Minggu, 15 November 2020

DIA JODOHKU

 Oleh Sri Andhariyati

UPT SMP Negeri 1 Ponggok

Kabupaten Blitar

Email : sriandhariyati@gmail.com


    Langit meredup di atas kota Blitar..Mendung tipis nampak bergelayut manja di langit Barat.Angin musin penghujan nulai terasa. Gerimis tipis menyisakan bau tanah.Gerimis pertama di bulan April.. Burung cicit berayun-ayun,berkejaran dengan riangnya di atas pohon kersen.Yang tumbuh di samping mushola. Mereka tak tau galaunya aku. 

Tanggal,28 April 1983 merupakan hari  istimewa dalam kehidupanku.Dari sinilah  perjalanan  aku mulai. Momen penting yang tidak pernah aku lupakan. Aku dinyatakan lulus dari SMA faforit di mana Bapak Mantan Menteri Keuangan Bapak Budiono pernah menyelesaikan pendidikan SMA nya. 

Dengan lulus dari SMA berarti aku harus ucapkan selamat tinggal Ibu Kost.  Ibu kostku biasa dipanggil Bu Pir.(karena suaminya pensiunan sopir di kantor kabupaten) Tempat kostku sangat sederhana.Jauh dari fasilitas memadai. Listrik tak ada.Lampu minyak menemaniku ketika aku “ada niat”  belajar. Lampu minyak yang sering membuat ulah. Saat  aku bangun pagi sering muka dan hidungku menghitam.Ternyata ketika aku tertidur lelap lampu minyak itu pesta mengeluarkan jelaga, tanpa malu-malu keluar masuk hidungku,bahkan ada yang tertinggal. 

 Aku tinggalkan  Pak Yan yang punya kantin.  Pohon flamboyant ketika berbunga menutup merah tak tampak daun.  Bak bianglala di ufuk barat. Dan jika bunga merah itu gugur, melayang indah. Atas ijin Allah ditata angin indah bukan buatan. Terhampar di  jalan dekat lapangan upacara, laksana karpet merah di Hollywood…saya melenggang seperti artis….

Kuterima ijazah sebagai tanda aku pernah sekolah di SMA yang berada di jalan A Yani itu.Hati senang tak tertahankan . Dengan selembar kertas,yang ditanda tangani Drs Haroen, aku akan melanjutkan hidup. Untuk menggapai mimpi.Mimpi yang  sudah kurancang sejak duduk di SMP. 

Rancangan satu berbunyi aku ingin jadi guru. Guru IPS.Sebenarnya pingin jadi guru Matematika.Tapi mata pelajaran itu  ketika aku ulangan hasilnya selalu berkomentar “ maaf anda tidak beruntung jangan coba lagi “ terlalu jujur untukku .Dan rancangan  dua. meletus ketika aku agak pesimis untuk rancangan  satu.. Aku akan kuliah  di dekat  SMAku.Di situ bertengger megah gedung  perguruan tinggi swasta yang mencetak guru juga. Aku jadi  ingat pesan  ibuku “ hidup itu tidak harus Matematika,Kimia, Fisika masih banyak ilmu yang lain yang bisa digunakan untuk hidup “ Manjur amat itu nasihat…Tetap aku pegang sebagai jimat

Saat duduk di bangku SD ada pelajaran menulis halus. Dengan buku bergaris tiga bersampul hijau pastel berlabel Pabrik Kertas Leces . Aku sangat  hafal nama pabrik kertas di  Probolinggo itu. Karena pelajaran IPS hafalan syarat wajibnya.Aku belajar menulis halus. Dengan huruf miring tebal tipis. Ibu Arsumi. Guruku yang dengan sabar membimbing. Suaranya yang lembut .Beliau juga yang mengajarku berhitung, ketika aku duduk  kelas III dan IV. Dan otakku sangat tebal. Sehingga ketika pelajaran  berhitung aku mendapat nomor satu untuk berdiri di dekat papan tulis. Sampai pelajaran berhitung usai. Meski hanya perkalian tujuh kali delapan, ternyata aku tak bisa. Tetapi untuk pelajaran menulis halus pasti angka 7 aku dapat. Luar biasa….

