Selasa, 17 November 2020

COVID DAN NILAI “KKM” IT GURU

ANTA MU’MIN BADJI

MTs NEGERI KOTA KUPANG


Di saat pemerintah, melalui Menteri Pendidikan, Nadiem Makarim mengeluarkan Surat Edaran (SE) No.4 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Coronavirus Disease (Covid-19), 24 Maret 2020, sontak masyarakat Indonesia terutama peserta didik dan orangtua/wali murid merasa senang sebab Ujian Nasional tidak diselenggarakan, sehingga dapat dinyatakan lulus tanpa melalui Ujian Akhir. SE ini dikeluarkan berkenaan dengan penyebaran covid yang semakin  meningkat, maka demi keselamatan kesehatan lahir dan batin siswa, guru, kepala sekolah, dan seluruh warga sekolah menjadi dasar pertimbangan utama dalam pelaksanaan kebijakan pendidikan, yaitu menghindari seluruh kegiatan pendidikan yang mengumpulkan banyak individu namun harus mepertimbangkan social distancing. Dasar pertimbangan tersebut sangat dipahami oleh semua pihak, hanya saja kelanjutan dari proses pendidikan yang biasanya dilakukan dengan tatap muka secara langsung di sekolah-sekolah antara guru dan peserta didik tidak dapat dilaksanakan lagi. Pada SE Kemendiknas ini secara tegas menyatakan proses pembelajaran dilakukan dari rumah masing-masing peserta didik. Hal inilah yang menimbulkan persoalan yang terjadi antara murid dan guru. Di satu pihak bagaimana guru harus mentransformasi bahan ajar kepada murid, dan bagaimana murid menerima transformasi materi ajar itu serta bagaimana pula cara murid menanyakan materi ajar tersebut jika belum jelas baginya? Di pihak lain semua yang terlibat juga harus mempertimbangkan keterjagaan kondisi kesehatan immun tubuh baik peserta didik maupun pendidik.

Bagi wilayah yang ada jaringan internet, dengan adanya aplikasi WhatsApp grup, sepintas masalah proses belajar mengajar yang diharapkan  sesuai SE tersebut dapat teratasi. Grup WA dibentuk berdasarkan kelas dan/atau mata pelajaran (mapel).  Jadi, ketika guru ingin menyampaikan bahan ajar, maka semua siswa bersangkutan langsung dapat melihatnya. Ada yang langsung mengerti ada pula yang masih bertanya. Ada pertanyaan yang guru langsung pahami tetapi ada pula yang guru harus menanyakan ulang. Sungguh, setiap ada materi masuk, maka seketika itu pula anggota grup langsung bersahut-sahutan dengan redaksi kalimat atau pun kata yang singkat justru terkadang merumitkan atau mengaburkan masalah yang menjadi pokok persolalan. Sejalan dengan berkembangannya pembelajaran, mulailah terjadi ketidakefektivan ajar mengajar antara guru dan murid ini bahkan semakin ditemukannya kendala-kendala komprehensif yang sifnifikan terhadap kondisi yang ada. Belum lagi masalah-masalah yang muncul di wilayah-wilayah yang tidak terjangkau internet. Guru dan murid sangat mengalami kendala, terutama di pelosok-pelosok yang peserta didik ataupun gurunya berada di pesisir atau di teluk-teluk perairan.

Selanjutnya, pemerintah mengeluarkan lagi SE Nomor 15 Tahun 2020 tentang  Pedoman Penyelenggaraan Belajar dari Rumah dalam Masa Darurat Penyebaran Corona Virus Disease (Covid-19). SE bertujuan: 1) memastikan pemenuhan hak peserta didik untuk mendapatkan layanan pendidikan selama darurat covid-19, 2) melindungi warga satuan pendidikan dari dampak buruk covid-19, 3) mencegah penyebaran dan penularan covid-19 di satuan pendidikan, dan memastikan pemenuhan dukungan psikososial bagi pendidik, peserta didik, dan orang tua/wali. Berangkat dari tujuan inilah, kemendiknas menawarkan metode dan media pelaksanaan belajar dari rumah. Kemendiknas menjelaskan bahwa BDR dilaksanakan dengan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang dapat dibagi menjadi dua pendekatan, yaitu: 1) pembelajaran jarak jauh dalam jaringan PJJ daring, dan 2) pembelajaran jarak jauh luar jaringan. Untuk pelaksanaan PJJ daring ini Kemendiknas menyediakan portal-portal atau situs informasi.  

