Senin, 16 November 2020

GURU HARUS BERTANDA JASA

Oleh: Rizki Mega Saputra, S.Pd

Pengajar IPS di SMPN Satu Atap Nyogan


Guru merupakan poros utama dalam sebuah lembaga pendidikan. Ia menjadi penentu kemajuan suatu negara di masa depan. Secara umum, tugas guru adalah mengajar siswa-siswi agar memilki pengetahuan dan keterampilan dalam masing-masing bidang pelajaran.

Undang-Undang No 14 Tahun 2005 menjelaskan tentang guru adalah  tenaga pendidik profesional di bidangnya yang memiliki tugas utama dalam mendidik, mengajar, membimbing, memberi arahan, memberi pelatihan, memberi penilaian, dan mengadakan evaluasi kepada peserta didik yang menempuh pendidikannya sejak usia dini melalui jalur formal pemerintahan berupa Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah. 

Seorang guru bukanlah sebagai pekerja, tapi guru sebagai profesi karena pada saat berada di lingkungan masyarakat pun akan terus melekat titel sebagai guru. Tugas yang diemban seorang guru sangat mulia karena tugas dari guru ialah mentransferkan ilmu pengetahuan yang mereka punya kepada siswanya. 

Bukan hanya itu, tugas dari guru juga membagi pengalaman-pengalamannya yang berharga, maupun penanaman nilai budaya, moral, dan agama. Tanpa disadari guru juga merupakan motivator yang mensugesti orang-orang menjadi hebat.

Sejak zaman penjajahan Belanda guru mau mengajar, bahkan sampai ke pedalaman tanpa mengutamakan uang. Berjuang demi memajukan pendidikan bangsa dan mencerdaskan anak-anak bangsa. Mengajar tanpa mengharap balasan, yanga ada hanya ingin melihat siswanya bisa berkembang dan maju  membangun bangsa ini. 

Era pandemi seperti ini sosok seorang guru sangat dibutuhkan, karena dengan dialihkan sementera dengan perangkat yang tersedia menyebabkan ketimpangan dari sisi proses pembelajaran. Penulis akui bahwa sosok guru sampai kapanpun tidak akan pernah tergantikan oleh apapun.

Membahas tentang kualitas guru di Indonesia tidak kekurangan orang hebat, bahkan beberapa pengajar kita diminta untuk mengajar di negara lain. Menandakan memang kualitas anak bangsa kita diakui oleh negara lain.

Penulis mempunyai saran ada kebijakan yang pertama, untuk seorang guru yang setelah mengabdi atau pensiun atau meninggal sebelum pensiun mendapatkan penghargaan bukan hanya gaji pensiun namun dalam bentuk cinderamata yang langsung diberikan kepada guru tersebut sebagai bentuk penghargaan yang telah dijalani serta sebagai rasa bangga orang tersebut dan keluarga bahwa profesi sebagai guru itu sangat mulia. 

Kedua, untuk menjadi seorang guru ada kebijakan khusus seperti dibuatnya sekolah kedinasan khusus keguruan yang nantinya bisa menjadi seorang PNS, sehingga tidak akan ada lagi guru yang dari honor.  Tentunya dengan kualifikasi yang baik, kurikulumnya juga baik. Harapan penulis ketika ini sudah ada kebijakan yang tepat maka pemerintah juga tidak akan ada lagi mengangkat PNS guru dari umum sehingga guru yang lulus benar-benar sudah sangat mumpuni dan pantas menjadi guru sebelum mereka menjalani tugas sebagai abdi negara. 

Seperti yang masyarakat umum tahu bahwa lulusan dan standar IPK masih mejadi tolok ukur seorang bisa mendaftarkan atau mengikuti seleksi dalam penerimaan CPNS padahal secara nyata terkadang IPK bisa saja didapatkan pada saat mereka kuliah tidak sesuai dengan kemampuan individu yang sesungguhnya. 

Banyak kasus yang terjadi dilembaga pendidikan seperti guru melakukan tindak asusila terhadap siswanya, karena memang kurikulum pembelajaran itu tidak semuanya secara merata guru terima pada saat kuliah. Kejadian itu bisa menandakan bahwa pola kepribadian yang tidak matang dalam suatu individu guru tidak sesuai. 

Penulis mengamati bahwa saat ini semua sarjana bisa menjadi guru asalkan lembaga pendidikan membutuhkan langsung diterima tanpa mempertimbangkan kekhususan pendidikan yang telah dijalani, dengan begitu akan terjadi penumpukan dan penganguran dari kualifikasi sarjana pendidikan, yang jelas mereka sudah mendapatkan kurikulum tentang pembelajaran untuk sekolah. 

Program pemerintah juga banyak merekrut diluar dari kualifikasi jurusan pendidikan guru, padahal mereka secara kurikulum di kampus tidak mendapatkan tentang mata kuliah pendidikan, pedagogik dan lainya sebagainya, dengan begitu jurusan lain bisa dengan bebas mendaftarkan kemana saja tanpa ada batasan, sedangkan guru yang sudah mendapatkan kualifikasi sesuai dengan sarjana terbatas dengan kebijakan yang ada. Penulis rasa ini tidak adil.

Sisi lain membahas tentang kesejateraan guru, ada ungkapan bahwa guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Memang benar, seperti penulis ungkapkan tadi bahwa guru adalah profesi. 

Hanya saja kita harus paham bahwa guru bukan hanya tugas mengajar saja bahkan bisa dua puluh empat jam menyandang sebagai guru, di sekolah dan di masyarakat. Ditambah lagi kebijakan jam kerja guru yang semakin banyak. Penulis rasa untuk guru yang sudah PNS mereka masih bisa mendapatkan tunjangan lain dari karirnya, lalu bagaimana dengan guru yang masih honor. Beban kerja mereka juga sama, karena memang disekolah itu masih sangat membutuhkan guru. Guru honor malah bisa dikatakan horor karena memang sistem penggajian mereka masih menggantung dari pemerintah. Tidak ada kebijakan yang tepat bagi mereka seberapa besar dan seberapa banyak yang harus diharapkan. 

Sekali lagi penulis menegaskan bahwa guru itu harus bertanda jasa, demi kesejahteraan dan demi nama guru mulia. 

Harus ditanamkan dalam diri seorang guru, anda harus bangga meskipun guru bukan orang hebat tapi paling tidak semua orang hebat adalah berkat jasa seorang guru.

Semangat untuk para guru di nusantara, tetaplah mengabdi pada bangasa ini sesuai dengan pembukaan undang-undang 1945 yaitu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Sosokmu tidak akan pernah tergantikan meskipun secanggih dan semodern zaman.