 Ketika  SMA. Suatu  siang ketika aku pulang  sekolah.  Selesai sholat aku duduk di teras. Tiba-tiba datang laki-laki tetangga kost. Kata Bu Pir (Ibu kostku, orang itu  bekerja sebagai pemborong bangunan di Malang,dia masih bujang). Kulitnya hitam menurutku  manis. Rambutnya keriting. Dengan agak sedikit tersenyum kusambut. Tanpa aku suruh duduk,dia duduk sendiri.Karena memang rumah dia dan tempat kostku dekat,berada di satu halaman dan satu gang masuk.Sudah pernah  bersapa meski tak sering.

Ada apa Mas... ?

Tanpa basa-basi dia langsung tanya

“ Mbak bisa bantu saya ….”

Bantu apa…?

“ Nulis laporan” sambil menujukkan tumpukan  kertas yang lumayan banyak dalam satu map warna merah..

 “Tulisanku jelek, tidak laku untuk buat seperti ini….takut kliru”..sahutku.

“Alah di coba dulu…beberapa lembar nanti sore sehabis mahgrib saya lihat..kalau aku 

bisa baca tulisanya Mbak.. berarti bisa dilanjut “

Dia membuka  map merah ada yang bergaris ada yang polos, dia tunjukkan bagian-bagian yang harus aku tulis dengan sangat detil.Karena laporan keuangan harus super teliti Mengingat  salah nol dan koma,berarti juta dan ratusan ribu.Mataku ikut mengitari arah tangannya,meski sebenarnya aku tak paham betul.Bicaranya cepat. Dan akhirnya aku menyanggupinya. Usai menjelaskan map itu diberikan ke aku. Tanpa basa-basi dia  juga langsung  pamit….mungkin otak dan hatinya  penuh harap kalau aku bisa bantu pekerjannya.

    Setelah dia berlalu  aku mulai lihat-lihat apa saja yang harus aku tulis…aku lihat lembar-demi lembar aku coba untuk menterjemahkan maksudnya. Aku mencari alat tulis dan mencari tempat duduk yang nyaman untuk menulis. .Beberapa lember dulu untuk latihan. Ternyata hanya mengutip ..Okelah. Sesuai perjanjian dan petunjuknya aku selesaikan.Sudah aku teliti berkali-kali.Akun yakin dengan dengan penglihatanku…tak ada yang salah. 

Akhirnya waktu janji untuk melihat hasil pekerjaankupun tiba.

    “ Assalamu’alaikum….” Terdengar dia bersalam…Teman sekamar memanggilku …” dicari orang “ katanya

    Aku segera bergegas ke ruang tamu, dengan membawa hasil uji coba pekerjaan. Aku berikan.Seperti biasa dia langsung duduk. Dia menerima hasil uji coba kerjaku menjadi juru tulis.Untuk uji nyali hasil belajarku menulis halus ketika SD. Hasil kerjaku …dilihat, dibuka-Satu persatu atas bawah kiri kanan…. Dan…dia tersenyum. Bukan hanya senyum malah seperti menahan tawa … Aku kegeeran…ada apa ini..kok dia tersenyum gitu….Tapi aku tahan. Aku takberani ikut tersenyum.Aku mulai gemetaran Tanganku agak dingin. Aku takut jika ada yang salah…dan harus mengulang…Aduhhhh…. …!!!!

    “ Dilanjut…. !!!!

“Mbak tulisannya bagus aku bisa membacanya….”

    Alhamdulillah….lega…!! 

Ternyata nilai tujuh untuk menulis halusku mendapatkan hasil. Angka tujuh bisa aku gunakan untuk membantu orang lain…pikirku.

