang rimbun. 

Pangeran Agory menggali sejak setahun yang lalu.  Semenjak mendapat perlakuan aneh dari ibu tirinya. Ibu permaisuri tidak suka kedua putra mahkota. Ia tidak mengerti apa maksud dan tujuan ibu tirinya.  Ia berpikir bagaimana agar bisa keluar istana dengan cara tidak biasa. Jalan tikus, jalan rahasia! 

Adik kembarnya yang berbentuk kuda pegasus. Kuda putih bersayap dengan cula di atas kepala bernama Pangeran Torasy. Saudara sekandung satu-satunya yang paling mengerti.  Dialah yang memberi petunjuk, agar kakaknya keluar istana dan bermain dengan anak-anak seperti anak biasa lainnya. Ia pula yang menyarankan agar kakaknya agar belajar jurus pedang dan bermain pertarungan dan berkelahi. 

Pangeran Agory tak segan bertanya kepada panglima perang kerajaan bagaimana cara memegang senjata pedang dan cara memainkannya. Panglima dengan senang hati memberi contoh memainkan pedang dengan baik dan benar. Tak jarang Pangeran Agory menyaksikan prajurit berlatih berperang dengan senjata pedang. Ia mengerti teknik memegang pedang dengan berbagai posisi dan teknik memainkan pedang. 

Sang ayah sebagai raja agung negeri Arsi sangat gembira menyaksikan perilaku putra kesayangannya. Tanpa susah payah mengajarkan bagaimana menguasai ilmu pedang. Sang raja mengagumi bakat bawaan putranya. Jiwa kesatria telah tumbuh sejak usia dini, “seorang patriot masa depan dimulai hari ini,” gumam sang raja dalam hati.  

Pangeran Agory  dan Pangeran Torasy, saudara kembarnya berwujud kuda pegasus yang malang itu. Mereka  saling  mengasihi, saling membantu, satu-satunya patner curahan hati kepercayaan. Mereka saling berkeluh kesah dan bercerita. Pangeran Argory satu-satunya orang yang paham apa yang dimaksud oleh adiknya Torasy. Suara rengengakan Torasy sama seperti rengekan kuda biasa bagi orang lain. Bagi Pangeran Argory tak lain adalah bahasa percakapan sebagaimana bahasa percakapan antar manusia. 


Pangeran Torasy


Mereka sering kali bermain. Adiknya Torasy acap kali membawanya terbang mengitari langit sekitar kota raja. Kedua putra mahkota sangat akrab kompak, saling setia, sebatin seperasaan. Makhluk yang berbeda, tetapi satu keadaan batin.

“Aku tidak mengerti mengapa Ibu Permaisuri ingin mencelakai kita?,” Pangeran Torasy bertanya pada abangnya Pangeran Agory,  sambil terbang bersama Pangeran Agory yang menunggangi punggungnya. Melesat terbang tinggi di atas langit  kota raja.

“Apa kamu tidak merasa, ada perlakuan aneh dari ibu permaisuri kepada kita?,” ujar Torasyi, “ingatkah kau pada sebuah peristiwa, di malam itu kamu ingin tidur. Satu hal yang aneh terjadi. Ibu permaisuri mengganti seprei dan sarung bantal  yang dikerjakan dengan tangannya sendiri. Biasanya pelayan yang melakukan.  Ketika kamu hendak tidur,   kau dengan cerdas menghindar. Seakan tahu bahwa matras yang empuk dan bantal yang disiapkan untukmu dipasangi jarum beracun. Kau masih ingatkan?,” Torasy menambahkan.

“Iya tentu masih aku ingat!” jawab  Pangeran Agory sambil memangguk,”aku tidur di lantai berkarpet di kamar tidurku. Aku ingin merasakan bagaimana tidurnya rakyat jelata yang  hanya beralas tikar kasar, bahkan tanpa alas,” jelasku,”ibu permaisuri nampak sangat kesal dengan ulahku,” ujarnya memaparkan. 

“Ibu permaisuri menyiapkan makan dan minum kesukaanmu,” Pangeran Torasy mengingatkan kakaknya, ”Ibu Permaisuri menyiapkan sendiri masakan yang biasanya dikerjakan oleh koki istana. Sial! Ditaburi racun. Huh, ibu permaisuri benar-benar ingin membunuhmu! Kau ingat?, “ lagi Pangeran Torasy bertanya.

Bersambung…..