Jumat, 30 Oktober 2020

TAFAKUR DAN SYUKUR DENGAN PANDEMI COVID-19

 Oleh : SUTINI, S.Pd.

SMP Salman Al Farisi Bandung


Bulan Desember 2019 awal munculnya virus corona di kota Wuhan Cina. Saya melihat berita itu setiap hari update di televisi. Virus tersebut diberitakan sangat mematikan dan mengancam siapa saja tanpa pandang bulu. Diberitakan proses penyebaran virus corona sangat mudah dan cepat, hanya dengan berdekatan saja dengan orang yang terinfeksi, maka virus dengan mudah berpindah tempat menularkan kepada orang lain. 

Covid-19 nama lain dari virus corona telah menjadi headline berita setiap hari, dalam waktu “secepat kilat” virus menyebar dari Cina ke seluruh dunia, dan menggemparkan termasuk di Indonesia. Hampir setiap orang dibuat “paranoid” jika mendengar istilah covid-19 tersebut. Orang yang batuk sedikit dicurigai, orang sakit tenggorakan dijadikan suspect, orang napasnya sesak otomatis disinyalir terkena virus corona, yang pasti apapun sakit yang diderita, orang sudah dicap terindikasi kena virus yang mematikan itu. 

Hal serupa terjadi pada teman saya yang kena flu, dia sudah berpikiran macam-macam saking “parno”nya. Sudah sepekan dia kena flu yang disertai demam dan dia enggan periksa ke dokter, dengan alasan dia takut sakitnya karena corona. Alhasil alhamdulillah ternyata dia cuma terkena flu biasa. Dia mau periksa setelah didesak dan dibesarkan hatinya oleh semua teman di kantor, meskipun teman- teman di kantor pada awalnya pun merasa “parno” dengan flu yang diderita teman kami itu.

Adapula kejadian yang menimpa tetangga saya, anaknya tiba-tiba demam tinggi dan sesak napas. Melihat kondisi tersebut kedua orangtuanya segera membawanya ke puskesmas terdekat. Pihak puskesmas melalukan pemeriksaan dengan alat yang ada, kemudian langsung mengeluarkan rujukan untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut ke rumah sakit Hasan Sadikin, sebuah rumah sakit yang menjadi rujukan penderita covid-19. Menerima surat rujukan itu tentu saja membuat ibu dari anak tersebut syok dan terkejut. Berita surat rujukan menyebar dikalangan warga sekitar, dengan cepat dan secepat itu pula warga heboh, langsung menutup diri dan tidak mau menjalin kontak dengan mereka. Ternyata setelah diperiksa pihak rumah sakit, hasil diagnosa menunjukkan anak itu menderita radang paru-paru dan sama sekali tidak terjangkit covid-19. 

Virus yang berbentuk mahkota ini berhasil merubah hampir seluruh tatanan kehidupan di masyarakat. Perubahan terjadi pada bidang sosial, budaya, dan bidang ekonomi yang menderita paling parah. Menghadapi kondisi itu pemerintah mengeluarkan kebijakan dalam menghadapi pandemi covid-19 ini salah satunya dengan melakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan mengharuskan masyarakat mengkarantina diri dan keluarga selama tiga bulan terhitung dari bulan Maret – Mei. Masyarakat harus terbiasa hidup berdampingan dengan virus corona dan menjalani aktivitas sehari-hari dengan mematuhi standar protokol kesehatan, sering mencuci tangan pakai sabun atau memakai handsanitizer serta memakai masker.

Bulan Maret 2020, bulan pertama memasuki masa kami harus melakukan Work From Home disingkat jadi WFH. Dengan kebijakan PSBB otomatis semua akitivitas pekerjaan termasuk Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dikerjakan di rumah masing-masing dan di sekolah kami, harus melaporkan hasil kerjanya setiap hari kepada kepala sekolah. 