    “ Tapi ada pembenahan sedikit…yang lainnya sudah betul…dan tidak fatal kok…”

    Dia menunjukkan bagian yang salah aku tulis….

    Aduh….maakkkkk…..!! 

Astagaaaaaaaaaaaa….malu tak terbilangkan Ternyata ada kesalahan  fatal. 

Dan memalukan… jauh banget artinya…

Tidak ada kaitannya dengan bidang bangunan sama sekali. 

Ternyata kata  Gorong-gorong… selalu aku tulis garong-garong…

Aduhhhhh……………mengulang…karena tidak boleh ada coretan….Untung hanya sedikit…

    Dengan lima lembar fc ijazah SMA foforit aku mengurai angan  merajut asa.Untuk mewujudkan mimpi. Mimpi menjadi guru IPS. Aku ditanya Ibu..” mari ngene nerusne kuliah neng endi…ya lek isa aja dadi guru SD kaya aku…ya sing luwih dhuwur “ ( maksudnya setelah ini melanjutkan kuliah dimana…kalau bisa jangan menjadi guru SD..guru yang di atasnya) . Mungkin menurut Ibuku menjadi guru SMP atau SMA lebih bermartabat. Aku menjadi rajin melihat papan pengumumnan barang kali ada yang cocok. 

Ternyata cita-cita menjadi guru IPS terlupakan. Dengan serta-merta bak helium meletus “ dooooooor….” muncul rencana kuliah diluar rencana satu dan dua.  Aku bersama teman sekelasku  ketika kelas 3 mencoba mengadu otak dengan mendaftarkan diri di uiversitas ternama di Malang dan di Solo. Jurusan yang kami pilihpun sangat mentereng yakni Hukum dan Filsafat Pendidikan. Alhamdulillah dari dua perguruan tinggi itu menolak dengan tegas  hasil test masukku dan tanpa ampun kami diusir…katanya..” otakmu tak layak di sisni..disini khusus untuk orang-orang pilihan  “ Ternyata nasib belum berpihak. Beruntunglah saat itu system penerimaan mahasiswa baru tidak bersamaan. Dengan  system rayon sehingga masih ada kesempatan untuk test di perguruan tinggi  lain.

Dan ternyata…masih ada kesempatan satu kali lagi. Ketika melihat pengumuman di sekolah, aku bertemu dengan teman sebangkuku ketika masih duduk di kelas satu. Kami saling bertukar kabar tentang mau kuliah di mana. Ternyata nasibnya sama menjadi Korpri (Korban Perintis). Dia tidak diterima di perguruan tinggi di Jember. Dan dia berencana untuk mendaftar di IKIP Malang,ngambil jurusan IPS program D2. 

Bagaimana dengan aku…Tanpa basa-basi aku ikut.( Aku jadi teringat rancangan ke satu dalam mimpiku). Dia sudah ada gambaran tentang pendidikan IPS,karena kakaknya alumni IPS D2. Setelah proses pendaftaran selesai, kami mempersiapkan diri dengan cara masing-masing. Ada yang ikut bimbingan belajar ada yang membeli buku kumpulan soal.Doa lebih tekun sholat di khusuk-khusukkan. Karena sudah jalan terakhir. 

Dan akupun mencari jalanku sendiri. Selain belajar,aku berinisiatif  untuk datang ke dukun. Kata tetanggaku ada dukun ampuh di tetangga kecamatan tempat tinggalku. Segala masalah tuntas ditangan dukun itu. Akupun tergiur. Dua hari sebelum test masuk,dengan diantar paman kudatangi  dukun terkenal itu. Dengan uang seikhlasnya. Ketika itu iklhasku 100 rupiah. Dukun itu orangnya masih muda,usia sekira 45 tahunan,tidak berdandan seperti dukun sakti di sinetron itu,berblankon atau berakik.Pak Dukun itu berbaju putih,bercelana,di rumahnya tidak bau dupa dan kemenyan, hanya bau asap rokok dan puntung di asbak.

