Senin, 02 November 2020

COVID-19 BAGAI SEBUAH MISTERI

Oleh Ai Setiawati M.Pd

Guru SMPN 1 Sukatani-Purwakarta


Bagaikan petir disiang bolong, ketika kita menonton televisi yang begitu ramai membicarakan virus corona. Siapakan dia, bagaimana bentuknya, apa akibatnya kalau kita terserang virus itu, apa obatnya, ciri-cirinya apa, dan berjuta pertanyan yang munsl dibenak saya. Sejak akhir bulan Desember 2019 muncul berita tentang virus itu. Pertama kali muncul di kota Wuhan di wilayah Tiongkok, Cina. Pertama kali virus ini diketahui penyebarannya berasal dari slah satu pasar yang berada di daerah tersebut. Ada yang menyebutkan virus ini ditularkan melalui hewan salah satunya kelelawar. Aku berpikir tidak mungkin orang Indonesia makan daging kelelawar walaupun kita tahu ada suatu daerang di negara kita yang suka mengkonsumsi daging kelelawar.

Setiap hari muncul berita tentang virus ini, semakin penasaran saja. Semua sumber berita saya lihat baik di televisi maupun di media cetak. Berita semakin lama semakin menjadi besar dan semakin membuat kita takut. Hari terus bertambah , bulan demi bulan kita lewati masih dalam keadaan serba binggung dan banyak pertanyaan yang masih belum terjawab. Masa PAS untuk tahun ajaran 2018/2019 berakhir dengan pembagian rapot dan dilanjutkan dengan masa libur akhir semester. Masa libur semester saya lalui begitu saja tidak ada acara liburan. Yang saya lalukan waktu itu hanya ada kegiatan Reuni yang harus saya hadiri. Kegiatan Reuni sudah menjadi agenda tahunan saya. Acara Reuni pun menjadi agak was-was sampai beberapa kali di rubah tanggalnya.

Awal tahun saya lalui begitu saja, maklum suamiku pekerja swasta jadi untuk mencari hari yang tepat untuk bisa libur bersama bagi saya sangat sulit. Masa Pandemi ini saya lewati dengan berbagai kejadian yang menurut saya sangat cukup menguras air mata. Banyak kejadian yang sangat membuat bathin saya terpukul diantaranya: Bibi tercinta masih bergelut dengan penyakit kanker payudara yg sudah mengerogoti sejak dua tahun terakhir.  Tibalah masa pembelajaran semester 2 saya lalui dengan semangat baru maklum usai libur.  Sebelum hari pertama siswa masuk, kita sebagai guru sudah mempersiapkan berbagai rencana yang akan dikerjakan di semester 2 ini, diantaranya : Persiapan US, UNBK, Perpisahan kelas 9, Lomba Drumband dan sebagainya. Sebagi walikelas kelas 9 kita punya kewajiban untuk selalu memotivasi siswa agar siap dalam menghadapi ujian yang akan dilewati. Kesibukan demi kesibukan dilewati dengan penuh semangat. Kebetulan saya juga pembina eskul Drumband dan ada jadwal untuk lomba. Sudah dibanyangkan betapa sibuknya menghadapi semua kegiatan. Saking terlarut dalam kegiatan disekolah sampai lupa dengan berita tentang Covid-19. Saya anggap tidak mungkin akan sampai ke Indonesia. Bukan berarti menyepelekan penyebaran virus ini, tapi saya tetap tenang dan sambil tak hentinya berdoa.

