Sabtu, 07 November 2020

AKU DAN PANDEMI COVID-19

 Ary Setyowati, S.Pd.

 SMPN 2 Tangerang


Aku  seorang ibu dari empat orang putri dan satu orang putra.

Dua anak tertua sudah masuk usia dewasa, sudah kuliah. Sementara putri ke-3 masih usia SMA dan mondok di pesantern di daerah Pandeglang. Putri ke-4 berusia 9 tahun, dan duduk di kelas 4 sekolah dasar. Terakhir putraku yang bungsu, usia 7 tahun duduk di kelas 1 sekolah dasar.

Namun, di samping seorang ibu, aku juga seorang guru di sekolah menengah pertama di Kota Tangerang. Aku mengajar di SMP Negeri 2 Kota Tangerang.

Aku seorang guru Bimbingan dan Konseling, atau yang disebut dengan guru BK.

    Sebagai seorang ibu, tugas utamaku tetap ada di rumah. Mengurus rumah dan seluruh anggota keluarga, suami dan anak-anak. Walaupun tugasku di rumah banyak dibantu oleh anak tertua dan adiknya, namun aku tetap berusaha memperhatikan perkembangan belajar kedua anakku yang masih di usia sekolah dasar. 

    Ketika berada di sekolah, aku berupaya menjalankan tugas sebagai guru BK dengan sebaik-baiknya, yaitu memberikan bimbingan dan konseling bagi siswa yang membutuhkan.

Selain menjadi guru BK, aku juga mendapat tugas tambahan sebagai wakil kepala sekolah bidang kesiswaan, selama kurang lebih lima periode tahun pelajaran.

    Kemunculan virus COVID-19 membawa pengaruh dan dampak perubahan yang sangat besar dan signifikan di semua sektor atau bidang, dari sektor ekonomi, pendidikan, politik, keagamaan, sampai merambah sektor sosial dan budaya kemasyarakatan di negeri ini.

Karena aku seorang guru, maka fokus perhatianku adalah pada dunia pendidikan, yang ternyata merupakan sektor yang tidak bisa dipandang sebelah mata di masa pandemi sekarang ini.   

Sebelum virus COVID-19 ini merebak dan meluas hingga ke berbagai belahan dunia, tugas memberikan ilmu pengetahuan kepada anak, banyak dilakukan oleh seorang guru yang notabene adalah memang menjadi tugas pokok dan utama.  Anak mendapatkan pengetahuannya di sekolah, sebagai rumah kedua setelah rumah pertamanya yaitu keluarga.

Sementara keluarga atau orang tua hanya mengajarkan hal-hal yang lain di luar pengetahuan akademik, seperti misalnya keterampilan rumah tangga ; memasak, menyapu, mencuci, mengepel, dan sebagainya, bagi anak perempuan.  Sedangkan bagi anak laki-laki biasanya menjadi tugas seorang ayah untuk mengajarkan pekerjaan seperti mencuci sepeda, membantu membetulkan pagar, atap rumah, dan lain sebagainya.

Selama masa pandemi, karena sekolah tidak diperbolehkan menjalankan pembelajaran seperti biasanya, maka siswa diperintahkan untuk belajar dari rumah, yang dikenal dengan istilah BDR. Guru pun mengajar dari rumah lewat pembelajaran jarak jauh atau yang dikenal dengan PJJ.

Pembelajaran jarak jauh yang dilakukan oleh guru bisa melalui berbagai cara, seperti melalui aplikasi WhatsApp (WA), channel You Tube, video pembelajaran, google clasroom, google meet, zoom meeting, dan aplikasi sejenis lainnya.

    Tugas sebagai guru BK pun akhirnya menyesuaikan. Aku berusaha memberikan layanan jarak jauh kepada siswa melalui media yang ada, di antaranya share materi lewat apilkasi WhatsApp, membuat video layanan BK yang diunggah lewat You Tube, dan membuat kuisioner instrumen ITP BK berbentuk google formulir. Bahkan aku berencana membuat game layanan BK melalui  aplikasi google.  Agar siswa tertarik untuk mengikuti layanan BK disela kesibukan mengerjakan tugas belajar secara daring yang diberikan oleh guru mata pelajaran.

    Beberapa bulan yang lalu bahkan ada program dari pemerintah Kota Tangerang yaitu Program Ketahanan Pangan Kota Tangerang, di mana sasaran program ini adalah kepada institusi sekolah secara umum dan siswa khususnya.

Di sekolah, guru diharapkan berperan serta dalam program ini dengan menanam serta merawat tanaman sumber pangan di kebun sekolah.  Sementara siswa diharapkan juga dapat menanam tanaman sumber pangan di rumah masing-masing. 

Kegiatan tersebut didokumentasikan melalui foto atau video oleh sekolah, dan disimpan sebagai bukti fisik bahwa sekolah telah melaksanakan program pemerintah kota Tangerang tersebut.

    Di masa pandemi ini, situasi berubah begitu cepat dan mengubah kebiasaan yang telah ada menjadi suatu kebiasaan baru.

Misalnya, jika dahulu orang jarang menggunakan masker, maka kini, menggunakan masker adalah suatu keharusan untuk menjaga tertular dari virus COVID-19.

Jika dahulu orang malas mencuci tangan, kini kita lihat wastafel cuci tangan dan sabunnya ada di mana-mana.

Jika dahulu orang tidak sungkan untuk berdekatan secara fisik, terutama bagi kawan akrab dan karib kerabat, kini menjaga jarak atau yang dikenal dengan istilah Fhysical Distancing dan Social Distancing adalah suatu keharusan, untuk menghindarkan dari saling menulari virus ini. 

    Kembali kepada permasalahan yang banyak muncul ketika pandemi ini terjadi, yaitu berubahnya fungsi pengajar yang awalnya adalah tugas guru, kini menjadi tugas orang tua dalam mendampingi anak belajar di rumah.

Karena kondisi pembelajaran jarak jauh, tentunya guru tidak leluasa memberikan penjelasan materi kepada siswa/anak.  Sehingga hal tersebut menjadi tugas tambahan bagi orang tua di rumah, di samping tugas utama di rumah atau di tempat kerja bagi orang tua yang bekerja di luar rumah.  Hal ini menjadi masalah dikarenakan keterbatasan pengetahuan orang tua mengenai mata pelajaran di sekolah.

    Beberapa pemberitaan yang beredar di masyarakat, baik dari media massa seperti televisi atau surat kabar serta dari media sosial seperti facebook, whatsapp, instagram, dan lain-lain, sungguh sangat memprihatinkan.

Pembelajaran jarak jauh dan belajar dari rumah ini ternyata membawa ekses lain yaitu memicu tingkat stress, baik bagi siswa atau anak, orang tua, ataupun dari pihak guru yang merasa ada kekhawatiran akan nasib generasi bangsa di masa mendatang.

   Dari kabar terakhir yang amat memprihatinkan adalah adanya berita siswa SMP yang bunuh diri diduga akibat merasakan depresi menghadapi pembelajaran melalui daring seperti sekarang ini.

Sebelumnya telah beredar kabar ada orang tua yang diduga karena kesal mengajari anaknya belajar tidak bisa, sampai tidak sengaja memukul sang anak hingga meninggal dunia.

Masih banyak kisah menyedihkan lainnya, yang harus kita pahami dan renungkan bersama, mau dibawa kemana nasib generasi bangsa ini.  Sampai kapan pandemi ini akan berakhir.

Akhirnya, hanya kepada Tuhan kita berserah diri.  Semoga pandemi ini segera berlalu dan kondisi negara ini kembali pulih seperti sediakala.