Sabtu, 07 November 2020

Antara Aku, Kamu dan Covid – 19

 Oleh Yani Mulyani, S.Pd

SMPN 4 Banjar


Indonesia masih bergelut melawan Covid - 19 hingga saat ini. Penyebaran virus ini sungguh di luar pemikiran saya. Ketika awal virus asal Wuhan mewabah di negeri China, saya dan peserta didik masih sempat berdiskusi di kelas tentang Corona ini. Bahkan menugaskannya secara berkelompokt entang bagaimana penyebarannya, akibatnya dan lain sebagainya yang berkaitan dengan virus tersebut.

Penyebaran virus ini  sangatlah berdampak di segala bidang kehidupan. Metode penyebarannya pun sangat cepat dan hal tersebut terjadi hanya beberapa bulan saja di Indonesia dan di negara – negara di dunia.

Dalam rangka mencegah  penyebaran virus Corona, pemerintah menggunakan metode Lockdown berupa   kebijakan  Pembatasan Sosial Berskala Besar ( PSBB ) untuk menekan penyebarannya.

Penyebaran Covid – 19 ini pun telah memaksa kegiatan pembelajaran dilaksanakan dengan cara daring  atau  LFH ( Learning From Home ) dari  tadinya pembelajaran tatap muka yang biasanya kita laksanakan sehari – hari.
Namun BDR ( Belajar Dari Rumah ) bukanlah tanpa kendala, baik itu dari saya  sebagai tenaga pendidik, peserta didik maupun dari orang tua yang pada akhirnya ikut merasakan dampak dari wabah ini.

Kendala yang pertama adalah dari sarana dan prasarana sekolah itu sendiri. Sekolah kami terletak di sebuah kota kecil di Jawa Barat dan tidak semua peserta didik mempunyai HP android sehingga  kita menggunakan cara dengan mengundang Orang Tua Murid secara bergantian untuk memusyawarahkan bagaimana cara agar BDR ini berhasil.

Tahap yang pertama setelah bermusyawarah dengan orang tua murid maka kita memutuskan untuk menggunakan HP milik oarang tua atau saudara peserta didik bila mereka tidak memilikinya dan atau bisa datang ke sekolah secara bergantian untuk mengikuti PJJ  di laboratorium komputer  sekolah namun dengan  mematuhi protokol kesehatan yang telah di tetapkan oleh pemerintah tentunya.    

Namun berbagai karakteristik peserta didik menjadi kendala bagi kami dalam pelaksanaan BDR ini, seperti dalam pengumpulan tugas yang terlambat, kurangnya literasi dan kurang pedulinya mereka dalam tenggat waktu yang telah di tentukan membuat kami sering  melakukan home visit yang tentunya membuat tambahan pekerjaan di masa pandemi ini. Hal tersebut terkadang membuat kami merasa ketar – ketir,takut tertular atau bahkan menularkan virus ini kepada anak didik dan bahkan keluarga kami  sendiri. Karena terkadang kami harus masuk ke daerah zona merah ketika melaksanakan home visit dan banyak dari masyarakat sekitar yang masih  tidak memperdulikan protokol kesehatan.

Latar belakang pendidikan orang tua juga sangat berpengaruh pada pelaksanaan  BDR ini. Pekerjaan orang tua murid yang heterogen seperti petani, pedagang, buruh dan lain sebagainya terkadang membuat mereka kekurangan waktu untuk mendampingi anak – anaknya dalam pelaksanaan pembelajaran daring masa pandemi ini.
Rata- rata pendidikan orang tua mereka yang lulusan SMP, SMA tidak sanggup menggantikan  peran guru di sekolah karena  lebih mengutamakan bekerja untuk pemenuhan kebutuhan hidup keluarganya.

Kendala yang lainnya dan tak kalah pentingnya adalah jaringan internet. Selain terkadang jaringannya lemah dan atau terkadang karena kondisi wilayah yang berjauhan, bahkan ada yang dari JawaTengah karena sekolah kami letaknya di perbatasan dua propinsi Jawa Barat dan Jawa Tengah. Ketika PTM, mereka mondok di pesantren dekat dengan sekolah namun ketika PJJ mereka pulang ke rumahnya yang letaknya ada yang berada di puncak gunung. Hal
 ini tentu menjadi kendala peserta didik untuk menerima tugas – tugas yang disampaikan dalam pembelajaran oleh guru.

