Senin, 23 November 2020

Gagalnya prestasi akademik peserta didik siapa yang harus disalahkan ?

Nur Aini. S. Pd

SMP N 1 Matan Hilir Utara. Kabupaten Ketapang. Kalimantan Barat


Menghadapi era globalisasi sekarang ini diperlukan peningkatan kualitas sumber daya manusia, peningkatan ini tentunya dapat dilakukan dengan peningkatan mutu pendidikan nasional pada umumnya dan peningkatan akademik peserta didik pada khususnya. 

Pendidikan pada dasarnya adalah usaha sadar untuk menumbuhkembangkan potensi sumber daya manusia peserta didik dengan cara mendorong dan memfasilitasi kegiatan belajar mereka. Tugas seorang guru ialah mendidik, membimbing, melatih ,menilai ,mengevaluasi anak didiknya, memberikan dorongan moral maupun mental kepada anak didiknya agar sang anak didik mampu menghadapi segala jenis permasalahan yang terjadi dalam hidupnya selama mengenyam pendidikan formal maupun non formal.guru adalah komponen terpenting dalam menentukan sistem pendidikan.

Tapi apa yang terjadi ketika hal yang diharapkan tidak sesuai dengan kenyataan ? berharap ketika menyampaikan pembelajaran dapat dicerna oleh peserta didik tetapi kenyataannya apa yang disampaikan  tidak bisa dihayati dan dimiliki oleh peserta didik?

Merasa sangat miris sekali ketika berada didalam kelas pada jam terakhir pelajaran sekolah, bertanya kepada peserta didik, hal apa saja yang kamu dapatkan hari ini? Jawabannya adalah tidak tahu, padahal mereka sudah menghabiskan waktu 6 jam disekolah, tetapi mereka menjawab tidak mendapatkan hal apapun. Dan sewaktu waktu bertanya kepada peserta didik materi apa yang kamu dapatkan pada pertemuan minggu lalu, tetapi jawaban mereka adalah lupa, jadi punya istilah “ datang tidak menambah pulang tidak mengurangi “. Lantas apa fungsinya pelajaran yang telah diberikan? Waktu yang telah dihabiskan ? apa artinya pengabdian guru, pengorbanan orang tua mereka, bahkan waktu mereka ?

Tentunya kita sebagai pendidik tidak bisa serta merta menyalahkan mereka, ada masalah tentu ada penyebab, mereka tidak bisa berhasil dalam akademik, dimana letak masalah utamanya. Apalagi melihat realita ada pelajaran tertentu yang sangat disukai peserta didik, karena ada guru tertentu yang kehadiran mata pelajaran dan guru tersebut dinantikan oleh peserta didik, ternyata jawabannya adalah guru tersebut selalu inovatif dalam kegiatan pembelajaran dan selalu menggunakan IT setiap kali pertemuan pelajaran.Tetapi guru yang inovatif tersebut hanya sekitar 26 % saja.

Berkaca pada pendidikan diluar sana, ternyata sistem pendidikan yang kami terapkan jauh dari kata kemajuan, semakin membuka mata dan telinga semakin menyadarkan diri bahwa ternyata model dan metode pembelajaran yang belum tepatlah yang menjadi salah satu penyebabnya.

Dapat dibayangkan kalau seandainya proses pembelajaran yang diterapkan menggunakaan model,  metode serta media pembelajaran yang inovatif, bervariasi, menyenangkan, tentunya berdampak pada respon peserta didik, semangat menanti pelajaran dan mengikuti pelajaran, tetapi kenyataan yang terjadi adalah model, metode dan media pembelajaran yang monoton lah yang sering terjadi. Lantas apa penyebabnya ?

 

 

 

 

Melihat kenyataan dilapangan ditemukan beberapa hal yang menyebabkan model, metode dan media  pembelajaran yang diterapkan masih belum inovatif diantaranya adalah : 

  1. Penguasaan IT guru yang masih kurang, sekitar 40 % guru disekolah saya yang masih terkendala dengan penguasaan IT

  2. Sarana dan prasarana sekolah yang masih belum menunjang, misalnya ketersediaan buku yang terbaru dan lengkap belum tersedia, Lab computer yang tidak maksimal, dan jaringan internet yang tidak stabil

  3. Sangat jarang diadakan pelatihan, khususnya MGMP pelajaran IPS tidak pernah dilakukan

  4. Perasaan “ malas “ untuk belajar yang dialami oleh guru pada bidang studi tertentu. Karena merasa puas dengan apa yang telah  dimiliki.

  5. Kesejahteraan guru yang masih kurang

Guru merupakan faktor yang penting dalam proses pendidikan karena guru adalah seorang pengajar dalam mengajar ilmu pendidikannya supaya anak- anak bisa mendapatkan ilmu pengetahuan yang telah diajarkan gurunya dan sebagai poros utama pendidikan. Ia menjadi penentu kemajuan suatu negara di masa depan..

Dampak guru  yang tidak efektif terhadap pendidikan adalah banyaknya peserta didik yang malas dan bosan,tidak peduli dengan tugas mata pelajaran yang diberikannya, peserta didik banyak yang membuat kegaduhan, saling mengejek. Dampak dari peserta didik yang demikian  adalah hilang semangat belajar, menurun nya nilai, mengubah katakter peserta didik.tentunya hal tersebut tidak bisa dibiarkan.

Kesimpulan yang dapat diambil adalah ternyata peran seorang guru itu sangat besar dalam proses pendidikan, dan muara dari pendididkan itu sendiri terletak pada guru karena bertujuan untuk membentuk karakter bangsa, tidak boleh menyalahkan peserta didik secara sepihak mengapa mereka tidak berhasil dalam proses pendidikan, tetapi seorang guru harus berkaca kepada diri sendiri terlebih dahulu, sudah baikkah sistem mengajar yang telah dilakukan ? mampukah menarik respon peserta didik ?sudah sepatutnya guru memperbaiki diri, kalau gurunya canggih sudah pasti akan memberikan aura positif juga terhadap pendidik, dan sudah sepatutnya juga pemerintah memperhatikan permasalahan yang dihadapi dalam dunia pendidikan itu sendiri terutama meningkatkan kualitas guru,karena salah satu kunci seseorang mau berubah untuk menjadi lebih maju adalah apabila kesejahteraannya juga meningkat dan diperhatikan.