Kamis, 05 November 2020

CURAHAN HATI UMAR BAKRI DI MASA PANDEMI

Oleh : NANIN ROSLIYANI, S.Pd.

SMP Negeri 1 Cigugur Kabupaten Pangandaran Jawa Barat


Tak terlintas hal ini akan terjadi, apalah daya kita hanya sebagai makhluk yang tak mampu mengalahkan suratan Illahi Robbi. Corona, wabah yang melanda dunia tak terkecuali negeri tercinta ini. Dampaknya begitu dahsyat, semua bidang yang menyangkut tatanan kehidupan berubah drastis. Bidang ekonomi, sosial budaya, begitu pula dengan bidang pendidikan. Hal ini menuntut semua unsur bekerjasama menemukan terobosan baru untuk menanggulangi keadaan.

2 Maret 2020 pertamakali Indonesia mengumumkan terjangkit wabah corona, disaat itu agenda kami di daerah penuh dengan kompetisi tingkat kabupaten. Olimiade Olah Raga Tradisional, Pentas PAI, Persiapan KSN dan OGN. indahnya rencana peserta didik  untuk maju ke tingkat propinsi waktu itu,  saat ini hanya sebatas mimpi. Dalam menghadapi akhir tahun pelajaran 2019/2020, ujian akhir semester dan Ujian Sekolah memaksa kami mencari cara agar peserta didik mampu mendapatkan hak dan menunaikan kewajibannya.

Banyak kendala yang kami hadapi, terkait aturan pemerintah pusat atau pemerintah daerah tentang pembelajaran dalam masa pandemi. Secara ekpetasi kami mengerti alur yang dimaksud namun kenyataan di lapangan sulit bagi kami melaksanakan sesuai harapan pemerintah. Merdeka belajar, Belajar Daring, Pembelajaran Jarak Jauh dan banyak terobosan lain yang seharusnya mempermudah pekerjaan kami. Tapi bagi kami di daerah, hal tersebut tidaklah semudah membalikan telapak tangan. Tidak semua peserta didik memiliki gawai sebagai syarat utama dalam pembelajaran. Kurangnya pemahaman orang tua dalam menyikapi keadaan yang terjadi, jaringan internet yang tidak merata, ini merupakan kendala lain yang kami hadapi dalam kegiatan PJJ.

Tahun pelajaran 2019/2020 berlalu, kami dihadapkan dengan permasalahan baru, PPDB. Untuk PPDB keluar (yang melanjutkan ke jenjang SLTA) tidak begitu sulit, peserta didik kelas IX lebih mudah di arahkan karena seluruh siswa bisa dihubungi meskipun lewat gawai wali siswa. Yang jadi permasalah PPDB masuk (Siswa Baru dari Sekolah Dasar). Kami kesulitan mendapatkan informasi siswa yang akan mendaftar meskipun telah di persiapkan google pormulir yang sengaja kami sebar ke Sekolah Dasar terdekat melalui Kordinator Wilayah. Berhubung sekolah di liburkan sampai waktu yang tidak di tentukan, guru di SD mengalami kendala yang sama, dalam menyampaikan informasi kepada orang tua, hingga membutuhkan waktu cukup lama untuk mendapatkan informasi yang akurat.

Dengan berbagai kendala yang dihadapi, PPDB pun selesai. Permasalahan baru, muncul kembali, dimana kami harus mendata ulang nama siswa yang benar melanjutkan ke sekolah dan  siswa mana yang mengundurkan diri. Sangatlah luar biasa kesabaran kami di uji. WFH hanya berlaku bagi sebagian orang. Pada kenyataannya kami setiap hari masuk sekolah berhubung jaringan internet yang memungkinkan bagi kami bekerja tanpa kendala adalah di lingkungan sekolah.

Tahun pelajaran 2020/2021 dimulai. Pandemi masih berkutat di negeri ini, WFH masih berlaku PPJ tetap menjadi satu-satunya cara peserta didik mendapatkan hak nya. Untuk siswa baru kelas VII yang belum terbiasa dengan istilah Daring dan bagi orang tua siswa yang belum mengerti alasan kenapa anaknya tidak diperbolehkan menggunakan seragam dan berangkat ke sekolah, kami berusaha memberikan penjelasan sesuai kebijakan yang di tetapkan oleh pemerintah melalui nomor telepon yang tertera di formulir pendaftaran.

Pelaksanaan Pendidikan Jarak Jauh melalui Daring di awal tahun pelajaran, ternyata ketercapainnya menurun drastis di bandingkan semester sebelumnnya. Hal ini dikarenakan siswa kelas VII di sekolah kami tidak semua memiliki gawai dan sebagian daerah tidak tersentuh jaringan internet. Akhirnya kami memutuskan PJJ dalam 2 bentuk Daring dan Luring. Daring bagi siswa yang memungkinkan dan Luring bagi siswa yang terkendala jaringan ineternet. Luring ini sengaja kami kemas dalam bentuk modul pembelajaran yang di susun oleh masing-masing guru mata pelajaran.

Pelaksanaan Luring merupakan alternatif lain agar siswa belajar di rumah, pada kenyataannya orang tua siswa banyak yang mengeluh dan tidak sedikit yang meminta sekolah segera di buka. Ini yang membuat kami dilematis, satu sisi keadaan dan aturan yang mengikat, di lain pihak hati kecil kami bicara mungkin kami melepas tanggung jawab hingga orang tua banyak yang mengeluh karena keterbatasan kemampuan membimbing anak dalam belajar.

Timbullah pemikiran baru, GuLing (Guru keliling). Dengan program ini, setiap guru diwajibkan memiliki 12 siswa untuk di bimbing dan berkelompok di satu titik. Layaknya seorang guru kelas, kami dituntut menyampaikan materi tematik sesuai modul yang disusun oleh guru bidang. Tidaklah mudah bagi kami, ketika harus menjelaskan materi pembelajaran yang kurang kami pahami, karena bukan bidang pelajaran yang kami ampu. Pada akhirnya kebijakan pemerintah daerah muncul di akhir bulan September. Gugus tugas Covid-19 Kabupaten Pangandaran menyatakan bahwa diperbolehkan kepada sekolah yang berada di zona kuning dan hijau untuk melakukan tatap muka, dengan catatan  memberlakukan protokol kesehatan. Kesempatan ini di sambut gembira oleh orang tua siswa, dan bagi kami banyak yang harus dipersiapkan untuk melaksanakan kebijakan pembelajaran kali ini. 

Akhirnya pembelajaran tatap muka dilaksanakan, siswa di kelompokan menjadi kelas kecil, sesuai protokol kesehatan, tiap kelas  menampung maksimal 15 siswa dengan jarak yang telah di tentukan. Pelaksanaan KBM bagi kelas VII, VIII dan IX dilaksanakan bergiliran. Setiap tingkat 2 kali tatap muka dalam kurun waktu 1 minggu. Kebijakan yang di gulirkan oleh pemerintah daerah ini, setidaknya membantu kami dalam menyelesaikan permasalahan. Walau ruang gerak yang sangat terbatas, waktu yang singkat, pelaksanaan tatap muka ternyata membantu siswa memahami arah pembelajaran yang ingin di capai. Inilah coretan sebagian suka duka abdi negara di masa pandemi. Semoga wabah cepat berlalu, kita kembali ke tatanan hidup normal, tanpa ketakutan yang menghantui. Amin.