Tantangan terbesar kami selaku pendidik saat WFH ini adalah kami harus merubah pola pikir dan meningkatkan skills ICT (Information, Communication, Technologi) yang masih terbatas dan harus terus diasah. kami harus mampu menyajikan pembelajaran daring (online) yang menarik dan tetap dapat membangkitkan semangat siswa-siswa kami untuk terus belajar meskipun tidak bertatap muka.

Semua kemampuan tersebut tidak mudah dipelajari jika tidak ada pembinaan. Alhamdulillah webinar-webinar yang bertema pengembangan ICT, banyak diselenggarakan oleh demartemen-departeman pendidikan dan forum-forum lain yang sejenis. Kami bagaikan “singa di padang pasir” yang kehausan berlomba-lomba mengikuti webinar atau pelatihan yang dapat meningkatkan kemampuan ICT kami tersebut.

Berbeda halnya dengan saya, Alhamdulillah Alloh SWT memberikan anugrah sakit mata yang sudah diderita sejak 2017 silam. Bersabar membawa amanah sakit katarak yang disebabkan oleh obat anti radang yang dikonsumsi sejak mata saya sakit. Dalam segala keterbatan tersebut saya tetap menjalankan kewajiban sebagai pendidik, mengajar online sesuai jadwal di sekolah, membuat perangkat administarsi pembelajaran, dan membuat bahan ajar dengan media pembelajarannya. Semua dilakukan dengan sabar dan kuat. Saya harus menunjukkan bahwa sakit bukan penghambat untuk tetap beraktivitas dan produktif berkerja. 

Alhamdulillahirobbil A’laamiin… adalah kata syukur yang saya panjatkan kepada Alloh SWT. Pandemi covid-19 dan pemberlakuan WHF memberikan keleluasaan, kenyamanan, serta keuntungan yang sangat besar, karena kondisi mata yang sedang parah-parahnya, melihat wajah orang atau benda-benda lain disekitarnya saja tidak jelas, apalagi melihat huruf abjad sudah tidak terlihat. 

Menjelang Penilaian Akhir Sekolah (PAS) adalah masa penuh tantangan, setiap pendidik harus membuat soal untuk mengevaluasi sejauh mana kompetensi peserta didik selama mengikuti PJJ. Dengan kemampuan jarak pandang yang sangat minim saya membuat soal, memeriksa hasil tes, dan merekap nilai siswa. Amazing…! semua selesai saya kerjakan dengan tepat waktu sesuai dengan jadwal yang sudah disepakati bersama.

Covid-19 merupakan virus yang mau tidak mau harus kita terima kehadirannya di tengah-tengah kehidupan kita. Sepakat dengan kebanyakan orang yang mengatakan bahwa virus covid-19 juga merupakan makhluk ciptaan Alloh SWT yang harus dihadapi dan kita harus terbiasa dengannya. Hari demi hari terus berlalu sampai pada jadwal operasi mata dilaksanakan April 2020. Rasa syukur saya ucapkan dengan keluarnya jadwal operasi dari rumah sakit mata Cicendo Bandung, rasa senang tidak terkira tidak dapat diucapkan dengan kata-kata, mengingat banyaknya jadwal operasi yang dibatalkan karena pandemi covid-19 ini. 

Proses operasi ini berjalan dengan lancar dan sukses, saya dapat melihat lagi dengan jelas dan dapat menjalani aktivitas seperti sediakala. Betul-betul pandemic covid-19 ini membawa hikmah dan berkah bagi saya. Dari masa operasi, badrest, sampai penyembuhan dilaksanakan pada masa WFH. 

Pada hakekatnya pandemi covid- 19 ini, tergantung dari cara orang memandangnya, serta apa yang dialaminya. Bagi saya masa pandemi ini adalah masa penuh berkah, It’s a big moment untuk mengevaluasi diri (tafakur), dan meningkatkan kualitas diri. Yang pasti, kita harus berdamai dengan covid-19 dan selalu mematuhi standar protokol kesehatan.