Senin, 19 Oktober 2020

Sumur Tujuh, Sebuah Peninggalan Sejarah Masa Lalu

 Oleh Masitoh Waslim

SMPN 1 Kramatwatu, Serang, Banten



Sumur Tujuh atau Sumber Tujuh, terletak di Kampung Pancuran, Desa Lebakwana, Kecamatan Kramatwatu, Kabupaten Serang. Sumur Tujuh merupakan sebuah tempat peziarahan dan tempat pemandian atau biasa disebut dengan istilah Petirtaan. Tidak seperti namanya, di Sumur Tujuh terdapat beberapa lubang-lubang menyerupai sumur dengan diameter sekitar 0,5–1 meter yang letaknya berdekatan dan dinaungi oleh sebuah pohon Beringin besar dan rimbunan pohon Palem di sekelilingnya. 


Jumlah sesungguhnya lebih dari tujuh sumur, melainkan 26 buah. Sembilan belas sumur di sebelah utara dan 7 sumur di sebelah selatan. Menurut cerita, jumlah sumur tersebut bisa berubah-ubah tergantung tingkatan kemampuan manusia yang datang berziarah ke tempat tersebut.

Sumur di sebelah utara sebanyak 19 sumur

Sumur di sebelah selatan sebanyak 7 sumur

Tempat ini diyakini sebagai tempat berkumpul para syekh, kyai, dan para pejuang pada masa lalu untuk bertirakat dan mendekatkan diri kepada Allah.


Berawal dari akhir abad ke-15 M, sewaktu Sunan Ampel pertama datang ke Banten, sudah didapatinya penduduk yang beragama Islam walaupun Bupatinya masih beragama Hindu. Bahkan di Banten sudah berdiri satu masjid di Pecinan, yang kemudian diperbaiki oleh Syarif Hidayatullah.


Dalam masa itu pula perkembangan pendidikan agama Islam maju dengan pesat. Di komplek Masjid Agung dibangun sebuah madrasah yang dimaksudkan untuk mencetak pemimpin rakyat yang saleh dan taat beragama, demikian juga di beberapa daerah lainnya.


Banten di masa kepemimpinan Maulana Yusuf di samping tetap berjuang melawan penjajahan Belanda juga mendorong rakyatnya tekun beribadah dan dalam hal perekonomian untuk meningkatkan pendapatan penduduknya diperintahkan untuk membuka daerah-daerah baru bagi persawahan, sehingga sawah di Banten bertambah luas sampai melewati daerah Serang sekarang. Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan air bagi sawah-sawah tersebut, dibuatlah terusan-terusan irigasi dan bendungan-bendungan.


Bagi persawahan yang terletak di sekitar kota, dibangun satu danau buatan yang dinamakan Tasikardi. Air dari sungai Cibanten dialirkan melalui terusan ke danau ini dan salah satu sumber airnya berasal dari mata air Sumur Tujuh

Pak Kamsin-Penjaga Sumur Tujuh

 

Menurut penuturan Ustadz H. Barmawi-pewaris daerah Sumur 7 ini  dari usia 19 tahun, Sumur Tujuh adalah area seluas kurang lebih 5 hektar, tempat ini pada masa lalu adalah tempat berkumpulnya para Syekh, Kyai, dan para pejuang.


Di Sumur Tujuh ini terdapat makam para Aulia dan Kyai, yaitu:

  1. Syekh Pangeran Sebrang Kidul

  2. Syekh Pangeran Antas Angin

  3. Syekh Hasan (Kembar)

  4. Syekh Husen (Kembar)

  5. Syekh Abah Saki Al Bantani

  6. Syekh Asem

  7. Syekh Tunggal 

  8. Syekh Ireng 

  9. Ibu Ratu Nyai Wana Pancuran Emas

  10. Syekh Sepuh


Menurut cerita beliau, justru pusat pemerintahan Kramatwatu awalnya di desa Pancuran-Lebak Wana (Pancuran Emas) yaitu di area Sumur Tujuh tersebut. Dan wilayah ini dahulunya dimiliki oleh Ibu Ratu Nyai Wana.


Wilayah Sumur Tujuh ini adalah daerah yang sering dijadikan tempat pertemuan para syekh, kyai, dan para pejuang guna membicarakan atau memusyawarahkan sesuatu, terutama syiar agama dan taktik melawan penjajah Belanda. Setelah rapat para syekh, kyai, dan para Pejuang untuk berwudhu dan membersihkan hal lainnya kesulitan untuk mendapatkan air.


Akhirnya Syekh Mansyur dari Cikaduen menancapkan tongkatnya lalu keluarlah air dari sumber tersebut, keberhasilan yang pertama diikuti oleh kemunculan lubang-lubang sumur yang lain, tahap pertama sebanyak tujuh  sumur, hingga sekarang jumlahnya mencapai 26 sumur. 


Sampai pada akhirnya, sekarang tempat ini diyakini oleh masyarakat sebagai tempat yang tepat untuk berziarah guna mendapatkan berkah atau mengucap syukur karena mendapatkan rizky yang bertambah dari yang sebelumnya, melakukan ritual mandi untuk menyembuhkan penyakit atau mendapatkan jodoh, naik pangkat, dan lain-lain. Tapi seperti yang dikatakan Ustadz Haji Barmawi “bahwa yang mengabulkan do’a-do’a kita adalah Allah SWT”. Kita harus berkeyakinan kita datang ke Sumur Tujuh adalah untuk mendo’akan para Syekh, Kyai, dan para Pejuang yang meninggal dan dikuburkan di area/wilayah Sumur Tujuh serta mengenang dan menghargai jasa-jasa beliau.

Makam yang ada di Sumur Tujuh

Suasana masyarakat sedang berziarah

Pada waktu itu yang membuka daerah Sumur Tujuh ini kembali adalah:

1. Kh. Abdul Fattah Tohir (Serang)

2. Kh. Fayumi (Tanara)

3. H. Subhi (Bojonegara)


Daftar Pustaka



Michrob, Halwany dan Mudjahid Chudari, 1984, Proses Islamisasi di Banten     Cuplikan Buku Catatan Masa Lalu Banten, Editor: Ovi Hanif Triana.


Widi Aria, Krisna, 2013, “Sumur Tujuh” di Kramatwatu, Gencar Dipromosikan     Namun Sulit Dicapai, Tangerang Ekspres.


Barmawi, Nara Sumber Langsung (pewaris), 2013. Sumur Tujuh Kampung Pancuran, Desa Lebakwana Kecamatan Kramatwatu Kabupaten Serang.

Kamsari, Nara Sumber Langsung (kuncen), 2013, Sumur Tujuh Kampung Pancuran Desa Lebakwana Kecamatan Kramatwatu Kabupaten Serang.


Bio Data Penulis:


Masitoh Waslim, S.Pd, Lahir di Serang, 27 Juni 1970 Kini bekerja di SMPN 1 Kramatwatu (SP1KER). Menjadi guru favorit dua tahun berturut-turut tahun 2009-2010, dan tahun 2010-2011. Sebagai Pembina Ekskul OSN IPS menghantarkan satu siswanya sampai ketingkat Provinsi. Menjadi Pembina dan pembimbing Duta Sanitasi sampai ke tingkat final yang diadakan oleh Dinas PU (Pekerjaan Umum) Provinsi Banten. Menjadi Pembina Ekskul Pramuka dari tahun 2011 sampai dengan sekarang.