 Sepertinya Pak Dukun sakti itu sudah bisa membaca wajah-wajah memelas dan penuh sesat ini. Sehingga ketika tiba giliranku menghadap Pak Dukun sudah langsung tanggap dan bertanya. 

“ Kemana Mbak..Malang apa Surabaya..” 

Langsung aku jawab dengan tidak kalah mantabnya “Malang…”

Tidak pakai lama Pak Dukun sakti itu masuk ke dalam kamar semedinya. Dan tidak beberapa lama juga Pak Dukun memberiku pensil 2b,yang biasa digunakan untuk mengerjakan test menghitamkan bulatan,ada yang lonjong..ada yang persegi..suka-suka yang buat.Peserta test takbisa pesen bulat apa kotak .

Dan  pensil saya terima. 

Pak Dukun berpesan “ Aja nganti tugel Mbak “(jangan sampai putus Mbak) . 

Dan saya jawab dengan semangat 45 Inggih Pak (iya Pak).

Ketika malam tiba perasaan panik menggangguku. Karena sudah langkah  terakhir untuk rancangan ke satu. Aku membayangkan Bapak dan Ibuku. Betapa kecewanya bila aku gagal lagi.Uangnya sudah habis banyak. Aku belajar lebih serius dari ketika ikut test sebelumnya. Belajar dari soal-soal yang aku pinjam dari mana-mana,buku pelajaran,merangkum,meringkas,semua nasihat para ahli belajar aku laksanakan, berdoa, dan restu ibu dan Bapakku..

Dan waktu testpun tiba.  Akhirnya saya dapat teman 4 orang yang sama-sama ikut uji nyali ke Malang..Karena kami tidak punya saudara di Malang ,akhirnya kami berempat  memutuskan untuk menginap di hote.Hotel Jakarta. Jangan membayangkan hotel yang gemerlap.Hotel kelas melati yang super murah,kami menyewa 1 kamar untuk empat orang. Kami menginap dua malam.Dua temanku menyabang di Unbraw dan dua yang lain termasuk aku hanya mendaftar satu di IKIP Malang. 

Pagi jam 07.00 Kami dengan gejolak hati kami masing-masing berangkat jalan kaki menuju tempat test di jalan Kawi di SMP Negeri 6 Malang. Kami cari tempat test masing-masing. Ternyata kami tidak terkumpul satu ruangan. Sebelum masuk ruangan kami sempatkan untuk ngobrol hanya untuk sekedar menghilangkan gelisah. Saat yang kami tunggupn tiba.Bel mulai persiapan masuk berbunyi.

Semua berjajar untuk masuk ke ruangan test dengan hati yang berdegub tidak karuan.Senang,takut,minder jadi satu. Semua yang test berpakain bagus-bagus,sepatunya bagus. Sementara aku…pakai rok warna keki (rok seragam sekolah) dan atasan merah muda …sama sekali tidak nyambung. Rambut panjangku kukepang dua. Tak lupa poni ku pasang. Untuk menutupi jerawat.  Rasa malu bisa kulibas….Setelah masuk ke ruang test saya muter deretan bangku untuk mencarai tempat dudukku. Akhirnya kutemukan tempat dudukku paling belakang bagian tengah.Satu ruangan diisi dua puluh peserta.

Kami duduk tenang di tempat  masing-masing.Semua tas dan bawaan yang tidak ada kaitannya dengan mengerjakan tes di taruh diluar ruangan. Aku hanya mengambil kotak pensil merahku serta  uang saku dari ibu 2.000 rupiah. Tidak lupa pensil 2b dari Pak Dukun sakti, yang sudah aku bungkus rapi jali. Aku lihat barang kali tertinggal.  Pengawas ujian masuk ke ruangan berjumlah dua orang. Yang satu mengawasi dari depan dan yang satu di belakang, tepat di sebelahku duduk. “Matik aku”…tambah gemetar aku.. 

