Sabtu, 07 November 2020

COVID 19 MERENGGUT KEBERSAMAAN PESERTA DIDIK

 Oleh  Ririn Kusumawati, S.Pd

Guru SMPN 12 Kabupaten Tebo

Propinsi Jambi


    Keceriaan pada Jambore Ranting Kecamatan Rimbo Ilir tanggal 12 sampai 15 Maret 2020 merupakan kebersamaan terakhir kami bersama peserta didik SMP Negeri 12 Kabupaten Tebo dan beberapa sekolah dalam kecamatan Rimbo Ilir. Berharap  COVID 19 yang terjadi di Wuhan tidak merambah ke negeri tercinta ini, namun kami dikagetkan dengan dikeluarkannya himbauan dari Kepala Dinas Dikbud Kabupaten Tebo Nomor:420/433/DISBUDBUD/III/2020 tentang Penyebaran COVID 19 dan Kegiatan Pembelajaran siswa yang mengharuskan kami untuk melaksanakan pembejaran jarak jauh.

    Awalnya Peserta didik maupun guru dan tenaga kependidikan menerima himbauan ini dengan kebingungan dan penuh tanda tanya antara senang karena beranggapan bisa santai belajar dan bekerja dari rumah, sera rasa bingung harus bagaimana dan sampai kapan. Keyakinan dan penuh harap bahwa COVID 19 tidak akan sampai ke daerah kami. Belajar jarak di bulan Maret tidak dapat terlaksana dengan maksimal karena keterbatasan media pembelajaran dan masih banyak peserta didik yang tidak memiliki android. Mengatasi peserta didik yang tidak memiliki android maka pembelajaran dilaksanakan dengan membentuk kelompok belajar dengan teman sejawat terdekat. Keterbatasan tenaga pendidik dalam memanfaatkan IT juga merupakan kendala dalam melaksanakan pembelajaran jarak jauh. Salah satu upaya pembelajaran yang mudah dan dapat kami lakukan adalah dengan membentuk WA grup permata pelajaran untuk masing-masing rombongan belajar. 

    Kegiatan belajar jarak jauh yang terlalu lama membuat peserta didik dan guru mengalami kejenuhan karena sejatinya kegiatan belajar mengajar adalah adanya interaksi langsung antara guru dan peserta didik, ada transfer informasi, pendidikan karakter dan membangun kedekatan dengan mereka. Suasana keceriaan bersama peserta didik di sekolah direnggut oleh COVID 19. Banyak chat masuk dari peserta didik yang menanyakan kapan sekolah, keluhan bosan, tidak enak belajar di rumah, kangen sekolah, begitulah yang mereka alami. Hal yang sama dirasakan oleh guru-guru, ketika guru hadir kesekolah serasa masuk rumah kosong dan tidak merasakan kalau tempat ini adalah sekolahan.   

    Kendala terberat yang kami hadapi dengan kegiatan pembelajaran jarak jauh adalah kurangnya penguasaan IT, keterbatasan media dan model pembelajaran di masa pandemi. Catatan terpenting adalah perlunya peningkatan kompetensi guru dalam penguasaan IT, peningkatan kompetensi guru dalam merancang model pembelajaran jarak jauh. Kekwatiran juga muncul dari guru-guru tentang bagaimana ketercapaian kompetensi akademik peserta didik, walaupun dalam edaran Mendikbud tentang pembelajaran pada masa pandemi  ditegaskan bahwa tidak mengutamakan pencapaian kompetensi akademik peserta didik melaikan mengutamakan perolehan pengalaman belajar dari pandemi COVID 19. Meskipun demikian rasa khawatir tetap ada karena tetap dituntut adanya penilaian tengah semester dan penilaian akhir semester maupun penilaian akhir tahun pelajaran untuk menentukan kenaikan kelas serta penentuan kelulusan. 

    Curahan hati orang tua peserta didik ketika harus mendampingi dan mengawasi putra putri mereka ketika belajar di rumah dengan keluh kesahnya, membuat kami selaku guru merasa bangga. Membuktikan bahwa tugas guru sangatlah mulia dan tidak dapat dilakukan oleh semua orang. Unggahan status di media sosial terkait kerepotan orang tua siswa membuat guru menjadi haru dan mengingatkan akan tanggung jawab yang sangat besar berada di pundak guru. Orang tua percaya dan penuh harap kepada guru akan keberhasil putra putri mereka. Hal itu yang menjadi salah satu motivasi guru untuk melaksanakan tugas dengan baik dan terus berkarya agar guru tidak dipandang sebelah mata.

    Permohonan dalam doa kepada Sang Pemilik segalanya agar wabah ini segela berlalu dari bumi tercinta. Kerinduan akan kebersamaan dengan  peserta didik di sekolah berharap segera terobati. Alhamdulillah tepat tanggal 10 Agustus 2020 Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tebo mengeluarkan Surat Edaran untuk TK, SD dan SMP dalam Kabupaten Tebo agar melakukan pembelajaran tatap muka dengan tetap mematuhi protokol kesehatan. Berita belajar tatap muka merupakan angin segar bagi kami yang langsung ditanggapi dengan gembira oleh seluruh guru, tenaga kependidikan, peserta didik maupun seluruh orang tua siswa. Kegembiraan di wujudkan oleh segenap masyarakat Kabupaten Tebo dengan penyebaran berita tersebut melalui media sosial.

    Sekolah hanya diizinkan menghadirkan peserta didik paling banyak 50% dari jumlah perrombel di setiap hari belajar tatap muka membuat kelas hening dan ada suasana yang jauh berubah dari kebiasaan sebelumya. Belajar tatap muka dengan sistem pembagian kelompok ganjil genap, yang dalam satu pekan peserta didik hanya masuk sekolah tiga hari secara bergantian. Biasanya dalam satu pekan mereka mendapatkan materi penuh setara 41 jam pelajaran, kali ini dalam dua pekan mereka baru mendapatkan jam belajarnya penuh. Ada sesuatu yang hilang ketika tidak ada kegiatan upacara bendera dan senam bersama, dalam hati ada kekhawatiran “jangan luntur jiwa nasionalisme dan patriotisme anak-anak ku”.

    Bersama dengan peserta didik tapi kami tidak dapat mendekat, jaga jarak dengan mereka, menghindari jabat tangan menjadi kebiasaan baru yang seolah-olah membatasi kedekatan antara anak didik dan guru. COVID 19 telah mengubah tatanan kehidupan khususnya di sekolah. Dalam situasi yang demikian proses belajar mengajar dengan tatap muka kami upayakan terlaksana, meskipun terdapat beberapa kendala. Terus berharap dan berdoa  semoga pandemi ini segera berakhir sehingga proses belajar mengajar di sekolah bisa kembali normal, tanpa harus dibatasi dengan protokol kesehatan.