Senin, 02 November 2020

COVID-19 MERUBAH SEGALANYA, TERMASUK PENDIDIKAN

Oleh: Rukhilla Nur Arifina, S.Pd

SMA Persatuan Kedungpiring


Awal tahun 2020 bulan Maret akhir menjelang persiapan untuk Ujian Nasional, sekolah saya mulai disibukkan dengan persiapan-persiapan yang diperlukan untuk menyambut acara besar tahunan ini. Baik guru maupun siswa-siswi disibukkan dengan ujian-ujian yang harus dipenuhi sebelum mengikuti Ujian Nasional 2020. Namun ada yang berbeda dengan tahun ini yakni karena menyebarnya Pandemi Covid-19 yang berasal dari China ini menyebabkan pelaksanaan Ujian Nasional 2020 ditiadakan, para pakar mengatakan bahwa virus ini merupakan virus yang menyerang saluran pernafasan pada manusia, berdasarkan situs covid19.go.id mengatakan bahwa “WHO (World Health Organization atau Badan Kesehatan Dunia) secara resmi mendeklarasikan virus corona (COVID-19) sebagai pandemi pada tanggal 9 Maret 2020. Artinya, virus corona telah menyebar secara luas di dunia. Istilah pandemi terkesan menakutkan tapi sebenarnya itu tidak ada kaitannya dengan keganasan penyakit tapi lebih pada penyebarannya yang meluas. Ingat, pada umumnya virus corona menyebabkan gejala yang ringan atau sedang, seperti demam dan batuk, dan kebanyakan bisa sembuh dalam beberapa minggu. Tapi bagi sebagian orang yang berisiko tinggi (kelompok lanjut usia dan orang dengan masalah kesehatan menahun, seperti penyakit jantung, tekanan darah tinggi, atau diabetes), virus corona dapat menyebabkan masalah kesehatan yang serius. Kebanyakan korban berasal dari kelompok berisiko itu. Karena itulah penting bagi kita semua untuk memahami cara mengurangi risiko, mengikuti perkembangan informasi dan tahu apa yang dilakukan bila mengalami gejala. Dengan demikian kita bisa melindungi diri dan orang lain.” Sehingga hal ini menyebabkan beberapa negara bahkan lintas benua memerintahkan negara mereka untuk melakukan lockdown, adanya seruan serta himbauan yang tertulis dari pemerintah untuk menghindari kerumunan agar pandemi cepat berlalu dari negara mereka.

Pandemi tersebut berimbas pada kehidupan masyarakat, dari sektor ekonomi, sosial, budaya dan pendidikan. Terutama pendidikan. Hal ini sangat saya rasakan karena berhubungan langsung dengan profesi saya sebagai guru, dengan adanya pandemi ini menyebabkan pendidikan sempat terhenti sejenak dan terpaksa untuk melakukan pembelajaran dalam jaringan selama rentang waktu bulan Maret hingga pertengahan Juli 2020, kemudian berganti menjadi sistem tatap muka/luring (luar jaringan) bagi zona hijau untuk daerah yang terbebas dari penderita Covid-19, sistem tatap muka dengan menerapkan shift absensi ganjil-genap seperti daerah saya saat ini zona kuning serta sistem pembelajaran jarak jauh atau full daring(dalam jaringan) bagi daerah zona merah. Dengan ditetapkannya status zona kuning pada  Kabupaten Lamongan Provinsi Jawa Timur ini menjadikan pembelajaran dapat dilakukan tatap muka secara langsung dengan menerapkan sistem baru yang dikenal dengan new normal dengan mengikuti protokol kesehatan 3M yakni Memakai masker, Menjaga jarak dikerumunan, Mencuci tangan dengan air bersih yang mengalir. Hal ini juga diterapkan pada sekolah saya, ketika pagi hari anak-anak memasuki gerbang sekolah akan dicek suhunya oleh guru piket yang bertugas untuk mengecek suhu siswa normal ataukah panas apabila siswa yang dicek suhunya melebihi suhu normal maka siswa disarankan untuk belajar dirumah, dan siswa mencuci tangan mereka sebelum memasuki kelas dan menempati bangku yang sudah diatur jaraknya oleh sekolah. Berbeda dengan siswa yang memiliki nomor absensi yang berbeda (dalam ganjil-genap) maka mereka para siswa mengikuti kegiatan pembelajaran secara daring pada jam yang sama dengan yang berlangsung disekolah. 

