Kamis, 29 Oktober 2020

SUKA DUKA SELAMA PANDEMI COVID-19

Oleh Ida Treenalita Tjahja Saputra, S.Pd

SMP Negeri 2 Pegantenan




    Saya adalah guru SMP kecamatan di Kabupaten Pamekasan. Jarak dari pusat kota sekitar 7 km ke arah utara. Di mana mata pencaharian sehari-hari penduduk disana adalah bertani dan buruh bangunan. Lebih dari 11 tahun saya bertugas di sana, dengan jarak tempuh dari rumah sekitar 12 km. Tahun demi tahun saya lalui sebagai pendidik di sekolah tersebut, banyak suka duka yang sudah terlewati dengan berbagai tingkah pola siswa serta dewan guru. Terkadang tersenyum simpul hingga tertawa terpingkal-pingkal karena ulah mereka dan kadang juga menyesakkan dada hingga menangis. Semua saya lalui dengan rasa keikhlasan hati sebagai seorang pendidik.

    Sekitar Bulan Desember 2019, ada kabar tentang virus Corona yang melanda China pada waktu itu. Kami berpikir bahwa virus itu tidak akan masuk ke Indonesia, karena Negara ini beriklim tropis, apalagi Madura yang cuacanya sangat panas. Tapi kenyataan berkata lain, ternyata virus corona terdeteksi masuk ke Indonesia melalui WNA yang sedang merayakan hari Valentin di sebuah klub dansa di Jakarta.

    Kemudian, awal Maret 2020 di Surabaya sudah banyak yang terpapar virus corona, sehinggga pemerintah membuat kebijakan untuk me”lockdown”kan wilayah tersebut dan diganti dengan nama PSBB. Pandemi covid-19 merusak semua yang sudah kami rencanakan. Rencananya kami akan mengadakan rekreasi lepas pisah kelas IX yang memang diadakan sebelum UNBK. Karena terbentur dengan bulan puasa, maka kami memajukan jadwal acara tersebut. Tapi apalah daya, manusia hanya mampu berkehendak, Allah sebagai penentunya. Travel yang sudah kami booking jauh bulan sebelumnya, terpaksa kami batalkan, begitu pula catering. Alhamdulilah, semua pihak yang kami batalkan mengerti akan kondisi tersebut.

    Dimulailah babak baru pembelajaran sekolah kami selama masa pandemi covid-19. Dimulailah juga perburuan kami akan masker dan hand sanitizer yang sudah mulai mahal dan langka. Dirumah, saya juga mulai membeli telur dan mie instan dalam jumlah yang besar, karena saya dan suami berpikir akan terjadi lockdown secara besar-besaran. Tapi kami kembali bersyukur, karena hal itu tidak terjadi di Pamekasan.

    Sekolah juga mulai diliburkan, sehingga kami diberi tugas untuk melakukan WFH (Work From Home), atau bekerja dari rumah. Disinilah kami mulai agak kebingungan, karena tugas dari siswa harus disetor ke kami melalui gadget atau HP android. Sudah saya ceritakan sekelumit kehidupan penduduk di sekitar tempat saya mengajar. Kami para guru, mencari solusi bagaimana cara agar siswa bisa BDR (Belajar Dari Rumah) dan bisa menyerahkan tugas dengan baik. Akhirnya disepakati setelah konsultasi dengan Kepala Sekolah, bahwa untuk sementara yang diberi dan yang menyerahkan tugas, hanya mereka yang mempunyai HP android. Tapi ada lagi kendala, yaitu masalah kuota internet. Untuk makan sehari-hari saja mereka kadang kekurangan, apalagi untuk membeli kuota internet. 

    Berbulan-bulan kami terkungkung di rumah dan mulai mengalami kebosanan. Kami yang biasa berada di lapangan, dan berinteraksi dengan siswa mulai merindukan tingkah pola mereka. Walaupun kadang menjengkelkan, hal itulah yang membuat saya rindu. Libur panjang karena covid-19 ini, mengharuskan para siswa harus berdiam di rumah juga. Bagi yang agak malas sekolah mungkin ini adalah berkah bagi mereka, tapi bagi siswa yang rajin, mereka selalu menanyakan kapan sekolah dibuka lagi. Mereka mulai bertanya…ibu, kapan masuk sekolah…ibu besok masuk ya… Kami hanya bisa menjawab, masih menunggu kabar dari diknas, masih corona, dll. Saya pribadi juga tidak berani untuk keluar rumah kalau memang tidak penting, dan yang saya kerjakan dengan keluarga, olahraga ringan dan berjemur dibawah sinar matahari pagi.