Pembelajaran jarak jauh dalam jaringan, dibutuhkan guru dan siswa harus sama-sama memahami perkembangan Iptek. Misalnya, aplikasi google meet, zoom meeting, dan class room. Sebelum pandemi untuk sebagian guru yang ada di sekolah-sekolah berstatus negeri ataupun swasta yang maju  telah mengenal aplikasi ini, terutama guru-guru yang masih tergolong guru milenial.  Antara lain guru milenial yang ada di sekolah MTs Negeri Kota Kupang, misalnya guru-guru  Mapel IPA Terpadu. Gurunya telah lama menggunakan google meet dengan menggunakan fasilitas ruang laboratorium komputer. Mengingat adanya pelarangan siswa membawa HP android dan menggunakannya di sekolah. Siswa diarahkan untuk menyelesaikan soal-soal IPA yang siswa peroleh dari petunjuk-petunjuk video-video dari google meet atau google clasroom. Guru-guru yang tergolong bukan milenial lagi, hanya mendengar-dengar saja tentang keseruan-keseruan siswa-siswa dan guru mapel terkait aplikasi ini, tanpa tertarik mengetahui apalagi  untuk melibatkan diri pada model pembelajaran melalui aplikasi itu. Bukan apa-apa, mengajar manual di kelas sudah sangat cukup simpel dengan metode tatap muka, karena selama ini kami yakini pendidikan itu akal, hati, dan rasa. Melalui tatap muka ada pikiran yang tersambut, ada hati yang terpaut, ada rasa yang terkait, dan ada rindu yang terikat, mengharapkan pertemuan jam pelajaran berikut.

Namun, berkat adanya covid-19 ini guru-guru yang awalnya tidak tertarik apalagi melakukan dengan aplikasi-aplikasi tersebut dalam pembelajarannya, ternyata harus terpaksa, mau tidak mau, suka tidak suka, harus membuka diri untuk belajar, terlibat, aktif, dan mengimplikasikannya dalam proses pembelajaran mapel yang diampuh. Aplikasi pembelajaran Google Classroom (GCL) adalah media memudahkan proses berbagi file antara guru dan siswa. Guru membagikan potongan-potongan buku elektronik ke siswa yang sebelumnya dikonver terlebih dahulu agar ukurannya sesuai yang dibutuhkan. GCL menggabungkan beberapa produk google lainnya, seperti google drive. Google drive ini berfungsi sebagai pembuatan serta distribusi penugasan. Google Docs, Sheets, Slides berfungsi  sebagai penulisan. Sementara itu, Gmail berfungsi sebagai media komunikasi. Google calender berfungsi sebagai penjadwalan. Para siswa dapat diundang oleh guru untuk bergabung dengan kelas melalui kode yang dibagikan, secara otomatis dimasukkan dari domain sekolah.

Setiap kelas dalam membuat folder terpisah di drive masing-masing para penggunanya. Siswa bisa mengirimkan hasil pekerjaannya, selanjutnya dinilai oleh guru terkait. Aplikasi google classroom tersedia di HP android. Penggunanya dapat mengambil foto serta melampirkan tugasnya dan dapat berbagi  file dari aplikasi lainnya juga dapat mengakses informasi secara offline. Guru pun dapat memantau perkembangan setiap siswanya serta dapat bekerja sama dengan siswa melalui fitur komentar yang tersedia. Dengan perkembangan yang ada, pihak kemendikbud menganjurkan menggunakan aplikasi e-learning. MTs Negeri Kota Kupang telah menerapkan aplikasi e-learning untuk setiap mapel dalam PJJ. Dengan pertimbangan e-learning kontennya sangat lengkap dan sangat mudah dipahami oleh siswa. Seluruh kebutuhan guru dan siswa telah tersedia dalam e-learning seperti layaknya pada saat pembelajaran tatap muka. Misalnya, absensi kehadiran, baik siswa maupun guru, bahan ajar, penyajian tugas-tugas untuk siswa, komentar siswa-guru, dan masih banyak lagi hingga video conference, intinya sangat memudahkan komunikasi antarguru-siswa, antarwali kelas guru mapel, antarguru kepala sekolah, juga antarsiswa.

Begitulah kenyataan sekarang, teknologi mampu mengatasi ruang dan waktu dalam mengajar belajar bahkan apapun dapat diciptakan. Namun, tidak mampu mendekatkan hati guru dan siswa. Ciri pembelajaran dan pendidikan adalah human touching. Belajar tatap muka sangatlah menyenangkan, walaupun tidak dapat dipungkiri bahwa adanya kelambatan penerapan Iptek.  Sementara Belajar dari Rumah rumit dan tidak menyenangkan, tetapi kemajuan Iptek pun perkembangannya sangat laju. Akhirnya tidak dapat dielakkan lagi  bahwa covid-19 ini menjadi moment bagi guru-guru yang membuka diri dan tekun untuk mengetahui selanjutnya menguasai dunia IT sampai kepada internet lebih luas. Dengan demikian tidaklah berlebihan jika dikatakan nilai “KKM” bagi guru yang terpanggil melibatkan diri terhadap perkembangan Iptek di dunia pendidikan ini menjadi “tuntas”. Walaupun, bagi guru yang bukan usia milenial harus “jatuh bangun” dalam proses pembelajaran mereka terhadap pergulatannya untuk memenuhi sistem PJJ daring yang diterapkan dan pergolakan batin untuk keluar dari istilah “gaptek” dan masuk ke istilah “gercep”. Sembari menangkap peluang-peluang yang ada karena sekarang ini memang masanya bukan lagi siswa yang bisa bertanya, melainkan guru pun sudah masanya harus bertanya agar tidak tersesat pada ketertinggalan. Apalagi senantiasa diadakan pelatihan-pelatihan IT, meskipun terkadang masih terbatas di kalangan di intern sekolah bersangkutan atas kesadaran unit-unit sekolah. Oleh karena itu, tidak ada lagi alasan untuk nilai “KKM” IT guru “tidak tuntas”.