Dan ternyata yang selama ini kita takutkan tiba juga di Indonesia. Awal bulan Maret 2020 muncul berita di televisi bahwa ada satu keluarga di Depok yang terpapar virus Covid-19. Hancur hati saya, sedih, marah, ketakutan semua bercampur menjadi satu. Astagfirullohalazim,,,kenapa bisa sampai di negara kita itu virus????. WHO (World Health Organization) menyebutkan bahwa darurat dunia atas penyebaran virus Corona di seluruh dunia. Seluruh masyarakat di dunia disibukan dengan penanganan Covid-19. Setiap hari berita ditelevisi selalu update menanyangkan penambahan pasien Covid-19. Berita ini sudah membuat semua orang dalam ketakutan bahkan muncul beberapa pertanyaan dari siswa dan anak saya. Tetap mematau berita di televisi sambil berusaha memahami apa yang sedang terjadi. Bagi kita sebagai orang yang beriman ini bisa jadi adalah ujian ketaqwaan.

Semenjak dinyatakan Pandemi Covid-19 maka muncullah segala perubahan yang datang beriringan dengan berbagai aturan yang harus ditaati selama masa pandemi. Ada beberapa aturan diantaranya : Sosial Distancing ( jaga jarak), Selalu mencuci tangan sebelum dan sesudah beraktivitas, selalu memakai masker. Dan aturan yang paling menakutkan yaitu adanya kegiatan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), kenapa menakutkan karena aturan ini membuat kita tidak boleh melakukan kegiatan diluar rumah. Semua warga harus mematuhinya agar terhindar dari penyebaran Covid-19. Kita sebagai warga negara yang taat tentu haruslah mematuhi seluruh peraturan ini. Akhirnya tiba tanggal 16 Maret 2020 secara resmi berdasarkan surat edaran nomor 4 tahun 2020 tentang pelaksanaan kebijakan pendidikan dalam masa darurat penyebaran corona virus diseas (COVID-19). Semua kegiatan pembelajaran dilakukan dai rumah (BDR) sudah barang tentu bukan hal yang mudah dalam pelaksanaanya. Betapa sibuknya kita mempersiapkan diri dalam menghadapi BDR diantaranya harus mempersiapkan beberapa infrastruktur dan fasilitas yang dapat menunjang kegiatan BDR.

Ditengah-tengah kesibukan menghadapi BDR dan harus WFH (Work From Home) keluarga saya ditimpa bencana. Anak sulung saya mengalami kecelakaan motor yang lumayan parah dan mengharuskan diadakan operasi, Berita dari Bibi yang semakin hari semakin kritis. Ingin rasanya saya terbang langsug daan sampai di Ciamis. Bagaimana saya bisa kesana, anak saya sedang membutuhkan saya, akhirnya saya hanya bisa video call dengan bibi. Hari-hari saya lalui dengan kesedihan. HP dan Laptop selalu saya bawa kemanapun. Saya terdiam dipojokan ruang sambil menunggu anak saya dioperasi. Ditengan suasana mencekam ada peraturan bahwa jam berkunjung rumah sakit dibatasi dengan berbagai peratutan yang terkait dengan Covid-19. Jadilah saya seorang diri menemani sang anak yang sedang sakit sampai  5 hari saya harus menemaninya.

 Sebagai seorang guru saya punya kewajiban memberikan pengajaran kepada anak didik saya. Saya menggunakan aplikasi WA(Whatsapp ) dan Google Clasroom yang dianggap mudah. Namun apa yag terjadi banyak kendala dilapangan yang sangat menyulitkan diantaranya: sarana Handphone, kuota, dan masih banyak anak yang belum bisa memakai handpone.  Aneh rasanya masa di era milenial ini masih ada siswa yang tidak bisa mengoperasikan handpone. Itulah kenyataannya dimana kita sebagai guru dituntut untuk kreatif agar anak dapat belajar walaupun tanpa tatap muka. Perubahan yang sangat cepat dimana membuat seluruh penduduk di dunia ini harus mampu menyesuaikan dengan tatanan hidup dimasa Pandemi. Ketika ada siswa yang tidak paham dengan materi pembelajaran, ingin rasanya saya berlari menemuinya. Tapi apa mau dikata kita harus tetap jaga jarak. Muncullah ide untuk mengadakan zoomeeting agar semua siswa bisa melihat video dan dapat saling menyapa. Apa yang terjadi hanya beberapa siswa yang dapat mengikuti dikarenakan beberapa kendala diantaranya kendala kuota.