    Tahun 2020 adalah tahun yang meniadakan ujian kelulusan bagi kelas IX. UNBK yang sudah dipersiapkan harus tersingkirkan karena adanya covid-19. Kami harus meluluskan siswa kelas IX, dan juga harus menaikkan kelas bagi siswa kelas VII dan VIII. Harus juga memutar otak untuk memberi nilai raport, karena tidak ada PAT (Penilaian Akhir Tahun), sehingga kami disini membutuhkan katrol Jerman (kami menyebutnya seperti itu, kalau nilai sudah minim banget) yang benar-benar mumpuni.

    Tahun ajaran 2020/2021 dimulai, kamipun mulai bertugas untuk PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru). Meskipun sekolah kami tidak jauh dari pusat kota, tapi siswa yang mendaftar di sekolah ini terbilang minim, karena adanya system zona yang diberlakukan oleh pemerintah, tapi kami tetap bersyukur. Sertifikasi yang kami terima juga tidak utuh, karena kami masih harus berbagi dengan teman yang jam mengajarnya kurang karena minimnya siswa di sekolah kami (#curhat…Maaf ya pak).

    Sampai bulan Agustus 2020, Pamekasan masih berada di zona orange, yang artinya belum bisa untuk mengadakan PTM (Pembelajaran Tatap Muka), masih tetap mengadakan PJJ (Pembelajaran Jarak jauh). Tapi untunglah, dana BOS sekarang bisa untuk membelikan siswa kuota internet dan ditambah lagi ada bantuan kuota dari pemerintah untuk siswa dan guru. Selama tenggang waktu Juli-Agustus, kami memberikan materi dan tugas untuk siswa melalui HP. Karena banyak dari siswa yang tidak menguasai TIK, maka jalan yang kami gunakan untuk menyampaikan dan menerima tugas siswa, kami menggunakan WA (Whatsapp). Penilaian Harian (PH) juga kami berikan secara daring.

    Sedangkan siswa yang tidak mempunyai HP android, bisa mengambil tugas dan menyerahkannya di sekolah. Awal Pembelajaran Jarak Jauh, saya harus mengantarkan buku paket dan tugas yang harus dikerjakan oleh siswa. Rumah yang dituju itu sangat jauh, yang mempunyai hp hanya orang tuanya, itupun hp yang digunakan bukan hp android, tapi hp jadul (hp not net not), disini kami biasa menyebutnya seperti itu. Separuh perjalanan, saya menanyakan rumah orang tua siswa tersebut kepada orang yang saya temui di jalan. Orang tersebut menunjukkan dengan jempolnya yang menunjuk kearah atas. Ya Allah…saya membathin, berarti rumah siswa tersebut masih jauh, kenapa…karena kalau orang desa sudah menunjuk telunjuk atau jempolnya dengan tegak, itu berarti masih sangat jauh, sebaliknya kalau agak menengah atau turun berarti sudah dekat. 

    Sekitar awal Agustus, sekolah kami diijinkan membuat proposal untuk mengadakan PTM yang sesuai dengan protokol kesehatan yang sudah disiapkan oleh Dinas Pendidikan setempat. Dan September 2020, Pamekasan sudah dinyatakan zona kuning, itu berarti Pembelajaran Tatap Muka bisa dilaksanakan walaupun masih dengan jumlah siswa yang terbatas. Secara bergantian siswa masuk dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. Disetiap depan kelas dibuatkan wastafel dan di depan pintu gerbang sekolah juga sudah disediakan tempat untuk cuci tangan. Kemudian setiap hari guru bergantian piket 3S (senyum, salam, sapa). Mereka bertugas menyambut siswa di sekolah dengan mengukur suhu tubuh dan memberikan hand sanitizer, serta mewajibkan siswa memakai masker selama di lingkungan sekolah.

    Alhamdulilah, sampai sekarang Pamekasan tetap zona kuning dan mudah-mudahan segera beralih ke zona hijau. Kita doakan bersama semoga covid-19 segera berlalu dari Indonesia dan seluruh dunia. Kita bisa mengambil hikmah dari pandemi covid-19 ini, bahwa kita hanyalah manusia yang tidak berdaya, Allah Maha Besar dapat menjadikan dunia dan seisinya bertekuk lutut dengan takdir yang terjadi. Serta kita bisa menghadap new normal ini, karena kita saling bahu membahu dan dengan disiplin yang tinggi, in sya Allah pandemi covid-19 ini akan segera berlalu, Amiinnn…Ya Mujibassailin.