Kendala ekonomi dari peserta didik dalam pembelian kuota pun menjadi hal yang urgent dan harus dipikirkan bersama kala itu sehingga mereka tidak lagi terlambat dalam pengerjaan tugas atau pembelajaran.      
Awal tahun peajaran 2020 / 2021, ada fenomena akan di laksankan PTM atau Pembelajaran Tatap Muka. Kami senang mendengarnya, kemudian diadakan kembali musyawarah dengan orang tua murid dengan tetap mematuhi protokol kesehatan.Upaya untuk PTM dengan jumlah murid yang banyak yakni hampir 850 orang membuat pihak sekolah sedikit mengalami kesulitan. Namun seiring waktu kita bisa mengatasinya dengan baik seperti : pembelajaran dilaksanakan dengan jumlah 50 % dari jumlah peserta didik di dalam kelasnya, tidak ada jam istirahat untuk meminimalisir siswa bergerombol yang di larang padamasa pandemi  ini tentunya.

Manusia hanya bisa berencana namun Allah SWT yang berkehendak, ketika kita sedang melaksanakan PTM dan anak – anak sudah  asyik bersama guru dan teman- temanya. Mereka bisa bertemu dan sedikit mengurangi rasa rindu bersekolah dan ternyata virus covid ini mewabah di daerah  kami. Bahkan ada anak didik kami yang terpapar bahkan teman  sesama pendidik pun ada yang terkena bersama keluarganya walaupun berbeda asal sekolah dengan Penulis namun masih satu desa.

Hal tersebut membuat Team Gugus Covid -19 mengharuskan sekolah - sekolah di Kecamatan Langensari  untuk BDR kembali.
Anak – anak yang telah dengan suka cita ,  menjadi galau kembali.

Dan sampai saat tulisan ini di buat, daerah kami masih melaksanakan PJJ alias belum melaksanakan PTM kembali dikarenakan masih zona merah sedangkan kecamatan lain dengan kota yang sama,  awal november ini telah mulai tatap muka.

Kendala – kendala tersebut tentulah bukan menjadi halangan bagi kami untuk terus belajar walau harus kembali Belajar Dari Rumah.

Kemampuan pemanfaatan IT harus lebih kami kuasai sehingga tenaga pendidik dalam kelas maya dengan menggunakan kelas WA atau Google Class Room tetap bisa menyampaikan ilmunya kepada peserta didik.

Selain musibah  pada masa pandemi ini ternyata ada hikmah tersendiri bagi kami sebagai pendidik ataupun peserta didik, diantaranya anak menjadi terampil bertanya di group WA atau GC / kelas maya dan hal ini terkadang tidak terjadi di kelas nyata. Mereka malu ketika harus mengemukakan pertanyaan secara lisan tetapi pintar mengemukakan secara tertulis. Anak – anak menjadi dekat dan hangat dengan keluarganya  dan hal tersebut pun tidak jauh dari pesan Mas mentri Nadiem 
“Jadikanlah setiap tempat adalah sekolah dan jadikanlah setiap orang adalah guru. 

Bagi orang tua murid, mereka akan merasa dekat dengan anak – anaknya dan merasa empati kepada guru – guru karena mereka menyadari betapa sulitnya tugas seorang guru.
Bagi saya sebagai seorang Pendidik, ada hikmah tersendiri yakni menjadi dekat dengan keluarga, dapat mengerjakan pekerjaan rumah sambil memantau pekerjaan rumah peserta didik, tidak tergesa – gesa berangkat kesekolah.

Disamping itu saya menjadi melek IT, karena mau tidak mau guru harus belajar memanfaatkan teknologi.
Hasilnya saya yang awalnya gaptek menjadi nyaman memanfaatkan teknologi.

Semoga dengan New Normal ini menjadikan kita  lebih bermotivasi  dan berpikir kreatif serta pelayanan terhadap peserta didik harus lebih di optimalkan.
Janganlah berhenti untuk belajar !
Aku, Kamu, Kita semua janganlah kalah oleh si covid !
Semoga wabah ini cepat hengkang dari bumi pertiwi yang kita cintai ini, Aamiin  !