Banyak suka maupun duka yang saya alami ketika melaksanakan pembelajaran tatap muka secara shift ganjil genap ini, sukanya ketika saya mengajar bisa lebih fleksibel waktunya dan deadline tugas untuk anak-anak tidak tergesa-gesa namun sesuai dengan beban jam yang saya ajar pada kelas mereka, selain itu juga menambah wawasan serta keterampilan saya bagaimana menjadi guru yang aktif dan kreatif menggunakan media digital, learning management system, serta platform-platform pendidikan penunjang kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan era revolusi industri 4.0 saat ini dimana segala sesuatunya sudah digitalisasi. Hal ini yang memacu saya untuk menigkatkan keterampilan agar tidak ketinggalan dengan generasi millennial saat ini, dimana hampir seluruh waktu mereka dihabiskan dengan gadget yang tidak lepas dari genggaman tangan kaum millennial ini sehingga mau tidak mau membuat saya belajar lagi untuk memenuhi kriteria guru memesona dalam era millennial ini. Dukanya yakni karena saya mengajar di desa, tepatnya desa Kedungpring kecamatan Kedungpring Kabupaten lamongan, waktu yang saya perlukan untuk sampai ke sekolah membutuhkan waktu 40-50 menit dari rumah, dan tempatnya berbeda dengan kondisi di kota maka hal ini juga berpengaruh pada pola pikir serta keadaan ekonomi siswa, rata-rata ekonomi menengah kebawah sehingga kalau full daring siswa merasa keberatan dengan paketan pulsa yang dipergunakan untuk mengikuti kegiatan pembelajaran via Zoom, Google Meet, atau sekedar membuat Google Classroom. Selain itu, gadget yang mereka pergunakan juga ada yang tidak compatible kalau mereka menginstall aplikasi-aplikasi tersebut, sehingga kegiatan pembelajaran hanya menggunakan Classroom saja serta memanfaatkan aplikasi messenger seperti What’sApp. Selain itu banyaknya siswa yang memanfaatkan kondisi ini untuk bekerja, ada yang bekerja membantu orang tua mereka di ladang/sawah atau ada yang bekerja paruh waktu demi mendapatkan uang tambahan agar dapat membeli pulsa paketan untuk mengikuti kegiatan pembelajaran.

Banyaknya kendala yang saya alami tersebut pasti dialami juga oleh guru-guru di negeri ini mungkin ada yang sama persis atau mirip. Hal ini yang menjadikan saya berpikir lagi, apakah perubahan ini dapat diterima dan diadaptasi oleh masyarakat kita dalam dunia pendidikan, karena mengingat belum ratanya tingkat ekonomi serta pendidikan di daerah-daerah Indonesia, berapa tahun yang dibutuhkan untuk “memaksa” masyarakat untuk terbiasa dengan kondisi seperti ini dan apa solusi yang sesuai. Memang hal ini juga menjadi tantangan tersendiri bagi Indonesia, sudah siapkah kita menyambut era serba digitalisasi seperti ini dimana Indonesia memasuki MEA apabila dari bidang pendidikan masih banyak yang perlu untuk dibenahi. Saya berharap dengan adanya pandemi ini banyak hikmah yang dapat diambil, terutama dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan. Karena pendidikan merupakan dasar dari warga negara yang cerdas, warga negara yang berkualitas, untuk negara yang maju.