Pengawas itu  pakai wajah wibawa dan agak di tekuk wajahnya biar peserta test takut. Dengan harapan   peserta tidak   berisik cari contekan atau berdiskusi dengan peserta lain. Triknya pengawas ujian rata-rata gitu.

Setelah memberi beberapa pengarahan,test dibagi…

Aku melirik sedikit, ada beberapa lembar..

Dari kejauhan terdengar bel panjang 2 kali yang bertanda soal boleh dikerjakan. Dan akupun siap untuk mengerjakan.  Kubuka kotak pensil, tempat pensil saktiku aku taruh, bersama dengan alat tuls lainnya. Dan dengan hati-hati resliting kotak pensil aku buka. 

Bungkusan jimat  pensil saktiku yang aku bungkus kertas ku buka perlahan agar tidak berisik dan…..

Alhamdulillah pensilnya berhasil aku keluarkan dengan selamat  ….. !!

Dan…..Taraaaa…….Ternyata….!!

Kejadian luar biasa terjadi..Setelah pensil ajaib aku tarik dari bungkusnya aku amati dari ujung sampai ujung lagi berkali-kali .Aku amati lagi seolah tidak percaya. 

Ini mimpi apa nyata ya…pikirku…!! 

Aku terdiam beberapa saat. Tanganku gemetar..tapi bisa ku tahan.. 

Dan ternyata dari pengamatanku yang sudah super akurat terlihat bahwa…ujung pensil saktiku  patah…patah….tak mungkin aku raut….kata Pak Dukun kesaktian pensil itu  ada diujungnya…Lha ini ujungnya patah….!!!  Tak bisa aku gunakan…

Keringat dinginku keluar… …Duniaku terasa ilang dalam sekali libas gara-gara pensil sakti.

 Beberapa saat aku tidak konsentrasi untuk mengerjakan soal.Aku hanya terpaku pada pensil saktiku yang patah…kok bisa ya…!!

Pertanyaan yang tak bisa kutemukan jawabnya sampai sekarang.Padahal sudah aku bungkus rapi..aku lem dengan lem nasi…kok..patah…

Aduhhhh….Matik akuuuu…..ternyata pensilnya tidak sakti….bisa patah…sepatah-patahnya….!!!

Setelah agak tenang akhirnya aku kerrjakan soal. Kubolak-balik naskah itu.Aku cari yang mudah untuk aku kerjakan.Akhirnya aku mngerjakan soal  dengan pensil yang aku bawa dari rumah. Dan Alhamdulillah soalnya tidak terlalu sulit. Seperti yang sudah sering aku pelajari.  Yang tidak bisa aku kerjakan soal IPS  terpadu karena ada soal Matematikanya beberapa nomor…aku kerjakan sekenanya…karena memang tidak bisa….Tentang pensil sakti sudah terlupakan.

Perjuanganku untuk masuk D2 IKIP Malang tak sia-sia. Doa kedua orang tuku ,dikabulkan Allah. Bersama dengan 2 temanku kami diterima, dan bersatu dalam satu kost di jalan Jombang.

Hari Sabtu ….hari yang membahagiaan .Kuliah libur.  Digunakan untuk nyuci .Selain itu, setiap hari Sabtu , ada tamu yang  setia hadir sekira  pukul 10.00…Tamu yang  membawa beraneka kabar. Setelah menerima surat anak-anak langsung masuk kamar. Seperti  aku. Setiap hari Sabtu  juga  bahagia. Aku datangi  kamar mereka,untuk satu tujuan….minta prangko. Perangko yang sudah terpakai aku kumpulkan. 

Aku tak pernah dapat surat karena tak sering bersurat  . Pernah dapat surat dari Ibuku,aku disuruh pulang,karena Nenekku nyembelih kambing qurban. Hanya itu.