Akhirnya ada solusi setelah pemerintah memberikan bantuan kuota gratis untuk mendukung kegiatan pembelajaran Daring baik untuk guru mapun siswa. Berubahlah semua sistem pembelajaran, semua serba memakai IT yang mendorong kita sebagai guru harus mampu menguasai semuanya. Alhamdulillah walaupun masih tergopoh-gopoh mengikuti kemajuan teknologi, saya masih bisa mengikutinya. Penggunaan media online yang sangat menuntut kita selalu siap dengan perangkat digital yang bisa menghabiskan waktu 24 jam. Pemahaman siswa akan belajar Online masih sangat rendah, tidak sedikit anak yang sudah jago main games online tapi tidak bisa membuka aplikasi Google Clasroom. Hal ini merupakan misteri yang harus diungkap. Sudah 10 bulan kita melalui masa pandemi Covid-19. Dan pelaksanaan pembelajaran Jarak Jauh telah memasuki bulan ke empat dari tahun ajaran baru. Banyak masalah yang timbul terutama bagi siswa baru kelas 7 dimana mereka belum sekalipun bertemu dengan teman dan gurunya, karena untuk siswa angkatan 2020/2021 mereka melalui PSB online juga, alhasil mereka tidak pernah bertemu sama sekali. 

Ada kebijakan disekolah kami yang  bisa melalukan pembelajaran Luring dengan tetap memakai syarat dan ketentuan diantaranya: siswa yang betul-betul tidak memiliki handpone, siswa yang mempunyai kendala dalam pembelajaran Daring. Dan semua data itu didapat dari walikelas untuk ditindak lanjuti oleh guru mapel. Kegiatan Luring dilakukan dengan tetap memakai protokol kesehatan yang ketat. Bahkan sebelum mengadakan kegiatan Luring, siswa diberi surat pernyataan yang harus ditandatangani dan diketahui oleh orang tua. Semua pengiriman surat memakai aplikasi. Hasil pelaksanaan Luring kita evaluasi ternyata banyak sekali kendala dilapangan bahkan kebanyakan orang tua yang curhat agar anaknya cepat masuk sekolah. Ini sebuah misteri lagi bagi kami,,,mengapa bisa begitu??. Saya banyak menuliskan curhatan-curhatan orang tua yang dikirim melalui handpone saya, berbagai curahan hati orang tua saya tampung dan saya coba jawab dengan bijak. Hingga muncul suatu pertanyaan Siapakah Covid-19 itu??? Maaf-maaf saya pun kesal dibuatnya.

 Apalagi semakin gencarnya pemberitaan di berbagai media yang menurut saya malah menambah takut dan penasaran. Sampai akhirnya saya pasrah apapun yang terjadi pasti sudah kehendak yang Maha Kuasa. Berbagai intrik dan bumbu dalam pemberitaan tentang Covid-19 semakin bebas berkeliaran di dunia maya. Setelah tiba bulan dimasa karantina maka muncullah era normal baru. Saya pikir dimasa ini kita sudah bisa bebas melakukan kegiatan normal, ternyata tidak dikarenakan angka penyebaran Covid-19 semakin meningkat. Saya pikir di Purwakarta tidak akan ada orang yang terkena Covid-19 ternyata tidak. Dan akhirnya dikota saya pun melakukan PSBB. Allahuakbar, apa yang terjadi? Takala semua kegiatan beribadah kita dibatasi sementara pasar-pasar dan mall masih dibuka... misteri apakah ini? Perubahan sosial dengan cepatnya berubah total disemua sektor. Yang tidak habis pikir kenapa tempat ibadah dan kegiatan ibadah dibatasi?? Bukankah ketika kita sedang menghadapi musibah kita harus lebih dekat dengan Allah? Entahlah, semua misteri bagi saya.