Senin, 02 November 2020

Hikmah Corona

Riswan Wahyuni

SMPN 3 Satap Angsana,Tanah Bumbu.

 

Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 dengan jelas mengamanatkan kepada penyelenggara negara untuk mencerdaskan kehidupan rakyatnya. Dalam situasi dan kondisi apapun negara berkewajiban melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Amanat tersebut harus dijalankan, termasuk saat negeri kita ini dilanda wabah Covid 19.


Virus Corona yang melanda dunia telah mengubah semua lini dan sektor kehidupan, termasuk dunia pendidikan. Banyak sekolah yang kelabakan menghadapi situasi demikian. Sekolah dibuat kalang-kabut tidak berdaya karena tidak pernah menyiapkan rencana cadangan menghadapi situasi masa pandemi ini. Sistem pembelajaran secara tatap muka yang dianut sekian lama dipaksa atau dialihkan ke sistem pembelajaran dalam jaringan (daring). Dalam konteks ini, sekolah seakan dipaksa untuk meninggalkan pola-pola pembelajaran lama. Sistem pembelajaran tatap muka yang telah berurut dan berakar harus dilupakan. Gantinya, sistem pembelajarn jarak jauh dikedepankan.


Sehubungan dengan konteks pembelajaran jarak jauh ini. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan beserta PGRI Tanah Bumbu membuat tiga kali  pelatihan online, yang membahas materi mengenai pembelajaran berbasis teknologi, yaitu  “Ekosistem learning Microsoft Office 365 “ , webinar “PGRI Tanah Bumbu Pembelajaran Jarak Jauh ( Teacher Works at Home )”, dan bintek online “ guruku hebat guruku kreatif ( video pembelajaran dan pembelajaran interaktif )” ditambah lagi ada pemberian materi agar para guru bisa membuat tulisan dalam bentuk artikel dari Radar Banjarmasin. Dengan harapan selain pandai menggunakan teknologi,guru juga pandai menulis.


Sebagai seorang pendidik , saya sangat mengapresiasi dan dukungan atas kegiatan tersebut. Namun, dalam hal ini yang jadi pertanyaan adalah ,apakah perkembangan teknologi yang sekarang ini juga diikuti perubahan para guru dalam memanfaatkan teknologi ?  

Beranjak dari pertanyaan itu maka, apabila jawabannya “ya” artinya perubahan dimulai dari pribadi guru sebagai agen perubahan ,selanjutnya di dukung sarana dan prasarana yang ada. Misalnya,adanya seperangkat alat teknologi informasi dan komunikasi serta fasilitas internet. Jika mencermati semangat dan  banyaknya guru yang mengikuti kegiatan webinar tersebut, maka kegiatan ini memberikan peluang bagi para guru untuk mengembangkan dirinya sesuai zaman yang serba digital. Dalam artian, apabila saat kondisi ini guru sudah terbiasa dengan teknologi, harapannya guru tidak gagap teknologi dan harus berupaya belajar menggunakan dan memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran.


Seperti yang disampaikan  Bapak menteri pendidikan Nadeim Makarim live Instagram bertema “Reformasi Pendidikan Mas Menteri di Masa Pandemi” dengan @tempodotco, Sabtu 11 Juli 2020. Pembelajaran jarak jauh ( PJJ) permanen saat itu ialah tren dunia pendidikan yang didigitalisasi. Menurutnya, konsep belajar memanfaatkan teknologi sudah menjadi tren global. Guru harus bisa beradaptasi selagi pembelajaran jarak jauh (PJJ) diberlakukan. Sehingga guru memiliki kemampuan teknologi yang baik. Di saat guru sudah memiliki kemampuan berteknologi, maka interaksi guru dan siswa bisa lebih dinamis. Teknologi bisa menjadi penunjang pendidikan di kemudian hari. Semoga apa yang di inginkan pak menteri terwujud demi kemajuan pendidikan bangsa Indonesia yang lebih baik, serta guru – guru yang pandai menggunakan teknologi.


langkah-langkah yang telah dilakukan lembaga tersebut merupakan sebuah langkah yang amat strategis dalam menjajaki upaya mewujudkan guru – guru hebat  dalam dunia pendidikan. Sebuah upaya yang layak kita dukung dan kita perjuangkan agar maksimal penerapannya. Agar mencapai hasil maksimal pembelajaran jarak jauh ini menuntut adanya kolaborasi, partisipasi dan komunikasi aktif antara guru, orang tua, dan siswa.

Namun, realitas di lapangan tidak selalu sejalan seperti yang dibayangkan. Pelaksanaan pembelajaran jarak jauh tidak pernah lepas dari kemajuan teknologi. Pembelajaran berbasis IT menghajatkan ketersediaan sumber daya manusia yang mumpuni, kelengkapan sarana dan prasarana yang memadai, dan ketersedian atau kelancaran akses internet. Dalam beberapa kasus, prasyarat tersebut tidak merata dimiliki semua sekolah. 


Memang, tidak dapat disangkal bahwa teknologi hanyalah media dalam proses pembelajaran. Namun, dalam situasi tanggap darurat wabah pandemi corona ini, keberadaannya mutlak diperlukan. Selama wabah pandemi ini tidak pergi, selama itu pula kita akan bergantung pada eksistensi teknologi. Kalau dulu hanya segelintir guru, segelintir sekolah yang menggunakan piranti teknologi dalam proses pembelajaran. Di masa ini hal tersebut bukan lagi kemewahan melainkan sebuah keharusan yang menjadi rutinitas pembelajaran.

Edaran dari pemerintah daerah terkait perpanjangan kegiatan belajar-mengajar di rumah dalam masa status tanggap darurat Covid-19 seolah menjadi pembenaran bahwa pandemi ini tidak diketahui kapan akan berhenti. Artinya, Study from Home (WFH) akan terus berlanjut. 


Mengakhiri tulisan ini , sebagai seorang pendidik  penggunaan  media teknologi informasi dan komunikasi dalam pembelajaran sangat membantu dan mempermudah dalam kegiatan pembelajaran daring pada saat pandemi Covid-19 ini. Seandainya corona tidak ada maka PJJ tidak begitu dipergunakan. Sehingga kemampuan guru dalam Memanfaatkan komputer, smartphone dengan berbagai aplikasinya, selalu di tingkatkan dalam akses informasi dan pengoperasian perangkat teknologi.

Sederhananya, memahami pesatnya perubahan teknologi harus selalu di ikuti oleh para guru, mengembangkannya dengan baik dan  siap berubah agar tidak di anggap ketinggalan zaman...