 Aku iri dengan mereka. Kutemukan cara cerdasku. Aku ke  perpustakaan   cari koran kutemukan ruang..sahabat pena. Aku cari yang cocok untuk kujadikan teman Akhirnya aku bisa seperti mereka setiap hari Sabtu dapat surat…. Koleksi perangkoku bertambah. 

Tak terasa dua tahun…kuliah IPS D2ku selesai .Semua berjalan sesuai mimpi-mimpiku. Tahun 1985 tuntas tugasku. 

Kuliah jalur diploma merupakan proyek, selesai kuliah ditempatkan  tergantung dimana Allah membagi rejeki. Aku pilih di daerah asalku, dekat  rumah. 

Hari yang ku tunggu tiba….

Pak Pos  ke rumahku mengantar surat.Di antara  surat itu ada yang aneh…Seumur  belum pernah terima. Hanya satu lembar berwarna kuning lemah.. Tertulis di atas Telegram…isinya panggilan cepat untuk ke Surabaya. Karena belum pernah ke Surabaya. Aku bersurat dengan teman kuliahku. Agar bisa berangkat bersama-sama. Kereta api menjadi alternative. Tempat tujuanku  Genteng Kali. 

Aku terima  Surat Keputusan untuk  menjadi Guru. Aku tidak bisa berkata apa-apa…aku  menangis…ingat ibu dan Bapakku. Selesai pembagian SK dan beberapa pengarahan kami bergegas pulang, takut teringgal kereta. Setelah menerima SK aku harus segera menghadap ke lembaga tempat tugasku.

Hari Senin..karena belum punya seragam,aku menghadap kepala sekolah memakai baju  atasan putih  bawah hitam. Atas ridho Allah SMP yang aku tempati hanya berjarak 2 km dari rumah. Setelah berbasa-basi dengan Kepala Sekola, aku diberi tugas mengajar Bahasa Jawa kelas 1…

.Wadhuuhh….pusing..!! 

Akhirnya Ibulah guru sejatiku.Aku belajar semalam…dan Alhamdulillah…sesuai rencana. 

Di SMP itu banyak guru yang masih muda-muda.Ada guru PMP perempuan sebut Bu Lilis. Yang selalu aneh jika melihatku..Aku tak pernah berfilir jauh .  Suatu saat ketika aku dan Bu Lilis duduk satu meja ketika rapat.

Dia menawarkan “ Bu..ke rumahku yoh…di rumahku lagi panen kacang..”

Rumahnya mana ta…?  

“ Dekat kok…paling 8 km …”

Iya ..oke… aku langsung sanggup.…besok ya setelah selesai jam ke tujuh…Tapi aku ajak tema…Boleh….?

Dia Jawab…” Boleh…”

    Akhirnya kami bertiga menuju rumah Bu Lilis…Rumahnya besar sejuk. Dia ternyata punya kakak laki-laki yang menjadi guru di Malang.Pas aku kesana kakaknya tidak di rumah.

    Aku dengan Bu Lilis semakin  akrab.…Aku pernah lihat …kakaknya menjemput Bu Lilis …Pernah bersapa…Ada sesuatu yang aneh ketika aku bertemulangsung. Sepertnya aku kenal wajahnya. Tapi aku tak yakin. Dan setelah aku Tanya ke Bu Lilis ternyata benar, kakaknya temanku ketika  di SMP.    Setelah sering ketemu…sering bicara… kok  ada sesuatu diotakku…. Akhirnya obrolan kita menjadi agak serius…

Aku ditantang…

” Hari Minggu tolong ke Malang,karena aku tidak bisa pulang ada acara..”

Saya jawab “ ya.” Tapi dengan adik…aku belum tau alamatnya….

Obarolan kami ketika di Malang  serius…untuk menikah…karena usiaku sudah 25th   Setelah keluarga saling setuju tepat tanggal 26 Juli kami menikah…Alahmdulillah sudah ada satu cucu…..

Dan Sahabat Penaku hilang….